
Reynaldi yang saat ini tengah mencari-cari sesuatu yang akan digunakannya untuk membekap mulut wanita yang sudah memegang alat pel dan berniat menyerangnya. Karena tidak menemukan apa yang dicarinya, ia melepaskan kaos casual yang dipakainya dan tentu saja, kini tubuhnya bagian atas sudah terekspos dengan jelas.
Dewi membulatkan kedua matanya begitu melihat tubuh setengah telanjang yang menampilkan otot perut kotak-kotak yang mirip dengan roti sobek itu.
"Apa yang sebenarnya kamu lakukan? Dasar pria gila!" Dewi yang merasa berada dalam bahaya, membuka mulutnya untuk berteriak meminta tolong. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah ingin keluar dari tempat itu dan lepas dari pria yang sudah dianggapnya gila tersebut.
"To ...."
Reynaldi sudah bisa mengerti Dewi akan berteriak. Dengan langkah cepat, ia langsung membungkam mulut wanita yang ia hempaskan di dinding. "Tidak akan ada yang mendengarmu, wanita jalang!" Mengarahkan tatapan membunuh saat dirinya merasa emosi ketika melihat Dewi. Karena selalu mengingatkan pada nasib buruknya saat membusuk dipenjara.
Dewi meringis kesakitan saat punggungnya terhempas ke dinding. Belum sempat ia menyelesaikan teriakannya, kini bibirnya sudah dibungkam oleh kaos yang tadi dipakai oleh Reynaldi. Ia sama sekali tidak menyerah karena tangannya sekuat tenaga memukul setiap sudut tubuh kekar yang menguncinya di dinding dengan menempel erat dan menekan tubuhnya.
"Sebenarnya apa yang diinginkan pria gila ini. Bagaimana caranya aku meminta tolong?" gumam Dewi yang saat ini merasa sangat ketakutan. Bahkan degub jantungnya yang berdetak 4 kali lipat lebih kencang dari biasanya, menandakan bahwa ia saat ini berpikir bahwa nyawanya sebentar lagi akan melayang.
Reynaldi tersenyum menyeringai saat melihat wajah ketakutan dari wanita yang berada dalam kuasanya. Seolah ada kepuasan tersendiri saat berhasil membuat Dewi gemetar ketakutan karena ulahnya. Dengan memakai setengah dari kekuatannya, ia menahan tangan yang dari tadi memukulinya, tetapi tidak terasa apa-apa baginya.
Dengan sorot mata tajam yang mengunci manik bening yang tepat berada di depannya, Reynaldi kali ini benar-benar ingin membuat wanita di depannya merasakan ketakutan karena ancamannya.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, wanita jalang! Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan selama 3 tahun belakangan ini. Ini adalah sebuah permulaan. Jadi, nikmati saja kejutan demi kejutan dariku."
Puas memberikan ancamannya, Reynaldi melepaskan tangan Dewi yang dari tadi ia kunci di belakang tubuh kurus itu. Kemudian beralih melepas dengan kasar kaos miliknya yang tadinya ia gunakan untuk membekap mulut wanita yang terlihat sangat ketakutan itu.
"Sekarang berteriaklah! Katakan pada semua orang bahwa aku sudah memperkosamu," ancam Reynaldi dengan mengarahkan tangannya pada leher Dewi. "Berteriaklah, wanita jalang!"
Dewi meremas seragamnya hingga terlihat sangat kusut karena perbuatannya yang merasa kesulitan untuk bernapas saat lehernya sudah dicekik oleh tangan kuat itu. Bahkan ia mencoba untuk menyelamatkan diri dengan cara menahan tangan pria yang sudah mengarahkan tatapan membunuhnya.
Hingga ia langsung terbatuk-batuk saat cengkeraman di lehernya sudah menghilang. Kakinya yang dari tadi bergetar, karena efek ketakutan, membuat ia langsung berjongkok di lantai saat sudah tidak mampu lagi menopang beban tubuhnya, serta napasnya kini tersengal.
Sedangkan Reynaldi yang sudah merasa sangat puas melihat ketakutan di mata wanita yang terlihat memeluk lutut itu, berjalan ke arah pintu keluar dan memutar kunci. Sebelum membuka pintu, ia menoleh sekilas ke belakang.
Tanpa menoleh lagi ke arah belakang, kaki panjang Reynaldi melangkah meninggalkan gudang pengap yang dari tadi membuat pernapasannya serasa sesak karena menghirup udara yang kotor. Sehingga ia merasa sangat lega saat bisa kembali memenuhi pasokan oksigen di paru-parunya dengan udara yang bersih dan segar.
Sedangkan di dalam gudang, Dewi yang saat ini merasa sangat shock, langsung menangis tersedu-sedu begitu pria yang mengancamnya sudah keluar meninggalkannya. Sambil memegangi dadanya, suaranya yang serak karena efek menangis, terdengar saat ia meratapi nasibnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Pria itu benar-benar sudah gila karena berpikir akulah yang menjadi penyebab dia di penjara. Padahal kenyataannya, keluarga Raharja yang menjadi penyebab semuanya. Aku harus meminta bantuan siapa? Tidak mungkin aku meminta bantuan dari nona muda Queen. Dia benar-benar membuatku hidup menderita di Jakarta."
__ADS_1
Dengan suara serak dan tubuh bergetar, Dewi yang merasa sangat buruk nasibnya semenjak diusir setelah ketahuan semua rencananya oleh Aditya. Karena ia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di Bali setelah bosnya ditangkap oleh polisi. Dengan tuduhan menjadi dalang untuk menghancurkan ketenangan keluarga Raharja.
Sehingga ia memilih untuk menetap di Jakarta dan melamar pekerjaan di perusahaan lainnya. Namun, ia menyadari bahwa namanya sudah di black list oleh setiap perusahaan. Karena sudah 10 perusahaan menolaknya dengan alasan yang sama. Yaitu, tidak ingin bermain-main dengan perusahaan Raharja Group.
Sehingga ia hanya bisa bekerja sebagai cleaning service di restoran yang satu dan lainnya. Karena saat pengurangan pegawai, ia harus merelakan dipecat. Sedangkan sahabatnya yang bernama Ririn sudah pulang kampung karena dijodohkan oleh orang tuanya dan kini hidup berbahagia dengan suami dan 1 anaknya.
Sementara dirinya yang sudah tidak mempunyai siapa-siapa, masih mengais rezeki seadanya untuk bertahan hidup. Awal-awal ia pergi, hidupnya masih terjamin dengan uang yang diberikan oleh Aditya. Namun, lama-kelamaan uangnya habis dan ia harus bertahan hidup dengan bekerja serabutan.
Beberapa saat kemudian, perasaan Dewi sudah sedikit tenang dan saat ia hendak keluar dari gudang, suara bariton dari seseorang tertangkap indera pendengarannya.
"Dewi ... Dewi!" teriak pria berseragam hitam yang baru saja melangkah masuk ke dalam gudang dan melihat wanita yang dicarinya ternyata benar ada di sana seperti yang dibilang oleh atasannya. "Astaga, Dewi ... Dewi."
Dewi yang buru-buru menghapus sisa air mata yang menghiasi wajahnya agar tidak sampai ketahuan bahwa dirinya baru saja menangis.
"Iya, Bang. Aku baru saja mau keluar setelah menaruh trolley, tetapi aku tadi tiba-tiba merasa pusing. Jadi, aku diam sebentar sambil memijat kepalaku."
"Jadi, begitu? Aku pikir tadi kamu menghilang kemana. Lebih baik kamu jangan memaksakan diri jika badan kamu sangat lemah, Dewi. Sekarang kamu pulang saja dan beristirahat di rumah. Maaf, aku hanya ingin menyampaikan ini," ujar pria dengan name tag Adi tersebut.
__ADS_1
Dewi seakan sudah bisa menangkap arah pembicaraan dari Adi, karena ia sudah terbiasa berada dalam situasi yang seperti ini. "Jadi, bos sudah memecatku?" Tersenyum miris yang terlihat sangat dipaksakan. "Nasibku ini ibarat pepatah 'Sudah jatuh, tertimpa tangga'."
TBC ...