Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Menghancurkan musuh


__ADS_3

Puas bergumam di dalam hatinya, Aditya mencoba merayu wanita yang saat ini tengah berada di depan dan menatapnya dengan tatapan mata penuh permohonan. "Sayang, aku sama sekali tidak keberatan pergi ke Amerika untuk menemanimu bertemu dengan daddy-mu dan memohon maaf pada istrinya. Akan tetapi, jangan sekarang ya. Karena suamimu ini baru saja masuk kerja di perusahaan, jadi jangan buat nama baik imammu tercemar karena berbuat seenaknya sendiri. Mungkin lain kali ya, Oke!"


Wajah Queen langsung berubah masam karena merasa sangat kecewa saat keinginannya tidak dituruti. "Aku bosan mendengarnya, lagi dan lagi alasan itu. Padahal, sebenarnya belum tentu juga orang lain berpikir buruk padamu setelah mengenalmu, My hubbiy."


Tanpa memperdulikan rengutan dari sang istri, Aditya merangkul pinggang ramping sang Queen dan menghelanya ke arah walk in closet. Kemudian ia membuka lemari kaca berukuran raksasa di depannya, ia terlihat memilih pakaian yang cocok untuk wanita yang masih mengerucutkan bibirnya karena kesal padanya. Hingga ia menemukan pakaian yang cocok untuk sang istri, ia memilih gaun panjang syar'i berwarna biru muda lengkap dengan jilbab berwarna putih.


"Pakai ini, Sayang. Kamu akan terlihat seperti bidadari saat memakai gaun ini. Aku pun akan memakai kemeja berwarna biru juga, biar bisa seperti pasangan lain yang suka memakai barang-barang couple."


"Dasar lebay," ucap Queen dengan tangan yang sudah menerima gaun tersebut. Kemudian ia langsung melepaskan kimononya dan berganti pakaian di depan pria yang juga tengah melakukan hal yang sama.


Aditya tidak berkedip menatap tubuh ramping nan seksi sang istri yang hanya memakai pakaian dalam saat melepaskan kimononya. "Sekarang kamu sudah tidak malu-malu lagi ya, Sayang. Tidak seperti saat pertama aku melihatmu setelah kita pertama kali melakukannya. Saat itu kamu melempar pakaian dalammu ke wajahku. Dan ending-nya malah kita melakukan hubungan intim untuk yang ke 2 kalinya di atas sofa panjang yang ada di dalam ruangan walk in closet.


Refleks Queen langsung mencubit lengan kekar dari pria yang dianggapnya sudah menyindirnya habis-habisan. "Iish ... jangan mengingatkanku dengan hal yang memalukan itu, My hubbiy. Karena saat itu aku sudah sangat gila, karena main nyosor padamu. Padahal, saat itu kamu mengaku adalah seorang gay. Kalau dipikir-pikir, ternyata aku sangat agresif sekali sebagai seorang wanita. Sedangkan suamiku malah sangat lambat dan sama sekali tidak bisa bersikap tegas."


"Kalimat pertamamu mengandung sebuah pengakuan, tapi yang terakhir sudah mengandung sebuah vonis yang terdengar sangat kejam, Sayang. Sungguh teganya dirimu," ucap Aditya yang sudah mengarahkan tangannya untuk mencubit pipi cabi dari sang istri yang malah terkekeh mendengar perkataannya.


"Kalau tidak mau aku ejek, lebih baik kamu sekarang merubah sifat lembekmu itu My hubbiy. Dan buktikan padaku dan juga keluargaku saat nanti di pengadilan! Karena semua orang ingin melihat ketegasanmu nanti. Ayo, kita turun setelah aku memakai riasan untuk menutupi wajahku yang mungkin sembab."


"Insyaallah Sayang," jawab Aditya yang sudah merasa tertohok dengan kalimat pedas dari wanita yang terlebih dahulu berjalan keluar dari ruangan ganti tersebut. Dan dengan langkah kaki panjangnya, ia mengekor di belakang sang istri yang langsung merias diri di depan cermin.


Tak butuh waktu lama untuk Queen menyelesaikan riasan tipisnya dan memakai lipstik berwarna senada dengan bibirnya yang berwarna agak pink. Karena ia tidak suka dengan sesuatu yang menor, alias lipstik berwarna merah. Karena menurutnya seperti baru saja makan ayam mentah dan berlumuran darah. Kemudian ia mulai memakai jilbabnya dan sesekali berputar di depan cermin untuk melihat penampilannya.

__ADS_1


"Sudah cantik, Sayang." Aditya yang sedang memakai Pomade dan menyisir rambutnya, melirik sekilas kegiatan dari sang istri yang asyik mengamati penampilannya di depan cermin besar itu.


"Benarkah? Kalau suami sudah bilang cantik, itu berarti menunjukkan suasana hatinya yang sedang bahagia. Bukankah begitu?" tanya Queen dengan tersenyum tipis sambil bergumam di dalam hati.


"Gimana nggak bahagia, tiap hari minta jatah dan aku melayani dengan iklhas. Itung-itung aku mencari pahala sebanyak-banyaknya. Sambil menyelam minum air, karena aku bisa memuaskan kebutuhan batin suamiku dan juga aku pun merasa sangat puas dengan keperkasaan My hubbiy. Astaga, aku mesum sekali. Dasar tidak tahu malu," batin Queen.


Aditya yang sudah menyunggingkan senyumannya, menatap wajah cantik yang terlihat seperti seorang bidadari itu. "Alhamdulillah aku selalu bahagia setelah menikah denganmu, Sayang." Meraih pinggang ramping Queen dan menghelanya berjalan keluar dari ruangan kamar.


"Gombal, My hubbiy memang pandai merayu. Bukannya awal-awal dulu, aku bersikap keterlaluan padamu. Jadi, jangan mencoba untuk berbohong dengan mengatakan itu padaku. Karena itu jelas-jelas menipu, lebih baik kamu jujur padaku!" Queen menoleh ke arah pria yang masih memeluknya.


"Jujur dalam hal apa, Sayang? Bukankah aku selalu berkata jujur padamu? Kecuali saat aku berbohong kalau aku adalah seorang Gay, maaf" jawab Aditya dengan penuh penyesalan. Seolah tatapannya kini tengah memohon sebuah ampunan dari wanita yang pernah dibohonginya itu.


"Aku sudah memaafkanmu dari dulu My hubbiy, tapi ...."


"Sebenarnya apa alasanmu dulu yang mengatakan bahwa My hubbiy adalah seorang gay."


"Oh itu, karena aku ingin membuatmu merasa nyaman padaku saat kita tinggal bersama di dalam 1 kamar setelah sah menjadi suami istri."


"Cuma itu?" Queen menaikkan kedua alisnya.


"Iya, memangnya apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanya Aditya seraya tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Aku pikir karena alasan lain, seperti kamu ingin bercinta denganku dengan bebas, mungkin" sahut Queen dengan terkekeh.


"Suamimu tidak se-mesum itu, Sayang. Karena setahuku malah kamu yang mesum, karena mengajakku bercinta saat aku mengaku seorang gay. Aneh bin nyata. Sebuah kebohongan yang membawa berkah, karena istriku sendiri lah yang menawarkan diri," ucap Aditya yang berbisik di telinga sang istri karena sudah berjalan keluar dari lift menuju ke ruang makan, menghampiri semua orang yang dari tadi sudah menunggu.


"Nakal," kesal Queen yang sudah mengarahkan tangannya untuk mencubit pinggang kokoh pria yang ada di sampingnya. "Aku cium baru tahu rasa kamu, My hubbiy."


Semua orang yang mendengar perkataan dari Queen, hanya bisa geleng-geleng kepala. Dan suara dari Arthur langsung menggema di ruang makan saat mengejek adik perempuannya yang tidak tahu malu.


"Jaga bicaramu, Queen! Dasar wanita tidak tahu malu, dimana-mana itu yang seharusnya bucin akut adalah para laki-laki. Ini malah kamu yang bucin level tertinggi pada Aditya, memalukan," ejek Arthur yang masih tidak berhenti geleng-geleng kepala.


"Biarin, terserah aku lah. Masih mending istri bucin pada suami sendiri daripada bucin pada selingkuhannya. Ini namanya ibadah, tahu. Itu saja tidak tahu, dasar bodoh," ucap Queen yang tidak mau kalah dari saudara laki-lakinya. Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari keberadaan dari Dewi.


"Eh ... dimana Dewi?"


"Dia sedang menerima panggilan dari keluarganya di depan," jawab Salsabila.


"Kalau begitu, aku temui dia dulu." Tanpa menunggu jawaban dari semua orang, Queen sudah berjalan ke arah depan.


Sementara itu, di depan Mansion, Dewi sedang terlihat sangat serius berbicara dengan seseorang di bawah pohon palem yang ada di taman depan.


"Iya Bos, aku sudah masuk ke dalam keluarga Raharja. Sebentar lagi aku pasti bisa melaksanakan perintah dari Anda untuk menghancurkan musuh Anda. Jadi, Anda tenang saja."

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan di situ, Dewi?" tanya Queen yang berteriak memanggil Dewi saat berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


TBC ...


__ADS_2