
Sabrina sudah memegangi kemejanya karena merasa sangat geram begitu mendengar suara dari pria yang baru saja berbisik di dekat daun telinganya. Refleks ia melirik tajam dengan tatapan membunuh dan senyum dipaksakan sambil mengumpat di dalam hati.
"Awas kamu, Dave. Sebentar lagi, aku akan menyuruhnya bertanggungjawab atas perbuatannya. Tunggu saja," lirih Sabrina di dalam hati.
"Iya, Suamiku," ucap Sabrina dengan senyuman palsu. Kemudian memalingkan wajahnya untuk kembali menatap ke arah fotografer. Tentu saja ia sangat berusaha keras untuk tersenyum yang jelas-jelas tidak sesuai dengan apa yang dirasakannya saat ini.
"Nah, ini baru sempurna," seru pria yang sudah sibuk memotret dengan kilatan kamera berkali-kali dan berbagai macam pose saat berada di ruangan khusus untuk mengabadikan pasangan suami istri yang baru sah tersebut. Tentu saja saat pose mesra, yakni saat fotografer menyuruh Dave berdiri di belakang Sabrina dengan posisi melingkarkan tangan di perut.
Sabrina yang awalnya ingin menolak mentah-mentah perintah dari pria tersebut, akhirnya tidak jadi melakukannya. Karena ada orang tuanya, sehingga ia lagi-lagi terpaksa melakukan hal yang bertentangan dengan hatinya.
Sementara itu, Dave tidak berhenti bersorak kegirangan di dalam hati karena bisa berdekatan dengan wanita yang sudah dinikahinya tersebut. Kemudian ia sudah membuat pose se-mesra mungkin di depan fotografer.
"Sekarang nikmati kesenanganmu, Dave. Sebelum istrimu menghabisimu di dalam kamar nanti. Dia pasti akan benar-benar menghabisiku nanti. Entah apa yang akan dilakukannya nanti. Apakah dia akan meninju perutku, menendang kakiku, menjambak rambutku atau mencubit pahaku? Nikmati saja hukuman yang akan diberikan oleh istrimu, Dave. Anggap saja itu adalah bukti cinta. Akan tetapi, aku masih sangat penasaran dengan perkataan dari tuan muda semalam. Apa maksudnya yang mengatakan bahwa Sabrina akan mencintaiku, padahal jelas-jelas istriku mencintainya," gumam Dave di dalam hatinya.
Beberapa menit kemudian, sesi foto telah berakhir. Sabrina yang dari tadi merasa sesak, efek menahan emosi. Akhirnya merasa lega begitu sesi pemotretan yang menurutnya paling memuakkan itu berakhir. Sehingga ia bisa bernapas lega dan ingin segera pergi ke kamarnya. Bukan untuk melakukan malam pertama seperti layaknya pengantin baru, tetapi untuk menghabisi pria yang sudah beberapa kali melanggar perjanjian.
"Ma, sudah selesai kan acaranya? Aku sudah sangat risi dengan ini," Sabrina yang menatap ke arah mamanya, mengarahkan jari telunjuknya ke arah sanggul di kepalanya dan juga kebaya yang dipakainya.
"Ya sudah, kamu istirahat sana. Ajak menantu sekalian, tetapi jangan ehem ... ehem dulu. Karena keluarga Raharja sudah menyiapkan kamar hotel terbaik untuk itu." Mama Sabrina menatap sekilas ke arah pria yang sudah sah menikahi putrinya, "Jadi, kamu harus menahan diri dulu, menantu. Ingat itu, oke!"
__ADS_1
Dave hanya menggaruk tengkuknya dan tersenyum tipis karena merasa kebingungan dengan perkataan bernada vulgar dari mertuanya. "Iya, Ma. Aku akan mengingatnya."
Berbeda dengan reaksi dari Sabrina yang membulatkan matanya. Tentu saja ia yang sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu, benar-benar merasa kesal dengan ejekan dari wanita yang telah melahirkannya. "Astaga, Mama apa-apaan sih. Memalukan." Berjalan meninggalkan orang tuanya dan juga Dave menuju ke arah anak tangga dan mulai naik setelah sedikit mengangkat ke atas bawahan yang dipakainya.
"Sabrina! Anak itu benar-benar, ya. Bukannya mengajak suaminya, malah main pergi-pergi saja." Beralih menatap ke arah menantunya, "Cepat susul istrimu, menantu. Mama dan Papa akan berbincang dengan beberapa saudara yang ada di di luar," ucap Ahmad pada Dave.
"Baik, Pa. Kalau begitu, saya ke atas dulu," ucap Dave yang sesaat membungkuk hormat dan berlalu pergi meninggalkan mertuanya. Karena rumah tidak terlalu ramai saat acara ijab kabul. Hal itu dikarenakan undangan pernikahan adalah malam hari di hotel Raharja.
Dave sudah melangkahkan kakinya yang panjang untuk menaiki satu-persatu anak tangga menuju ke kamar Sabrina. Begitu sampai di depan pintu tertutup tersebut, ia menghela napas untuk sesaat.
"Saatnya menerima hukumanmu, Dave. Nikmati saja semuanya." Dave mulai membuka kenop pintu berwarna coklat tua di depannya dan melangkah masuk ke dalam. Saat ia sudah menutup pintu, netra pekatnya kini ber-sitatap dengan sosok wanita yang saat ini tengah berkacak pinggang dengan kilatan api di bola matanya.
"Apa? Jadi, kamu mencintaiku?" teriak Sabrina dengan suara kerasnya.
"Aduh, bagaimana menjelaskannya padamu," ucap Dave dengan menggaruk rambut ber-pomadenya yang rapi dan perbuatannya itu berhasil membuat rambut hitam berkilat itu berantakan. "Maksudku ...." Dave tidak melanjutkan perkataannya karena dipotong oleh suara teriakan dari Sabrina.
"Stop! Aku bukan anak kecil, tidak perlu menjelaskannya secara detail."
"Syukurlah," jawab Dave yang bernapas lega. Namun, itu tidak berlangsung lama, karena Sabrina kembali mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
"Kamu ingat dengan apa yang kamu tuliskan di surat perjanjian, bukan?" tanya Sabrina yang masih menahan emosi yang meletup-letup di dalam hatinya. Seolah sebentar lagi akan meledak di depan pria penyebab amarahnya.
"Iya, aku ingat. Apakah kamu mau memintanya sekarang? Nanti aku transfer semua uangku padamu," ucap Dave dengan santainya.
Sabrina semakin murka karena berpikir bahwa ia bisa dibeli oleh uang. Bahkan wanita yang merebut kekasihnya pun ibarat sudah membeli kebebasannya dan begitu mendengar perkataan dari Dave, amarahnya semakin meledak dan seolah ingin meluluhlantakkan pria di depannya menjadi serpihan debu.
Sehingga tanpa membuang waktu lagi, Sabrina sudah berjalan ke arah pria yang berdiri menjulang di depannya. "Aku tidak butuh uangmu. Karena kamu tadi melanggar perjanjian, yaitu sentuhan fisik. Aku pun ingin melanggarnya."
Dave yang tidak mengerti dengan perkataan dari Sabrina yang semakin berjalan mendekat ke arahnya, membuat ia berpikir macam-macam. Karena kalimat sentuhan fisik yang ada di otaknya adalah sebuah sentuhan fisik yang penuh kelembutan. Namun, pikirannya langsung terpatahkan saat ia merasakan sebuah pukulan mendarat di perutnya.
Sabrina sudah melayangkan tinjunya di perut berotot Dave, dan berteriak untuk mengungkapkan emosinya, "Ini sentuhan fisik dariku!" Kakinya menginjak kaki panjang Dave, "Ini juga!" Terakhir ia mengarahkan tangannya untuk meraih rambut ber-pomade rapi itu, "Ini hukuman untukmu yang tadi menciumiku!"
Dave meringis kesakitan saat rambutnya sudah ditarik cukup kuat oleh wanita yang sudah berjalan ke depan, "Astaga, ini sakit Sabrina." Memegangi tangan wanita yang ada di kepalanya.
Namun, Sabrina tidak memperdulikan perkataan dari Dave dan terus berjalan sambil menarik rambut hitam berkilat itu. "Anggap saja ini adalah sebuah kebaikan dariku, agar uangmu tidak hilang begitu saja."
Rasa panas di kepalanya, akibat tangan Sabrina yang masih tidak kunjung melepaskan rambutnya. Sehingga ia berusaha melepaskan tangan itu dan mendorong tubuh Sabrina ke atas ranjang agar melepaskan rambutnya. Namun, yang terjadi wanita yang terhempas itu tidak melepaskan tangannya dan membuatnya ikut terjatuh menimpa tubuh Sabrina.
Sabrina yang merasa sangat terkejut dengan sebuah dorongan dari Dave, refleks jatuh terjerembab ke atas ranjang miliknya dengan posisi telentang. Belum sempat rasa terkejutnya, ia semakin terkejut saat Dave terjatuh menimpa tubuhnya dengan posisi wajah yang saling bersentuhan dan bibir yang menyatu.
__ADS_1
TBC ...