
"Sayang, kenapa malah melamun? Apa jawabanmu? Kamu tidak mau menerimaku dan masih berpikir pernikahan kita hanyalah sebuah sandiwara?" tanya Aditya dengan mengamati ekspresi wajah Queen yang terlihat sangat gelisah.
Queen merasa sangat kebingungan mendapat pertanyaan dari pria yang masih menatapnya dengan tatapan sarat makna. Sebelum membuka suaranya, ia terlebih dulu menimbang-nimbang jawabannya.
Aku jawab apa ya? Kalau hatiku sebenarnya ingin sekali berteriak padanya iya, aku mau. Sangat mau malah, tapi aku gengsi dan malu. Akan tetapi, jika aku berbohong tidak mau, bagaimana jika nanti dia malah semakin menjauh dariku? Aaaarrhh ... aku bingung.
"A-aku ...."
Aditya langsung menyahuti perkataan dari Queen yang terlihat sangat ragu-ragu. "Kamu tidak perlu menjawabnya jika kamu merasa tidak siap untuk menjawab pertanyaanku. Aku akan sabar menunggumu. Bahkan seribu tahun pun aku rela."
Tentu saja rasa gugup yang tadinya dirasakan oleh Queen seketika musnah begitu mendengar kalimat bernada rayuan dari suami sholehnya itu.
"Dasar gombal, pintar sekali kamu merayu. Apakah dari dulu kamu adalah perayu ulung pada semua wanita?" ejek Queen dengan tatapan menyelidik.
"Bagaimana mungkin aku merayu, jika aku tidak pernah berdekatan dengan seorang wanita. Bahkan Sabrina sekali pun belum pernah mendengar kalimat sakral dariku. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa menanyakan ini padanya! Bukankah kamu mempunyai nomornya? Telfon saja dia!"
"Malas sekali aku menelfon wanita tidak penting itu. Beneran kamu tidak pernah merayu seorang wanita? Berarti aku yang pertama dong?"
Aditya menganggukkan kepalanya dan menampilkan senyumannya. "Kamulah yang pertama dan yang terakhir bagiku. Kamu adalah satu-satunya wanita yang ingin aku rayu dan ingin aku curahkan seluruh cintaku. Aku mencintaimu karena Allah, istriku. Terimalah aku menjadi seorang imam untukmu!"
Selesai mengungkapkan perasaannya, Aditya menggenggam erat tangan wanita yang duduk di sebelahnya dan menatapnya dengan penuh cinta kasih.
Kalimat indah Aditya bagaikan sebuah oase di gurun pasir yang tandus, seolah langsung menyejukkan hatinya.
My Hubbiy, aku mau. Tidak mungkin kamu berbohong saat menyebut nama Allah dari bibirmu. Aku percaya sepenuhnya padamu. Akan tetapi, aku malu. Rasanya sekarang aku ingin langsung menciummu. Aaaarrhh ... aku sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi.
Tanpa membuang waktu, Queen secepat kilat mengarahkan bibirnya untuk mencium ke arah pipi putih pria tampan yang sedang berada di sebelahnya.
"Itu jawabanku!"
Aditya merasa sangat terkejut sekaligus bersyukur saat wanita paling cantik itu mencium pipinya dan mulai merona wajahnya. Tak lupa senyumannya terpatri jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya istriku mau menerimaku. Terima kasih ya Allah, ridhoilah rumah tangga kami menjadi sakinah, mawadah warahmah. Aamiin ya rabbal alamin." Aditya mengusap kedua tangannya yang tadi menengadah ke atas saat memohon doa. Kemudian beralih menatap ke arah sang istri yang terlihat malu-malu padanya.
"Terima kasih Sayang. Aku akan berusaha menjadi sosok suami yang bertanggung jawab padamu. Meski aku bukanlah seorang pria sempurna di mata dunia, tapi aku ingin menjadi suami sempurna di matamu, Istriku. Jika nanti aku melakukan sebuah kesalahan, tegur aku dan ingatkan aku agar kembali memperbaiki kesalahan yang aku perbuat."
Ya ampun, meleleh hati ini saat mendengar kata demi kata yang keluar dari seorang pria Sholeh yang sangat dewasa dan bijak ini. Rasanya aku masih tidak percaya memiliki seorang suami sempurna, namun rendah hati yang tidak pernah menyombongkan diri. My Hubbiy, I love you.
"Aku tidak hanya akan mengingatkan, tapi aku akan mencubit habis perutmu jika sampai kamu melakukan kesalahan," ucap Queen yang berpura-pura ketus.
Akan tetapi, aku tahu kalau seorang Aditya Saputra tidak akan pernah berbuat kesalahan meski hanya sedikit.
"Apa yang aku katakan padamu tadi, itu pun juga berlaku padamu Nona muda Queen. Saat istriku melakukan kesalahan, maka kamu harus menerima dengan ikhlas jika aku mengingatkanmu. Karena aku ingin istriku menjadi seorang istri Sholihah dan mendapatkan ridho dari Allah SWT. Kamu mau kan menjadi istri di dunia dan menjadi bidadari surgaku di akhirat nanti?"
Tanpa memikirkan, Queen langsung menganggukkan kepalanya dan mengeluarkan suaranya. "Insya Allah."
"Subhanallah, alhamdulillah ya Allah. Terima kasih atas kebahagiaan yang Engkau limpahkan pada kami."
Setelah mengungkapkan wujud syukurnya, Aditya menggeser tubuhnya untuk semakin mendekat ke arah wanita yang sudah sepenuhnya menerimanya. Kemudian ia mulai memeluk erat sang istri dan tak lupa mencium kening wanita cantik itu.
Namun, itu tidak berlangsung lama karena suara dari sang supir membuatnya merasa murka.
"Kita sudah sampai di Bandara, Nona muda," ucap sang supir yang baru saja mematikan mesin mobil.
"Dasar bodoh, mengganggu saja!" hardik Queen dan sudah mengarahkan tatapan tajam ke arah pria paruh baya yang berada di balik kemudi.
Aditya refleks melepaskan pelukannya dan mengusap lembut punggung tangan wanita yang sudah dikuasai oleh emosi itu. "Astaghfirullah Sayang, baru beberapa detik yang lalu aku mengingatkanmu, tapi kamu sudah melanggarnya."
"Tidak boleh bicara kasar pada orang yang lebih tua, Sayang. Apalagi sampai menghardiknya, nanti kualat bagaimana?"
"Aah ... berisiklah! Aku sangat kesal, jadi jangan memancing amarahku!" Queen bersungut-sungut seraya membuka pintu mobil dan langsung keluar.
Sedangkan Aditya menatap ke arah sang supir dan mulai mewakili sang istri. "Maafkan istriku, Pak? Semoga Bapak tidak merasa tersinggung atas kalimat kasar dari istriku."
__ADS_1
"Tidak apa-apa Tuan muda Aditya. Saya sudah biasa dan sudah tidak kaget atas sikap Nona muda. Memang seperti itulah Nona muda Queen, tapi sebenarnya Nona sangat baik. Hanya saja, saat sedang marah memang Nona muda tidak bisa menyembunyikannya."
"Ya, memang seperti itulah istriku Pak. Beberapa hari aku bersamanya, aku bisa menilai istriku seperti apa. Doakan saya agar bisa merubahnya menjadi seorang wanita yang lebih baik dan menjadi sosok istri yang Sholihah."
"Tentu saja Tuan muda, saya selama ini selalu berdoa untuk keluarga Raharja karena telah banyak menolong keluarga saya di saat kesu ...."
Sang supir tidak melanjutkan perkataannya saat mendengar suara teriakan dari sang Nona muda.
"My Hubbiy, cepat keluar!" teriak Queen dari luar mobil.
Tentu saja Aditya langsung menatap sang supir dan menyahuti perkataan dari sang istri. "Iya Sayang." Beralih menatap ke arah sang supir. "Terima kasih Pak, atas doanya."
"Sama-sama Tuan muda."
Aditya menganggukkan kepalanya dan terlihat buru-buru keluar dari mobil menemui wanita yang bisa dilihatnya sedang mengerucutkan bibirnya karena marah.
Queen menatap tajam ke arah pria yang sudah tersenyum ke arahnya. "Kenapa lama sekali sih! Ngomongin aku pasti tadi sama supir."
"Aku hanya meminta maaf mewakili kesalahanmu, Istriku Sayang. Karena aku tidak mau sampai istriku berbuat dosa dan dibenci oleh orang lain. Bukankah tadi aku bilang ingin menjadikanmu pasanganku di dunia dan akhirat. Apa kamu sudah lupa kata-kataku tadi, Sayang? Jangan suka marah-marah, nanti cepat tua!" Aditya meraih dagu wanita yang masih mengerucutkan bibirnya.
"Iish ... apaan sih! Kalau aku tua, kamu yang harus bertanggung jawab," rengut Queen dengan wajah yang seketika merona begitu dagunya disentuh oleh Aditya.
"Insya Allah aku siap bertanggung jawab padamu, Istriku Sayang! Bahkan jika kamu hamil nanti, aku akan menjadi suami siaga dan seorang ayah yang baik bagi anakku. Bukankah kamu ingin segera hamil?"
Queen langsung menutup mulut pria yang membuatnya merasa sangat malu karena mengungkit tentang hal yang menurutnya tabu untuk dibicarakan di depan umum.
"Diamlah! Aku tidak ingin membahas hal itu di sini! Ayo, kita harus segera chek in karena pilot sudah menunggu dari tadi!" Queen langsung bergelayut manja pada lengan kekar Aditya. "Jangan salah paham padaku, karena ada banyak mata yang melihat kita berdua. Jadi, aku harus berpura-pura bucin padamu. Ingat, aku hanya berpura-pura!" tegas Queen.
"Iya, aku tahu kamu sedang berpura-pura, Sayang. Aku percaya apapun yang Nona muda arogan katakan." Aditya melangkahkan kakinya dan membiarkan sang istri bergelayut manja padanya.
Seorang nona muda arogan bilang berpura-pura bucin padaku. Padahal aku sangat tahu kalau kamu saat ini benar-benar bucin dan tidak sedang berpura-pura.
__ADS_1
TBC ...