
Mobil Mercedes Benz e-class berwarna hitam yang membawa Aditya dan Queen telah tiba di Mansion mewah keluarga Raharja. Aditya sudah memarkir mobil di garasi yang terletak di sebelah kanan Mansion. Terlihat ada beberapa mobil yang berderet menghiasi garasi sangat luas tersebut. Ia melirik sekilas ke arah sang istri yang baru saja melepas sabuk pengamannya.
"Aku baru menyadari jika garasi ini sangat luas, Sayang. Sepertinya, meskipun kamu berteriak di dalam mobil, tidak akan ada orang yang mendengarnya." Menatap ekspresi wajah dari wanita yang terlihat sangat masam dan tak lupa bibir mengerucut yang sangat ingin diciumnya.
"Dasar suami mesum. Masih berpikir tentang apa yang aku katakan tadi, bukan! Memangnya My hubbiy, mau?" tanya Queen yang memancing jawaban iya agar dirinya tidak perlu repot-repot memintanya nanti malam.
Tentu saja ia merasa malu karena terus-terusan bersikap liar dan sering minta duluan. Semua itu karena suaminya adalah tipe pria yang pendiam yang menurutnya kurang agresif. Sehingga ia selalu merasa tidak sabaran dan lebih suka merayu Aditya agar bersikap agresif setelah ia goda habis-habisan.
Aditya yang membuka pintu mobil, sesaat menoleh ke arah Queen sebelum menapakkan kakinya di lantai. "Aku capek, Sayang. Lagipula aku tadi cuma bercanda saja. Jangan dianggap serius. Ayo, kita turun. Princess pasti sudah menunggu kita."
Queen tersenyum kecut begitu mendengar jawaban yang bernada ejekan dari Aditya. "Awas, saja nanti."
Saat Queen melangkah turun dari mobil dan ingin mengejar Aditya, indera pendengarannya menangkap suara renyah anak kecil yang memanggil-manggil. Begitu ia turun dari mobil, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah sosok gadis kecil yang terlihat berlarian ke arahnya dan dibelakang ada pelayan wanita paruh baya yang menjaganya.
Queen awalnya ingin mencari seorang baby sitter khusus untuk menjaga puyri semata wayangnya. Akan tetapi, dilarang oleh mommy-nya yang ingin menjaga cucu dan ingin melihat sendiri perkembangan Princess. Sehingga ia yang sudah bekerja di rumah sakit Raharja, mempercayakan putrinya pada sosok wanita luar biasa yang menjadikannya wanita hebat seperti sekarang.
"Umi ... Umi."
Queen terlihat sangat berbinar begitu putrinya menghambur memeluknya dan ia refleks berjongkok ke untuk menyamakan posisi dengan putri satu-satunya yang sangat ia sayangi. Tentu saja ia langsung mencium gemas pipi cabi Princess yang menurutnya sangat menggemaskan.
__ADS_1
"My Princess rindu, Umi?" Queen langsung menggendong Princess dan berniat berjalan keluar dari garasi mobil. Ia menatap ke arah pelayannya. "Tumben Princess nggak sama mommy. Memangnya mommy kemana, Bik?"
"Itu, Nona muda, nyonya tadi asyik menjaga nona Princess, tetapi ada telfon dari toko yang mengatakan ada sedikit masalah. Jadi, nyonya besar langsung buru-buru pergi," jawab bik Emi merupakan adik dari alamarhumam bik Imah yang merupakan pelayan paling senior dulu di Mansion. Dan menjadi saksi dari kisah awal mula perjalanan cinta majikannya yang tak lain adalah Abymana dan Qisya.
Aditya yang tidak mau kalah ingin menggendong putrinya, berusaha merebut balita yang terlihat sangat cantik nan menggemaskan itu setelah sebelumnya mengarahkan tangannya kepada Princess.
"Sini, sama Abi, Sayang." Menggendong putrinya dan tentu saja langsung mencium gemas seperti yang tadi dilakukan oleh sang istri.
Queen hanya membiarkan interaksi dari ayah dan anak itu yang sudah terlihat bercanda tawa. Meskipun putrinya masih belum jelas berbicara, karena hanya jelas saat memangggil abi dan umi saja.
"Tolong bawa seblak dan barang belanjaan, Bik. Oh ya ... taruh 2, di meja makan. Sisanya bagikan pada yang lainnya." Queen membawa tas kerjanya dan juga milik sang suami dan berjalan mengekor Aditya yang sudah berjalan keluar dari garasi.
"Baik, Nona muda Queen." Bik Emy menganggukkan kepala dan mulai melaksanakan perintah dari majikannya.
Aditya yang mendengar rengutan dari Queen, refleks langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap sosok wanita sempurna yang tengah berlari-lari kecil dan semakin mendekat.
"Lihatlah, umi marah, Princess."
Princess hanya tertawa saat melihat uminya sudah berhasil mengejar dan berhenti tepat di depannya. "Umi ... Umi." Menepuk-nepuk tangannya seperti tengah melakukan gerakan bertepuk tangan.
__ADS_1
Tangan Queen sudah mencubit gemas pipi putih ayah dan anak di depannya. "Dasar nakal."
"Ayo ... kita cium, umi, Princess." Aditya semakin mendekat dan mencium pipi putih Queen. Begitu juga mengarahkan putrinya untuk semakin mendekati ibunya, agar menciumnya. Dan seperti yang dilakukan olehnya, putrinya pun melakukan hal yang sama. Karena sudah tertawa sambil mencium pipi Queen.
"Bim salabim ... marahnya sudah hilang," ucap Aditya dengan mengedipkan mata pada Queen dan putrinya.
Refleks Queen terkekeh dan kembali mencubit gemas pipi cabi Princess. "My Princess benar-benar cantik dan pintar. Ayo, kita masuk." Mengarahkan tangannya ke arah pinggang kokoh Aditya dan bercanda tawa dengan Princess saat berjalan memasuki pintu utama. Tentu saja ketiganya langsung ke ruangan kamar untuk menikmati momen quality time setelah sibuk seharian dengan pekerjaan.
Rasa lelah di badan dan penat pada pikiran yang dirasakan, seolah langsung musnah begitu melihat sosok malaikat kecil yang sudah melengkapi kebahagiaan keluarga mereka. Queen dan Aditya sama sekali tidak memegang ponsel saat berada di Mansion. Karena fokus menemani putrinya bermain-main.
Apalagi di masa sedang aktif-aktifnya yang tidak bisa diam karena berjalan kesana-kemari. Bahkan dalam hitungan menit, ruangan kamar yang awalnya sangat rapi itu sudah berubah menjadi sangat berantakan karena banyaknya mainan berserakan karena perbuatan Princess.
Queen yang saat ini menjaga putrinya, menyuruh Aditya untuk mandi terlebih dahulu, agar nanti bisa bergantian mengawasi nona muda kecil yang sangat aktif tersebut. Sebuah kebahagiaan tidak terperi dirasakan oleh Queen saat melihat wajah cantik yang terlihat tengah bermain boneka Barbie dengan riang di lantai. Bahkan kini, ia sudah duduk bersila di belakang putrinya dan mengajaknya untuk bermain.
Suara canda tawa yang memenuhi ruangan kamarnya, menandakan bahwa penghuni ruangan pribadi tersebut sangat bahagia dan tidak ada beban sama sekali.
********
Suasana malam hari di Mansion Raharja, terlihat sangat sunyi karena semua penghuninya sudah beranjak ke peraduannya masing-masing untuk memanjakan tubuhnya setelah seharian beraktivitas. Karena cuaca hari ini pun sangat mendukung untuk tidur awal, sebab suara dari rintik hujan yang menimbulkan suara gemericik air, seolah menjadi lagu pengantar tidur bagi semua orang yang ingin segera bergelung di bawah selimut tebal.
__ADS_1
Tentu saja karena hawa malam yang begitu dingin itu sanggup membuat pori-pori kulit meremang karena kedinginan. Namun, situasi berbeda dirasakan oleh pasangan suami istri yang saat ini tengah memadu kasih di dalam mobil yang sudah dipenuhi peluh yang membanjiri tubuh mereka.
TBC ...