
Sabrina kini sudah sibuk mengusap lengan kekar pria yang masih menatap ke arah sahabatnya saat SMA dulu. "Sayang, aku tidak ada hubungan apa-apa sama Leo. Aku dari dulu hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat. Mengertilah."
"Sebaiknya kita lanjutkan nanti di rumah," Dave berjalan ke arah taman dan langsung menuju ke arah mobil-mobilan yang bisa dinaikinya bersama dengan putranya. Karena tidak mungkin putranya mengemudikannya sendiri. "Arya, ayo kita naik mobil-mobilan milik nona muda Princess."
Bocah laki-laki berusia 2 tahun itu sudah bersorak penuh kegirangan, seolah mengerti saat mendengar perkataan dari papanya. Tidak lupa tangannya yang kini terlihat bertepuk tangan mengungkapkan kebahagiaannya.
Kemudian Dave sudah mengajak putranya untuk berkeliling di sekitar area Mansion. Sedangkan Sabrina sudah berjalan ke arah Queen yang tengah bermain bersama Princess main masak-masakan di bawah pohon rindang dengan sesekali tertawa ceria.
"Apakah aku boleh main bersama Princess yang cantik?" tanya Sabrina saat menatap ke arah balita sangat cantik dan menggemaskan itu.
Queen menganggukkan kepalanya, "Tentu saja, duduklah. Princess pasti akan lebih senang saat melihat ada teman bermain. Yang penting bukan laki-laki, karena dia hanya dekat sama abinya." Menepuk karpet tebal yang digelar di atas rumput hijau yang selalu dirawat oleh pekerja di Mansion.
Sabrina menyunggingkan senyumnya saat mendapatkan sebuah ijin dari sang nona muda yang kini jauh lebih baik dan bijak. Seolah sifat arogan yang dulu melekat, sama sekali tidak terlihat dari diri Queen. "Terima kasih, nona muda Queen." Mendaratkan tubuhnya di sebelah Princess dan tidak berkedip menatap wajah cantik bocah perempuan yang sudah sibuk bermain dengan peralatan memasaknya.
"Panggil aku Queen tanpa embel-embel nona muda. Karena panggilan itu menurutku hanya memberikan sebuah jarak di antara kita. Kalau Dave memang memanggilku nona muda karena dia dulu bekerja padaku dan mungkin sudah terbiasa. Sehingga ia tidak bisa menghilangkannya." Queen yang menatap ke arah Sabrina, bisa melihat bahwa mantan kekasih dari suaminya itu tidak berkedip saat menatap putrinya.
Sabrina refleks menatap ke arah Queen dan menganggukkan kepala. "Apakah itu sopan? Rasanya sangat aneh saat memanggil hanya nama saja."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, santai saja. Lebih baik kita berteman, karena aku tidak suka bermusuhan dengan orang. Meskipun aku akan langsung menghancurkan orang yang berusaha mengusik ketenangan keluargaku dan benar-benar membuat hidup orang itu menderita." Queen mengulurkan tangannya pada Sabrina dan ia tersenyum saat Sabrina langsung membalas uluran tangannya.
Keduanya pun terlihat sangat akrab dan mulai mengobrol ringan dengan sesekali bercanda sambil tertawa kecil saat merasakan ada sesuatu yang lucu. Sedangkan di sisi lain, Aditya tengah sibuk berbicara serius dengan Leo.
"Leo, ada sesuatu yang harus kamu kerjakan. Ini adalah alasan kenapa aku membutuhkanmu untuk menjadi supir sekaligus pengawal pribadiku. Ini hanyalah sebuah alasan saja, karena yang sebenarnya adalah aku ingin kamu mengawasi seseorang. Namanya Dewi dan tugasmu adalah mencari tahu tempat tinggalnya."
Leo menganggukkan kepala, tetapi ia merasa sedikit bingung dengan penjelasan dari majikannya tersebut. "Apakah ada kata kunci dari wanita itu, Tuan muda? Karena nama Dewi ada banyak, atau ada fotonya yang bisa saya jadikan pedoman.
Aditya hanya menggelengkan kepala, tanda ia sama sekali tidak mengetahuinya. "Kamu datang saja ke restoran Arwana. Dia bekerja di sana dan kamu bisa mencari tahu alamat tempat tinggalnya."
"Baiklah, Tuan muda. Saya akan langsung mencari tahu sekarang. Kalau begitu, saya permisi dulu." Leo membungkuk hormat dan berjalan meninggalkan pria idolanya itu dengan beragam pertanyaan yang menari-nari di kepalanya. Karena ia merasa sangat penasaran dengan siapa sebenarnya sosok wanita bernama Dewi itu.
"Sabrina, dia tetap saja cantik dan membuat hatiku tersiksa karena sangat mencintainya," lirih Leo yang tersadar dari kebodohannya karena tidak mengamati suasana di sekitarnya.
"Buang jauh-jauh pikiran kotormu saat memikirkan wanita yang sudah bersuami!" Dave yang baru selesai berkeliling bersama putranya, berniat untuk menghampiri sang istri dan mengajaknya pulang ke rumah. Karena ia masih ingin menyelesaikan masalah perihal sahabat baik sang istri yang terlihat sangat dekat itu.
Namun, tidak sengaja ia melihat Leo tengah mengamati istrinya dan hal itu membuatnya semakin merasa sangat kesal.
__ADS_1
Leo refleks langsung mengalihkan pandangannya dan beralih menatap ke arah pria yang menggendong bocah laki-laki di lengan kekar itu. "Bukan seperti itu. Aku hanya ...."
"Merindukan istriku? Begitu, bukan?" Dave memotong pembicaraan Leo karena mengerti dengan apa yang akan dikatakan oleh pria yang sangat mencintai Sabrina di masa lalu.
"Astaga, bukan seperti itu. Ini hanyalah sebuah kekaguman, karena Sabrina sudah menikah dan tidak mungkin bisa aku miliki. Saat dia belum memiliki kekasih saja tidak bisa didapatkan, apalagi saat dia memiliki seorang suami dan anak. Hanya satu kata untuk mengungkapkannya, impossible." Leo kembali menghentikan kesalahpahaman agar pria yang lebih tinggi darinya itu tidak melanjutkan aksi cemburunya.
Sebuah kalimat bernada manis dari Leo, berhasil memadamkan api yang membara di dalam jiwa Dave, sehingga ia sedikit tenang dan menatap ke arah pria yang ada didepannya.
"Baguslah, ternyata kamu sadar diri juga. Karena jika sampai kamu berani macam-macam, aku tidak akan segan-segan menghabisimu!"
Leo hanya tersenyum kecut saat mendapatkan sebuah ancaman dari suami Sabrina. "Aku akan selalu mengingatnya, Tuan Dave. Karena saya harus bekerja, jadi saya mohon pamit dulu."
Dave hanya mengibaskan tangannya dan berlalu pergi meninggalkan Leo. Tentu saja ia ingin menghampiri sang istri untuk mengajaknya pulang. Namun, ia melihat Sabrina sudah memangku Princess dan sibuk mencium pipi gembil putih itu.
"Syukurlah, akhirnya mengidam istriku sudah terpenuhi. Semoga dia tidak mengidam yang aneh-aneh dan anak yang saat ini dikandungnya adalah seorang wanita. Aamiin ya rabbal alamin." Dave menatap ke arah putranya dan menciumnya untuk mengungkapkan kasih sayang dan rasa syukurnya. "Sebentar lagi, Arya akan memiliki adik. Nanti Aryasatya akan melindungi adik dan menjadi kakak yang baik, ya."
Dave kembali melangkahkan kakinya mendekati sang istri yang sudah sibuk dengan Princess. Begitu ia tiba di sebelah Sabrina, Arya langsung menangis tersedu-sedu karena melihat mamanya tengah memangku Princess.
__ADS_1
Sabrina yang mengerti kecemburuan dari putranya, berniat untuk menurunkan Princess dari pangkuannya dan memberikannya pada Queen. Namun, tanpa disadarinya, tangan Princess sudah mendarat dengan sempurna di kepala putranya dan membuat Arya semakin menangis tersedu-sedu.
TBC ...