Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Akhirnya kamu tersenyum juga


__ADS_3

Sosok pria dengan tubuh tinggi tegap yang dari tadi mengamati Dewi, merasa iba saat melihat wanita yang dari tadi tidak berhenti menangis sambil menyembunyikan wajahnya dengan posisi menunduk. Pria yang tak lain adalah Leo, baru saja mengubungi tuan mudanya dan langsung melaksanakan perintah untuk menghibur wanita malang yang hampir 15 menit menangis tersedu-sedu tanpa memperdulikan keadaan di sekitarnya.


Tentu saja ada beberapa orang yang melihat dan menatapnya penuh iba. Saat ini, Leo tengah membawa 1 kantong plastik cukup besar. Ia baru saja kembali dari mini market waralaba yang tak jauh dari taman. Karena tidak ingin dicurigai, ia membeli aneka snack, minuman dan coklat.


"Semoga dia tidak mencurigai aku tengah membuntutinya." Leo berjalan mendekati Dewi dan mempunyai sebuah ide untuk menghentikan tangisan dari wanita yang masih betah menangis dari tadi.


"Nona, jangan bergerak!" teriak Leo pada Dewi.


Dewi yang mendengar suara bariton pria di dekatnya, refleks langsung mengangkat wajahnya yang dari tadi menunduk dan menatap ke arah sosok pria dengan badan tinggi tegap di depannya.


"A-apa?" jawab Dewi dengan suara bergetar efek menangis dan seolah melupakan wajahnya yang sembab dan mengenaskan.


Leo merasa senang saat berhasil membuat wanita yang tengah menangis itu menghentikan tangisannya. "Ada anak ular di belakangmu."


Refleks Dewi membulatkan kedua matanya dan tubuhnya seketika menegang tak bisa berkutik. "A-apa! Ular? Cepat singkirkan ularnya. Di mana ularnya?"


"Makanya diamlah dan jangan bergerak! Ular itu ada di belakangmu. Biar aku yang menyingkirkannya!" Leo berpura-pura mencari sesuatu untuk menyingkirkan ular tipuannya.


Agar lebih meyakinkan, Leo mematahkan ranting pohon yang ada di sebelah ia berdiri dan berjalan ke arah Dewi. Kemudian berpura-pura untuk menyingkirkan ular yang hanya merupakan karangannya semata. Untuk beberapa saat ia masih berdiri menjulang di hadapan Dewi agar lebih meyakinkan.


Dewi yang masih terdiam membisu di tempatnya, hanya menatap ke arah depan. Di mana bisa dilihatnya kaki panjang di balik celana hitam dengan sepatu pantofel mengkilat sosok pria yang berdiri menjulang tepat di hadapannya. Tubuhnya masih meremang karena merasa sangat takut jika sampai tubuhnya dipatuk oleh ular.


"Apa, ularnya sudah kamu singkirkan?"


"Sudah, aku melemparnya jauh tadi. Agar tidak kembali ke sini lagi." Leo beralih melangkah ke arah samping Dewi dan membuang ranting yang berada di tangannya.

__ADS_1


"Syukurlah." Helaan napas terdengar dari hembusan mulut Dewi dan ia refleks langsung menoleh ke belakang untuk melihat sebesar apa ular yang berada di belakangnya. Namun, ia tidak melihat apa-apa dan beralih menatap ke arah pria yang masih belum pergi dari hadapannya. "Di mana ularnya?"


"Tentu saja sudah pergi. Apa kamu mau ular itu datang ke sini lagi?" tanya Leo yang berpura-pura untuk menggertak wanita di hadapannya.


Dewi refleks langsung menggeleng perlahan, "Bukan seperti itu, aku hanya ingin melihat ularnya seberapa besarnya. Itu saja. Bukan menyuruh ularnya datang ke sini." Bangkit dari posisinya yang tadi berjongkok. "Terima kasih, karena menyelamatkanku dari dipatuk ular."


"Tidak masalah, santai saja. Lain kali, kalau mau menangis ditahan dulu sampai di rumah. Jangan menangis di sembarang tempat dan mengundang hewan-hewan liar datang karena merasa terganggu dengan suara tangisanmu itu. Astaga, es krim yang tadi aku beli jadi meleleh." Berpura-pura kesal dan langsung mengambil 2 es krim dengan rasa coklat dan strawberry di dalam kantong plastik.


"Nah, bantu aku menghabiskannya daripada meleleh dan tidak bisa dimakan. Kamu rasa coklat atau strawberry?"


Dewi mengerutkan kening dan menunduk ke arah 2 es krim di tangan pria yang sama sekali tidak dikenalnya. Sejujurnya ia sangat ingin menikmati sensasi dingin dan manis dari es krim tersebut. Namun, rasa gengsinya jauh lebih tinggi dan tidak mau menerima sesuatu dari pria yang sama sekali tidak dikenalnya.


"Maaf, Anda habiskan saja sendiri. Saya mau pulang. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya." Berlalu pergi meninggalkan pria yang masih mengarahkan es krim padanya.


Kaki jenjang Dewi seketika berhenti begitu mendengar suara bariton pria yang menghinanya. Refleks ia menoleh ke arah belakang, "Apa kamu bilang? Tidak tahu terima kasih? Bukankah aku tadi sudah mengucapkan terima kasih. Apa kamu meminta imbalan setelah menolong seseorang?"


"Iya, karena tidak ada yang gratis di dunia ini. Itu yang dikatakan oleh majikanku." Leo menatap tajam wajah wanita yang terlihat sangat kesal padanya.


"Astaga, jadi kamu meminta uang? Berapa? Aku akan membayarnya." Dengan wajah masam, Dewi membuka resleting tas selempangnya dan meraih dompet miliknya. Mengambil uang dua ratus ribu dan memberikannya pada pria yang hanya diam di tempatnya. "Nah, ini cukup, kan!"


Refleks Leo tertawa terbahak-bahak melihat wanita di depannya memberikan uang padanya. "Aku bukan seorang pengemis." Mengibaskan tangannya pada Dewi, "Pergilah!"


Merasa sangat kesal karena apapun yang dilakukannya salah, membuat Dewi merebut es krim rasa strawberry dari tangan pria tersebut. "Hari ini aku sangat kesal dan kamu semakin membuatku kesal." Mendaratkan tubuhnya dengan kasar di tempat duduk yang tak jauh dari ia berdiri dan langsung membuka es krim di tangannya. Kemudian menikmatinya tanpa menoleh ke arah pria yang tidak diketahui namanya tersebut.


Melihat tingkah Dewi yang menurutnya sangat lucu, membuat Leo hanya terkekeh. Ia ikut mendaratkan tubuhnya di sebelah Dewi dan mulai mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


"Aku tadi ke sini karena ingin menikmati semua makanan ini." Meletakkan kantong plastik besar berisi makanan itu di tengah, menjadi batas antara dirinya dan Dewi. "Akan tetapi, karena melihatmu hampir digigit ular saat sedang menangis, membuatku melupakan es krim ini dan langsung meleleh, kan jadinya."


"Baiklah, aku minta maaf karena membuat es krimmu meleleh. Apa sekarang kamu puas dan tidak mengejekku wanita tidak tahu diri lagi," rengut Dewi yang melirik sekilas ke arah pria yang juga tengah menikmati es krim rasa coklat. Tidak lupa ia melirik ke arah kantong plastik berisi banyak jajanan ringan tersebut.


"Kamu membeli banyak makanan seperti ini, seperti seorang wanita yang tengah putus cinta saja."


Leo hanya terkekeh mendengar ejekan dari Dewi. Tentu saja kini ia sedang sibuk mengumpat wanita di sebelahnya.


"Dasar bodoh, bukan putus cinta, tetapi karena putus asa. Aku sengaja membeli ini untukmu, agar kamu melupakan kesedihanmu," gumam Leo di dalam hati.


"Ambil saja jika kamu mau. Tadinya aku membelinya karena ingin menghabiskannya di taman ini. Akan tetapi, saat melihat kamu tadi sangat berisik, membuatku tidak berselera."


Refleks langsung meninju ke arah lengan kekar pria yang semakin membuatnya kesal. "Sialan! Tingkahmu seperti seorang wanita saja. Membeli makanan ringan sebanyak ini dan mengeluhkan suaraku saat menangis."


"Aku bukan wanita, aku hanya sedang patah hati karena melihat cinta pertamaku sudah hidup berbahagia bersama dengan suami dan anaknya. Bahkan sekarang dia sedang hamil lagi, padahal usia putranya baru 2 tahun. Astaga!" Leo menepuk jidatnya berkali-kali saat membayangkan Sabrina bercinta dengan suaminya.


Refleks Dewi tertawa terbahak-bahak mendengar keluhan dari pria yang sama sekali tidak dikenalnya dan sudah curhat padanya.


"Ya ampun, malangnya nasibmu! Sabar ... sabar, ya." Sabrina menepuk bahu kokoh Leo dengan masih tidak bisa menahan tawanya.


"Akhirnya kamu tersenyum juga, wanita malang," gumam Leo di dalam hati.


Flashback off ...


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2