Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Tatapan mata penuh curiga


__ADS_3

Aditya terlihat gelisah begitu sang istri bangkit dari kursi, untuk menemui orang kepercayaannya, yang tadi ia suruh untuk menghibur Sabrina saat merasa terluka karena mengetahui kenyataan bahwa istrinya telah mengandung benihnya. Meski masih belum jelas kebenarannya, tapi ia sangat yakin bahwa wanita yang sudah 1 bulan dinikahinya telah mengandung benih yang selama ini ia tabur saat beberapa kali berhubungan intim sebelum kejadian penusukan dari adiknya tersebut.


"Sayang, tunggu!"


"Ada apa, My hubbiy?"


"Nanti saja kamu menemui Dave, aku ingin kamu menemani aku memasak."


Queen mengerutkan keningnya, "Kenapa tingkahmu sangat aneh My hubbiy? Kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Queen yang sudah menatap penuh selidik suaminya yang terlihat sangat mencurigakan.


"Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh My hubbiy? Aku seperti sedang mencium bau-bau pengkhianatan di sini," gumam Queen.


Untuk menghilangkan kecurigaan dari wanita yang sudah menatapnya penuh dengan kecurigaan, Aditya buru-buru menggelengkan kepalanya. "Aneh bagaimana? Aku hanya ingin kamu duduk diam di sini melihatku memasak. Karena aku tidak ingin kamu tiba-tiba pusing dan pingsan. Bisa nggak kamu menuruti perintah dari suami? Ini semua aku lakukan demi kebaikanmu. Lagipula Dave sedang tidak ada."


Queen mengerutkan keningnya, "Tidak ada? Memangnya kelayapan kemana dia?"


"Aku tadi menyuruhnya pergi untuk membeli peralatan mandi untuk Ayah, karena aku lihat sudah hampir habis tadi saat masuk ke kamar mandi," ucap Aditya yang mencoba untuk berbohong pada istrinya yang masih menatapnya dengan tatapan intens penuh kecurigaan.


"Oh ... jadi Dave pergi? Kenapa tidak menyuruh pengawal lain saja?" tanya Queen yang akhirnya memilih untuk kembali mendaratkan tubuhnya di atas kursi kayu usang dengan warna cat yang sudah agak pudar itu. "Lihatlah kursi mengenaskan ini, bahkan aku sedikit takut jika dia tiba-tiba roboh setelah aku duduk di atasnya. Bunyinya pun berdecit seperti ranjang tadi. Kenapa semua furniture di sini terlihat mengenaskan sekali sih, ini fix perlu diganti semua dan rumah ini pun juga harus direnovasi."


"Apa kata orang nanti jika mengetahui kamu adalah menantu dari keluarga Raharja, tapi rumahmu terlihat seperti sudah mau roboh saja. Biar aku yang nanti bicara pada Ayah saat bangun tidur." Queen masih bersungut-sungut seraya mengamati ruangan dapur sempit yang menurutnya sangat jauh dari kata layak. "Bahkan jika aku disuruh memberi nilai, akan aku beri nilai 2 pada rumahmu ini, My hubbiy."


"Astaghfirullah, 2? Bukankah itu sangat keterlaluan Sayang? Bahkan seorang guru pun tidak tega memberi nilai 2 pada muridnya, paling rendah 5 kayaknya. Kenapa istriku terdengar sangat kejam sekali, seperti orang yang tidak punya hati saja. Kamu sangat tidak pantas jika menjadi seorang guru, bisa-bisa nanti muridmu tidak naik kelas semua karena mempunyai seorang guru killer," sahut Aditya seraya geleng-geleng kepala dan bisa dilihatnya sang Ayah berjalan mendekat ke arahnya.


"Kamu sudah masak, Aditya?" tanya Boby yang terlihat masih berwajah kuyu setelah bangun tidur. Ia pun menatap ke arah sang menantu yang duduk di kursi. "Kenapa tidak istirahat di kamar saja Nak? Bukankah kamu sedang tidak enak badan karena kehamilanmu?"

__ADS_1


"Aku tidak bisa tidur Yah, karena itulah aku ingin menemani suamiku masak. Meski aku tidak bisa membantunya karena aku tidak bisa masak, tapi aku berharap bisa memberi semangat pada suamiku," jawab Queen dengan sangat percaya diri.


"Iya, dia pasti tambah lebih semangat saat kamu menunggunya. Kalau begitu Ayah ke depan dulu, kalian lanjutkan saja mengobrolnya." Boby berbalik badan, hendak berjalan keluar dari dapur. Namun, baru beberapa langkah berjalan, suara dari menantunya membuatnya seketika berhenti dan berbalik untuk menatap ke belakang.


"Ayah, tunggu!" Queen bangkit dari kursi setelah sebelumnya memberikan kode pada suaminya untuk membahas tentang masalah rumah.


"Iya Nak, ada apa?"


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada Ayah," jawab Queen dengan ragu-ragu.


"Katakan saja Nak, Ayah akan mendengarkan," sahut Boby Syaputra. Sebenarnya ia tadi sempat mendengar perkataan menantunya yang berkata memberikan nilai 2 pada tempat tinggalnya, tapi ia berdiam diri di balik dinding dan tidak jadi masuk ke dapur untuk mengambil air minum. Baru ketika putra dan menantunya sudah berhenti berbicara, ia mulai menghampiri mereka.


Jauh di dalam hatinya, tentu saja ia merasa sangat sedih ketika menantunya menghina tempat tinggal yang merupakan hasil dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun dan menjadi tempat bersejarah baginya yang menyimpan banyak kenangan. Akan tetapi, melihat menantunya yang memang bukanlah wanita sembarangan dan merupakan seorang konglomerat, membuatnya menyadari bahwa gubuknya memang tidak pantas disebut rumah bagi kalangan elite seperti apa yang tadi dibilang oleh wanita muda di depannya.


Awalnya Queen menelan salivanya, kemudian terlihat meremas tangannya karena merasa sangat tidak enak untuk mengatakan ingin meluluhlantakkan rumah yang ia bilang gubuk derita itu. Akan tetapi, mendadak suaranya tercekat di tenggorokannya karena merasa tidak enak jika dianggap telah menghina hasil jerih payah mertuanya. Alhasil, ia terlihat tergagap saat Ayah mertuanya menatapnya dengan tatapan intens menunggu jawabannya.


Aditya refleks tertawa terbahak-bahak begitu mendengar perkataan dari istrinya yang terdengar sangat tidak masuk akal, saat beralasan lupa. "Sepertinya menantumu tiba-tiba lupa ingatan, Yah. Mungkin tadi istriku kejedot pintu," ejek Aditya dengan tersenyum menyeringai


Boby Syaputra hanya geleng-geleng kepala, "Ayah mengijinkan Nak." Berlalu pergi meninggalkan putra dan menantunya.


Queen mengerutkan keningnya dan menatap ke arah pria yang berada di belakangnya, tentu saja ia merasa bingung dengan perkataan ambigu dari mertuanya. "My hubbiy, apa maksud Ayah? Mengijinkan apa memangnya?"


"Mengijinkan apa pun yang kamu mau tadi, memangnya tadi kamu mau apa?" jawab Aditya yang tanpa mengalihkan perhatiannya pada ikan yang baru saja ia masukkan ke dalam minyak panas.


"Astaga, hati-hati My hubbiy! Awas nanti minyaknya meletup-letup dan terjadi accident. Kamu sedia P3K bukan? Berjaga-jaga jika sampai terkena luka bakar atau terkena minyak panas," tanya Queen yang langsung melupakan perkataan dari mertuanya.

__ADS_1


Aditya menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa di rumahnya tidak ada obat-obatan seperti yang ditanyakan oleh istrinya. "Tenanglah Sayang, aku sudah terbiasa terkena minyak panas. Aku laki-laki yang sangat kuat, bukanlah laki-laki yang lemah. Jadi, jangan berlebihan. Tenanglah."


"Ceroboh sekali sih kamu, My hubbiy! Seharusnya di rumah itu disediakan kotak P3K," hardik Queen yang sudah meraih ponsel miliknya dari saku pakaiannya. Tanpa membuang waktu lama, ia mencari kontak orang kepercayaannya. Beberapa saat kemudian, ia langsung mengeluarkan perintahnya pada Dave yang baru saja mengangkat panggilannya.


"Halo, Assalamualaikum. Dave, tolong belikan obat-obatan untuk isi P3K! Yang paling penting adalah obat untuk luka bakar jika suamiku terkena minyak panas."


"Wa'alaikumsalam, iya Nona. Saya akan membelikannya."


"Baiklah, kalau begitu. Terima kasih."


"Siap Nona."


Queen berniat menutup panggilannya, namun ia mendengar suara dari seorang wanita yang sangat tidak asing di telinganya.


"Sudah aku bilang pergi dari sini, jangan menggangguku!"


Dan di saat yang bersamaan, sambungan telefon langsung terputus. Queen menatap ke arah ponselnya yang sudah mati. Lalu beralih menatap ke arah pria yang terlihat tengah membalik ikan di penggorengan.


"My hubbiy, aku tadi mendengar suara dari Sabrina saat menelfon Dave."


Deg ...


Seketika jantungnya seketika berdetak sangat kencang begitu mendengar perkataan dari wanita yang sudah menatapnya dengan tatapan mata penuh curiga.


"Apakah aku ketahuan? Jika benar begitu, aku benar-benar akan mendapatkan amukan dari nona arogan ini. Ya Allah, lindungilah hambamu ini dari kemurkaan istriku," gumam Aditya.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2