
Queen sudah mengeluarkan semua isi perutnya saat muntah-muntah. Dan itu membuatnya merasa sangat lega saat tidak lagi merasakan mual pada perutnya. Namun, ia merasa sangat bersalah pada pria yang saat ini tengah berdiri menjulang di depannya sudah terlihat sangat menjijikkan. Karena kaki dan celana panjang, berwarna hitam yang digunakan oleh suaminya itu telah berubah sangat kotor terkena muntahannya.
Sesekali Queen terlihat jijik melihat muntahannya sendiri, karena ia adalah tipe wanita yang sangat menjaga kebersihan dan juga penampilannya. Sehingga membuatnya bergidik begitu melihat suaminya yang terlihat sangat kotor. Meskipun itu disebabkan oleh ulahnya sendiri.
"My hubbiy, aku tidak sengaja. Maafkan aku," mohon Queen dengan tatapan penuh penyesalan. Kemudian ia meraih ponsel pintar miliknya dan langsung menghubungi seseorang.
"Tidak apa-apa, Sayang." Aditya menunduk menatap celana dan kakinya yang sangat tragis nasibnya.
"Cepat belikan celana panjang untuk suamiku di toko pakaian yang ada di sekitar sini!" teriak Queen dengan suaranya yang tegas.
Tanpa mendengarkan jawaban dari seberang, Queen langsung mematikan sambungan telepon dan kembali menatap ke arah pria yang terlihat mau mengambil tisu di tas miliknya. Dengan menaikkan kedua alisnya, Queen mengungkapkan pertanyaannya.
"Kamu mau apa, My hubbiy?"
"Sini tisunya, Sayang," mohon Aditya seraya mengarahkan tangannya pada sang istri. "Bukankah aku harus membersihkan muntahanmu ini?" Aditya mengarahkan tangannya pada kakinya yang sangat kotor.
Refleks Queen langsung menggelengkan kepalanya dan menunjuk ke arah toilet di area belakang tak jauh dari tempat duduknya. "Jangan pakai tisu, tapi pakai air mengalir. Oh ya, sekalian kamu mandi sana. Karena di tubuhmu sekarang ada banyak kuman dan bakteri yang menempel."
"Dan bakteri itu bisa menularkan virus jahat yang akan bisa membuat orang sakit. Aku tidak mau sakit. Apakah kamu mengerti, My hubbiy?" tanya Queen dengan tatapan penuh dengan ketegasan.
Aditya hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan dari wanita yang membuatnya berakhir sangat mengenaskan. Karena sudah bersalah, tapi malah menyalahkannya. "Padahal kamu yang melakukan ini padaku, Sayang. Akan tetapi, kamu malah terlihat sangat jijik padaku. Lalu, kamu menyuruhku mandi tanpa perlengkapan mandi?" seru Aditya dengan tersenyum kecut.
__ADS_1
Queen yang menyadari kebodohannya, hanya bisa terkekeh. "Oh iya, aku lupa, My hubbiy. Seharusnya aku tadi menyuruh pengawal untuk sekalian membawakannya. Dasar bodoh!" tandas Queen seraya tangan sudah menepuk jidatnya. Kemudian ia mengambil lagi ponselnya, untuk menghubungi pengawalnya.
Namun, baru ia ingin menekan tombol panggil, suara bariton dari Aditya, membuatnya berhenti.
"Tidak perlu, Sayang. Karena aku akan bertanya pada orang-orang yang bekerja di sini. Siapa tahu mereka memiliki perlengkapan, seperti sabun mandi. Nanti aku pinjam mereka saja." Aditya berniat berjalan meninggalkan sang istri, tetapi suara teriakan, membuatnya menghentikan langkahnya.
"Berhenti, My hubbiy!" Queen bangkit dari kursinya begitu para pengawal datang menghampirinya. "Jangan memakai perlengkapan mandi milik orang lain, aku tidak akan membiarkan virus dari orang yang kamu pinjami malah menyebar dan membuatmu tertular penyakit. Lebih baik tunggu saja beberapa menit lagi, sampai pengawal datang. Karena aku baru saja mengirimkan pesan pada mereka."
"Kamu tidak lihat aku terlihat sangat mengenaskan begini, Sayang. Bahkan semua orang sudah melihat jijik ke arahku, tapi kamu masih menyuruhku menunggu? Aku pun sudah sangat risi, ini." Menunjukkan ekspresi masam yang kesal.
"Aku juga jijik sebenarnya, tetapi aku tidak ingin lebih jijik lagi saat melihatmu memakai barang pribadi orang lain. Membayangkannya saja sudah membuatku merasa Ilfil." Queen sudah bergidik ngeri saat membayangkan hal-hal yang membuatnya merasa jijik.
"Astaghfirullah," keluh Aditya seraya memijat pelipisnya. "Baiklah, kalau begitu aku akan menuruti perintahmu, Sayang. Akan tetapi, aku ingin ke toilet sekarang. Nanti, saat pengawal datang, langsung saja suruh mereka ke toilet, oke!"
"Baik Tuan putri," jawab Aditya yang hanya geleng-geleng kepala saat menatap wanita di depannya yang menurutnya terlalu berlebihan. Bahkan saat ia berjalan, ia tidak berhenti merutuki ulah sang istri yang terlalu steril itu.
"Queen ... Queen, kenapa kamu tidak merasa jijik padaku saat aku berbuat liar padamu setiap malam. Sepertinya nanti aku menggodanya saja, dengan membahas hal ini saat kami bercinta. Bahkan tanpa jijik, ia berbuat liar padaku saat sedang dikuasai gairah," gumam Aditya yang sudah melangkah masuk ke dalam toilet.
Sementara itu, tanpa semua orang sadari, ada seorang wanita cantik yang dari tadi mengamati interaksi dari sang nona muda dan suaminya dari bawah pohon palem rindang sambil mengamati sebuah foto di ponselnya.
"Ternyata menantu di keluarga Raharja cukup tampan. Sepertinya akan cukup mudah untuk menjebaknya nanti." Meraih ponsel pintar keluaran terbaru yang baru saja dibelikan oleh orang yang merupakan sahabat baiknya. Sehingga ia langsung menghubungi sahabatnya. Dan bunyi sambungan telepon yang tersambung, membuatnya langsung menjawab dengan suaranya yang merdu.
__ADS_1
"Aku sudah melihat menantu keluarga Raharja di taman yang kamu beritahukan. Ternyata dia cukup tampan. Aku sangat bersedia untuk bekerja sama denganmu. Kamu beneran menyerahkannya padaku? Tidak kamu atasi sendiri?"
"Tidak, karena aku mencintai seseorang yang jauh lebih tampan darinya. Makanya, aku mengajakmu kerja sama. Karena nyonya telah memberikan perintah terlalu berat untukku."
"Oke, aku pun sedang menganggur ini. Kebetulan sekali. Jadi, uang pemberianmu bisa buat aku makan selama mencari pekerjaan baru."
"Tinggal saja di sini bersamaku, karena aku sangat kesepian tinggal di rumah besar ini. Ternyata nona arogan itu membelikan aku rumah cukup besar di komplek perumahan elite. Datanglah ke sini sekarang dan bawa semua pakaianmu. Kita bahas rencana untuk menghancurkan rumah tangga anak dari pria yang sangat dibenci oleh bosku."
"Baiklah, ternyata aku sangat beruntung mempunyai sahabat sebaik kamu, Dewi. Aku akan pulang dulu ke tempat kos untuk mengambil pakaianku."
"Tidak perlu lebay, cepat datang kemari! Jangan sampai para pengawal dari keluarga Raharja ada yang melihatmu. Karena aku akan meminta tuan Arthur membantumu bekerja di perusahaan Raharja."
"Iya, aku tahu. Aku berangkat sekarang, kalau begitu aku tutup telfonnya. Sampai ketemu di istanamu, sahabatku."
"Baik, aku tunggu."
Sambungan telepon sudah terputus dan wanita yang memakai celana panjang, serta kemeja berwarna peach itu bangkit dari bangku tempat duduknya. Kemudian ia melangkahkan kakinya yang jenjang meninggalkan taman yang tidak terlihat ramai itu. Namun, karena buru-buru, dia netra bening miliknya bisa menatap ke arah wanita yang sangat dikenalnya tengah berlari ke arahnya.
"Minggir-minggir!" teriak Queen dari kejauhan sambil menutup mulutnya.
"Astaga, bukankah nona itu adalah nona muda? Dia tidak boleh melihatku, karena jika dia sampai mengenaliku saat menjebak suaminya nanti, sudah bisa dipastikan bahwa dia tidak akan percaya dan malah mencurigaiku," gumamnya dalam hati.
__ADS_1
TBC ...