
Arthur yang mendengar perkataan dari adik kesayangannya yang mengungkapkan tentang Dave menyukai gadis yang diketahuinya menyukainya, membuatnya tertawa terbahak-bahak. Lalu, ia mulai menepuk bahu kokoh dari pria yang merupakan pengawal pribadi adiknya.
"Sepertinya sangat susah Dave!"
Dave mencoba menelaah perkataan ambigu dari sang tuan muda yang terlihat tidak berhenti tertawa dan tersenyum menyeringai ke arahnya. "Sepertinya Tuan muda ingin mengatakan bahwa gadis itu sangat lah memuja Anda. Jadi, tidak mungkin seorang pegawai rendahan seperti saya bisa mendapatkan wanita yang sangat tergila-gila dengan Tuan muda sempurna seperti Anda."
"Aku tidak bermaksud merendahkanmu Dave. Jangan tersinggung dengan perkataanku," ucap Arthur yang langsung menutup mulutnya karena dari tadi tidak berhenti tertawa.
"Saya tahu Tuan muda, tidak perlu merasa tidak enak pada saya karena saya mengerti."
"Astaga, aku benar-benar merasa sangat tidak enak padamu." Mengacak frustasi rambutnya. "Begini saja, sebagai permintaan maafku, aku akan membantumu untuk bisa mendapatkan Dewi. Sepertinya aku tahu caranya untuk membuatnya menerimamu."
"Tidak perlu Tuan muda, karena itu akan merendahkan harga diri saya. Jika benar Dewi sampai menuruti perintah Anda, justru dia akan membenci saya." Dave mencoba untuk menghentikan sang tuan mudanya mencampuri urusan pribadinya.
"Jadi benar? Ternyata adikku benar-benar bisa membaca pikiran orang seperti Papa, dia memang sangat keren. Baiklah, terserah padamu. Kamu usaha sendiri saja, padahal aku tadi niatnya untuk mengajaknya pindah ke Jakarta untuk mengurus panti asuhan milik Nenek."
Arthur berjalan meninggalkan Dave tanpa memperdulikan reaksi dari pria itu, senyum smirk tampak jelas di wajahnya. "Kamu pasti akan berubah pikiran Dave," batin Arthur.
Dave hanya menatap kepergian dari sang tuan muda dengan pikiran yang membuncah. "Sepertinya tawaran dari tuan muda sangat menarik, tapi aku sudah terlanjur menolaknya tadi. Sial," batin Dave dengan wajah ditekuk.
Sementara itu, Queen baru saja keluar dari toilet untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Lalu, ia keluar dari sana dan mulai mengambil air wudhu. Dan di saat yang bersamaan, saat ia selesai berwudhu dan mulai berjalan masuk ke arah masjid tempat para wanita menunaikan ibadah, bisa dilihatnya saudaranya baru saja tiba.
"Kenapa lama sekali Brother?"
"Aku bicara sebentar dengan Dave. Aku akan membantunya, agar gadis malang itu tidak menjadi Queen ke 2. Gadis bodoh yang mencintai suami orang yang hanya berakhir menyedihkan," ejek Arthur yang sudah meninggalkan adiknya seraya tersenyum mengejek penuh kemenangan.
"Sialan," rengut Queen yang sudah mengerucutkan bibirnya karena merasa sangat kesal di ejek habis-habisan oleh saudaranya. "Sabar Queen, jangan membiarkan syetan menguasai dirimu. Bahkan saat ini kamu sedang ada di rumah Allah."
Queen mengusap dadanya dan mulai berjalan ke arah shaf para wanita yang sudah sebagian terlihat sholat dengan khusyuk. Lalu, ia mulai berjalan ke arah penyimpanan mukena dan langsung memakainya untuk segera menunaikan kewajibannya sholat Isya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, 3 orang itu dengan penuh ketulusan memanjatkan doa untuk kesembuhan Aditya. Queen terlihat menengadahkan tangannya ke atas untuk dan mulai mengucapkan doa penuh ketulusan sebisanya. Tentu saja diiringi dengan bulir bening yang menetes membasahi wajahnya yang putih.
"Ya Allah, ampuni segala dosa-dosa hamba dan orang tua, serta saudara hamba. Termasuk suami hamba yang sangat suci itu. Sembuhkanlah suami hamba yang sedang terbaring lemah tidak berdaya di ruang perawatan dalam keadaan kritis. Mungkin hamba adalah orang yang paling egois dan tidak tahu diri karena datang pada-Mu saat sedang mendapatkan musibah."
"Karena selama ini hamba selalu lalai dan sering meninggalkanmu ya Allah. Apapun akan hamba lakukan asal Engkau menyembuhkan suami hamba. Dan hamba bernadzar pada-Mu ya Allah. Jika suami hamba sembuh, hamba akan merubah penampilan untuk berhijab dan menjadi seorang istri yang Sholihah untuk suami hamba."
"Karena suami hamba sangat berharap bahwa istrinya suatu saat akan menjadi seorang wanita Sholihah yang selalu mematuhi perintah dari suami. Dan saat suami hamba tersadar nanti, dia pasti merasa bahagia jika melihat penampilan istrinya yang sudah berubah menjadi istri yang Sholihah. Kabulkan niat baik hamba ini ya Allah. Aamiin ya rabbal alamin.
Selesai memohon doa, Queen mengusap lembut telapak tangan itu ke wajahnya dan kembali melanjutkan kegiatannya untuk berdzikir sebisanya.
Tentu saja dirinya sadar diri bahwa ia bukanlah seorang wanita ahli agama seperti suaminya yang sangat mengerti tentang agama. Namun, dirinya bukanlah orang yang buta ajaran agama sama sekali. Karena sering mengikuti pengajian yang selalu di adakan setiap 1 bulan sekali di Mansion.
Dan semua tausyiah dari ustad maupun ustadzah selalu terekam di otaknya yang jenius. Sehingga dengan mudah ia sedikit demi sedikit memahami tentang ajaran agama yang dianutnya. Saat dirinya khusyuk berdzikir, ia bisa mendengar suara getar ponselnya yang berada di saku gaun panjang yang dipakainya.
Namun, ia sama sekali tidak memperdulikannya dan melanjutkan kegiatannya. Hingga beberapa saat kemudian, ada seorang wanita yang menepuk bahunya dari belakang. Dan ia menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang mengganggunya.
"Iya, siapa Bu?"
"Katanya Papa dan Abang Nona menunggu di luar. Tadi saya selesai berwudhu dan hendak masuk, terus di mintai tolong untuk mencari wanita paling cantik di sini. Dan Anda lah yang paling cantik di sini."
"Terima kasih Bu. Ibu bisa saja memuji saya, kalau begitu saya permisi dulu untuk menemui Papa dan Abang saya. Sekali lagi terima kasih." Queen bangkit berdiri dari tempatnya dan buru-buru melepaskan mukenanya.
Sedangkan wanita paruh baya tersebut menjawab perkataan dari Queen. "Sama-sama Nona."
Queen menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari ruangan para wanita setelah mengembalikan mukena di tempatnya. Begitu keluar, bisa dilihatnya 2 pria paling disayanginya itu sedang menunggunya.
"Kenapa buru-buru sih Dad? Aku bahkan belum selesai tadi!"
"Ya sudah lanjutkan saja, karena berkat doamu, tadi dokter menghubungi Daddy kalau Aditya telah melewati masa kritisnya." Abymana mengusap lembut rambut panjang putrinya yang langsung terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1
Mendengar kabar membahagiakan dari Papanya, membuat Queen langsung memeluk erat tubuh kekar Daddy-nya dan menangis tersedu-sedu di sana.
"Benarkah apa yang Daddy katakan? Suamiku selamat? Apakah dia sudah sadar?"
"Masih belum sadar, mungkin beberapa jam lagi sadar. Lebih baik kita menemuinya sekarang!" ucap Arthur yang sudah berjalan ke depan.
"Tunggu Brother!" Queen terlihat menggaruk tengkuknya.
"Apa lagi?" tanya Arthur dengan sangat kesal pada adiknya yang terlihat tenang saja dan tidak terburu-buru menemui suaminya.
"Antarkan aku beli baju!"
"Apa? Kamu gila? Kamu lebih mementingkan shopping daripada untuk segera melihat kondisi suamimu?" hardik Arthur dengan menatap tajam ke arah adiknya.
Abymana pun mengerutkan keningnya. "Bukankah bajumu ini sudah bersih dan tidak kotor lagi Sayang?"
"Bukan itu Pa?" Queen ragu-ragu untuk menjelaskan tentang nadzarnya yang baru saja ia ucapkan.
"Lalu?" ucap ayah dan anak laki-lakinya dengan berbarengan.
"Queen tadi bernadzar akan berhijab jika suamiku melewati masa kritisnya. Jadi, aku ingin berpenampilan seperti seorang wanita muslimah. Dan membuat suamiku melihatnya saat dia tersadar nanti."
"Subhanallah," ucap Abymana seraya memeluk erat putrinya.
"Alhamdulillah, ternyata nona arogan sudah insyaf dari jalannya yang sesat." Arthur menepuk pundak adik perempuannya.
"Apaan sih," rengut Queen dengan sangat kesal dan meninju perut sixpack saudaranya.
TBC ...
__ADS_1