
Saat ini, Queen tengah bersama Sabrina dan berada di area bermain mandi bola. Keduanya mengawasi anak-anaknya agar tidak berantem seperti tadi, karena ulah dari Princess yang memukul kepala Arya dengan boneka barbie. Sedangkan Aditya dan Dave tengah duduk di sofa yang ada di sudut ruangan, mengamati interaksi dari para ibu dan anak di depannya.
"Diminum kopinya, Dave!" Aditya meraih cangkir berwarna putih dan sedikit menyeruput minumannya.
Sementara itu, hal yang sama dilakukan oleh Dave saat melihat Aditya menikmati minuman berwarna hitam itu. "Ternyata Anda juga minum kopi, Tuan muda. Saya pikir, Anda tidak minum kopi selama ini."
Aditya yang tadinya melihat ke arah 2 balita yang tengah akur bermain di antara banyaknya bola, refleks langsung menoleh ke arah Dave. "Hanya sesekali, Dave. Ini pun adalah kopi pahit tanpa gula. Ada yang mengatakan kopi tanpa gula, sangat baik untuk jantung. Kamu tahu sendiri, kan kalau sekarang ini banyak orang yang meninggal karena serangan jantung. Pagi tidak apa-apa dan tiba-tiba, malamnya meninggal karena serangan jantung."
Dave membenarkan perkataan dari Aditya, karena sering melihat kejadian tersebut. sehingga ia pun tertarik untuk mengikuti jejak sang tuan muda. "Sepertinya saya akan mengikutinya dengan menikmati kopi pahit, Tuan muda. Seperti pepatah yang mengatakan jaga sehat sebelum sakit."
Aditya yang tersenyum simpul sambil mengangkat ibu jarinya saat mendengar jawaban bijak dari Dave. Ia mengulurkan tangannya, "Selamat, Dave. Aku sampai lupa mengucapkan selamat atas kehamilan istrimu. Semoga semuanya diberi kelancaran oleh Allah SWT."
"Terima kasih, Tuan muda." Dave menyambut uluran tangan kuat tersebut dan tidak lupa tersenyum untuk mengungkapkan kebahagiaannya, karena sebentar lagi akan mempunyai anak lagi.
Dua pria yang sama-sama memiliki kharisma tersendiri itu beralih mengamati interaksi dari Queen dan Sabrina yang dari tadi sibuk menemani anak-anak bermain.
Kali ini, Queen benar-benar mengawasi putrinya agar tidak melakukan kesalahan lagi pada putra Dave karena merasa sangat tidak enak setelah melihat dahi Arya yang sudah berubah memerah. Sedangkan para orang tua sudah berpindah tempat untuk berbincang di ruang santai.
Sedangkan dari tadi, Sabrina ingin sekali mencubit pipi putih Princess yang sangat cabi itu. Namun, ia merasa sangat bingung untuk memulainya karena dari tadi, Princess ada di pangkuan Queen. Akhirnya ia memulai pembicaraan meskipun merasa agak kaku.
"Nona muda Queen, jika Anda hamil lagi, pasti berharap anak laki-laki karena sudah mempunyai putri secantik Princess. Seperti yang saya rasakan saat ini, karena menginginkan seorang anak perempuan."
__ADS_1
Queen yang dari tadi fokus mengamati putrinya, refleks beralih menatap ke arah Sabrina yang terlihat sangat serius saat menunggu jawaban.
"Iya, semua orang pasti berpikir seperti itu. Akan tetapi, aku tidak mau pusing-pusing memikirkan atau pun berharap. Karena aku tidak mau harapanku itu sia-sia. Banyak contoh yang sering aku lihat, ada beberapa pasangan yang memiliki beberapa anak dengan jenis kelamin sama dan ending-nya kecewa. Aku tidak ingin seperti itu. Lebih baik serahkan saja semuanya pada yang Kuasa."
Baru saja Queen menutup mulutnya, lagi-lagi suara tangisan dari Arya terdengar. Kali ini, Princess mengunakan tangannya langsung saat memukul wajah bocah laki-laki yang sudah menangis tersedu-sedu.
"Astaghfirullah, Princess nggak boleh nakal, Sayang." Queen langsung menggendong putrinya dan mengusap lembut kepala Arya. "Maafin Princess, ya. Arya anak pintar dan jagoan yang kuat. Nanti tante belikan robot Superman. Cup ... cup ... cup." Masih mengusap lembut lengan Arya sambil menatap ke arah Sabrina yang juga tengah sibuk menenangkan putranya.
"Sepertinya putriku sangat tidak cocok bermain dengan anak laki-laki, Sabrina. Karena dia hanya cocok bermain dengan anak perempuan. Entah kenapa dia seperti itu. Saat bermain dengan sepupunya Arsha dan Alesha, tidak pernah ada tangisan seperti ini. Akan tetapi, saat bermain bersama dengan Arkha, Adhitama dan Adhinata, pasti dia yang selalu memukul duluan. Aneh, bukan?" Queen mengamati putrinya yang masih digendongnya terlihat tertawa saat melihat Arya menangis.
Sabrina membersihkan wajah putranya yang sudah banjir air mata dan berusaha untuk menenangkan Arya. "Putra Mama sangat pintar dan kuat, jangan menangis lagi, ya. Nona muda Princess tidak sengaja tadi."
"Sepertinya gen dari emak bapaknya menurun pada Princess. Dia sangat nakal dan mungkin tidak menyukai bermain dengan lawan jenis seperti mas Aditya yang selalu menjaga jarak dengan wanita. Sebuah perpaduan gen yang sangat luar biasa. Sepertinya kelak, Princess akan menjadi sosok wanita tangguh dan selalu menjaga jarak dengan para lawan jenisnya," gumam Sabrina di dalam hati.
"Lebih baik kita main di taman saja, Sayang." Aditya mengarahkan tangannya pada putrinya agar mau ia gendong. "Nanti Arya bisa main mobil-mobilan sama papanya dan Princess main masak-masak. Bukankah itu akan jauh lebih aman karena akan mengalihkan perhatian keduanya karena berbeda jenis mainan."
Queen yang merasa ide itu sangat bagus, langsung mengangguk tanda setuju. "Sepertinya itu adalah ide yang bagus, My hubbiy." Beralih menatap ke arah Dave dan Sabrina, "Kalian berdua setuju, bukan?"
Sabrina dan Dave sama-sama menganggukkan kepala dan berjalan mengekor di belakang tuan rumah yang sudah terlebih dahulu keluar. Dave yang saat ini sudah menggendong putranya, melirik sekilas ke arah Sabrina.
"Sayang, mengidam kamu belum terpenuhi karena nona muda dari tadi menguasai Princess. Apa aku perlu berbicara padanya?"
__ADS_1
"Tidak perlu, Sayang. Nanti kamu fokus saja bermain dengan Arya. Aku bisa mencium nona muda kecil kapan saja." Sabrina berbicara lirih sambil menatap ke arah bocah perempuan menggemaskan yang sangat ingin diciumnya dari tadi.
Dave hanya menuruti keinginan dari Sabrina dan membiarkannya berusaha sendiri. Hatinya merasa sangat tenang saat melihat Sabrina tidak lagi merengek saat mengidam seperti tadi pagi yang ingin dibelikan nasi uduk.
"Hingga ia yang sudah berjalan menuju ke arah pintu depan, mendengar suara bariton dari seseorang yang memanggil nama sang istri. Refleks ia mengamati wajah seorang pria yang berdiri menjulang tak jauh dari tempatnya.
"Sabrina," ucap pria berseragam hitam yang merupakan salah satu pengawal baru di Mansion.
Sabrina yang mendengar namanya dipanggil, refleks langsung ber-sitatap dengan seseorang dengan tubuh tinggi tegap dan mempunyai badan proporsional ala binaragawan. Sesaat ia mengerutkan kening saat mengingat-ngingat pria yang tengah tersenyum ke arahnya.
"Siapa pria itu, Sayang?" tanya Dave dengan tatapan menelisik.
Begitu juga dengan Aditya dan Queen yang saat ini menatap ke arah pengawal yang baru satu hari bekerja. Hingga suara dari Queen yang sangat penasaran melebihi lainnya, mulai menggema.
"Kamu mengenal, Sabrina?"
"Iya, Nona muda Queen. Sabrina adalah cinta pertama saya."
Sabrina yang langsung berdetak kencang jantungnya, refleks menoleh ke arah Dave. Bisa dilihatnya netra pekat itu terpancar sebuah bola api dari silinder hitam yang mengunci pandangannya.
"Astaga, Dave bisa salah paham jika begini. Aku harus menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Daripada nanti dia murka dan mengamuk tidak jelas," gumam Sabrina di dalam hati.
__ADS_1
TBC ...