
Suasana di area permainan yang berada di lantai paling atas sebuah Mall, terlihat cukup ramai dengan para pengunjung dimulai dari orang tua yang menemani anak-anaknya, remaja dan kaum dewasa yang terlihat tengah sibuk berkosentrasi saat bermain di area Time Zone.
Sabrina melangkah masuk ke area Amazone yang merupakan area game paling besar di Mall Raharja. Tentu saja ia sama sekali tidak mengeluarkan uang sepeser pun, karena semuanya ada yang membayar. Yaitu, pengawal pribadi wanita yang telah merebut kekasihnya.
Dave menuju ke area kasir untuk memesan kartu yang akan digunakan saat bermain game oleh wanita yang sudah berjalan masuk meninggalkannya. Sebenarnya jauh di dalam hati, ia tidak berhenti merengut saat menemani Sabrina ke Time Zone tersebut.
"Astaga, aku sudah seperti seorang ayah yang menemani putrinya untuk bermain game saja. Wanita ini benar-benar unik, bahkan umurnya sudah bukanlah anak-anak atau pun remaja, tapi dia masih percaya diri datang ke area permainan ini. Ini sangat konyol sekali dan aku bahkan lebih konyol lagi, karena harus menemaninya di sini karena tuan muda," batin Dave yang sudah berlalu masuk ke dalam area permainan dan mencari keberadaan dari Sabrina.
Tatapannya berhenti pada 1 titik, di mana wanita yang dicarinya tengah terlihat di belakang 2 remaja yang sedang berkosentrasi mengikuti gerakan dari layar di depannya. "Mau apa Sabrina berada di area Dance-dance Revolution.
Dave berjalan mendekati Sabrina, "Kamu ngapain berada di situ?"
"Tentu saja aku sedang antri dan menunggu mereka selesai," jawab Sabrina tanpa mengalihkan perhatiannya yang dari tadi fokus menatap ke arah 2 gadis remaja yang masih bergerak sesuai irama untuk mengikuti gerakan dari layar di depannya.
"Astaga, kamu mau ikut berjoget seperti gadis-gadis remaja itu? Kalau apa-apa itu lihat umur. Bahkan kamu sudah tua, tapi masih ingin berjoget seperti mereka. Lebih baik cari permainan lain saja!" Dave menarik pergelangan tangan dari Sabrina untuk berjalan ke arah permainan lain yang menurutnya pantas untuk orang dewasa.
Sabrina mengarahkan tatapan tajam pada tangannya yang masih dipegang oleh Dave. Bahkan ia berpegangan kuat pada besi pembatas di belakangnya. "Lepaskan tanganmu, Dave! Bukankah kamu hanya diberikan perintah oleh tuan mudamu untuk mengantarkan aku? Lalu, kenapa kamu malah mengaturku?"
Refleks Dave yang menyadari kebodohannya memegang tangan Sabrina, langsung melepaskan tangannya. "Aku hanya tidak ingin membuatmu malu karena mendapatkan tatapan dari orang-orang yang nantinya akan membuatmu merasa terhina. Itu saja," ucap Dave yang mencoba untuk menjelaskan niat baiknya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
__ADS_1
"Kamu hanya terlalu berlebihan, mana kartunya!" Sabrina mengarahkan telapak tangannya untuk meminta kartu permainan.
Dengan terpaksa, Dave langsung memberikan kartu yang tadi dibelinya ke telapak tangan yang masih mengarah padanya. "Nih, terserah padamu saja. Aku tidak mau ambil pusing."
"Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk pusing-pusing memikirkan aku? Jatuh cinta baru tahu rasa kamu," ejek Sabrina dengan tersenyum menyeringai. "Oh ya, aku selalu melakukan ini saat sedang stres dan banyak pikiran, karena ini bukan asal bergerak. Akan tetapi, butuh konsentrasi yang tinggi saat mengikuti gerakan dari layar. Dan aku selalu bisa melupakan semua beban pikiranku setelah melakukan ini."
"Bukankah kamu juga sedang patah hati? Kamu tidak mau mencobanya?" tanya Sabrina dengan menolehkan kepalanya ke arah Dave yang berdiri di sebelahnya.
Dave refleks terlihat mengibaskan tangannya dan memijat pelipisnya. "Sudah sana main sendiri! Aku tidak akan gila dengan menuruti kata-kata konyolmu itu." Melangkah ke arah sofa berukuran sedang berwarna hitam yang berada tak jauh darinya dan mendaratkan tubuhnya di sana. "Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita bar-bar sepertimu Sabrina, jadi jangan pernah bermimpi."
"Alhamdulillah, ya sudah kalau begitu," jawab Sabrina yang sudah tidak memperdulikan perkataan dari Dave. Lalu, ia mulai naik ke atas arena Dance-dance Revoution dan mengarahkan kartu ke mesin. Sabrina mulai bergerak sesuai arahan dari layar.
"Sialan, apa dia bilang tadi, alhamdulilah?" umpat Dave. Kemudian ia yang merasa kesal, mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk melihat-lihat para remaja dan anak-anak yang bermain game. Akan tetapi, ia mulai tertarik dengan suara hentakan kaki dari Sabrina yang tertangkap indra pendengarannya. Netra pekatnya mulai mengamati siluet dari wanita yang terlihat sangat berkosentrasi saat menggerakkan kakinya mengikuti layar di depannya.
Matanya tidak berkedip saat menatap ke arah Sabrina. "Wanita ini terlihat lihai sekali saat bergerak. Dia pasti sudah sering melakukannya, karena itulah dia sangat menguasainya," gumam Dave.
Pemandangan di depannya, seolah membuatnya tidak mau mengalihkan perhatiannya untuk melihat ke arah lain. Hingga selama beberapa menit, Dave fokus menatap Sabrina dari belakang. Hingga ia tersadar saat wanita yang ia pandang berjalan turun dari area Dance-dance Revolution. Dave berdehem sejenak dan berpura-pura menatap ke arah remaja yang sedang bermain Maximum Tune Game, agar tidak ketahuan oleh wanita yang sudah berjalan ke arahnya.
Sabrina yang berjalan mendekati Dave, bisa melihat tatapan dari pria yang tengah fokus melihat ke arah game balapan mobil. "Aku sudah puas main. Sekarang kamu giliran kamu yang main sana! Aku akan menunggu di sini dan berisitirahat sejenak." Mengarahkan tangannya untuk menghapus peluh di sekitar area wajahnya. "Aku tadi lupa membawa tisu gara-gara buru-buru ingin menemui Ayah Boby," lirih Sabrina.
__ADS_1
Dave yang bisa melihat wajah Sabrina penuh dengan peluh, membuatnya merogoh sapu tangannya yang berada di saku celananya. Kemudian memberikannya pada wanita yang sibuk mengusap peluhnya. "Nih, ambil saja ini! Aku tidak suka melihat wanita yang terlihat sangat jorok dengan peluh membanjiri wajahnya."
Sabrina tersenyum kecut mendengar kalimat bernada hinaan dari Dave yang masih mengarahkan sapu tangan berwarna hitam kepadanya. Dan ingatannya langsung flashback pada kejadian di depan rumah mantan kekasihnya, saat ia melemparkan sapu tangan itu ke wajah Dave dan malah berakhir membuatnya kehilangan ciuman pertamanya.
"Gara-gara sapu tangan sialan ini yang membuatku berakhir di tangan Dave berengsek ini," gumam Sabrina yang merasa sangat kesal saat mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
Dave mengerutkan keningnya karena tangannya yang sudah mulai pegal karena menggantung di udara menyerahkan sapu tangannya dan malah melihat Sabrina terlihat tengah melamun. Karena merasa sangat geram dan kesal, ia bangkit dari sofa dan langsung mengarahkan sapu tangannya untuk membersihkan sisa-sisa peluh di wajah Sabrina.
"Dasar wanita jorok! Sebenarnya apa yang kamu tunggu dan kamu pikirkan," sarkas Dave yang sudah mulai mengarahkan tangannya pada wajah wanita di depannya untuk menghapus peluh yang sudah menetes.
Sabrina yang merasa sangat terkejut dengan perbuatan tiba-tiba dari Dave pada wajahnya, sontak merebut sapu tangan itu untuk menghentikannya. "Apa-apaan sih, biar aku sendiri!"
"Ya sudah, nih ambil!" sahut Dave yang berjalan ke arah Maximum Tune game untuk bermain balapan mobil.
Sabrina yang terlihat sangat kesal dengan Dave, sebenarnya ingin mengumpat pria yang sudah meninggalkannya tersebut. Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya karena takut jika Dave menciumnya lagi.
"Sialan, lancang sekali dia menyentuh wajahku. Apa dia adalah tipe pria yang selalu berbuat seenaknya pada para wanita? Menyebalkan, mana aku tidak bisa berbuat apa-apa saat dia berbuat seenaknya. Sepertinya aku harus menghindar, pria sepertinya sangat berbahaya. Lebih baik aku pergi dan kabur darinya," gumam Sabrina yang diam-diam berjalan meninggalkan area permainan tersebut.
TBC ...
__ADS_1