Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Terlalu lemah dan baik hati


__ADS_3

Queen yang baru saja memasukkan ponselnya ke saku gaun yang dipakainya, melihat ke arah pintu begitu mendengar suara dari dokter yang baru masuk bersama beberapa perawat dengan membawa peralatan untuk mengganti penutup luka bekas operasi dari pria yang merupakan suami dari orang paling terkenal di Jakarta itu.


"Maaf kami agak sedikit terlambat Nona muda," ucap dokter saat sudah berada di dekat pasien VVIP itu.


"Tidak masalah, karena tadi suamiku yang bandel ini masih ada urusan dengan ibunya." Queen mengamati 2 perawat yang berada di sebelah dokter. "Mereka mau ngapain?"


2 perawat itu sing ber-sitatap mendapatkan sebuah pertanyaan yang menurut mereka sangat konyol. Namun, mereka tidak berani untuk menjawab pertanyaan dari wanita yang mereka ketahui bukan wanita sembarangan.


"Tentu saja untuk membantu saya Nona muda," ucap pria berseragam putih itu menjelaskan.


"Tidak perlu, kalian berdua sebaiknya keluar dari sini!" Queen menatap tajam ke arah 2 perawat yang memakai hijab itu seraya mengibaskan tangannya. "Aku yang akan membantu dokter untuk merawat suamiku."


"Oh ... begitu? Itu malah lebih baik Nona muda!" Beralih menatap ke arah 2 perawat yang berada di dekatnya. "Kalian tinggalkan ruangan ini!"


"Baik dokter," ucap 2 perawat itu dengan serempak dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan perawatan.


Sedangkan Aditya yang dari tadi masih terus memikirkan perkataan dari ibu kandungnya, seolah membuatnya menanggung beban berat. Sehingga ia sama sekali tidak memperdulikan tingkah posesif dari wanita yang terlihat sangat tidak suka ada wanita yang berada di dekatnya. Dan ia hanya diam saja saat dokter dan istrinya mulai memeriksa bekas jahitan di perutnya.


Hingga lamunannya seketika buyar saat ia menangkap suara dari wanita yang terdengar sangat sinis saat berbicara.


"Jangan buang-buang energi dan pikiranmu untuk wanita yang tidak mempunyai perasaan itu. Karena mereka sama sekali tidak berhak untuk kamu pikirkan My hubbiy!" Queen dari tadi mengamati sosok suami yang terlihat melamun dengan pandangan kosong.


"Iya Sayang, aku tidak sedang memikirkan mereka. Aku hanya sedang merindukan Ayah saja." Aditya agak sedikit meringis saat merasakan nyeri pada luka jahitannya ketika dokter memeriksa luka jahitannya yang tadi mengeluarkan darah.


"Kamu hanya beralasan saja My hubbiy" Queen yang membantu dokter untuk memberikan peralatan itu kepada dokter, ikut mengamati cara kerja pria berseragam itu. "Bagaimana Dokter?"


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Nona muda. Hanya sedikit jahitan yang agak terbuka karena tadi Tuan Aditya berdiri dan memaksakan untuk berjalan." Dokter beralih menatap ke arah pria yang terlihat memejamkan matanya. "Lebih baik Anda berada di atas ranjang dulu Tuan Aditya! Jangan memaksakan diri untuk turun karena Anda baru menjalani operasi besar."


"Iya Dokter, saya mengerti." Aditya menyunggingkan senyumnya seraya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi!" Dokter mulai berjalan keluar setelah membungkuk hormat pada 2 orang di depannya.


"Terima kasih Dokter," ucap Queen yang mengarahkan dagunya untuk menyuruh Dave membantu dokter membawa beberapa peralatan medis.


Dave menganggukkan kepalanya dan mulai melaksanakan perintah dari nona mudanya. Lalu, keduanya mulai meninggalkan ruangan perawatan tersebut.


"Rasanya aku sangat capek," Queen menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan karena ingin melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku. Sebenarnya ia hanya ingin mencari perhatian dari pria yang terlihat sangat murung itu. Tentu saja ia merasa tidak tega saat melihat awan mendung di wajah tampan suaminya, sehingga dirinya mencoba untuk mengalihkan perhatian.


Dan perbuatannya itu berhasil karena suaminya langsung menatapnya dengan tatapan intens dan menepuk ranjang di sebelahnya.

__ADS_1


"Kemarilah Sayang, lebih baik kita tidur bersama. Bukankah ranjang ini sangat pas untuk kita berdua?" Aditya mengarahkan tangannya kepada wanita yang masih berdiri menjulang di sebelahnya.


"Aku memang menyuruh pihak rumah sakit untuk menyediakan ranjang berukuran besar agar aku bisa tidur di sebelahmu. Oh ya, aku kunci pintunya dulu!" Queen berjalan ke arah pintu dan membukanya untuk berbicara pada para pengawal yang berjaga di luar.


"Aku dan suamiku mau tidur, jangan ada yang mengganggu!"


"Baik Nona muda," ucap beberapa pengawal dengan serempak.


Saat Queen hendak menutup pintu, suara bariton dari orang kepercayaannya yang memanggilnya mulai terdengar.


"Tunggu Nona muda!"


"Ada apa Dave?"


"Saya berniat untuk meminta ijin keluar sebentar."


"Pergilah, lagipula banyak pengawal yang berjaga di sini."


"Terima kasih Nona," ucap Dave dengan membungkukkan badannya.


"Salam buat Dewi," ucap Queen dengan wajah datarnya dan mulai menutup pintu.


"Eh ... bukan Nona," teriak Dave untuk meluruskan kesalahpahaman seraya tangannya sudah garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Akan tetapi, sepertinya ide Nona muda boleh juga. Bukankah akan sangat membosankan jika jalan-jalan sendiri? Anggap saja Dewi adalah seorang pemandu wisata karena dia asli orang sini dan pasti sangat mengetahui seluk beluk kota ini."


Kemudian Dave berjalan meninggalkan rumah sakit setelah sebelumnya berpesan kepada para pengawal agar tidak lengah dan bergantian dalam menjaga keselamatan sang nona muda.


Sedangkan di dalam ruangan perawatan, Queen sudah membaringkan tubuhnya di sebelah pria yang menawarkan lengannya sebagai bantal. Namun, ia menolaknya karena tidak ingin membuat pria yang terluka itu kecapekan.


"Nanti saja kalau kamu sudah sembuh, aku baru mau."


Akhirnya Aditya meluruskan tangannya karena niat baiknya ditolak oleh istrinya. "Sebenarnya tidak apa-apa Sayang."


"Aku tidak mau membuatmu kecapekan. Akan tetapi, nanti setelah kamu sembuh, aku akan selalu membuatmu kecapekan." Queen terkekeh geli mendengar perkataannya sendiri.


"Sepertinya aku tahu apa yang kamu maksud, dasar istri nakal." Aditya menyentil kening wanita yang menurutnya berubah vulgar semenjak mereka berdua sering bercinta.


"Aku bukan nakal, tapi aku ingin menjadi seorang istri yang bisa menjaga suami agar tidak sampai berpikir untuk berselingkuh. Karena tugas istri yang paling utama menurutku adalah memuaskan kebutuhan batin suami agar tidak merasa kekurangan dan tidak sampai mencari kepuasan batin dengan berselingkuh."

__ADS_1


"Aku bukan pria seperti yang kamu sebutkan Sayang, karena aku adalah tipe laki-laki yang setia hanya pada 1 wanita. Akan tetapi, aku sangat senang mendengarnya." Aditya mengusap lembut punggung tangan wanita yang berada di sebelahnya. "Terima kasih Sayang."


"Terima kasih untuk apa?"


"Untuk cintamu yang begitu besar padaku. Kamu bahkan mengorbankan kebahagiaanmu demi bisa membuatku tetap hidup."


"Soal perjanjian itu?"


"Iya, dari tadi aku memikirkan hal ini. Sepertinya orang yang bersalah memang harus menerima hukuman. Karena dosa sekecil apa pun yang dilakukan oleh manusia akan mendapatkan hisabnya di akhirat kelak. Apakah aku orang yang egois karena lebih mementingkan istriku dari pada saudaraku?"


"Kamu lebih mendengarkan pendapat dari istrimu atau pendapat orang lain?"


"Tentu saja istriku yang paling utama," ucap Aditya dengan penuh keyakinan.


"Kalau begitu dengarkan aku! Bagiku, kamu akan terlihat egois jika membebaskan adikmu. Itu sama saja kamu melindungi seorang penjahat. Jangan biarkan dia menyakiti orang lain dan membahayakan keselamatan orang karena ia adalah pria yang sangat jahat yang sanggup melakukan apa pun demi ambisinya."


"Bagaimana jika dia menyesali perbuatannya setelah berada di penjara Sayang?" Aditya mencoba untuk bertukar pikiran dengan sang istri untuk meringankan beban pikirannya.


"Tidak segampang itu membuat orang menyesal dan berubah karena semua butuh proses. Mungkin beberapa tahun berada di penjara akan membuat Rey sadar, tapi kalau beberapa hari, bulshit. Ada 1 orang yang harus kita lindungi dari Rey," ucap Queen seraya menatap ke arah suaminya.


"Lindungi? Siapa?"


"Gadis yang telah mendonorkan darahnya untukmu dan membuat Rey gagal melaksanakan rencananya. Dia pasti sangat dendam padanya. Jangan biarkan ada korban lagi dari kejahatan adikmu! Apa kamu mengerti My hubbiy?"


Aditya langsung menganggukkan kepalanya saat mendapatkan sebuah tatapan tajam dari istrinya. "Baiklah Sayang, tapi ijinkan aku untuk menemuinya di penjara setelah aku keluar dari ruah sakit!"


"Tidak boleh!"


Queen mengarahkan tatapan tajam saat suaminya meminta hal yang menurutnya sangat konyol. Karena ia tahu kalau Rey sangat licik dan akan merayu suaminya yang lemah itu agar mau membebaskannya.


"Tidak akan aku biarkan kamu bertemu dengan 2 orang jahat itu My hubbiy. Karena kamu terlalu lemah hati dan juga terlalu baik hati."


TBC ...


Terima kasih untuk para readers yang masih setia menunggu kelanjutan dari cerita Author.


Oh ya, Author ingin memberitahukan bahwa hari ini Author baru saja membuat grup baru. Bagi yang ingin masuk untuk menjalin silaturahmi, bisa tinggalkan nomor ponselnya di kolom komentar 🥰


Jika ada yang dulu sudah meninggalkan nomor tapi belum dimasukkan grup, mohon maaf. Mungkin sudah tertimbun dengan komentar-komentar dari yang lain.

__ADS_1


Jadi, bisa menuliskannya lagi agar langsung Author masukkan di grup.


Terima kasih semuanya 🙏🥰


__ADS_2