Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Benar-benar sangat menyebalkan


__ADS_3

Aditya baru saja tiba di perusahaan dan langsung menuju ke arah resepsionis di loby. Tentu saja semua orang yang melihatnya sudah membungkuk hormat dan menyapa. "Tolong nanti jika Dewi sudah kembali ke perusahaan, suruh dia menemuiku di ruangan."


"Baik, Tuan Aditya," jawab staf wanita dengan name tag Laura, tak lupa dari tadi kepalanya menunduk karena tidak berani menatap ke arah atasannya tersebut.


Tentu saja hal itu disebabkan adanya peraturan yang dibuat oleh ratu di keluarga Raharja bahwa jika pria-pria pemimpin perusahaan Raharja berbicara, tidak ada yang boleh menatapnya, khususnya adalah para pegawai wanita. Bahkan peraturan tersebut ada di papan pengumuman penting yang ada di loby dan ditandatangani langsung oleh Queen dan Salsabila. Karena suami mereka dianggap incaran empuk oleh para pelakor.


"Baiklah, langsung saja nanti hubungi saya." Aditya melangkah pergi setelah mendapat jawaban dari pegawai wanita di depannya yang menganggukkan kepala. Ia kini sudah berada di dalam lift khusus presdir yang akan membawanya ke lantai atas, di mana ruangan kerjanya berada.


Sorot mata tajam diarahkannya saat mendongak menatap ke arah CCTV yang terpasang di atasnya, tetapi sama sekali bukan seperti umumnya. Karena kameranya berukuran sangat kecil dan tidak akan disadari oleh para staf perusahaan.


"Ternyata keluarga Raharja memang tidak bisa disepelekan. Semua peralatan canggih ada di perusahaan ini dan mereka sangat berhati-hati, serta waspada dari semua rencana jahat orang-orang. Kali ini aku selamat, jika aku tidak berhati-hati, mungkin bisa saja rumah tanggaku hancur dalam sehari. Semua ini karena Allah masih melindungi keluargaku."


Bunyi denting lift menandakan pintu kotak besi itu terbuka. Aditya melangkah masuk ke ruang kerjanya dan mendaratkan tubuhnya di kursi kebesarannya, membuka laptop dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Kira-kira baru setengah jam ia fokus pada pekerjaan, suara dering telepon di meja, membuatnya langsung mengerti bahwa wanita yang akan menjebaknya sudah datang.


"Halo, apakah dia sudah menuju ke sini?"


"Iya, Tuan Aditya. Sebentar lagi mungkin tiba di ruangan Anda."


"Hubungi juga Dewi agar ke ruanganku sekarang?"


"Baik, Tuan."


Aditya bangkit dari kursi kebesarannya dan melepaskan jas kerjanya untuk digantung ke tempat biasa. Ia berjalan menuju ke arah jendela kaca yang ada di sebelah kanan ruangannya dan indera penglihatannya mengamati hiruk pikuk kota Jakarta di siang hari dengan posisi tangan kanan dimasukkan ke dalam saku celananya.


Sementara itu, di sisi lain, Ririn yang baru saja tiba di loby perusahaan langsung disapa oleh resepsionis dan memberitahunya tentang atasannya yang menyuruh ke ruangan kerja. Dengan pikiran bertanya-tanya, ia yang sudah masuk ke dalam lift, sudah dipenuhi tanda tanya besar.


"Kenapa Tuan Aditya menyuruhku ke ruangannya? Tumben? Biasa ruangannya itu tidak terjamah kaum hawa, karena peraturan gila dari nona muda arogan itu."

__ADS_1


Ririn sudah berjalan keluar dari lift dan berjalan dengan penuh keraguan ke arah ruangan yang berada di ujung kiri dengan tulisan di pintu ruangan wakil presiden direktur. Manik bening miliknya mengamati suasana penuh keheningan di sekitarnya.


"Astaga, lantai atas ini sudah seperti kuburan saja. Bahkan belum apa-apa sudah meremang kulitku." Ririn mengusap lengannya yang merinding karena hawa kesunyian di sekitarnya. Hingga ia pun berjenggit kaget saat ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.


"Astaga." Jantung Ririn berdetak sangat kencang dan langsung menoleh ke arah belakang untuk memeriksa siapa yang telah menepuknya. "Dewi? Kamu benar-benar mengejutkanku. Hampir saja aku terkena serangan jantung."


Dewi yang dari tadi merasakan keanehan karena mendapat panggilan untuk pergi ke ruangan wakil presiden direktur, semakin bertambah ragu begitu melihat sahabatnya juga berada di lantai paling atas yang menjadi ruangan kerja 2 petinggi perusahaan Raharja.


"Ririn, kamu juga berada di sini? Bagaimana rencanamu tadi? Kenapa Tuan muda Aditya memangil kita ke sini? Apakah ada yang tidak beres?" lirih Dewi yang dari tadi berbisik di telinga sahabatnya.


Ririn mengendikkan bahu dan merasa frustasi atas rencananya hari ini. "Iya, aku telah gagal total tadi. Akan tetapi, aku tidak tahu kenapa kita tiba-tiba dipanggil ke sini. Sepertinya ada yang aneh karena selama ini tidak ada pegawai wanita yang menjamah lantai ini. Kenapa kita malah dipanggil? Mungkinkah ...."


Dewi langsung memotong kata-kata dari sahabatnya karena mengerti arah pembicaraan Ririn. "Itu tidak mungkin. Daripada asyik bertanya-tanya, lebih baik kita segera masuk ke dalam."


Tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya, Dewi sudah memberanikan diri untuk berjalan ke arah ruangan dari wakil presiden direktur dan mengarahkan tangannya untuk mengetuk pintu. Hingga suara dari dalam, bisa didengarnya.


"Masuk."


Dewi menoleh ke arah Ririn yang ada di sebelahnya dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam dengan memberikan sebuah kode melalui matanya.


Kemudian keduanya melangkah masuk setelah membuka pintu di depannya. Hingga mereka mendengar suara bariton penuh ketegasan yang membuat keduanya sama-sama membulatkan kedua matanya.


Tanpa menoleh pada 2 wanita yang baru saja tiba di ruangannya, Aditya menyalakan ponsel miliknya dengan meloudspeaker suaranya. Itu adalah rekaman dari CCTV yang tadi disimpannya di dalam ponsel miliknya setelah menyuruh staf di ruang kontrol mengirimkan rekaman tersebut.


Dewi dan Ririn yang saat ini sama-sama membungkam mulutnya karena merasa sangat terkejut tertangkap basah oleh pria yang berdiri membelakanginya. Kemudian mereka saling ber-sitatap dan saling bersinggungan pundak dengan mata yang saat ini seolah saling memberikan sebuah kode.


Aditya mematikan rekaman CCTV tersebut dan memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana. Ia masih tidak berniat untuk berbalik badan memandang 2 wanita di belakangnya.

__ADS_1


"Sekarang kalian berdua pilih ingin menghabiskan waktu di penjara atau angkat kaki dari perusahaan dan menjauhi keluarga Raharja!"


Dewi menelan salivanya untuk menetralkan kegugupannya, "Tuan muda Aditya, maafkan kesalahan kami. Saya bisa menjelaskan semuanya. Ini bukanlah murni keinginan saya. Akan tetapi, terpaksa saya melakukannya karena ada seseorang dibalik semua ini. Orang itu adalah bos saya yang mempunyai dendam masa lalu dengan Tuan besar."


Aditya hanya mendengarkan penjelasan dari Dewi dan mencoba untuk mencari sebuah solusi. "Siapa nama bosmu itu?"


"Novitasari, Tuan Aditya. Hidup saya selama ini dikendalikan olehnya karena dia yang menyelamatkan saat dulu saya hampir diperkosa oleh para pria hidung belang. Sehingga saya selalu diancam memiliki hutang budi." Dewi masih mencoba untuk mencari belas kasihan pada pria yang sama sekali tidak ingin menatap ke arahnya.


"Aku yang akan mengurus bosmu nanti. Sekarang kalian kemasi barang-barang dan pergi dari rumah yang diberikan oleh istriku. Aku memang berhutang nyawa padamu, tetapi aku anggap semua kebaikan dari istriku padamu sudah cukup sampai di sini. Akan tetapi, aku bukan manusia yang tidak punya hati jika tidak memberikanmu apa-apa."


"Ambil cek di atas meja. Pakai itu untuk memulai hidup baru di tempat yang baru. Setelah ini, urusan kita telah selesai. Jangan pernah muncul di depanku atau keluarga Raharja jika kalian masih ingin bebas. Tuhan memberikan sebuah kesempatan pada umatnya yang mau bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Aku pun akan memberikan 1 kesempatan, manfaatkan itu baik-baik. Jika kalian masih berani berbuat macam-macam, aku tidak akan segan-segan membuat kalian di penjara. Sekarang pergilah!"


Dewi dan Ririn lagi-lagi saling ber-sitatap dan buru-buru membungkuk hormat pada pria yang sama sekali tidak mau menatap ke arah mereka. Tentu saja keduanya tahu bahwa yang dilakukannya itu tidak akan dilihat oleh Aditya, tetapi itu merupakan sebuah wujud terima kasih oleh mereka atas sebuah kesempatan yang telah diberikan.


"Terima kasih, Tuan muda Aditya. Saya tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikan dari Anda dan juga keluarga Raharja. Saya akan menerima pemberian dari Anda bukan karena menganggap Anda berhutang budi pada saya, tetapi karena saya membutuhkan uang untuk biaya hidup setelah keluar dari perusahaan Raharja sampai saya mencari pekerjaan lagi."


Dewi berjalan ke arah meja dan mengambil cek 100 juta tersebut. Tentu saja ia tidak berhenti bersyukur saat mendapatkan sebuah kesempatan. Saat ia berbalik dan menghampiri sahabatnya untuk diajaknya pergi, Dewi mengerutkan kening saat melihat Ririn seolah tidak mau beranjak pergi.


"Ririn, ayo kita pergi dari sini."


Ririn menggelengkan kepala dan melepaskan tangan Dewi yang memegang pergelangan tangannya. "Sebentar, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada Tuan Aditya."


"Aku sudah tahu kalau kamu tadi pura-pura pingsan, karena itulah aku langsung pergi tadi. Bukankah itu yang ingin kamu tanyakan? Lebih baik cepat pergi dari sini sebelum istriku mendengar kabar bahwa kalian berdua ada di ruangan ini. Karena jika itu sampai terjadi, mungkin nyawa kalian akan melayang saat istriku murka." Aditya mengibaskan tangannya tanpa menolehkan kepala.


Ririn hanya tersenyum kecut begitu mendengar perkataan dari pria dengan badan tinggi tegap di depannya.


"Astaga, tuan muda Aditya benar-benar sangat menyebalkan. Bahkan dari tadi dia tidak menatap kami. Memangnya aku dan Dewi hantu, apa?" gumam Ririn dengan geram.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2