Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Drama di pagi hari


__ADS_3

Queen yang baru saja keluar dari kamar mandi, menyambut keponakan kembarnya yang selalu keluar masuk tanpa permisi. Karena sudah terbiasa dengan ulah 2 anak kecil menggemaskan itu, sehingga membuat Queen tidak merasa kaget atau pun marah. Dan seperti biasa, 2 baby sitter sedang menunggu di depan pintu dan selalu stand by jika sewaktu-waktu 2 anak kecil luar biasa aktif yang tidak bisa diam itu keluar.


"Aunty ... Aunty, disuruh turun sama Daddy. Ayo," ucap Arkha yang sudah menarik-narik tangan aunty kesayangannya.


Begitu juga dengan Arsha yang ikut melakukan hal yang sama. "Aunty dicariin Tante cantik."


"Tante cantik? Siapa namanya?" tanya Queen yang mengerutkan alisnya dan sudah berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan 2 bocah menggemaskan itu.


"Tante Dewi," jawab Arkha yang terlihat berbinar. "Tante Dewi cantik seperti Mommy."


"Benarkah? Jika sampai Mommy kalian tahu apa yang dirasakan Tante Dewi pada Daddy-mu itu, mungkin nanti kalian akan dimarahi habis-habisan. Ups ...." Queen yang keceplosan, refleks langsung menutup mulutnya.


"Dasar ceroboh sekali kamu Queen. Anak-anak ini tidak boleh sampai tahu kalau Dewi sangat menyukai brother. Karena jika sampai kakak ipar tahu, bisa-bisa si Dewi akan langsung di gampar habis-habisan. Kakak ipar seperti singa betina liar saat ada wanita yang mengincar brother. Dan untungnya brother adalah tipe suami yang sangat setia meski mempunyai masa lalu yang kelam saat menjadi playboy. Apalagi sampai membuat seorang gadis lugu bunuh diri pula. Nasib baik, aku mempunyai seorang suami yang sangat baik dan tidak suka mempermainkan perasaan wanita. Jadi, aman," batin Queen.


"Aunty, ayo kita keluar. Temani Arkha ngobrol sama tante Dewi," rengek Arkha seraya memegangi tangan aunty-nya.


"Ngobrol sama tante Dewi?" tanya Queen seraya menatap penuh selidik pada keponakannya itu.


"Iya, Aunty. Ayo, Arkha suka sama tante Dewi karena cantik. Kalau jelek, Arkha nggak suka."


"Astaghfirullah, anak kecil ini benar-benar mirip brother. Apa iya dia nanti saat dewasa mengikuti sepak terjang dari daddy-nya?" Queen mengamati sosok keponakan sulungnya yang memang mempunyai wajah tampan dengan kulitnya yang putih mewarisi gen daddy dan mommy-nya. "Arkha saat besar nanti mau jadi apa?"


"Ehm ... Arkha ingin pintar menggambar wajah tante-tante cantik seperti Aunty dan tante Dewi," jawab Arkha setelah memikirkan jawabannya.


"Arkha nggak mau menggambar mommy?" selidik Queen yang ingin memancing jawaban dari keponakannya tersebut.

__ADS_1


"Mommy dan Daddy sudah Arkha gambar wajahnya dan juga adik-adik. Ada di rumah gambarnya. Aunty mau lihat?" tanya Arkha dengan tatapan keingintahuan.


"Benarkah? Kalau begitu, nanti Arkha gambar juga Aunty dan Uncle ya?" sahut Queen yang merasa tertarik dengan perkataan dari Arkha.


"Ada apa manggil Uncle?" tanya Aditya yang sudah berjalan ke arah istri dan 2 keponakan kembar tersebut. Tak lupa ia mencium pipi putih wanita yang sedang berdiri di sampingnya.


"Uncle gendong Arsha."


"Baiklah," jawab Aditya seraya tersenyum dan langsung menggendong anak kecil yang mempunyai wajah cantik nan menggemaskan itu. Dan ia sangat terkejut saat balita yang ada di gendongannya sudah menciumnya.


"Uncle sangat tampan. Seperti kata Brother Arkha yang bilang tante Dewi cantik. Kalau Brother punya Tante Dewi, Arsha punya Uncle Aditya kan," ucap Arsha dengan terkekeh.


"Astaghfirullah, bocah-bocah ini sudah fasih bilang cantik dan tampan saat melihat orang dewasa yang bening. Sepertinya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Si Arkha suka wanita yang lebih tua dan juga Arsha suka pria tampan dan mencuri ciuman dari suamiku. Tidak boleh dibiarkan ini. Arsha ayo turun!" Queen mengarahkan tangannya pada keponakannya.


"Sayang, jangan bilang kamu cemburu pada keponakanmu sendiri," tanya Aditya dengan tersenyum menyeringai.


"Ayo, Arsha sama Aunty saja. Biar Uncle ganti baju dulu."


Arsha menggelengkan kepalanya, "Nggak mau, Arsha mau digendong Uncle."


Refleks Queen langsung ber-sitatap dengan Aditya seraya mengeluarkan suaranya. "My hubbiy, ini bukan sebuah karma kan?"


"Karma? Maksudnya?" tanya Aditya yang merasa sangat tidak paham akan perkataan dari sang istri.


"Aku jadi ingat masa kecilku yang dulu sangat membenci istri dari Daddy Azriel. Dulu aku sangat membencinya, karena berpikir dia telah merebut kasih sayang dari Daddy Azriel. Tanpa memperdulikan status dia meski sudah menikah dan bahkan aku berharap Daddy mau meninggalkan keluarganya dan memilihku," ucap Queen dengan penuh penyesalan saat menyadari kebodohannya di masa yang telah silam.

__ADS_1


"Oh ... jadi istriku dulu adalah keong racun?" sahut Aditya dengan terkekeh.


Deg ...


Jantung Queen bagaikan ditusuk sebuah tombak yang sangat tajam begitu mendengar kalimat bernada sindiran pedas dari sang suami. Dan ia langsung menyadari kebodohannya yang selalu memanggil setiap wanita yang ada di sekitar pria yang dicintainya itu adalah keong racun. Padahal, belum jelas itu adalah keong racun. Sedangkan dirinya yang jelas-jelas keong racun, malah tidak merasa malu atau pun menyadari kesalahannya sendiri.


"My hubbiy jahat banget sih," ucap Queen dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dan beberapa detik kemudian ia sudah menangis tersedu-sedu karena rasa bersalahnya dan menyadari kebodohan di masa lalu saat menjadi duri dalam rumah tangga daddy-nya. Bahkan ia sangat membenci wanita yang sudah sah menjadi istri pria yang dulu sangat digilainya.


Aditya refleks menurunkan Arsha dari gendongannya. "Sebentar ya Sayangku, Arsha." Beralih menatap ke arah sang istri, "Astaghfirullah ... maafkan aku Sayang. Aku tidak bermaksud untuk menghinamu tadi, karena aku hanya bercanda. Maaf ... maaf, cup ... cup ... Sayang."


Queen semakin mengeraskan suara tangisannya karena menyadari dosa-dosanya selama ini. Bukan karena ia kesal pada sang suami yang barusan memanggilnya keong racun, tapi lebih pada sebuah peleburan dosa. Seolah ia ingin mencuci dosanya dengan bulir air mata yang ia keluarkan. Meski ia tahu bahwa itu hanyalah sebuah pemikiran konyol semata.


Sedangkan 2 anak kecil yang melihat aunty kesayangannya menangis, membuat mereka berdua berlari keluar dari kamar untuk memberitahu apa yang dilihatnya.


Aditya merengkuh tubuh sang istri yang terlihat sesekali bergetar ke dalam dekapannya dan gerakan tangannya sudah mengusap lengan wanita yang masih menangis tersedu-sedu itu. "Sayang, aku minta maaf. Kamu bukan keong racun, tapi ratu di hatiku. Sudah, jangan menangis lagi ya."


Queen mencoba menguasai dirinya dengan membersihk bekas air mata yang sudah menganak sungai di wajahnya. "My hubbiy, apakah aku adalah seorang wanita yang sangat kejam dulu?"


"Tidak, kamu tidak kejam. Jika kamu membunuh orang, itu baru bisa dibilang kejam," jawab Aditya untuk menghibur perasaan gundah gulana dari wanita yang masih berada dalam dekapannya.


Merasa belum puas dengan jawaban dari sang suami yang ia tahu adalah sosok pria yang sangat baik hati dan tidak mungkin mau menyakitinya, membuatnya kembali melayangkan sebuah pertanyaan yang mengganjal di pikirannya dan membuatnya merasa takut.


"My hubbiy, apakah karma itu ada menurut ajaran agama Islam? Aku takut mendapatkan karma, karena aku pernah mengganggu ketentraman rumah tangga dari Daddy Azriel dulu dan membuat istrinya merasa was-was dan juga sangat membenciku. Bagaimana jika nanti aku merasakan apa yang dirasakan oleh Tante Elfaiza?"


"Maksudmu ada keong racun di dalam rumah tangga kita? Kamu bisa bernapas lega, Sayang. Karena insyaallah, suamimu ini akan selamanya setia hingga maut memisahkan. Sekarang jangan menangis lagi ya?" Aditya membantu Queen untuk menghapus bulir bening yang memenuhi wajah cantik itu. Dan disaat yang bersamaan, suara dari semua orang mengagetkannya.

__ADS_1


"Sebenarnya drama apa lagi yang kalian buat pagi-pagi begini?"


TBC ...


__ADS_2