
Arkha dan Arsha yang sudah berlarian menuju ke ruang makan, menghampiri orang tua dan kakeknya. Bahkan di sana sudah ada Dewi yang memang sengaja diajak untuk sarapannya pagi. Akan tetapi, mereka semua masih menunggu Queen dan juga Aditya yang tak kunjung turun juga.
"Daddy ... Mommy, Aunty Queen menangis," ucap Arkha dan Arsha bersamaan.
"Apa?" sahut 2 pria yang tak lain adalah Arthur dan sang papa.
Sedangkan Qisya sudah berjalan duluan meninggalkan semua orang untuk melihat putrinya yang dibilang cucunya tengah menangis. Karena yang ada dipikirannya saat ini adalah putrinya yang sedang hamil muda. Sehingga ia berpikir terjadi sesuatu pada kandungan putri satu-satunya tersebut dan membuatnya merasa sangat khawatir dan ingin segera memastikannya sendiri.
Tak lupa Salsabila yang mengekor mertuanya, karena merasa sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada adik iparnya tersebut. Tentu saja setelah ia menyuruh para baby sitter untuk menjaga anak-anaknya yang ada di meja makan. Sekilas ia melirik ke arah putra sulungnya yang mendekat ke arah wanita yang baru saja tiba di Mansion. Namun, ia tidak memperdulikannya karena rasa keponya yang terlalu tinggi.
"Kalian suapi anak-anak! Aku mau ikut Mama ke atas untuk memeriksa keadaan Queen."
"Baik Nyonya Salsabila," ucap 5 baby sitter yang ada di sana.
Lebih baik kamu makan dulu bersama anak-anak, Dewi. Tidak usah sungkan, karena kamu sudah menjadi keluarga kami begitu menyelamatkan nyawa menantu di keluarga Raharja," ucap Arthur dan beralih menatap ke arah sang papa, "ayo Pa, kita lihat apa yang sebenarnya terjadi pada nona arogan itu."
Abymana hanya menganggukkan kepalanya dan melangkahkan kaki panjangnya ke arah lift yang akan membawa mereka ke lantai atas dimana ruangan Queen berada.
"Terima kasih Tuan Arthur," ucap Dewi sesaat setelah Arthur berbicara.
"Tante Dewi, suapi Arkha!" Mengarahkan piring makan pada wanita yang menurutnya sangat cantik itu.
Awalnya Dewi merasa sangat terkejut saat mendapat perintah dari putra pria yang disukainya. Namun, karena merasa sangat gemas dengan balita yang memiliki wajah tampan persis seperti daddy-nya, membuatnya merasa tidak keberatan. "Baiklah, Tante Dewi akan suapi Arkha."
"Hore, Tante Dewi suapi Arkha." Binar bahagia terbit dari wajah balita laki-laki tersebut karena keinginannya dituruti.
__ADS_1
"Sekarang buka mulutnya!" ucap Dewi yang sudah mengarahkan 1 suapan itu ke mulut Arkha.
Arkha pun langsung membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang mendarat sukses di mulutnya. Ia merasa sangat senang bisa disuapi oleh wanita yang ada di sebelahnya tersebut.
Sementara itu, Qisya baru saja masuk ke kamar putrinya dan melihat suara tangisan yang memenuhi ruangan tersebut. Baru saja ia ingin membuka suaranya untuk menanyakan pertanyaan pada menantunya penyebab dari putrinya menangis. Namun, di saat yang bersamaan, menantu dan 2 pria yang sangat disayanginya sudah ada di belakangnya. Dan sosok suaminya langsung mengeluarkan suara baritonnya.
"Sebenarnya drama apa lagi yang kalian buat di pagi hari?" hardik Abymana saat melihat menantunya tengah menghapus bulir air mata di wajah putrinya.
Refleks Aditya dan Queen langsung menoleh ke arah orang-orang yang berada di balik pintu dan tengah mengamatinya.
"Papa, ini tadi ...." Aditya tidak melanjutkan perkataannya karena merasa kebingungan harus menjelaskannya dimulai dari mana. sehingga ia beralih menatap ke arah istrinya yang terlihat sembab.
Mengerti dengan arti tatapan pria yang sudah melepaskan pelukannya, ia mulai bangkit dari posisinya dan berjalan ke arah wanita yang sangat disayanginya. "Mommy," teriak Queen pada wanita yang telah melahirkannya dengan menghambur memeluknya.
"Sebenarnya ada apa, Queen? Apa terjadi sesuatu pada kandunganmu?" tanya Qisya yang menatap ke arah perut datar putrinya seraya tangannya mengusap lembut.
"Dasar anak nakal! Mommy tadi merasa sangat khawatir saat Arkha dan Arsha bilang bahwa kamu menangis. Dan Mommy berpikir kalau terjadi sesuatu pada kandunganmu, tapi apa katamu barusan? Kamu malah bilang mengingat Azriel? Astaghfirullah ... sepertinya kamu butuh di ruqiyah, Queen," kesal Qisya pada putrinya karena merasa malu yang luar biasa pada menantunya.
"Mama salah paham pada Queen. Sebenarnya ceritanya bukan seperti itu," bela Aditya yang merasa iba karena sang istri mendapatkan sebuah hukuman dari mamanya.
"Lalu?" tanya Arthur yang merasa sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui alasan adik perempuannya itu terlihat sembab. "Apa yang dilakukan oleh nona arogan ini?"
"Sebenarnya aku takut akan mendapatkan sebuah karma dalam rumah tanggaku, Mom," sahut Queen dengan mata merah akibat menangis tersedu-sedu beberapa saat yang lalu. Dan tak lupa ia memeluk erat tubuh wanita yang sangat disayanginya itu.
"Lebih baik kamu berbicara yang jelas, Queen. Jangan buat Daddy pusing dengan menebak-nebak apa yang kamu bicarakan itu." Abymana menoleh ke arah pria yang tak lain adalah menantunya. "Atau kamu saja yang menjelaskannya pada kami, Aditya!"
__ADS_1
"Iya, sebenarnya ada apa dengan menantu? Jelaskan pada kami, putraku!" ucap Boby Syaputra yang baru saja tiba di dalam ruangan pribadi tersebut. Karena ia tadi baru saja dari kamar mandi dan bertanya pada para baby sitter yang ada di ruang makan. Dan membuatnya buru-buru untuk pergi ke kamar menantunya, karena berpikir putranya telah berbuat bertengkar atau sudah macam-macam pada menantunya dan membuatnya menangis.
"Iya Yah, sebenarnya begini. Tadi, Queen mengingat akan kesalahannya di masa lalu. Dan intinya, istriku merasa bersalah pada Tante Elfaiza karena pernah membuat wanita itu merasa was-was karena kehadirannya yang dulu sangat berharap bahwa daddy-nya akan memilihnya. Seperti itu ceritanya," ucap Aditya yang saat ini tengah menatap ekspresi dari wajah sang istri.
Karena ia tahu bahwa wanita yang sangat dicintainya itu pasti saat ini merasakan malu yang amat luar biasa pada ayahnya, satu-satunya orang yang tidak mengetahui rahasia dari istrinya yang hampir saja menjadi perusak rumah tangga orang lain.
Boby Syaputra yang merasa tidak paham, sama sekali tidak bisa berkomentar apa-apa karena tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh putranya. Sehingga ia memilih diam dan tidak berkomentar apa-apa.
Respon berbeda ditunjukkan oleh Qisya yang merasa sangat bersyukur atas apa yang baru saja didengarnya. "Alhamdulillah, akhirnya putriku sudah benar-benar berhijrah sepenuhnya ke jalan Allah SWT. Mommy sangat bersyukur bisa melihatmu seperti ini, Sayang. Akhirnya kamu bisa melupakan mantan kekasih Mommy. Apa masih sakit? Mommy minta maaf ya?" Qisya mengusap lembut punggung putrinya, seolah ingin menunjukkan penyesalannya saat merasa salah paham.
"Aku tidak apa-apa Mom, tenang saja. Hanya saja, aku merasa takut jika sampai nanti aku mengalami hal yang sama dengan yang dialami Tante Elfaiza. Apakah aku akan mendapatkan sebuah karma dari perbuatan jahatku dulu Mom, Dad. Queen benar-benar takut," ujar Queen dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Kalau untuk masalah itu, lebih baik serahkan saja semuanya pada yang Maha kuasa. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Akan tetapi, sudah hukum alam seperti kata pepatah. Kita akan menuai hasil dari apa yang kita tanam. Bukankah begitu, Aditya?" tanya Abymana pada menantunya.
"Karma, kalau menurut ajaran Islam bagaimana, Aditya? Bukankah kamu yang lebih tahu penjelasannya daripada kami semua yang ada di sini?" sahut Arthur dengan wajah ingin tahu.
Aditya baru saja ingin berkomentar untuk menjawab pertanyaan dari 2 pria yang sudah bertanya padanya, tapi sang istri sudah memotong pembicaraannya. Sehingga ia tidak jadi bersuara.
"My hubbiy, jika jawabanmu baik, katakan saja. Akan tetapi, jika jawabanmu buruk, lebih baik kamu diam. Karena aku merasa takut," ujar Queen dengan wajah pucatnya.
"Ehm ... sebenarnya ada baik dan buruknya, Sayang. Jadi, aku harus apa?" tanya Aditya dengan tatapan penuh kebingungan.
"Sudah, jelaskan saja pada kami sesuai apa yang kamu ketahui. Aku tidak bisa membayangkan jika sampai diantara kalian ada ...." Salsabila tidak jadi melanjutkan perkataannya yang ingin mengatakan pelakor, karena ia sudah mendapatkan sebuah tatapan tajam penuh ancaman dari adik iparnya.
"Baiklah, menurut yang saya tahu, karma itu ...."
__ADS_1
TBC ...