
Seulas senyuman terbit dari wajah Aditya begitu mendengar kalimat bernada penyesalan dari Reynaldi. Kini, tangannya sudah menepuk bahu kokoh pria dengan paras tampan, serta tubuh tinggi tegap yang agak lebih tinggi darinya. "Alhamdulillah, akhirnya kamu benar-benar menyesali kesalahanmu. Aku sangat senang dan berharap kamu akan kembali hidup normal setelah menjalani masa hukuman."
Reynaldi berpura-pura untuk menampilkan sebuah senyuman untuk menanggapi petuah dari pria yang sangat dibencinya. "Doakan adikmu ini, agar aku bisa kembali menjalani sebuah kehidupan yang normal tanpa hujatan dari semua orang setelah keluar dari penjara. Karena setahuku, mantan narapidana akan di cap miring oleh masyarakat begitu keluar dari penjara."
Kalimat bernada miris yang keluar dari mulut adiknya, berhasil membuat Aditya murung. Perasaan bersalah mulai menyeruak dari lubuk hatinya yang paling dalam. Akan tetapi, saat ia memikirkannya, sekilas terlintas di depannya sebuah bayangan dari bidadarinya yang menampilkan senyuman manis. Sehingga terdengar napas berat dari suaranya.
Ia menatap wajah dengan rahang tegas di depannya, "Insyaallah selalu ada jalan untuk orang-orang yang mau bertaubat dan kembali ke jalan Allah SWT, Rey. Apakah aku boleh memanggilmu Rey saja?"
"Tentu saja boleh," jawab Reynaldi seraya menganggukkan kepalanya.
"Aku senang, karena mempunyai seorang adik laki-laki. Untuk permintaan maafmu, aku sudah memaafkanmu sebelum meminta maaf padaku. Allah SWT maha pemurah, jadi aku yang hanya manusia biasa ini, harus bisa memaafkan kesalahan orang lain. Apalagi kesalahan dari adik sendiri." Untuk sesaat Aditya terdiam, karena ia ingin mencari kata-kata yang pas untuk mengatakan hal yang ingin disampaikannya pada adiknya tersebut.
Kemudian, setelah berhasil menetralkan perasaannya, ia berdehem sebentar sebelum menyampaikan pesannya. "Ehem ... Rey, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan."
Reynaldi yang dari tadi menatap wajah dari Aditya, menaikkan alisnya. "Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan padaku, Brother? Kenapa dari tadi muter-muter terus. Jangan buat aku merasa gugup. Bahkan aku belum mendengar putusan hakim, tapi sudah deg-degan seperti ini," ucap Reynaldi yang berpura-pura berekspresi gelisah.
"Astaga, aku muak jika harus selamanya bersikap bodoh dan berpura-pura seperti ini di depan abangku yang sangat kampungan ini. Sabar Rey, ini demi kebebasanmu. Setelah nanti pria bodoh ini membebaskanmu, kamu bisa kembali menjadi manusia normal seperti sebelumnya dan tidak perlu berpura-pura lagi di depannya," gumam Reynaldi.
__ADS_1
Lamunan Reynaldi buyar seketika saat mendengar suara bariton dari saudara tirinya yang terlihat serius saat berbicara.
"Rey, aku sangat mencintai istriku," ujar Aditya saat menatap wajah tampan adiknya.
"Iya? Apakah kamu ingin menunjukkan bahwa cintamu lebih besar dariku, Brother?" tanya Reynaldi dengan tersenyum kecut. Saat ia memasang telinganya lebar-lebar untuk mendengarkan perkataan dari saudara tirinya, yang ia dengar malah sebuah hal yang menurutnya sangat konyol.
Aditya mengarahkan tangannya ke depan untuk menyanggah perkataan dari Reynaldi, "Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu, Rey. Sejujurnya aku ingin berbicara padamu mengenai pesan dari istriku."
"Memangnya seorang nona muda Queen berpesan apa? Aku jadi penasaran, katakan saja padaku!" sahut Reynaldi.
"Istriku berpesan padaku, agar aku menjadi seorang suami yang tegas. Karena itulah, aku ingin membuktikan padanya. Dan salah satunya adalah ...." Aditya tidak melanjutkan perkataannya karena merasa sangat bersalah.
"Apapun keputusan hakim mengenai berapa lama masa hukumanmu, kamu harus menjalaninya dengan ikhlas Rey. Anggap saja itu sebagai sebuah penebusan dosa atas kesalahan yang selama ini kamu lakukan. Dan ada 1 hal lagi yang ingin aku katakan padamu, lupakan Queen dan buang jauh-jauh perasaanmu! Karena dia adalah kakak iparmu, Rey. Dan selamanya akan selalu begitu, lupakan Queen! Jodohmu sudah diatur oleh Tuhan, tapi bukan istriku," titah Aditya dengan suaranya yang tegas.
Refleks Reynaldi mengerutkan keningnya begitu mendengar suara bariton penuh ketegasan dari pria yang tak lain adalah saudara tirinya tersebut. Bahkan ia sama sekali tidak pernah menyangka jika pria yang dianggapnya lemah itu lebih terlihat seperti tengah mengancamnya. Kemudian ia langsung bertepuk tangan menanggapi perkataan Aditya seraya tersenyum.
"Wah ... sungguh amazing, the power of love. Aku sangat salut padamu Brother, ternyata cintamu pada Queen sangat luar biasa dan membuatmu bisa dengan mudah mengancamku. Tenang saja, Brother. Aku sudah tidak berminat lagi pada istrimu, karena di luaran sana masih banyak wanita cantik yang masih perawan. Mungkin salah satu perawan itu adalah jodohku," ucap Reynaldi dengan santainya.
__ADS_1
"Akan tetapi, sebelum itu, aku ingin memberi pelajaran pada wanita yang telah menggagalkan rencanaku. Dia puncak dari kegagalanku mendapatkan Queen. Sampai ke ujung dunia sekali pun, aku akan mencarinya," gumam Reynaldi.
"Rey, maafkan jika kata-kataku tadi menyinggung perasaanmu. Akan tetapi, aku akan melakukan apapun untuk menjaga keutuhan rumah tangga yang aku bina. Meski aku harus mengorbankanmu atau pun ibu, aku akan melakukannya. Jadi, jika seandainya kamu masih mempunyai pikiran jahat walau hanya sedikit saja, aku tidak akan pernah melepaskanmu." Entah mengapa saat Aditya mengingat perkataan dari istrinya, ia begitu lancar berbicara untuk mengancam adik tirinya.
Tak hanya sampai di situ saja, ia sekilas mengingat perkataan dari saudara istrinya, "Oh iya, ada 1 hal lagi pesan dari abang iparku tadi. Dia juga bilang akan menghancurkan semua orang yang menggangu keluarga Raharja. Jadi, aku harap kamu benar-benar menyesali perbuatanmu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi," ujar Aditya dengan wajah penuh keseriusan seraya menepuk bahu kokoh Reynaldi.
Meski awalnya sangat terkejut, Reynaldi yang sama sekali tidak pernah menyangka akan mendapatkan sebuah ancaman dari Aditya, menyembunyikan rasa kesal yang amat sangat dirasakannya dengan tersenyum tipis. "Tenang saja, Brother. Tidak mungkin aku berani untuk mengganggu keluarga Raharja, karena itu sama saja dengan aku cari mati."
"Syukurlah kalau begitu, aku ikut senang mendengarnya. Masa depanmu masih panjang, Rey. Pesanku, jangan menyia-nyiakannya dengan hal-hal yang tidak baik. Lakukan sesuatu yang baik dan hiduplah dengan berbahagia bersama dengan pasangan halalmu. Aku doakan semoga kelak kamu mendapatkan jodoh yang baik, aamiin." Aditya mengusap telapak tangan ke arah wajahnya setelah mengucapkan doa pada adiknya.
"Terima kasih, Brother atas doanya. Aku akan selalu mengingat pesanmu dan semoga doamu dikabulkan oleh Tuhan. Oh ya, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," tanya Reynaldi dengan tatapan intens.
"Tanya tentang apa?" tanya Aditya dengan sorot mata penuh pertanyaan.
"Apakah nanti saat aku menjalani masa hukuman, kamu mau sekali-sekali mengunjungi aku di penjara? Ataukah kamu akan merasa malu memiliki adik tiri seorang narapidana?"
"Astaghfirullah, buang jauh-jauh pikiranmu itu Rey. Tentu saja aku akan mengunjungimu, jadi kamu tenang saja. Karena setiap hari libur, aku akan datang. Selama di dalam penjara, lebih baik kamu banyak mendekatkan diri dengan Sang Maha pencipta. Anggap semua hal yang kamu alami adalah sebuah pembelajaran untuk menjadi pria yang lebih dewasa." Aditya memberikan banyak nasehat dan petuah karena ingin membuat adik satu-satunya tersebut benar-benar bisa berubah menjadi seorang pria yang baik.
__ADS_1
"Aku tahu bahwa kamu sedang berpura-pura saja bersikap baik padaku, adikku. Karena, mana orang yang tulus dan hanya berpura-pura bisa terlihat jelas dari sorot mata. Karena sinar matamu itu menunjukkan sebuah kepura-puraan yang hanya ingin mencari sebuah simpati. Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu di penjara. Sedangkan abangmu ini akan selalu mendoakanmu agar bisa berubah setelah keluar dari penjara nanti," gumam Aditya.
TBC ...