Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Tidak mau ambil pusing


__ADS_3

Dave hanya terbahak saat melihat wajah masam dari Sabrina. Tidak hanya itu, cubitan cukup keras di pinggangnya, membuat ia sedikit meringis. "Astaga ... sakit, Sayang."


"Biarin!" rengut Sabrina yang masih merasa sangat kesal. "Aku tuh marah, malah kamu minta jatah, bikin kesel saja! Bukannya menyelesaikan dulu masalahnya, malah bikin tambah kesel."


Dave yang masih tertawa saat melihat wajah lucu sang istri saat mengerucutkan bibirnya, langsung menatap ke arah putranya yang ada di pangkuannya. "Lihatlah, Sayang. Mamamu nakal sama Papa."


Sabrina menatap ke arah putranya yang sudah menepuk-nepuk tangannya dan beralih menatap Dave yang seolah mencari sebuah perlindungan dari putranya. "Dasar licik." Meraih putranya dan memangkunya. "Arya, Sayang, kalau besar nanti jangan seperti Papa, ya!"


"Lah ... memangnya Papa kenapa?" tanya Dave yang merasa tidak bersalah, tetapi dikaitkan dengan kesalahan.


"Mesumlah. Memangnya apa lagi? Makanya aku bilang sama putraku yang paling tampan ini agar kelak tidak mengikuti jejak papanya yang selalu mesum." Sabrina mengusap lembut rambut hitam berkilat putra kesayangannya seraya melirik sinis ke arah sang suami.


Karena tidak ingin berdebat terlalu panjang, apalagi mengaitkan sikapnya yang memang selalu menyelesaikan masalah di atas ranjang sangat diakuinya. Karena menurutnya hanya cara itulah yang paling mudah dan praktis. Apalagi ia dan wanita yang menurutnya tidak pernah mau mengakui sangat menikmati setiap perbuatannya.


"Semua wanita selalu seperti ini. Lain di mulut lain di hati. Apakah mereka termasuk jenis orang yang munafik? Jika sampai istriku mendengar aku mengatainya munafik, pasti aku akan mendapat semprotan," gumam Dave di dalam hati.


"Aku mandi dulu, Sayang. Nanti, kamu cari sendiri saja baby sitter yang sekiranya cocok bekerja di sini." Berjalan meninggalkan Sabrina, tetapi langkahnya terhenti saat pundaknya ditepuk dari belakang.


Sabrina yang tiba-tiba merasa mual lagi, buru-buru bangkit dan mengejar Dave untuk menyerahkan putranya. Tentu saja tanpa mengeluarkan suara, karena jika sampai ia membuka mulut, mungkin sudah muntah di depan sang suami. Begitu putranya ada di tangan Dave, ia berlari masuk sambil membungkam mulutnya.


Dave yang sudah menggendong putranya, mengejar Sabrina karena merasa sangat khawatir dengan keadaan wanita yang selalu muntah-muntah hingga terlihat sangat pucat wajahnya.

__ADS_1


"Mama muntah lagi, Sayang. Kasihan, Mama. Arya sudah besar, jangan menyusahkan Mama, ya." Berjalan ke arah kamar dan melihat Sabrina baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia pun menghampiri sang istri dan mengusap lembut rambut panjang yang tergerai di atas bantal itu.


"Apa kamu membutuhkan sesuatu atau mau memakai minyak angin seperti tadi?" Dave merapikan anak rambut yang menutupi wajah yang seperti mayat hidup itu.


Sabrina menggeleng perlahan sambil memejamkan kedua matanya, "Aku mau tidur saja. Kepalaku sangat pusing, tolong telfon mama. Biar Mama yang menjaga Arya saat kamu berangkat kerja. Sekalian bilang pada mama untuk mencarikan orang yang akan menjaga putra kita. Siapa tahu ada ibu-ibu mengangggur yang butuh pekerjaan."


Dave menganggukkan kepala dan melihat jam di dinding yang menunjukkan angka 06.45 WIB. Merasa masih ada waktu cukup banyak, ia meraih ponsel di atas nakas dan melaksanakan perintah dari sang istri yang sudah bersembunyi di bawah selimut tebal dengan mata terpejam.


Sementara itu, bocah laki-laki berusia 2 tahun itu hanya diam dan sama sekali tidak rewel saat melihat mamanya tengah tidur di atas ranjang. Seolah mengerti bahwa mamanya sedang tidak enak badan, karena ia hanya diam di gendongan papanya.


Setelah selesai menghubungi mertuanya, Dave kembali menaruh ponsel miliknya ke atas nakas dan beralih mencium putranya. "Putra Papa yang sangat pintar. Ayo, sekarang Arya mandi sama, Papa. Biarkan mama istirahat, ya." Berjalan ke arah kamar mandi setelah sekilas melirik Sabrina yang masih memejamkan matanya.


Sementara itu, Sabrina yang masih sadar, membuka kedua matanya begitu melihat punggung belakang sang suami yang menggendong putranya.


"Cinta sejati adalah cinta seorang suami menyayangi istri dan anaknya tanpa terbesit pun niatan untuk mengkhianati kepercayaan. Aku sangat mencintaimu, Dave Bastian. Semoga rumah tangga kita akan bertahan hingga ajal menjemput kita. Aamiin ya rabbal alamin."


Sabrina kembali memejamkan kedua matanya dan ia berniat untuk tidur sejenak karena merasa sangat lemah dan kecapekan. Tentu saja karena ulah dari sang suami yang semalam tidak membiarkannya tidur tenang.


Beberapa menit kemudian, Dave sudah terlihat sangat segar dan baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia melakukan hal yang sama pada putranya yang juga sudah terlihat sangat segar setelah mandi.


Dengan sangat telaten, ia memakaikan bedak, minyak telon. Kemudian memakaikan baju dan mendudukkan putranya di sofa tunggal yang ada di walk in closet. "Putra Papa tunggu di sini, ya. Papa mau pakai baju dulu. Jangan turun, nanti jatuh, oke!"

__ADS_1


Seolah mengerti dengan perkataan dari sang papa, bocah laki-laki itu hanya terkekeh sambil bertepuk tangan.


"Aryasatya Bastian adalah putra papa yang sangat pintar." Mengusap rambut putranya yang masih basah dan berjalan ke arah lemari kaca di belakangnya. Kemudian mengambil setelan 3 potong yang menjadi pakaian kebesarannya saat berada di kantor. Tentu saja ia sesekali melihat sosok putranya yang ternyata masih diam di tempatnya.


Senyuman mengembang terukir di wajahnya saat merasa bangga melihat putranya terlihat sangat pintar dan penurut. Ia yang baru saja selesai berpakaian, langsung menggendong Arya dan tak lupa menciumi pipi putih gembil yang membuatnya sangat gemas itu.


"Putra papa sangat pintar. Kelak Arya akan menjadi anak yang pintar dan pastinya sangat baik hati pada semua orang." Berjalan keluar dari ruangan walk in closet dan ia masih melihat sosok sang istri yang terlihat sangat pulas saat tertidur. Ia menaruh jari di bibirnya dan memberikan sebuah kode pada putranya agar tidak mengeluarkan suara yang mungkin akan membangunkan sang istri.


"Mama sedang tidur. Kita tunggu nenek datang di depan, ya."


Dave berjalan keluar kamar dan langsung menuju ke arah meja makan karena ingin mengambilkan sarapan untuk putranya. Namun, suara dari mertuanya yang baru tiba, membuatnya menoleh.


"Cucu nenek mau sarapan, ya!"


"Mama sudah datang?" Dave menatap ke arah mertuanya dan beralih ke arah sosok wanita yang terlihat masih sangat muda.


Mama Sabrina menganggukkan kepala dan menghampiri cucunya, "Iya, kamu sarapan saja. Biar Mama yang menyuapi Arya sambil mengajari Ani. Ini Ani, dia yang akan membantu merawat putramu."


"A-apa?" Dave sama sekali tidak menyangka jika mertuanya membawa anak di bawah umur untuk menjaga putranya.


"Astaga, gadis kecil ini yang akan menjaga putraku? Jika Sabrina tahu, dia pasti akan langsung mengusirnya. Ah ... terserahlah. Biar mama yang menanggung kemurkaan dari putrinya. Aku tidak mau ambil pusing. Lagipula bukan aku yang membawanya," gumam Dave di dalam hati.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2