
Selama di dalam mobil, Aditya hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karena tidak ingin membuat suasana hati dari istrinya yang sedang dikuasai oleh amarah semakin memburuk. Dirinya sadar jika salah ucap satu kalimat saja bisa membuat hidupnya bagaikan di neraka. Karena amarah dari sang istri benar-benar sangat menyusahkannya.
Sedangkan Queen berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak mengeluarkan kata-kata kasar. Karena ia tidak ingin menambah kesedihan dari suami yang baru saja merasa terluka karena perbuatan ibunya. Queen sibuk merapal doa di dalam hatinya agar bisa menahan diri.
"Bismillah, aku pasti bisa. Jangan sampai aku membuat My hubbiy semakin bad mood. Jadi, lebih baik aku menutup mulutku. Ayo Queen, kamu bisa. Fighting," gumam Queen.
Suasana hening di dalam mobil yang melaju menembus kemacetan kota Jakarta, seolah menampilkan ekspresi datar dari pasangan suami istri yang sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri. Queen mengalihkan perhatiannya dengan cara menonton video dari YouTube yang menampilkan kegiatan para dokter dari rumah sakit di New York tempat ia dulu mengabdi selama 1 tahun.
Sementara itu, Aditya tengah menyandarkan tubuhnya di punggung jok mobil seraya memejamkan kedua matanya. Suara desahan napasnya seolah mengungkapkan bahwa saat ini ia sedang menanggung beban yang amat berat di pikirannya.
Awalnya ia hanya ingin diam tanpa bersuara, karena tidak menyukai suasana hening yang terjadi antara dirinya dan sang istri. Namun, ia sangat merasa kesepian saat sang istri cuek padanya. Dan itu membuatnya langsung membuka matanya. Kemudian mulai mengarahkan tangannya untuk merebut ponsel yang membuatnya merasa tersaingi.
"Sayang, aku tidak menyukai keheningan di antara kita. Aku lebih suka kita langsung menyelesaikan masalah yang membuatmu marah. Ayo, kita selesaikan sekarang juga biar tidak ada yang mengganjal di pikiran kita!"
"Selesaikan apa? Aku sama sekali tidak marah padamu, My hubbiy." Queen menoleh ke arah pria yang sudah memasukkan ponselnya ke saku celananya. "Kamu mau buat ponsel kita pacaran lagi?"
"Iya, biar cepat hamil kayak kamu," sahut Aditya dengan terkekeh. "Aku pikir kamu marah padaku gara-gara memberikan uang pada kasir wanita itu."
"Aku tidak marah pada kebaikanmu, tapi aku marah pada wanita tidak tahu diri itu. Aku tahu dia sibuk mengumpatku di dalam hati gara-gara mendengar perkataanku tadi yang bilang tidak suka memasak. Sayang sekali, padahal tadi aku sangat ingin membuatnya dipecat dari tempat kerjanya. Akan tetapi, karena aku tidak ingin membuatmu sedih, membuatku tidak jadi melakukannya."
"Alhamdulillah, ternyata Istriku sekarang sudah berubah jauh lebih bijak. Terima kasih Sayang." Aditya menggeser tubuhnya untuk semakin mendekat ke arah wanita yang sangat ingin dipeluknya. Kemudian ia langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping wanitanya.
Mendapat pelukan dari suaminya, membuat Queen langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang pria yang sudah sibuk mengusap lembut perutnya. "Tidak perlu berterima kasih padaku My hubbiy. Tunjukkan saja rasa terima kasihmu itu dengan cara menjauhi semua wanita, karena aku sangat tidak menyukai kamu menatap wanita lain. Apalagi sampai berbicara dengan para lawan jenis."
__ADS_1
"Aku akan berusaha, Sayang. Akan tetapi, bukankah itu sangat mustahil? Karena aku mulai besok akan bekerja di Perusahaan Raharja. Bukankah aku akan berinteraksi dengan semua orang?"
"Kamu adalah atasan, buat apa berinteraksi dengan semua orang. Dasar keganjenan. Ruangan di lantai atas yang merupakan tempat presdir hanya ditempati oleh Brother dan asistennya. Tidak ada sekretaris seksi seperti kebanyakan perusahaan lain, karena kakak ipar sangat menentangnya dan sekarang aku sangat mendukungnya setelah menikah denganmu," ucap Queen yang sudah mendongak menatap wajah tampan pria yang masih memeluknya.
"Jadi seperti itu, syukurlah kalau begitu. Aku bisa menuruti permintaan istri dan juga menjauhi yang namanya zina mata saat menatap para wanita di kantor." Aditya menatap ke arah jalanan yang sudah mulai berbelok ke gang rumahnya. "Alhamdulillah kita sampai di rumah dengan selamat, Sayang. Ayo, kita turun dan menemui Ayah. Akan tetapi, maaf jika gubukku sama sekali tidak membuatmu merasa nyaman."
"Mungkin aku akan menahan diri My hubbiy, demi menghormati Ayah dan juga kamu. Jadi, aku akan berusaha bersikap semanis mungkin."
"Terima kasih Sayang," sahut Aditya seraya mencium kening sang istri dan mulai melepaskan pelukannya. Lalu, ia melangkah turun dari mobil.
Queen pun ikut turun dari mobil dan melihat rumah berukuran minimalis yang sudah terlihat sangat tua dengan warna catnya yang sudah mulai pudar. Sedangkan halaman depan yang cukup luas, terlihat sangat rapi dengan beberapa pohon besar dan juga beberapa tanaman hias. Bisa dilihatnya juga banyak pot-pot bunga yang menghiasi teras depan dengan aneka macam bunga yang terlihat sedang mekar.
Suasana yang cukup asri dan udara yang segar, berhasil membuat suasana rumah kecil itu terkesan lebih indah. "My hubbiy, siapa yang menanam aneka jenis bunga ini? Aku jadi teringat Ibu mertua dari Brother yang sangat suka berkebun."
"Tidak tahu? Aneh sekali," sahut Queen dengan tatapan mata penuh kecurigaan.
"Karena dulu rumahku tidak banyak bunga-bunga seperti ini, Sayang. Lebih baik kita segera masuk ke dalam untuk menanyakannya pada Ayah. Mungkin Ayah yang sudah menyulap halaman rumahku ini." Aditya sudah menggenggam erat tangan Queen dan melangkah masuk ke dalam halaman rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap Aditya begitu sampai di depan pintu kayu berwarna coklat agak pudar itu. Tanpa menunggu Ayahnya untuk membukanya, ia langsung membuka pintu dan mengajak istrinya untuk masuk. "Masuklah Sayang. Maaf jika rumahku sangat kecil dan kotor."
"Tidak apa-apa," ucap Queen yang berpura-pura untuk tersenyum di depan pria yang sudah meninggalkannya untuk mencari keberadaan Ayahnya.
Queen saat ini tengah mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan di depannya. Mulai dari ruang tamu yang hanya berukuran 3 meter dengan kursi kayu sederhana. Dan 2 ruangan kamar yang terlihat jelas dari depan. Bahkan ia bisa melihat ruangan dapur begitu masuk ke dalam.
__ADS_1
"Astaga, ini rumah atau kandang tikus? Bahkan ruang pribadi para pelayan yang ada di Mansion jauh lebih bagus dari ini. Astaga, aku bisa gila jika sampai tinggal di sini," gumam Queen.
"Kamu datang, menantu? Subhanallah, kamu cantik sekali memakai hijab," ucap Boby Syaputra saat baru saja keluar dari ruangan kamarnya bersama putranya.
"Iya Yah, terima kasih atas pujiannya." Queen langsung berjalan mendekat ke arah mertuanya dan tak lupa mencium punggung tangannya.
"Maaf jika gubuk Ayah sangat jelek. Duduklah menantu!"
"Jangan bicara seperti itu, Yah. Aku suka suasana asri rumah ini. Oh ya, aku hampir lupa. Apakah Ayah yang menanam bunga-bunga cantik itu?"
"Oh ... itu, bukan Ayah yang menanamnya. Akan tetapi, Bibi Aditya yang menanamnya dan menghias rumah ini. Sehingga terlihat sangat asri dan lebih hijau."
"Wah ... ternyata Bibi mempunyai bakat berkebun yang baik. Apakah aku boleh bertemu dengannya, Yah?"
"Buat apa Nak?"
Saat Queen hendak menjawab pertanyaan dari mertuanya, indera pendengarannya menangkap suara dari seorang wanita yang tidak asing di telinganya sedang mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
Sontak saja wajah Aditya dan sang Ayah langsung berubah pucat begitu mendengar suara dari seseorang yang baru mengucapkan salam. Keduanya saling ber-tatapan karena merasa bingung harus berbuat apa.
Queen langsung mengepalkan kedua tangannya begitu melihat seseorang yang berada di depan pintu tengah membawa bunga mawar.
__ADS_1
TBC ...