Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Pucuk dicinta ulam pun tiba


__ADS_3

Dave menaikkan kedua alisnya dan mengarahkan tatapan tegasnya pada Sabrina yang jelas-jelas terlihat sangat gelisah. "Kamu bilang tidak akan hamil secepat itu? Apakah kamu meragukan kemampuanku menghamilimu? Kalau begitu ayo kita buktikan!"


"Astaga, membuktikan apa? Apakah kamu mau menghajarku lagi? Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak akan melakukannya lagi jika aku tidak memintanya? Jadi, tepati janji yang telah kamu buat itu, Dave," keluh Sabrina dengan sangat kesal karena pikirannya saat ini tengah kalut saat memikirkan kemungkinan ia hamil.


Dave yang masih terus menikmati makanannya, akhirnya terdiam karena merasa malu tidak pernah menepati janji yang ia buat selama ini. Untuk beberapa saat ia terdiam karena mengutuk kebodohannya yang berlagak menjadi pria sok kuat agar terlihat seperti seorang pahlawan.


"Astaga, baru kali ini aku menyesali perbuatanku yang bodoh. Apa aku bisa menahan hasrat saat berada di samping istriku sendiri? Kenapa aku tadi bisa membuat janji konyol seperti itu? Sekarang aku baru menyadari kebodohanku. Sepertinya kali ini aku benar-benar harus menahan diriku agar tidak selalu melampiaskan nafsu saat kesal padanya," gumam Dave yang langsung berdehem beberapa saat.


"Ehem ... baiklah, kali ini aku akan menepati janjiku padamu, Sabrina. Aku tidak akan menyentuhmu jika kamu tidak memintanya sendiri. Aku janji," ucap Dave yang mengarahkan jari kelingkingnya pada Sabrina.


Awalnya Sabrina merasa ragu pada pria yang saat ini terlihat sangat serius ketika mengarahkan jari kelingkingnya, tetapi ia yang tidak punya pilihan lain, akhirnya langsung menautkan jarinya di sana.


"Bagus, aku pegang janjimu, Dave."


"Selamanya aku tidak akan memintanya. Jadi, jangan pernah bermimpi akan menyentuhku lagi," gumam Sabrina yang sudah merasa di atas angin.


*******


🍃 Satu bulan kemudian 🍃


Terlihat seorang wanita yang saat ini tengah sibuk memasak di dapur dengan rambut yang diikat ke atas. Wanita yang tak lain adalah Sabrina tengah membuat nasi goreng untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor. Setelah menikah, Dave mengajaknya untuk tinggal di rumah baru yang merupakan hadiah dari wanita yang sangat tidak disukainya. Yaitu, nona muda Queen yang terlihat semakin lengket dengan suaminya yang tak lain adalah mantan kekasih yang masih berada di hatinya.


Meskipun ia belum merasa yakin dengan perasaannya pada Dave, tetapi setiap hari berusaha untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri karena tidak mau menyewa jasa asisten rumah tangga. Hal itu dikarenakan ingin merahasiakan hubungannya yang belum sepenuhnya baik dengan Dave.

__ADS_1


Semenjak janji yang dibuat oleh Dave, keduanya tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Awalnya Sabrina meminta untuk tidur di kamar sendiri, tetapi Dave sama sekali tidak mengijinkan dan menyuruhnya untuk tidur di ranjang yang sama meskipun tidak pernah terjadi apa-apa setiap malam.


Sementara itu, Dave yang berada di dalam kamar, tengah berbaring telentang dengan tangan yang berkali-kali menghempas ke atas ranjang. Wajahnya terlihat sangat frustasi, karena semalaman gairahnya sudah menyiksanya, tetapi tidak bisa menyalurkan hasrat karena janji konyol yang ia buat.


"Sial ... sial, sampai kapan aku harus menahan diri? Ternyata Sabrina kuat sekali dan tidak pernah memintanya. Jika dibiarkan, aku benar-benar bisa gila. Aku stres," sarkas Dave yang sudah menarik rambutnya dengan kasar.


Dengan langkah kaki yang malas, ia berjalan ke arah kamar mandi. Namun, suara kenop pintu yang dibuka dari luar, membuat ia menoleh dan menatap sosok Sabrina yang saat ini tengah membekap mulutnya dan buru-buru berlari ke kamar mandi.


Ia pun mengikuti Sabrina yang sudah berjongkok di toilet dan muntah-muntah. Karena merasa sangat khawatir, membuatnya langsung memijat tengkuk belakangnya dan memijatnya. "Kamu salah makan, hingga muntah-muntah?"


Sabrina yang merasa sangat pusing dan lemas setelah mengeluarkan semua isi perutnya, masih memegangi perutnya. "Perasaan aku tidak makan apa-apa. Mungkin hanya masuk angin biasa. Aku sepertinya tidak masuk kerja, ijinin aku sama mbak Rahma. Aku ingin tiduran di rumah saja," ucap Sabrina yang bangkit dari posisinya dan berjalan keluar dari kamar mandi.


Dave berjalan mengekor Sabrina yang sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan memakai selimut. "Aku panggilkan dokter pribadi keluarga Raharja saja untuk memeriksa keadaanmu. Karena aku tidak tenang membiarkanmu sendiri di rumah tanpa mengetahui kamu sakit apa."


Sementara itu, Dave yang tidak bisa memaksa Sabrina, akhirnya menuruti perintah itu dan bersiap untuk berangkat bekerja.


*******


Senja pun telah beranjak ke peraduannya dan berganti malam bertabur bintang. Suasana rumah dengan 2 lantai yang dihuni oleh Dave terlihat sangat sepi karena saat ini Sabrina masih bermalas-malasan di atas ranjang tanpa memperdulikan makan malam untuk suami yang baru pulang kerja karena lembur.


Dave bisa memahami keadaan dari sang istri yang tidak mungkin memasak untuk makan malam karena sakit, membuat ia tadi membeli makanan di jalan sebelum pulang ke rumah.


"Kamu masih pusing?"

__ADS_1


"Sedikit, tetapi sudah tidak seperti tadi. Aku ingin tidur lagi. Kamu kalau mau makan, panaskan saja makanan yang ada di dalam kulkas. Karena aku tadi beli lewat aplikasi online. Sekarang aku mau tidur lagi, jangan menggangguku!" Sabrina kembali memakai selimut tebal berwarna biru itu untuk menutupi sebagian tubuhnya karena merasa angin malam membuat tubuhnya meremang.


Dave yang merasa sifat sang istri sangat aneh, tengah sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dialami hari ini. Namun, ia lagi-lagi hanya menuruti semua perintah dari Sabrina. Sehingga ia mulai mandi, makan dan mencuci piring bekas makanannya.


"Hambar sekali rasanya hidupku, ibarat sayur tanpa garam. Sudah 1 bulan kami tidak bercinta, aku benar-benar bisa gila. Sekarang istriku sakit, pula. Jadi semakin parah hambarnya."


Puas mengeluhkan nasibnya, Dave melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Awalnya ia ingin menonton pertandingan sepak bola, tetapi karena perasaannya sedang kacau balau, membuat ia memilih kembali ke kamar untuk segera tidur.


"Lebih baik aku menemani istriku di kamar, mungkin dia membutuhkan sesuatu nanti." Berjalan dengan langkah kaki yang seolah tidak bertenaga memasuki kamar dan melihat sang istri yang terlihat sangat gelisah karena sibuk bergerak di atas ranjang.


"Kamu kenapa, Sayang?"


Sabrina yang merasa sangat gelisah, langsung membuang selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Ia yang dari pagi gelisah karena bergairah, tidak mampu lagi menahannya lebih lama lagi.


"Dave, aku ingin melakukannya."


Dave mengerutkan kening dan menatap wajah yang sudah berubah memerah tersebut. "Melakukan apa?"


"Make love, aku ingin bercinta. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku ingin melakukannya," ucap Sabrina dengan lirih.


Refleks Dave yang tersenyum smirk, langsung berjalan menghampiri Sabrina yang saat ini duduk di atas ranjang. Tanpa membuang waktu, ia sudah meraup bibir pucat Sabrina dan mulai menyesapnya. Sedangkan tangannya sudah sibuk melepaskan penutup tubuh wanita yang sudah membalas ciumannya.


"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya senjataku kembali masuk ke sarangnya."

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2