
Dave yang sudah duduk di kursi area Maximum Tune Game, melupakan kartu yang dibawa oleh Sabrina. Karena ia tadi hanya membeli 1 kartu dengan alasan tidak akan ikut bermain, tapi saat ia melihat ke arah para remaja yang sedang asyik balap mobil, membuatnya ingin mencobanya. Lalu, ia menoleh ke arah samping kanan di mana Sabrina tadi duduk di sofa.
"Sabrina, mana kartunya?"
Karena tidak melihat sosok wanita yang dicarinya, membuat Dave bangkit dari kursi dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari keberadaan dari Sabrina. "Kemana lagi wanita bar-bar itu? Benar-benar sangat merepotkan, awas saja kalau nanti ketemu!"
Puas mengumpat, Dave yang tidak berhasil menemukan Sabrina di area Time Zone, akhirnya keluar dari tempat tersebut dan mencari sosok wanita yang benar-benar membuatnya merasa sangat kesal. "Mana dia? Mengarahkan tatapannya ke setiap sudut Mall dan mencari wanita yang memakai atasan berwarna putih.
"Apa dia sedang mencari makanan atau minuman karena haus ya? Sepertinya begitu," lirih Dave yang sudah berjalan ke arah outlet makanan dan minuman.
Sementara itu, beberapa menit yang lalu Sabrina yang sudah berjalan keluar dari Time Zone, buru-buru melangkahkan kakinya untuk segera meninggalkan pria yang membuatnya bergidik ngeri. Ia sudah turun dari eskalator dan karena merasa sangat haus, ia pergi ke arah supermarket untuk membeli minuman dan beberapa snack. Kemudian ia langsung meminumnya untuk menghilangkan rasa dahaganya.
Saat ia melangkah keluar, tidak sengaja ia bertemu dengan rekan kerjanya yang terlihat baru pulang dari kantor.
"Sabrina, kamu tidak masuk kerja, tapi malah jalan-jalan ke Mall?" tanya pria yang berusia 28 tahun yang sudah lama menyukai wanita di depannya. Namun, sama sekali tidak dianggap oleh wanita yang sudah 1 tahun ini disukainya.
"Eh ... kamu Haris. Ternyata ini sudah jam pulang kantor rupanya. Aku ingin mencari hiburan dengan berkeliling di sini untuk menghilangkan rasa stres akibat pekerjaan," jawab Sabrina.
"Kamu pasti stres bukan karena efek pekerjaan, tapi karena melihat berita kepulangan Aditya yang baru saja kembali dari bulan madunya bukan?" sahut Haris dengan tatapan intens untuk melihat reaksi dari Sabrina. "Lebih baik kamu melupakan Aditya dan mencari gantinya. Masih banyak pria lain yang tidak kalah baik dari mantan kekasihmu itu, Sabrina."
"Iya," jawab Sabrina yang sudah menganggukkan kepalanya. "Astaga, Haris benar-benar sangat menyebalkan. Memangnya gampang apa melupakan perasaan yang sudah terpatri selama 1 tahun pada kekasih yang sangat dicintai. Lama-lama aku ilfil bicara dengannya," gumam Sabrina.
__ADS_1
"Oh ya, aku pulang dulu. Kamu lanjutkan saja, bukankah kamu akan belanja? Kalau begitu, aku pergi dulu." Sabrina berjalan meninggalkan Haris, tapi tangannya langsung ditahan oleh pria yang tidak disukainya tersebut.
"Tunggu Sabrina!"
Sabrina menatap tidak suka pada tangannya yang ditahan oleh Haris. "Ada apa? Tidak perlu sampai memegang tanganku segala!"
Refleks Haris melepaskan tangannya begitu mendapat ancaman dari wanita yang terlihat memasang wajah masam di depannya. "Ah ... maaf Sabrina. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Kita bicara sambil makan di restoran sekitar sini?"
"Katakan saja di sini, karena aku sedang buru-buru. Karena aku harus segera pulang," ujar Sabrina yang sudah mencium bau-bau mencurigakan dari rekan sekantornya. "Haris tidak berencana untuk nembak aku kan? Jika benar, aku harus segera menolaknya dan menjauhinya," gumam Sabrina.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengatakannya sekarang. Sabrina, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu. Dan aku pun tidak berniat main-main, maukah kamu menikah denganku? Aku tahu ini terlalu cepat karena kita bahkan belum berpacaran, tapi aku ingin seperti Aditya yang langsung menikah dengan nona muda Queen. Aku ingin menunjukkan keseriusanku padamu. Bukan hanya bermain-main dan menggantung perasaanmu seperti mantan kekasihmu itu," ucap Haris yang berusaha untuk menyadarkan Sabrina bahwasanya ia sangat serius dan tidak main-main dengan perasaannya.
Sabrina yang merasa sangat geram bercampur kesal karena mendengar sebuah hinaan yang ditujukan pada pria yang masih sangat dicintainya, tentu saja membuatnya semakin tidak menyukai Haris. "Sialan, lama-lama aku malas menanggapi Haris. Apalagi dia menghina Mas Aditya yang seputih kapas itu. Tidak ada yang mengetahui alasan Mas Aditya terpaksa menikahi nona muda arogan itu," batin Sabrina.
"Apakah kamu masih mengharapkan Aditya kembali padamu, Sabrina? Kamu jangan pernah bermimpi, karena tadi dia terlihat sangat bahagia saat berjalan bersama dengan istrinya yang bukan orang sembarangan itu. Bahkan Aditya bisa mengubah penampilan dari seorang nona muda menjadi wanita muslimah dengan menggunakan hijab. Apa kamu mau selamanya tersiksa dengan patah hatimu itu? Lebih baik kamu segara move on dengan cara menerimaku menjadi suamimu," sahut Haris.
"Sudah aku bilang aku tidak bisa Haris, aku tidak mencintaimu. Lagipula, aku sudah mempunyai kekasih sekarang," jawab Sabrina. "Aku harus berbohong padanya, agar dia berhenti menggangguku. Aku benar-benar apes hari ini, karena bertemu dengan 2 pria menyebalkan," gumam Sabrina.
"Aku tahu kamu sedang berbohong, Sabrina. Tidak mungkin kamu menemukan pengganti Aditya secepat itu "
"Aku tidak berbohong, nanti aku kenalkan kekasihku kepadamu," ucap Sabrina yang semakin merasa kesal pada Haris yang sudah memojokkannya.
__ADS_1
"Kalau begitu kenalkan aku dengan kekasihmu, atau kamu hubungi dia sekarang. Baru aku percaya akan kata-katamu itu," sahut Haris dengan sangat percaya diri.
Sabrina menelan salivanya begitu mendengar kalimat bernada ejekan dari Haris yang seolah tidak mau melepaskannya. Ia menatap ke sembarang arah karena merasa sangat geram dan mencoba mencari jalan keluar dari permasalahannya. Hingga manik bening miliknya ber-sitatap dengan pria yang baru saja turun dari eskalator. Refleks ia terlihat berbinar dan mengarahkan jari telunjuknya pada pria yang tak lain adalah Dave.
"Alhamdulillah, akhirnya aku menemukan jalan keluar dari permasalahanku. Aku harus berpura-pura di depan Haris, kalau Dave adalah kekasih baruku. Aku harus berbicara pada Dave sekarang juga," gumam Sabrina.
"Nah, itu kekasihku baru kembali dari bermain game." Sabrina buru-buru melangkahkan kakinya untuk mendekati Dave dan bersikap manis dengan menampilkan senyumannya. Ia langsung bergelayut manja di lengan kekar pria yang menurutnya menjadi satu-satunya pria yang bisa menyelamatkannya.
"Sayang, kenapa lama sekali? Aku dari tadi menunggumu," ucap Sabrina yang mendekatkan wajahnya untuk berpura-pura menoleh ke arah belakang dan berbisik di telinga Dave. "Selamatkan aku dari pria berengsek itu dengan berpura-pura menjadi kekasihku. Nanti aku akan membalas kebaikanmu."
Dave yang awalnya merasa terkejut dengan sikap dari Sabrina yang tiba-tiba berubah baik dan menempel padanya, membuatnya menjadi mengerti. Kemudian ia menatap ke arah pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Oh ... jadi pria ini sedang mengincar wanita bar-bar ini. Dia cukup lumayan, tapi kenapa dia bisa menyukai Sabrina yang sama sekali tidak menarik ini. Dasar bodoh, seperti tidak ada wanita lain saja," gumam Dave.
Kemudian ia mendekatkan wajahnya di dekat telinga Sabrina, perbuatannya malah terlihat seperti seorang kekasih yang sedang mencium pipi putih wanita di sebelahnya. "Berarti hidup matimu sekarang ada di tanganku, Sabrina."
Sabrina hanya berusaha menampilkan senyuman termanisnya meski sebenarnya saat ini ia pun sangat geram dengan perkataan dari Dave. Namun, karena tidak mempunyai pilihan lain, ia hanya bisa mengiyakan perkataan dari Dave. "Iya, jadi tolonglah aku. Anggap saja ini adalah sebuah permohonan maafmu saat kamu berbuat kurang ajar padaku tadi."
"Oh ... maksudmu soal ciuman kita tadi?" ucap Dave dengan suaranya yang sangat keras.
Dan hal itu membuat Haris tersenyum kecut mendengar kalimat bernada vulgar tersebut. "Kalian berdua tidak tahu malu, karena di depan umum membicarakan tentang berciuman." Berlalu pergi meninggalkan pasangan kekasih yang membuatnya merasa sangat kesal.
__ADS_1
TBC ...