Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Benar-benar bingung


__ADS_3

Dave mengamati siluet dari tuan muda yang baru saja mengungkapkan mengetahui tentang surat perjanjian yang baru saja dibuatnya beberapa saat yang lalu. "Bahkan tuan muda sudah mengetahui apapun yang aku lakukan. Ini sangat memalukan sekali. Astaga ... tuan muda cerdas sekali, karena bisa mengerti mengenai semua hal. Awalnya perasaanku pada nona muda, sekarang soal surat perjanjian."


Beberapa saat kemudian, Sabrina yang sudah keluar dari liff, berjalan mendekati Dave setelah kembali dari ruangannya setelah menyimpan kertas berisi surat perjanjian. Ia mengerutkan keningnya saat melihat pria yang masih berdiri terpaku di depan ruangan kerjanya.


"Kenapa kamu masih di situ, Dave? Kamu sengaja menungguku?" tanya Sabrina dengan tatapan intens.


Dave menolehkan kepala saat melihat sosok wanita yang berjalan ke arahnya. "Dasar kepedean, aku sama sekali tidak menunggumu."


"Benarkah? Lalu, kenapa kamu masih di sini?" tanya Sabrina dengan menaikkan kedua alisnya.


Dave mengamati wajah Sabrina dengan tidak berkedip, seolah ingin menghakiminya. "Apakah kamu tadi memperlihatkan surat perjanjian yang kita buat tadi pada tuan muda?"


"Memangnya aku gila, apa!" teriak Sabrina dengan kesal.


"Berarti tuan muda adalah seorang peramal yang bisa membaca pikiran orang," jawab Dave dengan wajah datarnya. "Bahkan ia bisa mengetahui wanita yang aku cintai dan sekarang pun juga tahu kalau kita setuju menikah dengan surat perjanjian," ujar Dave yang melirik ke arah wanita yang terlihat tersenyum tersebut.


Sabrina terlihat berbinar begitu mendengar perkataan dari Dave, bahkan ia sudah berjingkrak beberapa kali seraya tangannya menggerakkan lengan kekar dari pria di depannya. "Benarkah? Jadi, Mas Aditya bilang begitu? Dia tahu kalau aku menerima pernikahan palsu penuh keterpaksaan ini dengan surat perjanjian?"


"Astaga, lebay sekali. Lepaskan dan jangan berlebihan!" sarkas Dave dengan sangat kesal. Entah mengapa ia selalu merasa sangat kesal saat melihat wanita di depannya yang terlihat bahagia saat membicarakan tentang tuan mudanya.


Sabrina yang tersadar dari kebodohannya karena asyik memegangi lengan kekar pria yang sudah terlihat masam itu, refleks langsung melepaskan tangannya. "Iish ... kamu kenapa sih! Begitu saja marah, aneh sekali. Maaf ... maaf, aku kan tidak sengaja karena saking senangnya."

__ADS_1


"Saking senangnya? Kamu merasa sangat senang karena mengetahui bahwa tuan muda mengerti tentang surat perjanjian yang baru saja kita tandatangani tadi? Dasar bodoh, seandainya saja kamu tahu yang dikatakan oleh mantan kekasihmu," ucap Dave yang berlalu pergi meninggalkan Sabrina.


Sabrina mengerutkan keningnya begitu mendengar kalimat bernada ambigu dari pria yang sudah berjalan meninggalkannya. Sehingga ia pun sedikit berlari untuk mengejar Dave. "Tunggu! Memangnya apa yang dikatakan oleh mas Aditya padamu? Cepat katakan padaku!" seru Sabrina yang sudah menahan pergelangan tangan Dave.


Tanpa memperdulikan pertanyaan dari Sabrina yang berusaha menghentikan langkah kakinya, Dave masih terus berjalan ke ruangan kerja presiden direktur. Dimana pasangan suami istri yang merupakan orang penting itu sudah menunggu.


Sedangkan Sabrina semakin merasa kesal saat tidak diperdulikan oleh pria dengan postur tubuh tinggi tegap tersebut. "Astaga, aku bicara padamu, Dave."


Dave menghentikan langkahnya setelah berada di depan pintu ruangan presiden direktur. Kemudian berbalik badan untuk menatap ke arah wanita yang masih belum melepaskan tangannya. "Kamu tanyakan saja sendiri pada tuan muda di dalam. Sekarang lepaskan tanganmu!" sarkas Dave dengan wajah masam saat mengarahkan dagunya pada tangannya yang masih dipegang oleh Sabrina.


Sabrina menatap ke arah bawah dan refleks langsung melepaskan genggamannya setelah menyadari kebodohannya. "Maaf ... maaf, aku tidak sadar dan juga tidak sengaja memegang tanganmu. Sebenarnya kenapa sih kamu, kayak wanita yang lagi PMS saja." Berlalu pergi meninggalkan Dave untuk masuk ke ruangan kerja presiden direktur setelah sebelumnya mengetuk pintu.


Sementara itu, Dave yang masih merasa sangat kesal, mau tidak mau melangkahkan kaki panjangnya memasuki ruangan yang pintunya sudah terbuka tersebut. Bisa dilihatnya pasangan suami istri sedang duduk di sofa tengah bersikap sangat romantis. Yaitu, sang tuan muda terlihat tengah menyuapi nona mudanya dengan sesekali terlihat tertawa kecil.


Entah mengapa ia refleks langsung mengkhawatirkan sosok wanita di depannya yang terlihat berdiri mematung, sedang menatap ke arah pasangan suami istri yang romantis itu.


"Sabrina pasti merasa sakit hati saat melihat momen romantis dari mantan kekasihnya. Dia tidak akan menangis kan?" gumam Dave di dalam hati.


Wajah Sabrina seketika berubah pias begitu melihat pemandangan di depannya. Dimana pria yang masih sangat dicintainya itu terlihat sangat romantis ketika menyuapi wanitanya. Sejujurnya ia ingin sekali berbalik badan dan meninggalkan ruangan tersebut. Karena hatinya terasa sakit saat melihat aksi romantis tersebut.


"Sialan, kenapa juga aku aku tadi kembali ke ruangan ini. Seharusnya aku makan di kantin saja setelah menyimpan surat perjanjian di dalam tas tadi. Aku malah datang ke sini, ibarat menyerahkan diri saat melihat mereka," gumam Sabrina yang merutuki nasibnya.

__ADS_1


Aditya yang baru saja menyuapi Queen, refleks menoleh ke arah Sabrina dan Dave yang baru saja datang. "Kalian sudah kembali, duduklah. Mie Aceh spesial udangnya masih panas. Lebih baik cepat dimakan, karena kalau dingin tidak enak."


Dave yang merasa sangat khawatir pada Sabrina, refleks langsung berjalan ke arah depan dan tangannya sudah menarik pergelangan tangan wanita yang masih terdiam seperti patung manekin. "Ayo, cepat makan dan melanjutkan pekerjaan kita."


Sabrina hanya diam saat tangannya ditarik oleh Dave yang membawanya untuk duduk di sofa. Saat ini, hatinya terasa sakit dan merasa tidak mood untuk menikmati makanannya. Akan tetapi, ia berusaha untuk menyembunyikan apa yang dirasakan olehnya dengan berpura-pura bersikap biasa. Ia saat ini tengah fokus menatap ke arah pria yang sibuk membuka makanan dari tempatnya dan memberikan kepadanya.


"Nah ... punyamu," ucap Dave yang sudah menyerahkan makanan, yaitu mie Aceh udang yang masih terasa panas.


"Terima kasih," jawab Sabrina yang sudah menerima kuliner berjenis mie, khas dari Aceh tersebut. Kemudian ia berniat untuk mengarahkan garpu ke mulut, tetapi ia membulatkan kedua matanya begitu mendengar perkataan dari sang nona muda.


Queen yang dari tadi mengamati interaksi dari Dave dan Sabrina, tiba-tiba memiliki sebuah ide di kepalanya. "Dave, aku ingin melihatmu menyuapi calon istrimu. Ini keponakanmu yang memintanya, sepertinya aku sedang mengidam."


"Apa?" ucap Sabrina dan Dave yang merasa sangat terkejut dan langsung ber-sitatap.


"Cepatlah, aku tidak ingin kalian membuat anakku ngences ya. Ini hanya hal sepele, jadi jangan membesar-besarkan masalah," sarkas Queen dengan tatapan tajam. "Lagipula kalian sebentar lagi akan menikah, anggap saja ini sebuah bentuk kebiasaan kecil yang akan kalian jalani setelah resmi menjadi pasangan suami istri." Beralih menatap ke arah sang suami, "Bukankah begitu, My hubbiy? Aku tidak salah kan?"


Aditya terlihat sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari sang istri yang menatapnya dengan tatapan puppy eyes andalannya. Di satu sisi, ia tidak ingin menyalahkan wanita yang sedang hamil, sedangkan di sisi lainnya, ia tidak ingin semakin menekan Sabrina agar menuruti perintah dari istrinya.


"Ya Allah, berada di antara 2 wanita ini benar-benar membuatku tidak bisa berkutik sama sekali. Meskipun niat istriku baik, tetapi aku pun tidak ingin membuat Sabrina semakin merasa frustasi karena harus terpaksa menuruti perintah dari istriku. Akan tetapi, jika sampai aku menyalahkannya, bisa-bisa dia akan semakin sensitif dan marah. Aku benar-benar bingung," gumam Aditya di dalam hatinya.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2