
Queen yang merasa sangat bersalah pada pria yang sudah sibuk memilih berbagai macam jenis sayuran dan kebutuhan lain untuk keperluan memasak, membuatnya hanya diam dan asyik mengamati kegiatan suaminya di antara sayur-sayuran segar. Tatapan matanya hanya fokus pada siluet tubuh kekar suaminya yang menurutnya terlihat sangat seksi dari arah belakang, samping, bahkan jika dilihat dari depan.
'Ya Allah, Suamiku benar-benar sangat tampan dan mempesona. Dia seperti seorang pria yang sangat sempurna saat sedang sibuk memilih sayuran. Seorang lelaki yang bisa berbelanja memilih sayuran dan semua yang dibutuhkan dan juga nilai plusnya bisa memasak. Subhanallah, Suamiku benar-benar sangat sempurna. Aku jadi semakin mencintainya,' gumam Queen.
Masih terus mengikuti pergerakan pria yang terlihat sangat fokus memilih bahan-bahan untuk memasak. Queen membuka tas selempang miliknya dan meraih ponselnya. Kemudian ia mulai memotret suaminya dari berbagai sudut. Seulas senyum terbit dari wajahnya saat memeriksa foto-foto hasil jepretannya.
"Suamiku benar-benar sangat tampan," lirih Queen yang tidak berhenti tersenyum melihat ponselnya.
"Bukannya membantu belanja, tapi malah sibuk memotret suami. Apakah aku se-tampan itu, Sayang." Aditya menoleh ke arah sang istri yang masih asyik dengan ponselnya.
Queen yang fokus menunduk untuk menatap ke arah ponselnya, refleks langsung mengangkat kepalanya untuk beralih menatap ke suaminya yang sudah berkacak pinggang dan geleng-geleng kepala saat memandangnya.
"Eh ... kamu sadar aku memotretmu, My hubbiy? Sudah aku bilang kan tadi, kalau aku sama sekali tidak pernah berbelanja dan tidak tahu apa-apa tentang urusan dapur. Lebih baik aku jujur padamu agar kamu tidak merasa kecewa atau pun menuntutku macam-macam."
"Tidak perlu mengatakannya, aku sudah tahu kalau kamu tidak bisa memasak, Tuan putriku," ucap Aditya seraya menatap ekspresi wajah sang istri.
"A-apa? Sudah tahu, kok bisa? Tahu dari mana?" tanya Queen yang sudah membulatkan kedua matanya.
"Dari Papa," jawab Aditya dengan sangat santai dan mulai berjalan ke arah aneka seafood. Menatap satu-persatu ikan yang ada di dalam freezer dan memilih ikan kesukaan ayahnya. Kemudian memasukkannya di troli.
"Papa? Memang kalian pernah mengobrol?" Queen yang merasa sangat penasaran, mengikuti pergerakan dari suami yang sudah berjalan ke arah stock daging ayam.
"Papa menceritakan semua tentangmu saat datang ke rumah dulu, waktu menyuruhku untuk menandatangani perjanjian yang menyerahkan Perusahaan Raharja Group padaku. Akan tetapi, aku menolaknya. Jadi, Papa menyuruhku untuk mengancammu dengan surat perjanjian palsu setelah ia menceritakan perihal dirimu, Sayang."
Aditya mengambil daging ayam dan memasukkannya ke troli. "Karena kamu tidak suka seafood dan lebih menyukai ayam goreng seperti Upin Ipin, maka aku akan membuatkan ayam goreng spesial untukmu yang di siram dengan saus keju pedas yang merupakan menu andalan di keluargaku."
__ADS_1
Wajah Queen seketika terlihat berbinar begitu mendengar perkataan dari pria yang sudah selesai memilih bahan-bahan yang akan dimasak. "Kedengarannya sangat enak, aku sudah tidak sabar untuk mencicipi masakanmu My hubbiy. Ayo, kita segera pulang! Agar aku bisa menikmati olahan makanan dari chief Aditya."
"Akan tetapi, nanti kamu bantu aku di dapur ya Sayang?"
Queen refleks langsung menunjuk ke arah dirinya seraya membulatkan kedua matanya. "Aku? Membantumu memasak?"
"Iya, sebagai seorang wanita sejati, kamu harus belajar memasak, Sayang. Nanti suamimu yang tampan ini yang mengajari." Aditya mencoba merayu wanita yang terlihat sangat terkejut dengan perkataannya.
Refleks Queen langsung mengangkat kedua tangannya ke atas seraya menggelengkan kepalanya. "Aku menyerah My hubbiy. Lebih baik aku membayar asisten rumah tangga untuk memasak, daripada aku yang harus memasak."
"Astaghfirullah ... kamu wanita dan sudah menjadi seorang istri, Sayang. Apakah kamu sama sekali tidak berniat untuk memasakkan suamimu makanan?"
"Tidak," ucap Queen dengan wajah datarnya.
"Sama sekali tidak?"
"Menakutkan bagaimana?" tanya Aditya yang sudah mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat bernada ambigu dari wanita yang sudah mengeluarkan kartu kreditnya untuk membayar barang belanjaannya di kasir.
"Tentu saja menakutkan lah. Bukankah saat memasak itu sering terjadi *accident?"
"Accident*?"
"Saat menggoreng, seringkali terjadi minyak muncrat ke wajah, lengan, badan, kaki. Terkadang masak pun demikian, kadang terkena air panas yang mendidih. Kadang tangan terkena pisau waktu mengiris bawang. Bagiku, itu lebih menakutkan dari apa pun." Queen terlihat santai saat mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
Sedangkan Aditya hanya geleng-geleng kepala setelah mendengar penjelasan dari istrinya. Sedangkan di sisi lain, kasir wanita yang mulai menjalankan tugasnya untuk menghitung total barang belanjaan dari wanita yang dilihatnya sangat anggun memakai pakaian hijab, hanya bisa bergumam di dalam hati untuk mengumpatnya.
__ADS_1
"Ternyata penampilan wanita ini yang anggun benar-benar menipu. Bisa-bisanya seorang wanita yang terlihat seperti seorang wanita Sholihah malah sangat membenci yang namanya tugas utama seorang wanita. Malang betul nasib pria tampan ini, karena mendapatkan seorang istri yang sama sekali tidak mau memasak."
Queen yang mengerti dengan arti dari tatapan mata kasir wanita yang melihatnya dengan aneh, membuatnya langsung mengeluarkan suaranya. "Mbak sedang mengumpat saya kan?"
"A-apa maksud Anda Nona?" sahut pegawai wanita yang terlihat sangat kebingungan karena merasa seperti seorang pencuri yang ketahuan.
"Aku punya indera ke 6 yang bisa membaca pikiran orang. Jadi, aku bisa mengerti kalau kamu sedang mengumpatku. Sayang sekali, padahal tadi aku berniat untuk memberimu uang tip. Akan tetapi, setelah mengerti akan pikiranmu, aku tidak jadi melakukannya. Lebih baik aku berikan saja pada orang lain."
Setelah mengungkapkan kekesalannya, Queen meraih dompetnya dan mengambil uang 200 ribu dan memberikannya pada kasir sebelah. "Nih ... untuk kamu."
Sontak saja kasir wanita yang berusia masih sangat muda itu langsung berbinar begitu mendapatkan uang cuma-cuma dari pengunjung. Ia tidak berhenti membungkukkan badannya dan mengucapkan rasa syukurnya. "Terima kasih Nona, semoga rejeki Anda semakin bertambah dan keluarga selalu bahagia."
"Terima kasih atas doanya," ucap Queen dengan menyunggingkan senyumannya dan berlalu pergi dari kasir.
Sedangkan Aditya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang sangat kekanak-kanakan. "Maafkan istri saya, Mbak. Maklum, lagi hamil." Meraih dompet yang ada di saku celananya dan mengambil uang 200 ribu, lalu menyerahkannya pada wanita di depannya. "Ini buat Mbak, ambil saja."
"Tidak perlu Tuan, saya tidak bisa menerimanya."
"Bagus, karena itu adalah sebuah pilihan yang tepat. Karena jika sampai kamu menerimanya, kamu langsung dipecat dari supermarket ini," sarkas Queen yang baru saja kembali, karena merasa curiga pada suaminya yang tidak kunjung kembali. Tatapan menghunus di arahkannya pada pria yang sudah terlihat kebingungan saat ketahuan olehnya.
"Cepat pulang," hardik Queen pada Aditya.
"Iya Sayang, jangan suka marah-marah. Nanti cepat tua dan akan berdampak pada anak yang kamu kandung," jawab Aditya yang sudah berjalan mendekati istrinya dan menggenggam tangannya.
Sedangkan Dave yang dari tadi di belakang mengikuti pasangan suami istri itu, menyuruh para pengawal untuk membawa barang belanjaan majikannya.
__ADS_1
"Inilah yang membuatku jatuh cinta padamu Nona muda. Sifat arogan dan kasarmu itu yang bisa membuatku menyukaimu. Karena di jaman sekarang ini, banyak bertebaran wanita-wanita munafik yang bersembunyi di balik sikap polosnya. Sedangkan kamu sama sekali tidak pernah berpura-pura, karena semua yang kamu tampilkan itu nyata," batin Dave.
TBC ...