Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Gempa bumi dahsyat


__ADS_3

Aditya mengusap lembut kening wanita yang baru saja membuka kedua matanya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kamarnya. Tentu saja ia bisa membaca pikiran dari istrinya yang terlihat tengah melamun, seolah sedang memikirkan sesuatu. Dan sesuatu yang dipikirkannya adalah keadaan rumahnya yang sangat jauh dari istana istrinya tersebut.


"Kamarku memang sempit dan buruk Sayang, tapi memang beginilah adanya diriku yang sesungguhnya. Akan tetapi, aku tidak akan memaksamu untuk menerima keadaanku. Karena aku tahu kalau kamu bukanlah wanita sembarangan dan terbiasa hidup mewah bergelimang harta dengan semua kemewahan semenjak kecil."


"Namun, aku berharap kamu bisa sedikit menghargai hasil jerih payah Ayahku. Karena rumah ini adalah hasil kerja kerasnya selama ini. Meski hanya sebuah rumah kecil sederhana yang mungkin menurutmu jauh dari kata layak, tapi ini merupakan surga kami berdua yang menyimpan banyak kenangan bersama Almarhumah Ibu."


Queen menelan salivanya begitu mendengar penjelasan panjang lebar dari pria yang masih berdiri menjulang di sebelah ranjang tempat ia berbaring. Baru saja ia mempunyai pikiran untuk merubah rumah yang menurutnya lebih seperti kandang Ayam itu menjadi rumah mewah, tapi suaminya sudah mengatakan hal yang menjelaskan seolah tidak akan pernah menyetujui niat baiknya.


"Bagaimana ini, padahal aku sudah mempunyai ide untuk menghancurkan gubuk derita ini dan membuat bangunan baru yang lebih kokoh dan mewah. Jika My hubbiy sudah menyuruhku untuk menghargai hasil jerih payah Ayah, bukankah itu menunjukkan bahwa mereka tidak akan mau jika rumah ini dirubah? Lalu, apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku akan betah tinggal di sini lama-lama, apalagi kalau harus sering datang ke sini. Dan jika aku menolak saat suami mengajak ke sini, bukankah nanti dia akan kecewa? Aaaaaaarrrh ... aku benar-benar bisa gila!" batin Queen.


"My hubbiy duduklah! Aku ingin bicara sesuatu denganmu," ucap Queen dengan tatapan intens seraya menarik tangan pria yang berdiri menjulang itu agar duduk di sebelahnya. Tak lupa ia pun bangkit dari posisinya yang tadinya berbaring, dan beralih duduk menghadap ke arah suaminya.


"Kenapa kamu bangun, Sayang? Seharusnya berbicara sambil berbaring saja." Aditya mendaratkan tubuhnya di sebelah sang istri yang masih terlihat pucat dan mengarahkan tangannya untuk menahan bagian belakang wanitanya agar berada di pelukannya.


Queen menggelengkan kepalanya, "Aku tidak apa-apa My hubbiy. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."


"Bicara tentang apa? Kenapa tidak lain kali saja? Apakah itu penting?" tanya Aditya dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Ini sangat penting dan darurat, karena itulah aku ingin membahasnya denganmu. Ayah sedang beristirahat ya?"


"Iya, karena efek obat yang diminumnya membuat Ayah mengantuk. Karena itulah aku harus segera memasak untuk makan siang kita. Jadi, saat Ayah bangun nanti, sudah siap makan siangnya. Nanti saja bicaranya ya? Aku harus masak dulu."

__ADS_1


"Sudah aku bilang ini sangat penting dan sudah tidak bisa ditunda lagi," sahut Queen dengan nada penuh ketegasan.


"Astaghfirullah, jangan pernah meninggikan suaramu pada suamimu, Sayang! Itu sangat berdosa, jadi rubahlah sikapmu yang buruk. Meski tidak bisa langsung, tapi mudah-mudahan kamu bisa sedikit demi sedikit menjadi seorang istri Sholihah yang sesungguhnya." Mengusap lembut punggung tangan wanita yang tengah dikuasai oleh kekesalan itu.


"Iya ... iya, aku akan mengingatnya My hubbiy, tapi kamu harus menyadari bahwa tidak mudah merubah sifat atau pun watak yang sudah mendarah daging di dalam diriku," rengut Queen dengan tatapan jengah.


Aditya menganggukkan kepalanya, "Iya, semuanya itu yang paling penting adalah niat, Sayang. Asalkan ada niat yang besar untukmu berubah, kamu akan sukses menjadi sosok wanita yang Sholihah. Aku akan mengajari istriku tentang semua hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sekarang katakan padaku tentang apa yang ingin kamu bahas denganku!"


"Ehm ... ini tentang rumah ini," jawab Queen dengan ragu-ragu.


"Kenapa? Kamu ingin membangun rumah ini agar terlihat lebih layak, karena aku sudah menjadi menantu keluarga Raharja? Rumah ini akan menjadi bahan pergunjingan dari orang-orang yang akan mencari celah untuk mencari kesalahan keluarga Raharja? Begitu bukan?" ucap Aditya menatap dengan intens wajah cantik wanita yang dari tadi di peluknya.


"Sempurna, ternyata My hubbiy sangat cerdas. Aku jadi semakin mencintaimu," sahut Queen dengan wajah berbinar dan langsung memeluk erat tubuh kekar yang berada di sebelahnya. "Aaaaaaarrrh ... aku jadi gemes pada suamiku jadinya."


"Lebih baik kamu melupakan saja niatmu untuk merenovasi rumah ini, karena Ayah tidak akan pernah setuju, oke!"


Queen terdiam sesaat, karena ia tengah mencari sebuah ide agar mertuanya mau menerima niat baiknya. Tentu saja ia tidak akan pernah menyerah sebelum mencobanya, dan akhirnya ia mempunyai sebuah ide yang akan menyelesaikan masalahnya.


"My hubbiy, kenangan Ayah yang paling tidak bisa dilupakan di rumah ini apa dan di mana? Apakah di kamar Ayah, ruang tamu, teras, atau dapur?"


"Tentu saja di setiap sudut rumah ini banyak tersimpan kenangan manis itu, Sayang. Memangnya kenapa? Kamu tetap ingin melaksanakan rencanamu itu?" tanya Aditya yang menautkan kedua alisnya ke atas.

__ADS_1


"Mungkin aku akan menyuruh orang untuk merapikan rumah ini tanpa merubah setiap ruangan. Aku akan merubah atap, lantai, mengecat tembok dan mengganti daun pintu serta jendela kayu yang sudah usang itu. Yang mau aku ubah total adalah kamarmu ini yang harus ada kamar mandi di dalamnya. Agar aku tidak perlu keluar kamar jika ingin ke toilet. Sekaligus semua perabotan yang ada di ruangan ini harus diganti dengan furniture yang berkualitas."


"Terutama ranjang menyedihkan ini! Bahkan baru beberapa menit berbaring di sini saja, sudah membuat badanku sakit semua. Lihatlah ini!" Queen mencoba bergerak sedikit dan suara dari ranjang yang berdecit itu membuat Queen mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa dengan ranjangku, Sayang?"


"Astaga, ranjang ini berbunyi," kesal Queen.


"Memangnya kenapa kalau berbunyi?" tanya Aditya yang berpura-pura bodoh.


"Ya ampun, bukankah ini akan berbunyi kalau kita make love? Coba dengerin suara berisik ini!" Queen kembali menggerakkan tubuhnya di atas ranjang. "Bukankah ini sangat memalukan dan akan ada yang mendengarnya dari luar? Sepertinya aku harus memasang alat peredam suara agar tidak ada yang mendengar suara dari kita saat berbicara atau pun bercinta nanti."


Aditya seketika langsung tertawa terbahak-bahak begitu mendengar wajah polos istrinya yang terlihat sangat menggemaskan saat membahas tentang hal-hal yang bersifat intim. "Jadi itu yang ada di pikiranmu jika kita berada di atas ranjang? Sepertinya sekarang otakmu sudah dipenuhi oleh hal-hal yang berbau mesum, Sayang."


"Jangan-jangan kamu sekarang pun ingin bercinta denganku di sini," ucap Aditya dengan tatapan penuh selidik.


"Iiissh ... mana ada, aku hanya bilang seandainya. Bukan ingin bercinta denganmu, dasar kepedean," rengut Queen dengan wajah masamnya.


"Benarkah? Kenapa aku merasa tidak percaya?" Aditya langsung mendekati wajah cantik istrinya dan tentu saja sesuatu yang diincarnya adalah bibir tipis wanita yang terlihat mundur ke belakang dengan gerakannya.


"Kamu mau apa My hubbiy? Jangan macam-macam ya!" ancam Queen yang mencoba menahan dada bidang pria yang semakin mendekat ke arahnya, sehingga membuatnya jatuh telentang di atas bantal.

__ADS_1


"Suamiku tidak akan mengajakku bercinta di ranjang menyedihkan ini kan? Jika benar, nasib ranjang ini akan berakhir naas dan mungkin saja akan langsung patah ketika My hubbiy bergoyang. Astaga, ini benar-benar gila. Akan terjadi gempa bumi dahsyat jika sampai itu terjadi," gumam Queen.


TBC ...


__ADS_2