
Queen yang sudah sangat murka, mengarahkan tangannya pada leher Aditya dengan niat untuk mencekik pria yang sudah memancing amarahnya. Namun, usahanya tidak berhasil karena Aditya malah menahan tangannya dengan sangat kuat.
Aditya menahan dua tangan Queen yang berniat untuk meraih lehernya dan menariknya masuk ke dalam kamar hotel. Tentu saja dirinya tidak ingin sampai ada yang melihat kebrutalan dari nona muda dari keluarga Raharja tersebut. Karena sudah menjadi tugasnya sebagai seorang suami untuk melindungi nama baik dari istrinya.
"Tenangkan dirimu Queen! Aku akan menjelaskan semuanya, agar kamu tidak salah paham padaku lagi!"
"Lepaskan tanganmu yang kotor itu dari tubuhku! Aku tidak sudi kamu menyentuhku dengan tangan kotormu itu!" teriak Queen dengan mata yang sudah penuh dengan kilatan api amarah.
"Kamu masih perawan Queen, aku tidak memperkosamu!" ucap Aditya dengan suara baritonnya yang sangat tegas.
Sontak saja perkataan dari Aditya itu membuat Queen langsung terdiam dan menatap tajam ke arah pria yang saat ini masih memegang tangannya. "Kamu penipu! Kamu berbicara seperti itu agar aku tidak membunuhmu kan?"
Aditya langsung menggelengkan kepalanya dan mulai menjawab keraguan dari wanita yang masih menatapnya dengan sangat tajam. "Sebenarnya bukan aku yang memberikan obat perangsang, tapi abangmu. Dan tadi aku berusaha menyembuhkan pengaruh obat perangsang di tubuhmu itu dengan membuatmu berendam di dalam bathtub."
"Kalau kamu masih meragukanku, kamu bisa menghubungi saudaramu, Queen. Akan tetapi, satu pesanku, jangan bertengkar dengan saudaramu gara-gara masalah ini! Karena jika kamu sampai melakukannya, maka saudaramu akan curiga padamu."
Queen terlihat membulatkan kedua matanya begitu mendengar kenyataan yang baru saja didengarnya. Saat ini dirinya tengah merasa sangat shock dengan perkataan dari pria yang berada di depannya tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan. Dengan sangat kasar ia menghempaskan tangan Aditya, lalu ia beralih mundur ke belakang beberapa langkah.
Tanpa berbicara sepatah kata pun pada Aditya, Queen langsung berjalan ke arah ranjang. Dimana ada ponsel miliknya yang berada di sana, lalu ia meraih ponsel pintar itu untuk menghubungi saudara laki-lakinya. Untuk sesaat Queen menunggu jawaban dari panggilan telefonnya. Dan tak berapa lama terdengar suara dari abangnya.
"Halo Queen, apa kamu ingin membunuhku karena aku memberikan obat perangsang padamu?"
"Dasar saudara brengsek!!"
Queen langsung mematikan sambungan telefon sepihak dan melemparkan ponsel itu ke lantai, sehingga membuat benda pipih kotak itu langsung retak bagian layar depan. Lalu ia berteriak dengan sangat histeris.
__ADS_1
"Saudara tidak ada akhlak, aku sangat membencimu Brother. Tunggu pembalasanku, kamu harus mendapatkan balasan yang setimpal!"
Aditya yang sudah melihat Queen berteriak histeris dan melemparkan ponselnya, membuatnya ingin menenangkan perasaan hancur dari wanita yang berada di hadapannya.
"Tenanglah Queen, semuanya sudah terjadi. Sebenarnya niat dari saudaramu baik, tapi caranya saja yang salah. Dia tadi bilang ingin membuatmu tidak merasa malu saat malam pertama kita, tidak ada maksud jahat lainnya. Karena abangmu sebenarnya sangat menyayangimu."
"Sudahlah Queen, jangan buat semuanya bertambah runyam karena kemarahanmu. Lagipula aku sama sekali tidak melakukan apa-apa padamu, jadi tenanglah. Kamu masih Queen yang suci dan murni."
Queen yang saat ini tengah berdiri di sebelah ranjang king size, menatap tajam ke arah pria yang berada di depannya seraya tersenyum kecut. "Apa kamu sedang berusaha mengejekku? Karena merasa adalah pria yang paling baik di dunia, karena bisa menolak aku yang telah memperkosamu tadi?"
Aditya menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk menghibur perasaan wanita yang terlihat sangat terpukul dengan kenyataan yang sebenarnya. "Bukan seperti itu Queen, aku hanya ingin menghiburmu. Sama sekali tidak ada niat untuk nengejekmu maupun menghinamu. Percayalah padaku!"
"Aku harus melakukan apa untuk membuatmu percaya bahwa aku tulus padamu, Queen!" ucap Aditya dengan tatapan yang penuh dengan ketulusan.
Penampilan Queen yang menundukkan kepalanya dengan memegangi kepalanya, sudah terlihat berantakan, karena daritadi ia meremas rambutnya akibat merasa sangat frustasi.
Lalu Queen mengangkat pandangannya untuk menatap ke arah pria yang saat ini berdiri menjulang di depannya dengan menatap ke arahnya. Ia menelan salivanya sebelum mengeluarkan suaranya untuk menanyakan apakah yang dilakukannya saat dirinya tidak sadar tadi.
"Sekarang cepat ceritakan padaku tentang apa yang kamu lakukan padaku saat aku menyerangmu tadi! Karena aku sama sekali tidak bisa mengingat kejadian gila tadi saat aku di bawah pengaruh obat perangsang.
'Brengsek ... baru kali ini aku merasa sangat malu, karena melakukan kesalahan. Seumur hidup, baru kali ini aku berbuat hal gila sefatal ini. Brother benar-benar sangat keterlaluan, aku akan benar-benar menghabisimu nanti.' Jerit batin Queen.
"Apa kamu yakin ingin mendengarnya, Queen?" tanya Aditya dengan ragu-ragu.
"Tentu saja aku sangat yakin, apa kamu ingin aku merasa penasaran seumur hidupku, karena aku tidak mengetahui tentang hal yang sebenarnya terjadi padaku? Cepat ceritakan semuanya tanpa terkecuali!"
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya padamu. Lebih baik kita duduk di sofa, karena ceritanya sangat panjang. Tidak mungkin aku bercerita dengan posisi berdiri seperti ini, yang ada, malah kakiku kesemutan nanti."
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, akhirnya Queen bangkit berdiri dari ranjang dan langsung berjalan menuju ke arah sofa seperti yang diminta oleh pria yang saat ini sudah berjalan mengekor di belakangnya.
Kini, terlihat keduanya tengah duduk bersebelahan dengan posisi saling berjauhan. Terlihat Queen yang saat ini seperti seseorang yang tengah menahan rasa gelisahnya.
Aditya mulai membuka suaranya. "Sebenarnya tadi ...."
"Tunggu!!" ucap Queen dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, "apakah hal yang akan kamu ceritakan padaku itu adalah sebuah hal yang sangat memalukan?"
Aditya merasa sedikit kebingungan saat menjawab pertanyaan dari wanita yang terlihat sangat gelisah itu. Tentu saja menurutnya itu adalah sebuah hal yang sangat memalukan bagi seorang wanita, karena melakukan pemerkosaan pada seorang laki-laki.
"Atau kita tutup saja kasus ini, Queen! Bukankah yang terpenting adalah kamu masih perawan? Bukankah itu yang sangat ingin kamu ketahui?"
"Memang iya sih, tapi aku harus mengetahui cerita yang sebenarnya. Baiklah, sekarang aku sudah siap. Sekarang jelaskan padaku semuanya, aku akan mendengarkannya," jawab Queen dengan perasaan yang sebenarnya tidak menentu.
Aditya sebenarnya merasa sangat tidak tega untuk menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya. Namun, karena wanita yang berada di sebelahnya itu terlihat sangat serius ingin menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya, membuatnya mau tidak mau mulai menceritakan tentang yang terjadi tadi.
Kemudian dirinya mulai menceritakan semuanya tanpa terkecuali dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Dan bisa dilihatnya wajah cantik wanita yang duduk di sofa empuk berwarna merah itu terlihat merona karena merasa sangat malu begitu mendengar ceritanya.
"Jadi begitu Queen, aku sama sekali tidak menggaulimu. Jadi, kamu bisa bernafas lega dan merasa tenang."
Raut wajah Queen kini sudah benar-benar terlihat seperti kepiting rebus. Tentu saja saat ini dirinya merasa sangat malu berada di depan pria yang sudah melihat setiap sudut bagian tubuhnya. Meskipun pria itu tidak bercinta dengannya, namun telah melihat tubuh polosnya.
Astaga ... pria miskin ini sudah melihat tubuhku yang telanjang saat memakaikan aku baju dan pakaian dalam tadi. Aaaaaaarrrh ... rasanya aku benar-benar tidak mempunyai muka berada di depannya. Sial ... sial ... sial, kenapa nasibku bisa seburuk ini setelah bertemu dengan Aditya.
__ADS_1
TBC ...