
Aditya menatap ke sekeliling area toilet dengan sesekali mengusap dadanya karena ingin mencoba untuk bersabar mendengar perkataan dari wanita yang sudah terlebih dahulu keluar dan tidak menjawab pertanyaannya. Ia membuka keran air di wastafel dan membasuh wajahnya yang benar-benar terlihat sangat kusut.
Tidak berhenti sampai di situ saja, Aditya kini terlihat tengah mengamati wajahnya yang sudah agak sedikit lebih segar di depan cermin. "Kenapa istriku tidak menjawab pertanyaanku dan malah keluar begitu saja? Mungkinkah?"
Aditya menggelengkan kepalanya dan mulai berjalan keluar setelah sebelumnya membersihkan bekas air di wajahnya. Pikirannya yang dikuasai oleh rasa cemburu, membuatnya seolah tidak bisa berpikir jernih dan ingin menuntaskan pertanyaan yang mengganggunya.
Kaki panjangnya mulai melangkah keluar dari toilet dan berjalan mendekat ke arah ranjang. Di mana wanita yang tak lain adalah istrinya tengah berbaring memunggunginya. Ia mendaratkan tubuhnya di belakang istrinya, lalu mengusap lembut punggung wanitanya.
"Sayang, bagaimana dengan keadaanmu? Mau aku pijat?" Aditya mulai memijat lembut bagian belakang istrinya, berharap bisa melemaskan otot-otot kaku wanita yang baru saja muntah-muntah itu.
Queen masih belum membuka suaranya, bahkan kedua matanya masih terpejam. Akan tetapi, ia sangat menikmati pijatan lembut dari pria yang masih memijat pundaknya dan juga pinggangnya. Rasa nyaman dan rileks dari pijatan suaminya membuat senyuman terukir di wajahnya.
"My hubbiy sangat perhatian sekali. Aku sangat beruntung memilikinya. Dia pasti sedang kebingungan karena ingin menanyakan tentang perasaanku pada Daddy Azriel. Dasar bodoh, bisa-bisanya menanyakan pertanyaan itu padaku. Apakah My hubbiy masih meragukan cintaku dengan pengorbanan besar yang sudah aku lakukan untuknya saat ia berada di ruangan operasi? Menyebalkan," batin Queen.
"Bagaimana pijatanku Sayang?" Masih menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah seraya menatap ke arah sang istri yang memunggunginya.
"Nyaman," jawab Queen dengan datar. "Aku kerjain saja My hubbiy," gumam Queen.
"Syukurlah kalau nyaman. Sayang, kenapa tidak menjawab pertanyaanku tadi?"
"Pertanyaan yang mana?" Queen tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Yang tadi aku bertanya apakah kamu masih memiliki perasaan pada ...."
"My hot Daddy Azriel?" sahut Queen yang memotong pembicaraan dari suaminya.
"Kamu memanggilnya lagi seperti itu? Memanggil pria lain dengan panggilan sayang saat kamu sudah menikah, itu berdosa Sayang. Jadi, rubahlah panggilanmu itu! Cukup panggil Daddy saja, oke!" Mencoba merayu sang istri dan berusaha bernegosiasi.
"Akan aku pikirkan."
Queen menjawab pertanyaan dari suaminya dengan sangat santai dan datar. Padahal sejujurnya ia menahan sekuat tenaga untuk tidak sampai tertawa terbahak-bahak saat melihat kecemburuan dari nada bicara pria yang mulai menghentikan pijatannya dan mengarahkan tubuhnya yang tadi miring ke arah suaminya.
"Apa Sayang? Akan aku pikirkan? Jawaban macam apa itu? Bukankah tugas seorang istri adalah mematuhi perintah dari suaminya? Karena surga istri ada pada restu suami. Kamu memangnya mau masuk neraka karena tidak mau menuruti perintah dariku?" Akhirnya Aditya meluapkan amarahnya karena merasa sangat kesal mendengar jawaban dari wanita yang terlihat menatapnya dengan wajah datarnya.
Queen refleks bangkit dari posisinya yang berbaring dan bersandar di punggung ranjang seraya menatap datar ke arah pria yang sudah berubah merah padam. "Kamu marah atau cemburu My hubbiy?" Mengarahkan tangannya untuk mencubit pipi putih yang menurutnya terlihat sangat menggemaskan. "Subhanallah, My hubbiy terlihat sangat manis sekali hari ini."
"Astaghfirullah, sabarkanlah hambamu ini ya Allah." Aditya menahan tangan Queen yang dari tadi asyik mencubit gemas pipinya. "Sayang, suamimu sedang serius bertanya, jadi jangan mengalihkan pembicaraan. Jawab pertanyaanku tadi! Apakah kamu ...."
"Sudah tidak lagi." Karena merasa gemas, Queen memotong kalimat pertanyaan dari pria yang menampilkan wajah ditekuk itu.
"Aku belum selesai berbicara Sayang! Tunggu, kamu bilang sudah tidak lagi? Benarkah?" Aditya merangkum kedua sisi wajah cantik istrinya.
Queen refleks langsung menggelengkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun, My hubbiy benar-benar sangat menggemaskan saat sedang cemburu. Akan tetapi, aku sangat menyukainya, karena cemburu tandanya cinta."
__ADS_1
"Sekarang aku sudah tidak mampu lagi untuk menahannya lebih lama." Queen langsung membuka penutup kepalanya dan mulai menghambur ke arah pria yang masih duduk di pinggir ranjang. Sehingga perbuatannya itu berhasil membuat suaminya jatuh telentang di atas ranjang.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Queen langsung mengarahkan bibirnya untuk mencium bibir tipis pria yang sangat terkejut dengan perbuatannya. Dan ia pun melancarkan aksinya untuk membuat kemarahan dari pria pencemburu itu hilang.
Mendapat serangan tiba-tiba dari istrinya yang terlihat sangat agresif, tentu saja membuat kemarahan yang tadinya menguasai dirinya langsung seketika lenyap dan menghilang begitu saja. Seolah perbuatan dari istrinya itu adalah sebuah oase di Padang pasir yang langsung menuntaskan rasa dahaganya.
Karena tidak ingin membuat wanita yang kemungkinan besar telah hamil anaknya merasa capek, membuat Aditya membalikkan keadaan dengan membuat tubuh sang istri yang telentang di atas ranjang dan dirinya yang berada di atasnya.
"Kamu sedang hamil Sayang, jadi jangan bersikap terlalu agresif. Kamu diam dan nikmati saja perbuatanku!" Setelah mengungkapkan kalimat bernada ambigu, Aditya mulai sibuk melepaskan penutup tubuhnya dan beralih melucuti semua pakaian yang dipakai oleh istrinya.
Sedangkan Queen yang sudah tidak merasa malu pada suaminya hanya tersenyum dan mematuhi perintah dari pria yang sudah mulai sibuk menjamah setiap inci tubuhnya. Dan percintaan panas di dalam pesawat yang mengelilingi udara mulai terjadi untuk yang kedua kalinya antara pasangan suami istri yang sama-sama terbuai hasrat karena sudah lama menahan diri karena musibah yang terjadi di Pantai Kuta.
"Kamu bisa mengekspresikan dirimu sepuasnya Sayang," ucap Aditya yang berbisik di telinga wanita yang sudah merah padam wajahnya karena terbakar gairah.
Kemudian ia meraih ponselnya yang berada di saku celananya dan mulai memutar musik untuk menyamarkan suara lenguhan serta desahan dari bibir Queen yang mulai mendominasi ruangan pribadi di dalam pesawat pribadi Raharja Airline tersebut saat ia mulai melakukan aksinya untuk membuai wanita yang sudah bergerak seperti cacing kepanasan di bawahnya.
Sementara itu di luar ruangan pribadi, beberapa pengawal terlihat menikmati hidangan yang disajikan oleh pramugari. Sedangkan di sebelah kursi penumpang yang berada di depan sendiri, terlihat pria dengan tubuh kekar dan berparas manis yang tak lain adalah Dave itu tengah asyik dengan dunianya, yakni mengamati sebuah foto dari gadis cantik yang sedang menikmati makanannya saat berada di restoran.
"*Sebenarnya aku sangat menyukaimu Nona muda, tapi kamu malah menuduhku menyukai gadis yang mendonorkan darah untuk suamimu. Kenapa aku sangat bodoh mencintai wanita yang tidak mungkin aku miliki? Aku bagaikan pungguk yang merindukan bulan."
"Ternyata kebersamaan kita selama 3 tahun sama sekali tidak meninggalkan kesan apa pun di hatimu Nona muda. Semuanya hancur begitu saja saat kamu bertemu dengan pria itu. Bahkan sekarang kamu sedang berbulan madu di dalam sana. Rasanya hatiku sangat sakit sekali Nona muda*," batin Dave dengan mengepalkan tangan kanannya.
__ADS_1
TBC ...