
Suasana di dalam mobil mewah yang membawa Dave beserta 2 wanita yang duduk bersebelahan di belakang itu terkesan seolah mereka bertiga sama-sama bermusuhan. Karena tidak ada sepatah kata pun dari mereka untuk mengobrol. Untuk memecahkan keheningan yang penuh kecanggungan itu, sang supir memutar musik agar tidak terlalu sepi dan hening.
Namun, suara larangan dari Dave dan Sabrina yang sama-sama tidak menyetujui ada suara musik mulai mengungkapkan nada protesnya. "Matikan musiknya, Pak!"
Refleks Dave menoleh ke belakang untuk menatap ke arah Sabrina yang juga tengah memandangnya. Dan ia pun tersenyum tipis, "Ternyata kamu lebih suka keheningan seperti kamu berada di tempat sampah waktu itu," ejek Dave yang sekilas mengingat perkataan dari tuan mudanya saat bilang bahwa Sabrina akan menangis di tempat yang sepi saat sedang bersedih."
"Sialan," kesal Sabrina yang merasa sangat malu saat mengingat kejadian menyebalkan waktu pria di depannya itu menciumnya dengan dan mencuri ciuman pertamanya.
"Kalian berdua terlihat akrab. Apakah kalian adalah pasangan kekasih?" tanya Dewi yang menatap secara bergantian pada Dave dan juga Dewi.
"Bukan," jawab Dave dan Dewi secara bersamaan.
"Astaga," sahut Dave kemudian seraya terbahak. "Lucu sekali."
"Kalian berdua sangat kompak yang menandakan sehati. Semoga kalian menjadi pasangan kekasih yang langgeng," sahut Dewi dengan seulas senyuman.
"Itu tidak akan pernah terjadi, jangan berasumsi seenaknya sendiri. Karena aku tidak ada hubungannya dengan pria kasar sepertinya. Padahal, tadi aku pikir kamulah yang merupakan kekasihnya. Karena itulah dia menjemputmu di bandara. Oh ya, perkenalkan namaku Sabrina." Mengulurkan tangannya dan tersenyum manis pada wanita di depannya.
Dewi menyambut uluran tangan itu dan melakukan hal yang sama. Yakni, tersenyum tipis. "Aku Dewi dan bukan kekasih dari Tuan Dave, karena aku memiliki pria idaman sendiri."
Sementara itu, Dave tersenyum smirk begitu mendengar perkataan dari Dewi. "Menyedihkan, lebih baik kamu membuang jauh-jauh perasaanmu itu sebelum Nona muda menghukummu. Karena cintamu tidak akan pernah terbalaskan. Carilah pria yang single karena Tuan muda Arthur sudah menikah dan bahkan memiliki 5 anak yang sangat lucu dan menggemaskan."
__ADS_1
"Oh ya, satu hal lagi yang ingin aku tegaskan pada kalian berdua. Kalian memang bukan kekasihku dan selamanya bukan, karena kalian berdua bukan tipeku."
Refleks Sabrina dan Dewi saling ber-sitatap dan sesaat kemudian keduanya malah sama-sama terbahak. Seolah perkataan dari pria di depannya terdengar sangat lucu.
"Percaya diri sekali dia," ejek Sabrina yang berbicara pada Dewi.
"Mungkin dia berpikir bahwa ia laki-laki paling tampan di sini," sahut Dewi yang ikut terkekeh.
"Kalian saat ini boleh mengejekku sepuasnya, tapi aku akan mentertawakan kalian nanti saat merebutkan aku begitu menyadari pesona dan kelebihanku," ucap Dave dengan sangat percaya diri.
"Astaga, rasanya aku sangat mual mendengarnya berbicara lebay." Sabrina geleng-geleng kepala dan ia membereskan pekerjannya setelah menutup laptop miliknya. "Alhamdulillah akhirnya selesai juga." Beralih menatap ke arah Dewi, "Bolehkah aku bertanya padamu?"
Dewi tadinya terkekeh menanggapi kalimat ejekan dari Sabrina pada Dave. Namun, ia refleks menoleh pada wanita yang terlihat menatapnya penuh tanya. "Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Dasar tukang gosip," celetuk Dave tanpa menoleh ke arah wanita yang diejeknya. Karena ia saat ini tengah asyik memeriksa pesan yang masuk.
"Diam kamu pria berengsek! Jangan ikut campur urusan wanita," kesal Sabrina dengan bersungut-sungut seraya mengarahkan tatapan tajam pada pria yang ada di depannya.
"Kalian seperti Tom and Jerry ya, lucu sekali. Awas lho, benci bisa jadi cinta," ejek Dewi dengan seulas senyuman saat mengamati interaksi dari Dave dan Sabrina.
"Amit-amit," ucap Sabrina dengan gerakan tangan yang sudah mengetuk-ngetuk pahanya.
__ADS_1
"Mungkin sekarang kamu bilang amit-amit, siapa yang tahu kalau lama-kelamaan kamu bilang aku imut-imut," sahut Dave dengan melirik sekilas ke arah Sabrina.
"Iih ... percaya diri sekali dia. Itu tidak akan pernah terjadi. Aah ... sudahlah, kenapa malah membahas hal konyol yang tidak penting. Kamu tidak bersedia bercerita padaku, Dewi?" tanya Sabrina saat menatap wajah yang menurutnya sangat cantik dan manis penuh kepolosan itu.
"Oh iya, aku sampai lupa gara-gara melihat kalian yang asyik berisik dari tadi. Sebenarnya aku hanya melakukan sebuah hal kecil saja, tapi nona muda Queen terlalu baik. Dan memaksaku untuk menerima pemberiannya. Bahkan memberikan sebuah pekerjaan di perusahaan Raharja padahal aku hanya lulusan D3 management bisnis," jawab Sabrina.
"Hal kecil? Tidak mungkin, aku tidak percaya. Sepertinya ini sebuah rahasia ya?" Sabrina mengerutkan keningnya dan beralih menatap ke arah pria yang seolah tidak memperdulikan perkataan dari Dewi. "Dave, apa aku boleh tahu tentang apa yang dilakukan Dewi?"
"Kalau kamu masih mau bekerja, lebih baik tidak perlu tahu karena ini adalah sebuah rahasia yang tidak boleh sembarang orang tahu. Karena itulah Dewi tidak akan pernah memberitahumu. Cepat turun, karena jiwa kepomu itu, kamu tidak menyadari bahwa kita sudah sampai di perusahaan." Dave melirik sekilas ke arah Dewi. "Selamat bersenang-senang di Jakarta, Dewi. Rumah barumu berada sekitar 15 menit dari Mansion. Jadi, kamu bisa pergi ke menemui nona muda saat libur kerja nanti. Jaga dirimu!"
"Terima kasih, Tuan Dave. Selamat bekerja," jawab Dewi membalas senyuman dari pria yang terlihat sudah turun dari mobil.
Rasa ingin tahu yang teramat besar dirasakan oleh Sabrina dan membuatnya langsung menanyakan nomor ponsel dari Dewi. "Berapa nomormu, siapa tahu kita bisa berteman."
Dewi merebut ponsel yang dipegang oleh Sabrina dan terlihat mulai mengetik nomornya di sana. "Itu nomorku, tentu saja kita berteman. Kamu boleh menghubungiku kapan saja. Oh ya, sudah ditungguin tuh sama calon suami," goda Dewi pada wanita di depannya.
"Astaga." Sabrina menepuk jidatnya, "Dia bukan apa-apaku. Jadi, jangan berkata macam-macam! Baiklah, aku pergi dulu. Selamat datang di Jakarta dan semoga kamu betah tinggal di kota besar ini Dewi. Bye! Membuka pintu mobil dan melangkah turun seraya melambaikan tangannya pada Dewi sebelum menutup pintu mobil mewah tersebut.
"Kenapa lama sekali? Apa seorang atasan harus menunggu bawahan?" rengut Dave yang dari tadi kesal menunggu Sabrina yang lama sekali tidak keluar. "Sepertinya untuk bulan ini gajimu perlu dipotong."
"Jangan macam-macam kamu, Dave! Jika gajiku benar-benar dipotong bulan ini, aku akan menyantetmu." Berlalu pergi meninggalkan pria yang malah tertawa terbahak-bahak begitu ia selesai membuat ancaman konyol.
__ADS_1
"Kenapa aku bisa berbicara konyol ya. Mana bawa-bawa santet lagi. Jika Mas Aditya sampai mendengarnya dari Dave, bukankah akan sangat mempermalukanku. Aah ... bodoh sekali aku ini. Gara-gara aku kesal, membuatku jadi bersikap konyol," gumam Sabrina yang sudah berjalan ke arah loby perusahaan.
TBC ...