Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Akad nikah


__ADS_3

Rombongan keluarga Raharja baru saja tiba di rumah sakit, dan saat ini mereka baru saja turun dari mobil mewah yang jumlahnya ada enam mobil. Tiga mobil diisi oleh keluarga Raharja, dan tiga mobil adalah para pengawal yang menjaga mereka.


Salah satu mobil pengantin yang sudah dihiasi pita dan bunga itu terlihat sangat indah dipandang mata, dan terlihat Queen melangkah turun dari mobil dengan agak kesusahan karena memakai kebaya pengantin.


Sedangkan Aditya yang sudah turun terlebih dahulu dan melihat Queen yang agak kesusahan turun, refleks langsung mengulurkan tangannya untuk membantu wanita yang akan dinikahinya tersebut, "Maafkan aku Queen, tapi aku ingin membantumu!"


Queen hanya menatap jengah ke arah pria yang menurutnya terlalu sok baik itu, hingga meminta maaf terlebih dahulu sebelum berniat membantunya, "Iya ... iya, aku tahu kalau kita belum muhrim dan tidak boleh berpegangan tangan. Tidak perlu membantuku, karena aku bisa sendiri!"


Aditya akhirnya menurunkan tangannya yang daritadi mengambang di udara, "Syukurlah kalau begitu, aku tidak akan merasa bersalah karena tidak membantu calon istriku."


Queen hanya menatap jengah ke arah pria yang terlihat sangat datar dan bukanlah tipe laki-laki yang romantis seperti harapan semua wanita, "Minggirlah, jangan menghalangi jalanku! Aku ingin berjalan menemui Mommy dan Daddy."


Aditya langsung mengarahkan tangannya untuk mempersilahkan Queen berjalan perlahan meninggalkannya untuk menemui keluarganya yang terlihat sedang berbicara serius, "Sebenarnya mereka sedang membicarakan apa? Itu Tuan Abymana datang kemari, padahal Queen baru saja menghampiri mereka."


"Ada apa Tuan Abymana? Apa ada yang terlupa?"


Abymana menatap ke arah menantunya dan mulai mengeluarkan suaranya, "Seharusnya kita latihan dulu tadi! Apakah nanti aku grogi atau tidak saat menikahkan kalian. Bahkan dulu aku sama sekali tidak merasa gugup saat menikahi mamanya Queen, tapi kenapa saat akan menikahkan putri sendiri malah aku gugup seperti ini?"


Aditya yang terlihat sangat tenang itu, menatap ke arah pria yang tak lain adalah calon papa mertuanya itu. Lalu dirinya mulai mengungkapkan pendapatnya. Bukan berniat untuk menasehati orang yang lebih tua darinya, namun dirinya hanya berniat memberikan sebuah ketenangan batin untuk sang mertuanya.


"Tenang saja Pa, insya Allah semuanya akan berjalan dengan lancar hari ini. Asalkan Anda sudah tahu bahwa mahar perkawinan saya adalah surat Ar Rahman dan juga emas seberat 10 gram dan uang tunai Rp.12.300.210 yang saya ambil dari tanggal pernikahan kami hari ini."


"Meskipun itu tidak seberapa besarnya dibandingkan dengan kekayaan dari keluarga Raharja, tapi itu benar-benar menunjukkan ketulusan saya pada Queen."


Abymana terlihat menyunggingkan senyumnya, tangannya menepuk bahu kokoh pria yang menurutnya sangat luar biasa itu. "Papa sangat mengagumimu Aditya, dan putriku sangat beruntung bisa mendapatkan calon suami sepertimu. Apalagi kamu nanti mempersembahkan mahar perkawinan berupa surat Ar Rahman, Papa sangat mengagumimu."


"Baiklah, sekarang kita masuk ke dalam! Agar orang-orang tidak ada yang melihat kita semua, makanya kita lewat lorong belakang dan lift khusus yang sengaja dibangun untuk kondisi darurat seperti ini! Ayo, semuanya sudah masuk lebih dulu tadi! Karena Queen sangat berisik dan daritadi mengeluh kakinya sakit karena memakai sepatu hak tinggi."


Aditya menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan di sebelah mertuanya tersebut, "Jika saya sudah sah menjadi suami Queen, mungkin saya akan menggendong putri Papa, agar dia tidak merasa capek saat berjalan memakai sepatu hak tinggi itu. Akan tetapi, karena sekarang kami belum muhrim, jadi saya tidak mungkin akan melakukannya."


Abymana yang sudah sampai di depan lift khusus, mulai memencet tombol di depannya. Dan begitu pintu terbuka, ia berjalan masuk ke dalam bersama dengan sang calon menantu, "Kamu memang benar-benar pria impian bagi semua wanita, Aditya. Kalau begitu kamu bisa melakukannya nanti saat kalian sudah sah menjadi suami istri."


Sementara itu di luar rumah sakit, terlihat dua pria yang merupakan suruhan dari Reynaldi tengah mengepalkan tangannya dan mengacak frustasi rambutnya.


"Brengsek, kita gagal melakukan perintah dari bos karena terlalu banyak pengawal yang berada di sekitar pria itu. Kenapa mereka membawa banyak pengawal? Bisa-bisa kita nanti tidak mendapatkan bayaran dari bos Reynaldi," ucap Bejo.

__ADS_1


Yanto pun menyahuti perkataan dari rekannya itu, "Iya, mau bagaimana lagi! Tidak mungkin kita mampu melawan banyaknya pengawal pribadi keluarga Raharja bukan? Itu sama saja kita menyerahkan diri untuk mati."


Sementara itu di lift yang membawa Aditya dan calon mertuanya, denting suara lift yang akan terbuka mulai terdengar. Dan saat pintu lift terbuka, keduanya pun mulai berjalan keluar. Abymana berjalan memimpin, sedangkan Aditya mengekor di belakangnya menuju ke ruangan perawatan sang Ayah.


Tentu saja di ruangan perawatan itu sudah ada beberapa orang yang terlebih dahulu tiba, dan sedang berbincang dengan sang ayah. Aditya pun berjalan mendekati sang ayah yang terlihat duduk di punggung ranjang perawatan, lalu mencium punggung tangan pria yang paling penting untuknya.


"Bagaimana keadaan Ayah hari ini? Apakah kaki Ayah masih terasa sakit?"


Bobby Syaputra mengarahkan tangannya untuk menepuk lengan kekar putranya, "Tentu saja Ayah baik putraku, apalagi melihatmu akan menikah. Akhirnya kamu mengakhiri masa lajangmu dan akan menjadi seorang imam bagi putri dari keturunan keluarga Raharja. Semoga semuanya berjalan lancar putraku."


Aditya menganggukkan kepalanya, "Aamiin ya rabbal alamin. Semoga aku bisa menjadi sosok suami yang baik untuk istriku Yah, doakan kami agar menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah."


"Tentu saja putraku, Ayah akan mendoakanmu setiap hari. Apakah kamu tidak merasa deg-degan sebelum Ijab Qabul?"


Aditya menggelengkan kepalanya, "Alhamdulillah sama sekali tidak Yah, insya Allah aku akan berusaha tenang. Agar bisa mengucapkan akad nikah nanti dengan lancar."


Boby Syaputra mengarahkan ibu jari ke arah putranya, karena merasa sangat bangga pada satu-satunya putranya yang sangat disayanginya. "Bagus putraku, Ayah sangat bangga padamu."


Sang penghulu yang sudah berada di ruangan tersebut mulai membuka suaranya, "Apakah semuanya sudah siap dan bisa kita mulai sekarang Tuan Abymana?"


Abymana mengarahkan tatapannya ke arah putri dan calon menantunya, merasa semua sudah menganggukkan kepalanya tanda sudah siap, membuat Abymana langsung menjawab pertanyaan dari pak penghulu, "Sepertinya semuanya sudah siap Pak, jadi kita bisa memulai acara akad nikahnya. Lagipula semua saksi sudah datang daritadi, dan calon mempelai pun sudah siap."


Sontak semua orang langsung serentak menjawab salam dari sang penghulu, "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokaatuh."


"Alhamdulillah kita bisa berkumpul di sini untuk melakukan ritual Ijab Qabul dari saudara Aditya Syaputra dan Nona muda Queen Aqila Wijaya Raharja. Karena tadi disebutkan bahwa salah satu mahar perkawinan dari Tuan Aditya adalah surat Ar Rahman ayat 1 sampai 78 yang membutuhkan waktu, jadi saya persilahkan untuk Tuan Aditya memulai hafalannya."


Aditya langsung menganggukkan kepalanya, lalu mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an setelah sebelumnya mengucapkan kalimat pembuka, yaitu basmalah.


Semua orang mulai mendengarkan suara dari Aditya yang merdu dan berhasil membuat semua orang merinding mendengarkan ayat demi ayat dari surat Ar Rahman tersebut. Bahkan Qisya meneteskan air mata saat mendengarkan calon menantunya itu mempersembahkan mahar perkawinan berupa ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Subhanallah ... terima kasih ya Allah, karena Engkau telah mengirimkan Aditya untuk putriku. Queen sangat beruntung mempunyai seorang suami yang sangat luar biasa seperti Aditya, yang ahli ibadah dan pandai dalam membaca Al Qur'an. Semoga putriku bisa berubah menjadi seorang wanita yang lebih baik dan juga menjadi istri yang shalihah, aamiin ya rabbal alamin.


Sedangkan Queen yang saat ini tengah duduk di sebelah sang Daddy, ikut merasakan perasaan yang aneh pada hatinya. Dirinya bahkan sama sekali tidak tahu bahwa Aditya akan memberikan mahar perkawinan berupa hafalan surat Ar Rahman. Selama dirinya mendengar suara merdu dari Aditya, Queen memegangi dadanya.


Apa ini? Kenapa rasanya jantungku berdetak sangat kencang seperti ini mendengar Aditya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an? Bahkan saat ini tubuhku langsung meremang begitu mendengar suaranya yang ternyata sangat merdu. Sebenarnya apa maksudmu Aditya? Ini hanyalah sebuah pernikahan sandiwara, kenapa kamu memberikan mahar perkawinan berupa hafalan surat Ar Rahman? Apakah kamu ingin membuat orang tuaku terkesan padamu? Dan kamu berhasil, bahkan Mommy terlihat terisak karenamu.

__ADS_1


Setelah lima belas menit berlalu, Aditya telah menyelesaikan hafalannya. Dan semua orang yang berada di ruangan tersebut mengucapkan kalimat bernada kekaguman dan rasa syukurnya.


"Subhanallah, Alhamdulillah."


Sang penghulu mulai membuka suaranya, "Subhanallah, sungguh luar biasa Tuan Aditya. Dan Nona Queen sangat beruntung mempunyai calon suami seperti Anda. Apakah sekarang Anda sudah siap untuk mengucapkan akad nikah?"


Dengan sangat yakin tanpa keraguan sedikit pun, Aditya menjawab pertanyaan dari pria yang berusia sekitar 48 tahun itu. "Insya Allah saya sudah siap Pak."


Sang penghulu beralih menatap ke arah pria yang merupakan orang paling tersohor di kotanya, "Bagaimana dengan Anda Tuan Abymana? Apakah Anda sudah siap untuk menjadi wali nikah untuk putri Anda? Kenapa kelihatannya Anda seperti sedang gugup?"


"Iya Pak, kenapa di sini malah saya yang merasa sangat gugup saat akan menikahkan putri saya sendiri? Berbeda dengan calon menantu saya yang malah terlihat sangat tenang," jawab Abymana dengan tatapan mata tak beralih menatap ke arah Aditya.


Pak penghulu hanya tersenyum menanggapi perkataan dari pria yang sangat dihormatinya tersebut, "Gugup merupakan hal yang sangat biasa bagi calon pengantin maupun Ayah dari calon pengantin wanita dalam menghadapi momen akad nikah. Dikhawatirkan nanti lupa teks atau tidak lancar dalam mengucapkan kalimat sakral tersebut. Karena Anda dan calon pengantin pria adalah orang yang akan mengucapkan kalimat Ijab Qabul."


"Akan tetapi, saya akan mengarahkan Tuan Abymana untuk mengucapkan akad Ijab. Anda ambil nafas teratur sebelum mengikuti saya. Bismillahirrahmanirrahim ...."


Abymana mulai mengikuti perkataan dari pria yang mulai membantunya untuk menormalkan rasa gugupnya, "Bismillahirrahmanirrahim ...."


Sang penghulu dan Abymana mulai beberapa kali mengucapkan kalimat akad Ijab sebelum mengucapkannya dengan sang pengantin pria. Dan setelah dirasanya tidak gugup lagi, Abymana mulai menyatakan bahwa dirinya sudah sangat siap untuk menjadi wali nikah putrinya.


"Baiklah, saya sudah siap Pak."


"Alhamdulillah, kalau begitu kita mulai sekarang Tuan Abymana dan Tuan Aditya. Dan untuk para saksi saya mohon dengarkan dengan seksama, untuk menegaskan apakah akad Ijab Qabul ini sah atau tidak!"


Dan saksi dari pihak Aditya yang tak lain adalah Bobby Syaputra dan adik laki-lakinya, sedangkan saksi dari pihak Queen adalah Affandi dan juga Arthur yang merupakan kakak laki-laki dari sang pengantin wanita. Lalu semuanya langsung mengangguk tanda mengerti.


Aditya yang sudah duduk berhadapan dengan calon mertuanya itu langsung menyambut uluran tangan dari wali nikahnya dan menjabat tangan itu dengan sangat kuat. Tentu saja ia kini sedang berkosentrasi penuh untuk mengucapkan kalimat sakral yang akan mengubah seluruh kehidupannya.


Abymana mulai mengeluarkan suaranya yang tegas setelah calon menantunya itu menjabat tangannya, "Bismillahirrahmanirrahim. Wahai saudara Aditya Syaputra bin Bobby Syaputra, saya nikahkan dan kawinkan Queen Wijaya Raharja, putri saya, binti Abymana Wijaya Raharja kepadamu dengan mas kawin berupa surat Ar Rahman dan emas seberat 10 gram, serta uang Rp. 12.300.210 dibayar tunai."


Tanpa membuang waktu, Aditya langsung menyambung kalimat akad Ijab itu dengan suaranya yang sangat lantang, "Saya terima nikah dan kawinnya Queen Aqila Wijaya Raharja binti Abymana Wijaya Raharja dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


Begitu sang pengantin pria menyelesaikan ucapannya, pak penghulu langsung mengeluarkan suaranya. "Bagaimana para saksi? Sah?"


Sontak empat orang saksi langsung menjawab pertanyaan dari pak penghulu tersebut, "Saaaaaaaahhh ...."

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap semua orang yang berada di ruangan tersebut.


Bersambung ...


__ADS_2