
Dengan agak kikuk, Queen mulai berjalan mendekat ke arah ranjang dan bisa dilihatnya tubuh sixpack pria yang sudah berbaring miring ke kiri. Untuk menghilangkan rasa malunya, Queen berpura-pura mengeluarkan ancamannya.
"Taruh guling itu di tengah sebagai pembatas, agar kita tidak melewati batasannya saat tidur nanti!"
"Lucu sekali kata-katamu Queen. Bukankah tadi kita bahkan sudah melewati batasannya? Lalu, buat apa merasa takut? Lebih baik aku buang saja guling ini," ucap Aditya yang sudah meraih guling di sebelahnya dan langsung membuangnya ke bawah.
"Astaga ... apa-apaan sih!" rungut Queen yang berjalan untuk mengambil guling yang teronggok di lantai. "Aku tidak bisa tidur kalau tidak memeluk guling."
Sudut bibir Aditya terangkat ke atas begitu mendengar perkataan dari sang istri yang sudah naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakanginya. Kemudian ia menyangga kepalanya dengan tangannya saat tubuhnya miring ke arah sang istri, hingga bisa dilihatnya lekukan tubuh seksi wanita di depannya.
"Queen, bagaimana perasaanmu saat ini? Maksudku, setelah melakukan berhubungan badan denganku tadi. Apakah kamu bisa melupakan ...."
Karena merasa bersalah menanyakan hal yang daritadi membuatnya penasaran, Aditya tidak meneruskan perkataannya.
Queen yang masih membelakangi posisi suaminya itu masih diam membisu, karena saat ini dirinya tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya mulai menyukai pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Maafkan aku, Queen!" ucap Aditya yang masih terus menatap ke arah sang istri.
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir. Apakah kamu benar-benar ingin sembuh dari kelainanmu itu Aditya?"
"Iya, memangnya kenapa kamu menanyakannya?" tanya Aditya.
"Aku ada kabar baik untukmu."
"Kabar baik apa?"
"Mengenai kelainanmu itu, itu bukanlah sebuah penyakit. Dan bisa sembuh dengan sendirinya saat ada niat yang kuat darimu, serta dukungan dari orang-orang terdekatmu.
"Apakah kamu akan terus berbicara denganku dengan posisi membelakangiku, Queen? Menghadaplah kemari!"
"Untuk apa?" ucap Queen yang merasa gugup.
"Bukan apa-apa. Hanya saja, menurutku itu tidak sopan," jawab Aditya yang masih berusaha merayu wanita yang membelakanginya itu.
Dan seperti yang diharapkannya, yang terjadi adalah, Queen yang awalnya memeluk guling itu, mulai melepaskannya dan menghadap ke arahnya. Tentu saja bisa dilihatnya bagian atas tubuh sang istri yang sangat menggoda saat memakai lingerie seksi. Ia berusaha menormalkan detak jantungnya berdegup sangat kencang.
__ADS_1
Subhanallah ... sungguh luar biasa Engkau menciptakan makhluk di depanku ini.
Hal serupa juga dirasakan oleh Queen, manik kecoklatan miliknya langsung ber-sitatap dengan netra pekat pria yang menurutnya terlihat sangat tampan itu. Apalagi ia bisa dengan jelas melihat otot perut suaminya yang membuatnya langsung merasakan panas di tubuhnya.
Ya ampun ... kenapa Aditya terlihat sangat tampan dan mempesona.
"Apa seperti ini sudah sopan?" tanya Queen.
"Iya, karena berbicara dengan sopan itu harus menghadap lawan bicaranya. Bukan malah membelakangi orang yang diajak bicara," jawab Aditya.
"Baiklah, aku mengerti. Sekarang aku akan melanjutkan perkataanku tadi. Kata sahabatku, kelainanmu ini bukanlah sebuah penyakit, karena itulah saat kamu mempunyai keinginan kuat ingin sembuh, maka besar kemungkinan kamu akan sembuh," ucap Queen yang menatap reaksi dari pria di depannya.
"Syukur Alhamdulillah kalau begitu. Queen, apakah kamu berharap aku sembuh dari kelainanku ini? Sebenarnya aku ...."
Aditya tidak melanjutkan perkataannya, karena Queen memotong pembicaraannya dengan suaranya yang sangat tegas.
"Kamu tidak boleh dekat dengan seorang pria! Karena pengaruh lingkungan sangat berdampak besar untukmu. Jadi, kamu tidak boleh berdekatan dengan seorang pria. Aku akan menyuruh para pengawal untuk mengawasi segala gerak-gerikmu saat bekerja di Perusahaan Raharja," ancam Queen yang menatap tajam ke arah pria yang juga tengah menatapnya.
"Berarti aku tidak boleh dekat dengan seorang pria saat bekerja? Kalau wanita bagaimana?" tanya Aditya dengan wajahnya yang terlihat berbinar.
Queen mencoba berpikir saat mendapatkan pertanyaan mengenai wanita dari Aditya. "Apakah kamu berharap bisa berdekatan dengan para wanita yang ada di Raharja Group? Tenang saja, karena para wanita itu tidak akan pernah berani memandangmu. Karena mereka akan dipecat jika sampai melakukan itu."
"Apakah itu peraturan di Perusahaan Raharja Group?"
"Iya, karena Kakak ipar yang menyuruh Brother membuat peraturan itu. Kakak ipar sangat mencintai Brother dan terlalu posesif, karena umur Kakak ipar yang lebih tua dari Brother, membuatnya merasa takut jika suami berondongnya itu tergoda dengan wanita yang lebih muda."
"Lucu sekali bukan? Cinta bisa membuat orang bersikap berlebihan, padahal Brother selama ini sangat setia pada Kakak ipar. Akan tetapi, Kakak ipar selalu saja merasa khawatir," ucap Queen seraya terkekeh.
"Siapa tahu nanti kamu juga akan begitu saat jatuh cinta, Queen! Apakah jika aku sembuh nanti, kita bisa saling jatuh cinta?" tanya Aditya dengan tatapan penuh sarat makna.
Queen merasa sangat kebingungan saat mendapatkan pertanyaan menohok yang membuatnya merasa malu. "Entahlah, aku tidak tahu. Sudah malam, aku mengantuk. Jangan menggangguku!"
"Baiklah, tidurlah Queen. Aku tidak akan mengganggumu! Oh ya, tadi kamu bilang tidak bisa tidur jika tidak memeluk guling bukan?"
"Iya, emangnya kenapa?" tanya Queen yang merasa sangat penasaran.
__ADS_1
"Anggap saja aku guling, jadi kamu bisa memelukku. Bukan apa-apa, aku ingin mencoba berdekatan dengan seorang wanita. Siapa tahu aku bisa kembali menjadi normal. Bukankah dukungan dari keluarga sangat disarankan oleh temanmu tadi? Dan kamu adalah keluargaku sekarang ini, karena hanya kamu yang mengetahui rahasiaku ini."
Queen seketika membulatkan kedua matanya begitu mendengar perkataan dari Aditya. Karena dirinya sekuat tenaga menahan diri agar tidak berbuat gila pada suaminya yang terlihat sangat tampan itu. Namun, permintaan dari pria itu malah membuatnya akan semakin dekat dan besar kemungkinan ia akan khilaf, karena dirinya sangat menikmati perbuatan Aditya tadi.
"Nggak ... nggak ... nggak, aku ingin memeluk gulingku saja. Aku tidak bisa menuruti keinginan gilamu itu."
"Baiklah, aku tidak akan pernah memaksamu. Tidurlah!" ucap Aditya yang sudah mulai memejamkan kedua matanya.
Sedangkan Queen yang sudah membelakangi Aditya, terlihat memeluk gulingnya. Ia mulai memejamkan kedua matanya dan berharap agar segera menuju ke alam mimpi. Namun, itu semua hanyalah angannya semata. Karena selama satu jam ia memejamkan matanya, tetap saja ia masih terjaga.
Astaga ... kenapa aku tidak bisa tidur. Apa karena ini pertama kalinya aku tidur di samping seorang laki-laki?
Queen mulai menghadap ke arah pria yang terlihat sudah tertidur pulas dengan posisi telentang itu. Untuk memastikan apakah pria itu sudah tidur apa belum, ia mulai mengeluarkan suaranya.
"Aditya, apakah kamu sudah tidur? Halo!"
Tidak berhenti sampai di situ saja, Queen mulai menggerakkan tangannya di depan wajah Aditya. Merasa pria itu tidak bergerak, membuatnya merasa sangat yakin bahwa pria itu sudah tertidur.
"Ternyata dia sudah tertidur, mungkin dia sangat lelah. Kenapa dia sangat tampan? Sepertinya mataku ini sekarang jadi bermasalah. Apakah aku harus memeriksakan mataku? Aaah ... sudahlah, aku pusing jika memikirkan tentang semua ini."
Queen menggeser tubuhnya dan mendekatkan tubuhnya agar berada dekat dengan Aditya. Kemudian tangannya mulai melingkar di perut sixpack pria yang tertidur pulas itu.
"Aku tidak bisa tidur, siapa tahu dengan memelukmu, aku jadi bisa tidur. Jadi, aku akan menuruti permintaanmu tadi yang menyuruhku untuk memelukmu."
Setelah memeluk tubuh kekar polos Aditya, Queen mulai memejamkan kedua matanya. Merasa sangat nyaman dengan tidur memeluk pria yang tertidur pulas itu, lama-kelamaan ia pun mulai terbuai ke alam mimpi.
Suara nafas teratur dari Queen bisa didengar dengan jelas oleh Aditya yang baru saja membuka kedua matanya. Sudut bibirnya terangkat ke atas saat melihat wanita cantik itu memeluknya.
"Apakah tadi kamu merasa sangat malu, hingga kamu tidak mau memelukku? Namun, begitu aku berpura-pura tertidur, kamu langsung memelukku. Sepertinya sang nona muda arogan malu-malu kucing dan tidak mau mengakui perasaannya."
"Baiklah, aku akan mengikuti permainanmu nona muda. Aku akan menunggu sampai kamu mau mengakui bahwa kamu mulai mencintaiku."
Aditya memeluk erat tubuh istrinya dan mulai memejamkan kedua matanya, berharap bisa mimpi indah bersama dengan sang istri tercinta.
TBC ...
__ADS_1