
Queen yang merasa sangat kikuk dan tidak suka karena bersibobrok dengan netra pekat pria yang saat ini tengah menatapnya dengan intens. Namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak berani memarahi pria yang di bayarnya itu di depan Mommy dan juga Kakaknya.
Sialan ... ngapain juga si pria miskin ini memandangku seperti itu? Menyebalkan sekali, dia pasti tidak pernah melihat wanita secantik diriku. Ya iyalah, karena yang dia lihat cuma si Sabrina yang malang itu. Sabrina ... Sabrina, pria yang kamu puja ... puja dan kamu banggakan ini sudah tidak mengingatmu lagi. Karena dia pun sudah terpesona denganku. Mana ada sih pria normal di dunia ini yang tidak menyukaiku? Ada, hanya My Hot Daddy yang terang-terangan menolakku. Dasar bodoh kamu Queen ... bodoh. Gara-gara My Hot Daddy, aku terlihat sebodoh ini.
Tiga orang yang berada di ruangan butik tersebut hanya mengamati interaksi dari dua calon mempelai yang tengah saling memandang itu dengan saling memberikan sebuah kode kedipan mata. Salsabila meremas pergelangan tangan Arthur dan tak lupa mengedipkan matanya kepada sang Mama mertua.
Hingga keheningan di ruangan tersebut sirna saat suara dari Queen yang berteriak mulai membahana, "Mom, Mommy diam saja sih! Aku kan tadi bertanya pada Mommy, aku cantik atau tidak?"
Qisya menganggukkan kepalanya, dan beralih menatap ke arah calon menantunya, "Bagaimana menurutmu Aditya? Putriku cantik atau tidak?" tanya Qisya untuk memancing pendapat dari sang calon menantu.
Aditya yang tersadar dari lamunannya, seketika langsung menganggukkan kepalanya. "Iya Nyonya Qisya, putri Anda memang sangat cantik. Dan Anda pun masih terlihat sangat cantik meski sudah mempunyai putri sedewasa Queen."
Queen terlihat bertepuk tangan, "Waah ... kamu sangat pintar merayu Mommy ku ternyata. Aku pikir kamu tidak akan menatap wanita lain selain aku, ternyata kamu juga melirik ke arah wanita lain. Bukankah menatap wanita yang bukan merupakan muhrimnya juga berdosa? Seperti yang selalu kamu sebutkan, bukan muhrim ... bukan muhrim yang selalu aku dengar."
"Sayang, jaga sikapmu pada calon suamimu! Setelah menikah, kamu harus menjaga sopan santunmu pada Suami! Apa kamu mau masuk neraka karena berbuat kurang ajar pada Suamimu? Apa perlu Mommy menjewermu, agar kamu sadar dari kesalahanmu?" ucap Qisya seraya mengarahkan tangannya ke atas untuk mendarat pada daun telinga dari putrinya.
__ADS_1
Aditya mengarahkan tangannya ke depan, seolah ingin menegaskan larangannya, "Sudah Nyonya! Queen sangat tidak suka jika ada yang menjewer telinganya, apalagi memberinya sebuah hukuman di depan orang lain. Jadi tolong Nyonya jangan menghukum Queen lagi! Biarkan saja saya nanti yang akan menasihatinya untuk bersikap lebih baik pada seorang suami. Karena itu merupakan tugas bagi Suami untuk membuat istrinya menjadi wanita yang lebih baik."
Melihat calon menantunya itu mulai melindungi putrinya, membuat sudut bibir Qisya melengkung ke atas. Kemudian dirinya menurunkan tangannya, dan mulai menatap tajam ke arah putrinya, "Tuh lihatlah, calon suamimu benar-benar seorang lelaki yang luar biasa. Jadi turuti semua perkataan dari Suamimu, jangan membantah perintah dari Suamimu. Atau kamu mau merasakan panasnya siksa api neraka?"
Queen menatap jengah ke arah Aditya dan wajahnya sudah berubah masam, tentu saja dirinya hanya bisa mengumpat di dalam hati.
Perkataan Mama sudah seperti Aditya saja, menyebalkan sekali. Awas saja kamu Aditya, aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan simpati dari keluargaku. Karena aku harus membuatmu terlihat buruk di mata mereka, agar aku bisa dengan mudah menceraikanmu nanti.
"Iya ... iya Mom, aku akan berubah menjadi wanita yang baik. Karena aku tidak mau merasakan siksa api neraka seperti yang Mama katakan tadi," jawab Queen dan beralih menatap ke arah Aditya, "Bukankah kamu yang harus mengajariku, agar aku bisa menjadi seorang istri yang baik Sayang?"
Queen yang sebenarnya merasa sangat kesal mendengar perkataan dari pria yang sangat tidak di sukainya itu terpaksa menganggukkan kepalanya, dan terpaksa menjawab perkataan dari Aditya, "Tentu saja aku akan menuruti perkataan darimu Sayang. Aku ingin menjadi seorang Istri yang baik untukmu."
Astaga ... rasanya aku mau muntah mendengar kalimatku sendiri, yang mengatakan akan menjadi Istri yang baik untuk pria miskin ini. Mungkin aku tidak akan merasa seperti ini jika yang di depanku adalah My Hot Daddy, aku tidak akan pernah merasa semual ini.
Melihat Queen bersikap manis pada pria yang di bayarnya, membuat Arthur seketika berkomentar menanggapi perkataan dari adik kesayangannya itu, "Hei little Queen, kamu harus bersyukur bisa menikah dengan pria seperti Aditya. Karena kata My Queen tadi, Aditya merupakan sebuah berkah untukmu, sedangkan bagi Aditya, kamu adalah malapetaka baginya hahaha ...."
__ADS_1
"Brengsek kamu Brother," ucap Queen dan beralih menatap ke arah sang Kakak ipar, "Apa kamu bilang tadi Kakak ipar? Coba katakan sekali lagi di depanku secara langsung!"
Salsabila menelan salivanya dengan kasar saat mendapat tatapan tajam setajam silet dari adik iparnya. Dirinya mengarahkan tangannya seolah menunjukkan bahwa ia mengaku menyerah, "Ampun Queen, aku tadi hanya bercanda saja pada Aditya. Jangan di masukkan ke dalam hati, Abangmu saja yang tengil. Dia pasti ingin membuatmu marah dengan menggodamu, bukankah selalunya begitu? Masa, kamu tidak hafal dengan kelakuan dari Abangmu sendiri?"
"Kalian berdua sama saja, dan tidak ada bedanya. Jadi jangan berpura-pura bersikap munafik, aku malas mendengarnya!" Setelah puas merungut, Queen berjalan meninggalkan orang-orang yang membuatnya merasa sangat kesal.
Namun saat dirinya baru beberapa langkah hendak memasuki ruangan ganti, tangannya di tahan oleh pria yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.
"Tunggu Queen, mulai sekarang rubahlah sikapmu yang sangat tidak sopan berbicara pada orang yang lebih tua darimu! Abang dan Kakak Iparmu lebih tua darimu, jadi kamu harus berbicara yang lebih sopan padanya. Apa kamu mengerti? Paling tidak sedikit demi sedikit kamu harus belajar untuk menjadi seorang wanita yang lemah lembut layaknya seorang wanita."
Queen menolehkan kepalanya ke belakang dan beralih menatap ke arah tangannya yang di pegang oleh pria yang di tidak di sukainya itu.
Apa yang pria miskin ini lakukan? Apa dia mau mati? Berani-beraninya dia menyentuhku, apa karena dia berpikir ada Mommy dan Brother yang akan melindunginya. Brengsek ... lalu apa yang selalu di katakannya tadi, bukan muhrim ... bukan muhrim. Lalu kenapa dia sekarang berani menyentuh tanganku? Awas saja kamu Aditya, aku akan menghabisimu setelah keluargaku pergi.
Bersambung ...
__ADS_1