Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Singa betina bangun dari tidurnya


__ADS_3

Suasana di sebuah rumah lantai 2 yang cukup mewah dengan dilengkapi berbagai macam furniture berkualitas tinggi, menghiasi setiap ruangan yang tidak lain adalah tempat tinggal Dave dan Sabrina. Saat ini, sosok wanita yang terlihat tengah membuat secangkir kopi dan susu untuk putranya yang kini telah berusia 2 tahun dan diberi nama Aryasatya Bastian.


Sudah pukul 21.30 WIB, tetapi putranya masih belum kunjung tidur karena efek tadi sore tidur cukup lama. Sehingga sekarang, mata putranya masih kuat untuk terjaga sampai malam. Seperti hari-hari biasanya, putranya selalu tidur tengah malam dan membuatnya selalu tidak kuat untuk menahan mata dari rasa kantuknya.


Sehingga hari ini, ia yang sudah sangat mengantuk, menyuruh sang suami yang menemani putranya. Karena itulah ia membuatkan kopi sebagai penahan kantuk, agar ayah dari Aryasatya kuat untuk begadang. Ia dari dulu tidak memperkerjakan asisten rumah tangga karena ibunya setiap hari datang untuk membantu mengurus putranya. Sehingga ia bisa fokus mengerjakan pekerjaan rumah tangga.


Kini, kaki jenjangnya sudah melangkah ke arah kamar dan melihat ayah dan anak yang saat ini tengah bermain robot-robotan di atas sofa sambil bercanda tawa. Seulas senyum terbit dari wajahnya ketika melihat interaksi dari keduanya dan mulai berjalan mendekat untuk menaruh cangkir berisi kopi hitam di atas meja. Tidak lupa, ia memberikan botol susu kepada putranya.


"Sayangnya Mama, minum susu dulu."


Bocah berusia 2 tahun itu langsung mengarahkan tangan mungilnya untuk meraih botol dari tangan sang mama dan tentu saja langsung memasukkannya ke dalam mulut dan menikmati setiap tetes demi tetes susu berwarna putih itu dengan menghisapnya sedikit demi sedikit.


Sabrina mengusap lembut rambut hitam putranya, "Anak mama yang sangat pintar." Beralih menatap ke arah Dave. "Diminum dulu kopinya biar nggak ngantuk saat menemani Arya. Aku sangat capek hari ini. Jadi, temani putra kita bermain. Sekali-kali begadang sama Arya. Jangan asyik bilang capek setelah kerja, karena pekerjaan wanita jauh lebih berat."


Sebenarnya hari ini, Dave benar-benar sangat capek setelah berkutat dengan banyak pekerjaan di perusahaan. Otak dan tubuhnya membutuhkan rehat karena besok pagi juga harus kembali berkutat dengan banyaknya pekerjaan di kantor. Akan tetapi, melihat wajah kuyu Sabrina yang terlihat sangat lelah, membuat ia merasa sangat kasihan.


"Iya, Sayang. Kamu tidur saja, biar aku yang bermain bersama dengan Arya. Jangan marah-marah, ya."


Sabrina yang sudah sangat letih, tersenyum tipis dan membungkuk untuk mencium putranya. "Arya main sama papa, ya." Mengusap lembut punggung belakang bocah laki-laki yang hanya tertawa kecil sambil menikmati susunya.


Sabrina meninggalkan 2 laki-laki berbeda generasi yang sangat disayanginya tersebut dan membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Tentu saja tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk terbuai ke alam mimpi. Karena begitu memejamkan kedua matanya, beberapa saat kemudian, ia langsung terbuai ke alam bawah sadarnya.

__ADS_1


Sementara itu, Dave menikmati kopi hitam yang masih mengepulkan asapnya itu dengan sesekali meniupnya. Aroma harum kopi mulai merebak dan membuatnya ingin segera menikmati kopi buatan sang istri. Sebenarnya ia tidak pernah minum kopi, tetapi setelah Sabrina melahirkan dan putranya selalu terjaga sampai pagi saat bayi, membuat ia terpaksa minum kopi karena merupakan sebuah kebutuhan saat begadang.


"Kasihan sekali, istriku. Dia sepertinya sangat lelah. Dasar istri bandel. Disuruh untuk memperkerjakan asisten rumah tangga malah nggak mau karena beralasan hanya pekerjaan kecil di rumah, buat apa memperkerjakan pembantu. Sepertinya aku harus tegas kali ini, kalau tidak, aku juga ikut capek dan stres."


Dave meraih ponsel miliknya dan mengirimkan pesan pada ibu mertuanya agar mencarikan asisten rumah tangga. Dengan alasan merasa kasihan pada Sabrina yang beberapa hari ini terlihat lebih sering kelelahan.


Selesai mengirimkan pesan pada mertuanya, Dave kembali asyik bermain bersama Arya yang sedang selesai minum susu. "Putra Papa nanti saat besar, jadi anak yang yang hebat dan berbakti kepada orang tua ya, Sayang." Mencium gemas pipi bocah laki-laki yang hanya diam saat berada di pangkuannya.


Beberapa jam kemudian, Dave menggendong putranya yang sudah tertidur pulas di pangkuannya setelah asyik bermain. Bahkan di sofa tersebut, banyaknya mainan yang berserakan, membuat ruangan kamar terlihat sangat berantakan.


Dengan sangat hati-hati, Dave membaringkan putranya ke atas ranjang. Kemudian ia menghampiri sang istri yang terlihat tengah tertidur pulas. Sebenarnya saat ini, hasratnya sudah di ubun-ubun. Namun, melihat wajah lelah sang istri, ia tidak tega dan berniat untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan cepat tidur.


"Sayang, kamu kenapa?" Dave langsung memijat tengkuk belakang Sabrina dengan perasaan khawatir.


Sabrina yang merasa sangat lemas, setelah mengeluarkan semua isi perutnya, masih diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Karena saat ini ia tengah mengingat-ngingat tentang hal penting.


"Sayang, kamu sakit? Sepertinya kamu masuk angin karena efek kecapekan. Ini karena kamu bandel, tidak mau memperkerjakan pembantu." Dave yang masih membungkuk dengan tangan memijat tengkuk belakang Sabrina.


"Sayang, bagaimana ini?" Sabrina yang sudah membersihkan mulutnya dengan berkumur-kumur untuk menghilangkan sisa-sisa muntahannya, menatap penuh kecemasan pada pria yang berdiri menjulang di sebelahnya. "Ini semua gara-gara kamu!" Berkali-kali meninju dada bidang pria yang menurutnya menjadi penyebab dirinya muntah-muntah.


Dave yang sama sekali tidak merasakan rasa sakit saat Sabrina berkali-kali memukulnya, hanya diam dan tentu saja merasa sangat kebingungan. "Sayang, memangnya aku kenapa? Kenapa tiba-tiba kamu marah?"

__ADS_1


Sabrina yang merasa sangat kesal, masih mengarahkan tatapan tajam pada pria yang hanya diam saja menerima pukulannya. Ia yang merasa sangat lemah dan capek, menghentikan pukulannya. Ia merasa aneh beberapa hari ini karena cepat merasa lelah dan sering mengantuk.


Begitu hari ini ia merasa mual dan muntah, baru disadarinya bahwa bulan ini telat datang bulan dan bisa dipastikan bahwa saat ini pasti sedang mengandung benih Dave.


"Aku hamil karena ulahmu!" teriak Sabrina yang merasa sangat marah karena belum siap untuk hamil lagi. "Arya masih sangat kecil. Aku belum siap hamil lagi." Berkaca-kaca karena merasa sangat gelisah memikirkan tentang kemungkinan kehamilan.


"Apa! Kamu hamil, Sayang? Bukankah kamu ikut KB? Bagaimana kita bisa kecolongan?" tanya Dave yang masih tidak percaya saat Sabrina mengatakan hamil.


Sabrina yang merasa sangat lemas, sudah berjongkok dan memegangi pelipisnya. "Aku tidak tahu, jangan tanya aku. Padahal aku selalu rutin minum pil KB. Bagaimana aku bisa hamil."


Dave ikut berjongkok di depan Sabrina dan mengusap lembut punggung belakang dengan rambut panjang terurai di bawah bahu. "Kamu yakin, Sayang? Siapa tahu hanya masuk angin saja. Lebih baik kita cek besok. Aku beli alat tes kehamilan dulu di apotik 24 jam. Ayo, aku antar kamu ke ranjang."


Berniat untuk membantu Sabrina dengan cara menggendongnya. Namun, ia sangat terkejut saat tangannya dihempaskan kasar oleh Sabrina yang sudah bangkit berdiri.


"Jangan sentuh aku! Jika aku benar-benar sampai hamil, jangan menyentuhku! Karena aku sangat kesal padamu karena menghamiliku!" teriak Sabrina dengan wajah memerah karena dikuasai oleh amarah dan berlalu pergi meninggalkan Dave.


Sementara itu, Dave hanya geleng-geleng kepala saat melihat kemarahan dari sang istri. Terlihat ia mengacak frustasi rambutnya.


"Astaga, singa betina sudah bangun dari tidurnya. Nasib ... nasib. Apakah aku harus berpuasa jika sampai istriku hamil beneran? Sepertinya dia benar-benar sangat murka hari ini."


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2