
Matahari telah terbenam dan menandakan senja telah beranjak ke peraduannya dan berganti malam yang penuh dengan berjuta keindahan dari ciptaan Tuhan. Yakni, kerlip sejuta bintang yang menghiasi keindahan malam. Kesunyian malam tidak berlaku di ruangan ballroom hotel Raharja yang saat ini sudah cukup ramai dengan para tamu undangan yang merupakan rekan kerja, sanak saudara dari keluarga Ahmad yang menghadiri acara resepsi dari pernikahan putrinya.
Sabrina terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin modern berwarna putih yang melambangkan kesucian dari seorang wanita dan begitu juga dengan setelan jas berwarna senada yang digunakan oleh Dave. Keduanya sudah terlihat seperti raja dan ratu sehari yang sibuk menyunggingkan senyuman pada para tamu undangan. Tak lupa acara bersalaman yang membuat tangan mereka tidak berhenti menggantung.
Sabrina benar-benar menatap penuh takjub keindahan dari dekorasi ruangan berukuran sangat luas tersebut yang membuat sebuah keindahan, kemewahan dan kemegahan tercipta. Sehingga ia yang tadinya merengut karena berada di singgasana yang merupakan bekas dari mantan kekasihnya, kini sudah melupakan apa yang membuncah di dalam hatinya.
Karena saat ini ia tidak berhenti mengagumi aneka jenis bunga segar yang terlihat sangat cantik dan indah. Tentu saja itu dikarenakan dari dulu ia sangat menyukai bunga dan membuatnya sendiri seolah lupa diri saat melihat warna-warni dari berbagai macam bunga yang ia tahu tidak ada di Indonesia.
"Semua ini benar-benar sangat luar biasa, aku sama sekali tidak pernah menyangka bisa berada di tempat seindah ini. Lebih baik aku nikmati saja keindahan ini dan melupakan bahwa tempat ini adalah merupakan bekas dari nona muda arogan itu. Sadar Sabrina, kamu hanya wanita biasa yang tidak mungkin bisa menggelar acara resepsi seindah ini. Meskipun ini hanya pura-pura, tetapi aku nikmati saja dengan memanjakannya melihat bunga-bunga cantik ini," gumam Sabrina.
Sementara itu, Dave tidak berhenti melirik ke arah wanita yang menurutnya terlihat seperti seorang princess saat memakai gaun indah yang membalut tubuh ramping itu. Namun, ia sama sekali tidak berkomentar apapun karena tidak ingin membuat Sabrina merasa tidak nyaman. Sehingga ia hanya bisa memendamnya di dalam hati.
"Istriku, kamu cantik sekali hari ini. Jika aku mengatakan ini pada Sabrina, mungkin dia akan langsung muntah. Istriku ... rasanya masih aneh sekali jika aku memanggilnya seperti itu," gumam Dave yang tidak berhenti tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada para tamu undangan yang bersalaman.
Saat sudah tidak ada lagi yang bersalaman, Dave dan Sabrina duduk di singgasana dengan jarak yang cukup dekat. Tentu saja keduanya sama-sama merasa sangat kaku berada di jarak sedekat itu di depan semua orang.
Dave mencoba untuk memecahkan rasa kaku di antara mereka. "Kenapa aku belum melihat nona dan tuan muda, ya? Sedangkan semua keluarganya ada di sini."
Sabrina refleks menatap ke arah pandang pria yang duduk di sebelahnya. Tentu saja yang menjadi pusat perhatian di ruangan itu bukanlah dirinya atau pun Dave, tetapi keluarga besar Raharja yang saat ini tengah duduk di antara kursi tamu undangan VVIP.
__ADS_1
"Kenapa, kamu sudah merindukan nona mudamu? Atau kamu merasa kecewa dia tidak mengucapkan selamat padamu?" tanya Sabrina saat melirik ke arah Dave yang sibuk mencari pasangan suami istri yang dari tadi memang tidak kelihatan.
"Sejujurnya aku pun ingin melihat mas Aditya, tetapi pasti dia akan membuat aku kembali sakit hati saat melihat kemesraannya. Jadi, lebih baik mereka tidak datang sekalian," batin Sabrina di dalam hati.
Dave menoleh ke arah Sabrina yang terlihat berwajah datar, seolah menegaskan bahwa pembicaraan itu sangat tidak disukainya. "Iya, aku merindukan mereka, karena hari-hariku sudah terbiasa menatap kemesraan dari pasangan paling serasi sepanjang sejarah dan menjadi generasi ketiga keluarga Raharja yang selalu menjadi trending topik di sosial media."
Sabrina hanya tersenyum kecut dan tidak mampu menanggapi kalimat skak mat dari pria yang baru saja memuja-muja keluarga Raharja. Sehingga ia memilih diam karena tidak ingin amarahnya tersulut dan membuat Dave kesal lagi.
******
Sementara itu, di sisi lain Queen dan Aditya saat ini sedang berada di ruangan kamar pengantin yang nantinya akan menjadi tempat menginap dari pasangan pengantin baru yang tak lain adalah Dave dan Sabrina. Ruangan yang sudah dihias sedemikian rupa itu terlihat sangat cantik dengan ranjang king size yang sudah ditaburi bunga mawar dan membentuk simbol hati.
Aditya yang saat ini sudah memakai setelan jas berwarna ungu yang serasi dengan gaun pesta muslimah sang istri, refleks mencubit pipi putih menggemaskan itu. "Kamu memang sangat nakal, Sayang. Sebenarnya aku sangat tidak setuju dengan rencanamu itu. Akan tetapi, karena aku berpikir ini demi sebuah kebaikan, akhirnya aku menyetujuinya."
"Dulu aku sangat mengutuk perbuatan brother padaku, tetapi aku kini sangat berterima kasih saat melihat hubungan kita. Meskipun rencananya untuk menjebakmu gagal karena kamu adalah pria yang sangat luar biasa. Namun, kali ini aku tidak akan gagal karena aku akan membuat Dave dan Sabrina sama-sama bergairah," ujar Queen dengan terkekeh. "Seandainya aku bisa memasang CCTV di ruangan ini."
"Astaghfirullah, jangan macam-macam kamu, Sayang. Memangnya kamu mau melihat mereka melakukan make love? Daripada kamu merasa penasaran pada Dave dan Sabrina, lebih baik kita buat sendiri. Ayo, kita temui mereka dan buat film. Jangan sia-siakan kerja keras dari pria para staf hotel yang sudah menghias ranjang kita. Lagipula aku ingin menjenguknya," bisik Aditya di telinga sang istri yang sudah berubah merah pipinya sambil mengusap lembut perut Queen yang sudah ada sedikit benjolan.
"Baiklah, aku tidak akan merasa penasaran dengan mereka. Karena lebih baik aku memikirkan tentang malam pertama kita hari ini. Sekarang kita temui mereka untuk mengucapkan selamat. Saat ini pasti Dave sedang mencariku dan merindukan aku," ujar Queen yang sudah bergelayut manja pada tangan kekar Aditya saat berjalan ke arah pintu keluar. Namun, tatapan matanya mengarah pada teko kaca yang berisi air putih yang berada di atas meja. Dimana air minum itu sudah diberi obat perangsang olehnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Aditya dan Queen sudah memasuki ruangan ballroom hotel dimana acara resepsi pernikahan berlangsung. Tentu saja saat keduanya melangkah masuk, pandangan semua orang mengarah pada pasangan suami istri yang terlihat sangat romantis itu. Karena Queen tidak berhenti untuk menempel pada sang suami yang menurutnya pria paling tampan sedunia.
Keduanya berjalan ke arah singgasana untuk menghampiri pasangan pengantin baru yang sedang duduk di sana dan langsung berdiri begitu melihat kedatangannya. Queen sudah bersalaman dengan Sabrina dan menyunggingkan senyumnya yang manis.
"Akhirnya kalian resmi menjadi pasangan suami istri. Semoga rumah tangga kalian langgeng sampai kakek nenek."
"Terima kasih," jawab Sabrina dengan seulas senyum yang dipaksakan.
"Oh ya, aku sudah memberikan sebuah kado spesial di kamar pengantin. Nanti kamu akan tahu." Queen mendekatkan wajahnya di dekat daun telinga Sabrina agar bisa berbisik lirih, "Jika nanti anak kita berbeda jenis kelamin, bagaimana jika kita jodohkan saja mereka? Semoga cepat dikaruniai momongan, Sabrina." Menjauhkan wajahnya dari daun telinga Sabrina dan melihat reaksi dari mantan kekasih suaminya yang bisa dilihatnya tengah menahan amarah.
Sabrina masih berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosinya, sehingga ia berpura-pura untuk tersenyum. Meski sebenarnya jauh di dalam hati, ia ingin sekali untuk mengajak wanita di depannya bergulat.
"Terima kasih, Nona muda. Akan tetapi, lebih baik Anda lupakan rencana itu karena aku tidak akan pernah memaksakan kehendak pada anakku nantinya. Jadi, tidak ada perjodohan karena aku akan membiarkan anakku nanti menentukan sendiri pilihannya. Tanpa harus memaksakan kehendak."
"Luar biasa, kamu akan menjadi seorang ibu yang hebat, Sabrina. Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Lagipula, belum tentu juga anakku mau dengan anakmu," ejek Queen dengan tersenyum smirk.
Sedangkan Sabrina sudah tidak lagi menanggapi perkataan dari Queen karena tidak ingin membuat mereka benar-benar berakhir saling berkelahi. Tentu saja ia saat ini asyik mengumpat perbuatan dari wanita perebut kekasihnya.
"Sabar ... sabar, jangan permalukan dirimu Sabrina. Semua ini hanya sementara, setelah malam ini, kamu akan bebas dari hal yang memuakkan ini," gumam Sabrina yang sudah meremas gaun pengantinnya.
__ADS_1
TBC ...