Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Bersekongkol


__ADS_3

Aditya masih menatap wanita di sebelahnya yang dari tadi asyik merengek padanya untuk menangis karena beralasan tengah mengidam. Sejujurnya ia sangat tahu bahwa sang istri hanya beralasan saja. Niat baik dari Queen tentu saja bisa dibaca oleh Aditya yang memang sedang tidak baik perasaannya.


Tanpa berdebat atau pun menolak keinginan dari wanita yang dari tadi asyik mengusap perut datarnya dan merengek padanya, Aditya menaruh kepalanya di pundak sang istri. Entah kenapa begitu kepalanya bersandar di sana, mendadak hatinya mulai terasa sakit saat mengingat semua perkataan dari ibunya.


"Maafkan aku, Sayang, aku tidak bisa menangis di depanmu. Akan tetapi, aku ingin berbagi keluh kesahku padamu." Suara Aditya terdengar serak karena menahan rasa yang membuncah di hatinya.


"Katakan saja semuanya padaku, jangan menahannya atau pun menanggungnya sendirian, My hubbiy. Karena aku akan selalu ada untukmu, agar kamu bisa berbagi keluh kesahmu padaku." Queen mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut rambut suaminya. Berharap perbuatannya itu mampu menghibur perasaan suaminya yang sedang terluka karena ibu kandungnya.


"Sayang," ucap Aditya yang tidak melanjutkan perkataannya.


"Iya My hubbiy," jawab Queen yang menolehkan kepalanya ke samping kanan dimana suaminya masih pada posisi menyandarkan kepala di pundaknya.


"Apakah Ibuku benar-benar tidak menyayangiku?"


"Sepertinya begitu."


"Karena dia hanya memikirkan kebebasan putra kesayangannya tanpa memikirkan apakah perutku sudah sembuh dari tusukan putranya."


"Ibumu memang wanita yang tidak tahu diri." Queen mengepalkan tangannya karena ikut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh pria yang sangat dicintainya.


"Aku tidak menyebutnya begitu, Sayang. Jadi, jangan menghina wanita yang telah melahirkan suamimu. Hanya saja, aku sangat terluka saat mengetahui Ibu kandungku sama sekali tidak mengkhawatirkan keadaanku. Mungkin jika aku meninggal, dia tidak akan menangis." Aditya tidak mampu lagi mengucapkan kalimat apa pun, karena ia saat ini tengah memejamkan kedua matanya. Mengambil napas teratur untuk menormalkan tekanan batin yang menyesakkan dadanya.


"Kamu masih saja terus membelanya, My hubbiy. Padahal aku sangat membencinya karena menyakitimu. Saat kamu terluka seperti ini, aku pun bisa merasakan kesedihanmu, hatiku pun terasa sakit saat melihatmu terluka. Jadi, jangan bersedih ya?" Tanpa bisa ditahannya lagi, bulir bening berhasil lolos dari bola matanya. Tidak berhenti sampai di situ saja, Queen mulai menangis tersedu-sedu.


"Aku sangat sedih melihatmu disia-siakan oleh ibu kandungmu, My hubbiy. Bagaimana bisa ada seorang wanita yang sama sekali tidak mengkhawatirkan keadaan putranya yang hampir saja meninggal dan berjuang di ruangan operasi beberapa jam meregang nyawa."

__ADS_1


Tangis serta isakan dari sang istri yang sesekali bergetar tubuhnya, membuat Aditya refleks langsung mengangkat kepalanya dari pundak yang bergetar itu. Kemudian ia merengkuh tubuh wanita yang sangat dicintainya ke dalam pelukannya dan sesekali mengusap-usap lengannya.


"Hei ... kenapa malah kamu yang menangis? Padahal aku yang mengalami kepahitan hidup ini, tapi malah seolah kamu yang merasakannya. Jangan menangis, Sayang, aku mohon." Aditya mengerahkan bibirnya untuk mengecup lembut pucuk kepala dari wanita yang masih terus menangis di pelukannya, tak lupa ia mengusap lengan dari wanita yang masih tidak berhenti menangis itu.


Queen hanya menggelengkan kepalanya dan mengarahkan tangannya untuk memeluk tubuh kekar pria yang terlihat sangat mengkhawatirkannya. Dan ia masih terus menangis tersedu-sedu di sana.


"Aku tidak pernah melihat hidup semenyedihkan ini, My hubbiy. Kenapa hidup seorang pria sebaik dan sesabar seperti dirimu bisa se-tragis ini? Apakah Tuhan tidak adil pada orang-orang baik seperti dirimu?" Masih terus terisak saat mengungkapkan kesedihannya di pelukan pria tampan itu.


"Jangan pernah menyalahkan Tuhan atas apa yang kita rasakan, Sayang. Karena cobaan yang terjadi pada kita itu adalah sebuah cara dari-Nya agar kita lebih mengingat-Nya. Jika Tuhan menegur, itu tandanya merindukan dan menyuruh kita untuk selalu mengingatnya, Sayang. Dan bisa jadi itu adalah salah satu cara untuk mengangkat derajat kita."


"Aku akan mencoba ikhlas menerimanya, mungkin memang ini sudah menjadi garis takdirku. Aku tidak apa-apa, Sayang. Jangan menangis lagi ya," ucap Aditya yang sudah mengarahkan tangannya untuk merangkum kedua sisi wajah cantik yang sudah bersimbah air mata itu.


Kemudian ia menghapus air mata yang membuat wajah cantik istrinya berubah sembab. "Lihatlah wajahmu yang cantik sudah berubah sembab begini. Bagaimana jika Papa dan Mama berpikir aku menyakitimu?"


Aditya mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan ambigu dari wanita yang sibuk bercermin dan memperhatikan wajahnya. "Ternyata mereka sudah tahu rencanaku dan berpura-pura tidak tahu. Aku sudah seperti orang bodoh di hadapan mereka. Karena itulah aku benar-benar terlihat sangat buruk, sedangkan kamu terlihat sangat baik."


"Ooh ... masalah itu?" Aditya terlihat sangat tenang dan sama sekali tidak merasa terkejut dengan perkataan dari istrinya tersebut.


"Kamu, tidak kaget atau terkejut sama sekali?"


"Buat apa aku terkejut?"


"Aneh?"


"Aku sudah mengetahuinya Sayang," jawab Aditya yang berbisik di telinga wanita yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Sontak saja perkataan dari suaminya yang sama sekali tidak pernah ia sangka sama sekali, membuat Queen refleks langsung menoleh ke arah pria yang masih berada di dekat telinganya. Dan perbuatannya itu berhasil membuat wajahnya bersentuhan dengan wajah tampan yang sangat dikaguminya.


"Apa My hubbiy? Kamu sudah mengetahuinya?"


Aditya hanya menganggukkan kepalanya dan berbuat iseng dengan menghembuskan napasnya di wajah cantik yang tepat berada di depannya.


"Ya ampun, apa-apaan sih." Queen terlihat merona karena baru tersadar akan posisi intimnya dengan suaminya yang menatapnya dengan tatapan intens. "Dasar nakal! Sejak kapan kamu mengetahuinya?"


"Kamu yang sudah mengajari suamimu ini nakal, Sayang. Karena jujur aku dulu tidak begini." Aditya mencubit hidung mancung sang istri. "Sejak kamu mengusirku dari hotel setelah kamu tersadar dari pengaruh obat yang diberikan oleh abangmu."


"A-apa? Sejak hari itu? Kenapa tidak memberitahuku?" teriak Queen seraya bersungut-sungut saat menatap tajam wajah tampan suaminya yang terlihat seperti bayi tak berdosa.


Aditya mendekatkan wajahnya ke arah telinga Queen dan mulai membisikkan sesuatu di sana. "Aku lupa Sayang, karena keasyikan kamu ajak main."


Queen mencubit paha pria yang tengah tersenyum menyeringai ke arahnya. "Iiissh ... dasar nakal. Tunggu ... tunggu, coba jelaskan padaku dari mana kamu tahu, My hubbiy?"


"Dari papa yang datang ke rumah dan menyuruhku untuk mengancammu dengan menggunakan surat perjanjian palsu."


"Apa? Surat perjanjian palsu?"


"Iya, surat perjanjian palsu yang menyatakan bahwa Perusahaan Raharja aku ambil alih."


"Ooh ... jadi kalian semua telah bersekongkol untuk menipuku rupanya? Bagus ya ...." Queen yang merasa sangat kesal, kembali menyerang pria yang sudah menyembunyikan kenyataan yang sangat penting darinya.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2