
Dave menaruh tas kerjanya di atas lantai dan mulai sedikit merenggangkan pelukan Sabrina untuk memberikan sebuah jarak agar ia bisa menatap wajah penuh air mata yang dari tadi ada di dada bidangnya. Dengan mengarahkan tangan pada dagu lancip sang istri, Dave menatap intens wajah cantik sembab itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Sayang. Kenapa tiba-tiba kamu menangis saat aku pulang kerja? Apakah ada masalah?"
Sabrina yang masih terisak, hanya menggelengkan kepala. Tentu saja dengan suara yang bergetar, ia mengungkapkan semua yang dirasakannya. Termasuk rasa bersalah yang mengganggunya karena selama ini bersikap sangat kurang ajar pada pria yang sangat luar biasa itu.
"Aku baru menyadari kalau selama ini menjadi istri yang tidak baik karena selalu bersikap kurang ajar padamu, Sayang. Aku pun adalah wanita egois yang selalu menyalahkanmu, padahal kamu adalah seorang suami luar biasa."
Sudut bibir Dave melengkung ke atas begitu mendengar kalimat menyejukkan hati dari wanita yang selalu dipanggilnya bar-bar itu. "Sepertinya istriku hari ini baru mendapatkan wangsit sehingga bisa berubah semanis ini. Kira-kira apa yang membuatmu bisa berubah seperti ini?"
Merasa lebih tenang, Sabrina mengarahkan tangannya pada pinggang kokoh pria yang berhasil membuatnya merasa kesal. "Wangsit, memangnya paranormal apa. Menyebalkan."
Sementara itu, Dave hanya terkekeh geli menanggapi rengutan dari sang istri tercinta. "Lalu apa, Sayang? Tidak mungkin tidak ada sebabnya kamu bersikap semanis ini padaku. Pasti ada sesuatu yang terjadi hari ini. Cepat katakan padaku."
Kali ini, Sabrinalah yang terkekeh dan tanpa berniat memberitahukan kepada pria yang terlihat sangat penasaran itu, ia sudah menggandeng tangan Dave menuju ke arah taman belakang rumah.
"Ikut aku, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."
Dave hanya terkekeh dan hanya mengikuti pergerakan dari sang istri yang sudah memimpin di depan sambil bertanya-tanya mengenai sikap Sabrina yang sangat aneh.
"Sebenarnya apa yang akan dilakukan istriku? Rasanya sangat aneh melihat dia tiba-tiba berubah semanis ini. Rasanya aku lebih suka melihat sikapnya yang bar-bar karena selalu membuat jiwaku yang buas ini ingin sekali menaklukkannya," gumam Dave yang sudah mengedarkan pandangannya ke sekeliling area taman belakang.
Bisa dilihatnya, taman sudah dihiasi lampu remang-remang dan ada sebuah meja di tengah dengan makanan yang sudah ditutup dengan tudung saji ala-ala restoran dan sebuah wine di tengahnya.
"Sayang, kamu yang menyiapkan semuanya ini sendiri?"
__ADS_1
Sabrina hanya mengangguk dengan wajah yang merona karena malu telah berbuat hal yang tidak pernah dilakukannya. Karena seharusnya seorang pria yang menyiapkan hal-hal bersifat romantis. Namun, dirinya yang saat ini tengah menyiapkan sebuah kejutan romantis untuk sang suami.
Merasa sangat bahagia, Dave sudah merengkuh tubuh ramping di sebelahnya dengan cara tangan kanan menahan tulang rusuk Sabrina. Sedangkan tangan kiri menahan kepala wanita yang sangat dicintainya, lalu meraup bibir sensual yang selalu menjadi candunya tersebut.
Sabrina yang merasa sangat terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Dave, terlihat membulatkan kedua matanya. Namun, begitu bibirnya telah basah karena perbuatan sang suami, ia semakin menikmatinya dan akhirnya memejamkan kedua matanya.
Hingga keduanya saling menyesap dan menikmati ciuman lembut yang lama-kelamaan berubah liar tersebut. Namun, Sabrina menghentikan aksi liar dari tangan kekar yang sudah menelusuri lekuk tubuhnya. Dengan cukup kuat, Sabrina mendorong dada bidang Dave agar mau melepaskan pagutannya.
"Sayang, hentikan! Ini bukan di kamar. Astaga!" Mencubit pinggang kokoh Dave dan berusaha menurunkan tangan dengan buku-buku kuat yang berada di dadanya.
Dave hanya tertawa kecil saat melihat wajah masam sang istri. "Iya ... iya, kita lanjutkan saja nanti di kamar. Ayo, kita makan. Kebetulan aku sangat lapar karena memang ingin makan di rumah bersama istriku tercinta yang sangat cantik dan romantis." Mendorong kursi ke belakang dan menyuruh Sabrina duduk.
Tentu saja Sabrina yang menyunggingkan senyumnya langsung mendaratkan tubuhnya di sana. "Terima kasih, Sayang."
Dave yang sudah duduk di depan Sabrina, hanya tersenyum simpul dan membuka botol wine tersebut. "Sayang, kamu sedang hamil, tidak boleh minum wine ini."
"Kamu minum jus buah saja, ini biar aku yang minum," jawab Dave dengan menuang anggur merah ke dalam gelas.
Sementara itu, Sabrina hanya menelan salivanya saat melihat air berwarna merah yang berhasil membuatnya meneteskan air liur karena sangat menginginkannya. "Ya ampun, jadi aku hanya jadi penonton saja ini? Melihatmu menikmati wine mahal dan menahan keinginan. Menyedihkan sekali nasibku. Tahu begitu, aku tidak memesan minuman ini tadi."
"Begini saja, kamu boleh mencicipinya, tetapi hanya satu tetes saja. Anggap saja buat obat pengen. Bagaimana?" tanya Dave yang merasa sangat kasihan pada sang istri.
"Satu tetes? Astaga, Sayang. Lebih baik aku tidak menikmatinya daripada hanya satu tetes saja dan membuat lidahku gatal. Aku minum jus Strawberry saja." Sabrina bangkit dari kursi, berniat untuk membuat jus. Namun, tangannya ditarik oleh pria yang sudah berdiri di belakangnya.
"Biar aku saja, Sayang. Kamu tunggu di sini saja, Ratuku. Kali ini, gantian aku yang akan membuat malam ini semakin romantis. Kamu duduk saja, aku segera kembali." Dave mencium pipi putih Sabrina sebelum pergi..
__ADS_1
Sementara itu, Sabrina langsung merona saat mendapatkan kecupan lembut dari pria dengan tubuh tinggi tegap yang sudah menghilang di balik pintu.
"Aaah ... suamiku so sweet sekali. Aku jadi semakin mencintainya, kan." Masih menunggu dengan sabar kedatangan sang suami yang membuatkan jus untuknya.
Beberapa menit kemudian, tampak pria yang sudah membawa gelas berisi jus strawberry di tangannya dan menaruhnya di atas meja sebelah gelas berisi wine.
"Bagaimana, Sayang, warnanya hampir sama, kan?" tanya Dave yang sudah mendaratkan tubuhnya di depan Sabrina.
Sabrina hanya tersenyum kecut saat melihat 2 gelas yang jelas-jelas jauh berbeda. "Iya ... iya, sama. Aku akan menganggap jus strawberry ini adalah anggur merah." Meraih gelas tersebut dan mengarahkannya pada Dave, "*Cheers."
"Cheers*." Dave mengarahkan tangannya yang sudah meraih gelas di atas meja dan mulai menyunggingkan senyumnya sebelum merasakan sensasi dari wine yang membasahi tenggorokannya. "Sayang, nanti aku bawa wine ini ke dalam kamar."
Sabrina mengerutkan kening saat merasa aneh, "Mau kamu bawa ke kamar dan saat Arya melihatnya, dia akan minta. Bagaimana jika itu itu terjadi?"
Dave hanya menggelengkan kepalan tanda tidak menyetujui perkataan Sabrina. "Aku akan menyimpannya di dalam laci paling atas, Sayang. Putra kita tidak akan pernah melihatnya. Tenang saja."
"Terserah kamu saja, lagipula aku tidak akan meminumnya. Buat apa memusingkannya," jawab Sabrina dengan kesal.
"Kamu tidak akan menikmatinya, Sayang. Akan tetapi, aku akan membuatmu merasakan sensasi kenikmatan yang lebih dari rasa wine ini. Ayo, kita makan. Karena aku ingin segera menikmatimu dengan cara lain." Dave tersenyum menyeringai saat melihat ekspresi wajah penasaran dari sang istri.
Mengerti dengan arah pembicaraan bernada vulgar dari Dave, hanya membuat Sabrina mengerucutkan bibirnya. "Memangnya aku makanan, apa! Jangan macam-macam, karena aku sedang hamil trimester pertama dan tidak boleh kecapekan."
"Aku tidak akan membuatmu kecapekan, Sayang. Karena nanti, kamu harus diam agar aku bisa melancarkan aksiku saat menikmati wine ini di atas tubuhmu. Sepertinya, ini akan jauh lebih nikmat saat menikmatinya di atas tubuhmu." Dave mempraktekkan menuang wine di atas piring kosong di atas meja. "Anggap saja ini tubuhmu, Sayang."
Sementara itu, Sabrina hanya menepuk jidatnya berkali-kali saat melihat Dave sudah sibuk di depannya. Bahkan kini, imajinasinya pun sudah melanglang buana begitu membayangkan pria di depannya berbuat serupa dengan tubuhnya.
__ADS_1
"Astaga, belum apa-apa, sudah membuatku merinding," gumam Sabrina yang sudah meremang bulu kuduknya.
TBC ...