Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Akhirnya wajah ceria nona arogan kembali


__ADS_3

Akhirnya Queen pergi meninggalkan rumah sakit untuk pergi membeli pakaian muslimah modern yang akan dipakainya saat menemui suami tercintanya. Tentu saja ada saudaranya yang mengantar dan sedang mengamatinya memilih-milih pakaian. Karena sama sekali tidak memiliki pengalaman mengenai gaya berpakaian wanita muslimah, tentu saja membuat Queen merasa bingung untuk memilih pakaian yang akan dikenakannya begitu sampai di toko baju.


"Astaga, banyak banget model-modelnya. Mana aku nggak tahu lagi yang sekiranya cocok untuk kupakai dan membuat aku terlihat cantik di mata My hubbiy."


Queen yang merasa kebingungan hanya menatap satu persatu pakaian yang di pajang di depan matanya sambil sesekali mengedarkan pandangannya untuk mengamati semua pakaian yang ada di hadapannya. Lalu, ia melirik ke arah pria yang terlihat duduk santai di sebuah kursi sambil menundukkan kepalanya untuk fokus menatap ke arah ponselnya.


"Astaga, enak sekali dia duduk di situ tanpa membantuku," rengut Queen dan langsung berjalan mendekat ke arah saudaranya. "Brother, bukannya malah membantuku untuk memilih pakaian yang sekiranya cocok untukku dan membuatku terlihat cantik di mata adik iparmu, malah asyik mainan game di sini."


Arthur refleks mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan menatap ke arah adik perempuannya yang terlihat sangat kusut. "Astaga, hal sepele saja kenapa membuatmu bingung, Queen." Arthur bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati salah satu pegawai wanita berhijab yang terlihat sangat modis dalam berpakaian.


"Jegeg!" Arthur melambaikan tangannya pada pegawai wanita.


Melihat pria yang sangat tampan memanggil dan menyebutnya cantik, tentu saja membuat wanita berhijab itu merasa deg-degan dan tersanjung. Namun, ia berusaha untuk bersikap tenang dan sesopan mungkin.


"Iya Bli, apakah ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong dia memilih pakaian muslimah yang membuatnya terlihat sangat cantik luar biasa!" Arthur meraih dompet di kantong celananya dan mulai mengambil uang 2 ratus ribu. Lalu, ia menyerahkannya ke tangan wanita di depannya. "Ini tip buat kamu dan buat wanita itu terlihat cantik!" Arthur menunjuk ke arah sang adik yang terlihat sangat kesal tak jauh dari tempatnya.


"Terima kasih Bli, saya akan membuat kekasih Anda terlihat sangat cantik," ucap pegawai wanita tersebut dengan wajah berbinar begitu menerima uang lembaran merah sebagai bonus.


"Astaga." Arthur memijat pelipisnya karena mendengar perkataan konyol dari pegawai wanita tersebut.


"Kenapa Bli?"


"Dia adikku, bukan kekasihku!" kesal Arthur.


"Oh ... maaf Bli, saya tidak tahu."


"Pria tampan ini ternyata belum mempunyai kekasih karena pergi mengantarkan adiknya. Siapa tahu dia tertarik padaku," gumam pegawai wanita tersebut.

__ADS_1


Suara dering ponsel milik Arthur membuatnya langsung meraih ponsel yang ada di balik saku jasnya. Senyuman mengembang tampak jelas di wajahnya saat melihat siapa yang menghubunginya. Sebelumnya ia langsung mengibaskan tangannya pada pegawai wanita di depannya.


"Tidak apa-apa, sudah sana bantu adikku! Aku mau mengangkat panggilan dari istriku." Berjalan meninggalkan wanita itu dan langsung menggeser tombol hijau dan melambaikan tangannya pada keluarga kecilnya saat melihat istri dan 5 anaknya di ponselnya karena sang istri melakukan VC.


Sementara itu, pegawai wanita itu refleks langsung merasa kecewa begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya mengenai pria tampan yang berhasil menarik perhatiannya.


"Ternyata, pria tampan itu sudah mempunyai seorang istri. Sayang sekali, padahal terlihat masih sangat muda."


Queen merasa geram dengan pegawai wanita yang dilihatnya malah melamun dengan tatapan kosong. Karena merasa sangat tidak sabar, membuatnya langsung berjalan mendekat ke arah wanita berhijab itu dan menepuk bahunya.


"Aku tahu kalau kamu sangat terpesona pada My Brother, tapi jangan menyukainya karena dia sudah punya anak dan istri. Jika ketahuan istrinya, mungkin kamu akan langsung dihabisi oleh kakak iparku karena dia sangat galak dan menyeramkan saat marah. Lebih baik cepat kamu membantuku untuk memilih pakaian yang cocok untukku!"


"Eh ... baik Nona," jawab pegawai wanita itu dengan wajahnya yang sudah berubah merona karena merasa sangat malu telah ketahuan.


Dan keduanya pun berjalan ke arah pakaian muslimah yang berjejer rapi di tempatnya. Pegawai itu pun mulai memilih pakaian yang sekiranya cocok untuk dipakai wanita yang berada di sebelahnya.


"Sepertinya ini sangat cocok untuk Nona," ucap pegawai dengan name tag Desi itu yang sudah menyerahkan beberapa gaun panjang desain simpel namun elegan.


"Ribet bagaimana Nona?"


"Aku nanti akan merawat suamiku di rumah sakit, apakah aku tidak kesusahan jika harus memakai dress panjang seperti itu? Tapi memang semua penampilan dari wanita berhijab harus panjang ya? Astaga, kenapa aku jadi bodoh begini?" Queen menepuk jidatnya dan langsung meraih pakaian yang dipilih oleh pegawai wanita tersebut untuk dicobanya.


"Aku coba dulu saja, kira-kira yang mana yang pantas untuk aku pakai."


"Iya Nona," ucap Desi seraya menganggukkan kepalanya dan menunggu sampai pelanggan keluar dari ruangan ganti.


Sementara itu, Queen mengamati penampilannya di depan cermin saat dirinya mulai memakai sebuah dress berwarna merah agak pink dengan bagian atasnya berwarna putih. Bisa dilihatnya ia terlihat sangat cantik ketika memakai pakaian dengan style kekinian itu. Lalu ia mulai memakai hijab yang merupakan pasangan dari gaunnya di kepalanya.


"Rasanya sangat aneh melihat penampilanku yang seperti ini. Apakah My hubbiy akan menyukai penampilan baruku ini?"

__ADS_1


Saat Queen masih sibuk mengamati penampilannya di depan cermin, bunyi gedoran dari luar membuatnya merasa terganggu dengan suara bising dari saudaranya.


"Queen, cepat keluar!"


"Astaga, apa-apaan sih. Mengganggu saja, aku belum selesai juga." Queen bersungut-sungut dan membuka pintu ruangan ganti. Bisa dilihatnya saudaranya menatapnya dengan tangan yang masih memegang ponselnya. "Apalagi Brother?"


"Kita harus segera kembali ke rumah sakit!"


"Akan tetapi, aku belum selesai," ucap Queen dengan bersungut-sungut.


"Sudah, pakai itu saja! Dan bawa semua pakaian yang dipilih oleh wanita ini!" Arthur menarik pergelangan tangan adiknya dan berniat mengajaknya langsung ke kasir.


"Kenapa harus buru-buru Brother? Aku ingin memilih pakaian yang terbaik agar aku terlihat cantik."


"Memangnya itu penting? Dasar bodoh!" Arthur menyentil kening Queen.


"Apa-apaan sih!" Queen mengusap keningnya yang terasa panas.


"Aditya hanya membutuhkan kehadiranmu bodoh. Dia sudah sadar dan sedang mencarimu sekarang. Bahkan ia kini merasa sangat sedih tidak melihatmu saat sadar."


"Benarkah Brother? Syukurlah, akhirnya My hubbiy sadar." Queen terlihat berkaca-kaca karena merasa sangat bahagia mendengar kabar baik mengenai orang yang sangat dicintainya. "Ayo Brother, aku ingin segera menemui My hubbiy!"


"Bayar dulu sana!" ucap Arthur dengan geleng-geleng kepala melihat tingkah kebodohan dari saudaranya.


"Oh iya, aku lupa." Queen lagi-lagi menepuk jidatnya seraya terkekeh.


"Syukurlah, akhirnya wajah ceria si Nona arogan kembali juga." Arthur memeluk adik perempuannya.


"Aku sangat bersyukur Brother, akhirnya suamiku sadar dari masa kritisnya." Queen pun memeluk tubuh kekar saudaranya karena merasa sangat bahagia. Seolah ingin menyalurkan energi kebahagiaannya pada saudaranya yang sangat disayanginya.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2