
Aditya masih terus berusaha untuk menghubungi nomor asing yang ada di ponselnya. Namun, seperti yang dikatakan oleh sang istri, nomor tersebut sudah tidak aktif. Bahkan ia pun ikut membenarkan kecurigaan dari sang istri yang mengatakan bahwa wanita penelfon tersebut patut dicurigai.
"Ternyata benar, Sayang. Baiklah, lakukan apapun yang menurut kamu benar, tetapi pesanku, jangan menghukum seseorang tanpa bukti. Setelah kamu menemukan wanita itu, semua harus diselidiki terlebih dahulu, oke," Aditya mengusap lembut pipi putih yang agak sedikit tembam sang istri.
Dengan tujuan untuk meredakan emosi wanita yang sudah mengandung benihnya. Karena biasanya sang istri akan reda emosinya hanya dengan sebuah sentuhan lembut. Dan yang dipikirkannya memang benar, karena Queen kini terlihat tersenyum menggoda dan menyindirnya.
"Iya ... iya, aku tahu itu, My hubbiy. Jadi, sudah selesai marahnya nih," ujar Queen yang menggoda pria di sampingnya. "Cuma begitu saja marahnya?"
Aditya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar kalimat bernada sindiran tersebut, tetapi ia pun merasa sangat gemas ketika menatap sang istri yang sudah memasang puppy eyes andalannya.
"Memangnya kamu ingin suamimu ini marah lama-lama padamu, Sayang? Jika seperti itu, aku bisa marah lagi dan tidak mau berbicara. Kalau begitu, lebih baik aku kembali saja ke ruangan Dave." Bangkit berdiri dari sofa dan berniat untuk melangkahkan kakinya meninggalkan sang istri.
Tentu saja ia hanya sedang berpura-pura saja untuk mengerjai istrinya, karena ia bukanlah jenis orang yang suka marah lama-lama. Apalagi terhadap wanita yang tengah mengandung buah cinta mereka dan selalu sensitif terhadap apapun.
"Stop!" hardik Queen dengan tatapan tajam. Kemudian melanjutkan perkataannya, "Jika My hubbiy melangkah lagi, aku akan marah dan tidak mau berbicara padamu," tandas Queen dengan bersungut-sungut. Karena merasa kesal jika harus ditinggalkan sendirian di ruangan kerja daddy-nya.
Refleks Aditya langsung berbalik badan untuk menatap ke arah wanita dengan bibir mengerucut, serta memasang wajah masamnya. "Tunggu, kenapa malah kamu yang marah, Sayang?"
"Biarin, memangnya tidak boleh? Suka-suka aku lah," ucap Queen dengan sangat kesal dan tidak ingin menatap ke arah sang suami yang bisa dilihatnya tengah berjalan mendekat.
__ADS_1
"Suasana hatimu dari tadi tidak baik, lebih baik kita pulang. Kamu butuh istirahat, Sayang. Ayo, kita kembali ke Mansion sekarang. Lagipula pekerjaan sudah selesai." Aditya mengarahkan tangannya ke arah Queen yang masih mengerucutkan bibirnya 5 centi. Sejujurnya ia sangat gemas saat melihat sang istri yang memasang wajah cemberut, ingin sekali ia menciumnya agar wanita tersebut tidak lagi marah. Akan tetapi, karena ada di ruangan kantor, membuatnya menahan diri sekuat tenaga.
Queen berpura-pura tidak memperdulikan perkataan dari Aditya dengan masih diam membisu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tentu saja saat ini ia ingin sekali melihat usaha dari sang suami dalam merayunya.
"Aku kerjain saja My hubbiy. Salah sendiri pakai marah segala padaku, biar tahu rasa," gumam Queen yang tertawa di dalam hati.
Aditya menaikkan kedua alisnya saat Queen sama sekali tidak mau menatapnya dan juga masih diam membisu. Karena tidak ingin membuang waktu, ia langsung sedikit membungkuk untuk mengangkat tubuh ramping sang istri ke atas lengannya.
Queen menjerit kecil saat tubuhnya tiba-tiba melayang ke atas dan berpindah ke lengan kokoh sang suami yang sudah menggendongnya ala bridal style. Refleks ia mencubit perut pria yang sudah berjalan keluar ruangan.
"My hubbiy apa-apaan sih. Turunkan aku, bikin malu saja. Ini di kantor, bukan di rumah." Queen berpura-pura kesal dan merajuk, padahal jauh di lubuk hatinya, ia merasa sangat senang saat sang suami menggendongnya.
Aditya sama sekali tidak memperdulikan nada protes dari sang istri dan terus berjalan memasuki lift khusus. "Kamu hubungi saja Dave, bilang bahwa kita langsung pulang."
"Turunkan aku dulu, My hubbiy. Aku mau jalan sendiri," ujar Queen yang menggerakkan tubuhnya agar pria yang menggendongnya mau menurunkannya. Meskipun itu hanya aksi pura-puranya.
"Aku tidak mau kamu selalu menyebutku lambat, Sayang. Jadi, mulai sekarang aku ingin berubah menjadi seorang suami yang tidak akan mendapatkan ejekan darimu. Bukankah kamu selalu bilang aku lembek?" ujar Aditya dengan tersenyum tipis.
"Oh ... jadi begitu. Baiklah, terserah My hubbiy saja, tetapi aku tidak ingin menghubungi Dave. Lebih baik ngomong langsung saja, jadi kita ke ruangan Dave saja," ucap Queen dengan tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu, Sayang. Kamu ingin memperlihatkannya pada Sabrina, bukan? Rasanya sekarang ini aku ingin menyentil keningmu untuk memberikan sebuah hukuman. Akan tetapi, tanganku tidak bisa melakukannya." Aditya melangkah keluar dari lift untuk menuruti permintaan dari sang istri yang ingin memperlihatkan perbuatannya pada mantan kekasih.
Meskipun ia sebenarnya merasa tidak nyaman, tetapi ia bertekad untuk membuat Sabrina dengan ikhlas menerima Dave seutuhnya dan menyadari bahwa sudah tidak ada harapan untuk cinta yang masih dirasakan di dalam hati wanita tersebut.
Sementara itu, Queen terlihat sangat berbinar karena Aditya mau menuruti permintaannya. "Kalau mau kasih hukuman, jangan sebuah sentilan, My hubbiy. Kalau sebuah ciuman bagaimana," ucap Queen yang sudah mengarahkan bibirnya ke pipi putih sang suami dan di saat yang bersamaan, pintu ruangan kerja Dave terbuka.
Sabrina yang baru saja membuka pintu, merasa sangat terkejut begitu melihat pemandangan menyesakkan tepat di depan matanya. Pria yang masih sangat dicintainya tengah menggendong sang istri dan wanita yang sangat dibencinya terlihat mencium pipi sang suami dengan wajah berbinar yang menunjukkan perasaan bahagia. Ia meremas rok yang dipakainya dan mengalihkan perhatiannya dengan berbalik badan.
Sementara itu, Dave mengerutkan kening begitu melihat Sabrina berbalik badan dan menatapnya. "Ada apa? Apa masih ada yang tertinggal?"
Sabrina menggelengkan kepalanya, "Tidak ada. Akan tetapi, sepertinya atasan sedang mencarimu. Kemarilah." Melambaikan tangannya untuk memanggil Dave agar segera mendekat.
Refleks Dave bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan menuju pintu keluar untuk mendekati Sabrina. Bisa dilihatnya bahwa sang tuan muda tengah menggendong sang nona muda dan juga keduanya terlihat sama-sama tersenyum bahagia. Menunjukkan kebahagiaan yang mereka tengah rasakan. Tentu saja semua orang yang melihat keromantisan dari pasangan suami istri tersebut akan merasa iri.
Namun, hal itu tidak berlaku baginya dan juga wanita yang akan dinikahinya tersebut. Karena saat ini sama-sama merasa sakit hati yang teramat mendalam di dalam hatinya.
"Oh ... jadi karena itulah kamu berbalik badan dan tidak mau melihat kemesraan dari mereka, Sabrina. Kenapa nasib kita sama-sama menyedihkan dan bahkan kita akan berakhir di pelaminan? Meskipun ini sangat konyol, tetapi aku tidak akan pernah menyakiti seorang wanita yang sudah mengenaskan sepertimu. Akankah kita bisa menjadi obat penawar bagi luka hati yang sama-sama kita rasakan? Hanya Tuhan yang tahu," gumam Dave di dalam hati.
TBC ...
__ADS_1