Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Cepat jelaskan padaku!


__ADS_3

Sabrina yang sudah tidak bisa menahan gairah yang seolah sudah membuatnya berdenyut hebat karena dikuasai oleh hasrat, membuat ia langsung beranjak dari tempatnya. Ia sudah sibuk menyentuh roti sobek itu dengan jemarinya. Sehingga tanpa membuang waktu, Sabrina sudah sibuk menelusuri setiap sudut otot perut tersebut.


Dave yang merasa di atas angin, hanya menikmati sensasi penuh kenikmatan yang membuat tubuhnya meremang. Tangannya kini sudah sibuk memainkan rambut panjang berwarna hitam mengkilat yang tergerai itu dengan cara seperti membuat gerakan mengikatnya ke atas.


"Sabrina, kamu benar-benar membuat aku lupa segalanya," lirih Dave dengan wajah yang mengeras rahangnya dan bunyi gemeretak giginya. Menandakan bahwa ia kini tengah menahan sekuat tenaga dirinya agar tidak membuat rencananya gagal. Yaitu, ia ingin sepenuhnya membuat Sabrina menguasai tubuhnya dan bersikap liar dengan memimpin permainan.


"Lakukan apapun sepuasmu, Sayang. Kamu sekarang adalah pemiliknya. Jadi, lepaskan saja semuanya dan jangan menahannya.


Tanpa memperdulikan atau pun mendengarkan perkataan dari Dave, Sabrina yang sudah dibakar gairah, tidak memperdulikan apapun lagi.


Dave benar-benar tersenyum puas melihat wanita yang benar-benar jauh berbeda dengan yang dilihatnya selama ini. Sosok wanita yang selalu membenci dan sangat tidak menyukainya, berubah liar.


"Sabrina, aku seperti tidak mengenalmu hari ini. Kamu benar-benar sudah jauh berbeda saat bergairah. Sekarang kamu sangat memuja tubuhku, tetapi aku tidak tahu apakah besok, kamu akan murka dan kembali membenciku. Mungkin aku akan kehilangan semua uangku besok. Akan tetapi, aku tidak akan pernah keberatan. Lebih baik aku menikmati malam pertama kami yang sangat menggairahkan," gumam Dave di dalam hati.


Tubuh Sabrina sudah dipenuhi oleh peluh. Begitu ia sudah berhasil mencapai klimaks, Sabrina sudah jatuh terkulai lemas di dada bidang Dave dengan deru napasnya yang memburu. Sedangkan matanya masih terpejam, seolah enggan terbuka.

__ADS_1


Dave bisa mendengar suara detak jantung dari wanita yang masih memeluknya dengan sangat erat. Bahkan wajah yang saling menempel itu membuatnya bisa merasakan aroma napas dari Sabrina.


"Apa cuma segini, kemampuanmu, Sayang? Aku bahkan tidak merasakan apa-apa," ucap Dave yang sudah membalik keadaan.


Sabrina masih terus memejamkan kedua matanya karena merasa sangat capek di sekujur tubuhnya. Sehingga ia hanya menikmati sensasi kenikmatan yang dirasakannya ketika tubuhnya kembali dikuasai oleh Dave.


Hanya desahan dan lenguhan yang terdengar di dalam ruangan kamar hotel yang menjadi saksi bisu pasangan pengantin baru itu menghabiskan malam pertama sebagai pasangan suami istri. Tanpa memperdulikan waktu atau pun tenaga yang sudah terforsir dan terkuras habis.


Dave benar-benar membuat Sabrina tidak berhenti menggeliat seperti cacing kepanasan. Karena ia sama sekali tidak ingin melepaskan wanitanya. Seolah ingin menghabiskan malam tanpa tidur. Itu semua karena ia hari ini merasa sangat bahagia saat melihat sisi lain dari Sabrina yang sangat agresif saat bercinta.


Namun, peluh yang membasahi tubuhnya, mewakili rasa capek yang dirasakannya. Hingga rahang tegas yang mengeras dengan sebuah geraman mulai lolos dari bibirnya saat berhasil meledakkan cairan kenikmatan di rahim wanita yang dari tadi asyik memeluknya erat.


********


Sinar mentari pagi menembus celah-celah jendela yang berada di sebelah sudut paling kiri ranjang berukuran king size di ruangan presidential suite room. Sabrina yang masih memejamkan kedua matanya, perlahan membukanya dan melihat suasana di sekelilingnya. Ia bisa merasakan tangan kekar dari seorang pria yang saat ini tengah memeluk perutnya. Bisa dilihatnya sosok pria itu adalah Dave yang masih tertidur pulas di sebelahnya.

__ADS_1


Deg ...


Jantung Sabrina saat ini benar-benar sudah berdegup kencang saat melihat Dave memeluknya. Kemudian ia sedikit membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan juga Dave. Begitu menyadari ia sama sekali tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya, tentu saja membuat ia merasa sangat shock dan membekap mulut dengan tangan.


Sabrina mulai mengingat segala kejadian semalam. Samar-samar ia mulai mengingat potongan-potongan kecil dari momen Dave mulai menghambur menciumnya dan ia sangat menikmati dan sama sekali tidak menolaknya.


"Apa yang terjadi? Apa aku sudah gila? Bagaimana mungkin aku membiarkan Dave merenggut kesucianku. Gila ... aku benar-benar sudah gila. Apa yang terjadi padaku? Bagaimana mungkin? Ini seperti bukan aku, tidak. Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah tidak mempunyai apa-apa lagi, untuk dibanggakan sebagai seorang wanita. Bagaimana ini?" gumam Sabrina yang berkali-kali menepuk jidatnya dan mulai memijat keningnya saat merasakan pusing di kepala.


Sabrina mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi rasa sakit di sekujur tubuhnya benar-benar membuatnya seolah kesusahan untuk bergerak. Bahkan ia sudah meringis kesakitan pada bagian inti miliknya. Tentu saja ia yang sudah tidak bisa menahan diri lagi, mulai mengumpat dengan suaranya yang sangat keras. Hingga membuat sebuah pergerakan dari pria yang dari tadi memeluk erat tubuh polosnya.


"Berengsek!"


Suara lengkingan teriakan dari Sabrina, berhasil mengusik alam bawah sadarnya dan membuat Dave langsung membuka mata. Bahkan kini ia bisa melihat sorot mata tajam yang seperti bola api terlihat jelas di wajah yang masih terlihat cantik meskipun baru saja bangun tidur.


"Kamu sudah bangun, Sabrina?"

__ADS_1


"Belum," hardik Sabrina yang masih merasa sangat marah dengan apa yang baru saja ia sadari. "Apa ini? Kenapa bisa seperti ini? Cepat jelaskan padaku!" teriak Sabrina yang sudah menghempaskan kasar tangan Dave. "Aku ingin membunuhmu sekarang juga, Dave."


TBC ...


__ADS_2