
🍃Dua tahun kemudian🍃
Di rumah sakit Raharja, terlihat sosok wanita muslimah yang terlihat sangat cantik dengan jas dokternya yang berwarna putih tengah sibuk memeriksa pasien di ruangan prakteknya. Tentu saja ada beberapa perawat yang membantunya. Wanita yang tak lain adalah Queen, sudah sibuk dengan rutinitas sehari-harinya di rumah sakit.
Tentu saja ia kembali menjadi dokter spesialis tulang terbaik yang sering disebut dengan Podriatis. Karena sifatnya yang selalu humble pada pasiennya, membuat ia semakin dicintai oleh para pasien. Apalagi saat pasien yang ditangani adalah seorang anak kecil, ia pasti akan dengan sangat sabar dan selalu mengajaknya untuk bercanda tawa agar tidak membuat pasien merasa tegang dan takut.
Beberapa jam kemudian, semua pasien hari ini sudah berhasil ia tangani. Queen meregangkan otot-ototnya yang kaku dengan cara menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan saat bangkit dari kursi. Kemudian melirik jam tangan kesayangannya yang merupakan hadiah ulang tahunnya dari sang suami tercinta.
Jam tangan Chopard 201-Carat Watch menjadi salah satu jam termahal di dunia, karena memang jam tangan itu memiliki 3 berlian merah muda 15 karat, berlian biru 12 karat, berlian putih 11 karat dan 163 karat berlian putih dan kuning. Jika semuanya dijumlahkan, maka hasilnya adalah berlian 201karat pada sebuah jam tangan dan dibanderol sekitar 400 miliar.
Sebenarnya dari dulu, Queen sangat tidak menyukai sebuah perhiasan. Akan tetapi, saat sang suami memberikannya hadiah itu, ia pun langsung berubah selera dan sangat menyukai pemberian dari pria yang sudah 3 tahun menikahinya. Apalagi semakin lama, sang suami selalu bersikap romantis dan memberikannya hadiah luar biasa di hari pentingnya. Saat ia ulang tahun dan juga ketika ulang tahun pernikahan mereka yang selalu istimewa saat surprise dilakukan oleh pria tampan yang sangat dipujanya.
Queen melirik ke arah Reyna yang masih setia menjadi orang kepercayaan dan selalu membantunya. "Apa masih belum selesai, Reyna."
Reyna yang baru selesai merapikan dokumen data-data dari pasien, mengangkat pandangannya ke arah atasannya. "Sudah, Dokter Queen. Apakah Anda mau pulang sekarang? Atau ingin memakan sesuatu sambil menunggu jemputan tuan muda?"
Queen menggelengkan kepala dan bangkit dari kursi, "Hari ini aku ingin sekali makan seblak pedas. Akan tetapi, aku ingin suamiku yang membelikannya saat dalam perjalanan kembali ke Mansion. Sekalian aku mau membeli kebutuhan Princess yang sudah menipis. Oh ya, kamu kapan nikah? Masih belum punya calon? Apa perlu aku carikan untukmu?"
Reyna hanya terkekeh dan bersikap malu-malu. "Tidak perlu, Dokter Queen. Saya masih menunggu calon suami saya yang masih bertugas di Papua. Rencananya setengah tahun lagi kembali."
Queen manggut-manggut dan mulai berkomentar, "LDR judulnya. Sayang sekali, kalian tidak bisa sering bertemu untuk melepas rindu. Yang penting kalian saling setia, sepertinya itu kunci utama hubungan kalian akan menjadi langgeng. Aku doakan, semoga kalian bisa melangkah ke jenjang pernikahan."
__ADS_1
"Aamiin ya rabbal alamin. Terima kasih, Dokter Queen. Semoga saya bisa mengikuti jejak Anda, menjadi pasangan romantis yang jarang diterpa gosip dan selalu romantis meskipun sudah lama mengarungi biduk rumah tangga," ucap Reyna dengan wajah penuh pengharapan.
Saat Queen ingin menjawab perkataan dari Reyna, suara dering ponsel miliknya berbunyi dan ia pun buru-buru meraih ponselnya karena berpikir sang suami yang menelfon. Akan tetapi, ia terlihat mengerutkan kening saat melihat nomor pengawal pribadinya.
"Halo, Pras. Ada apa?"
"Ada yang perlu Anda ketahui, Nona muda."
"Katakan saja."
"Tuan Reynaldi hari ini bebas dari penjara."
"Baik, Nona muda. Saya mengerti. Kalau begitu, saya akan langsung menghubungi orang untuk mengikutinya."
"Baiklah."
Queen langsung mematikan sambungan telepon dan melihat notifikasi yang baru masuk ke dalam ponselnya. Sebuah foto dari sosok pria dengan rambut agak sedikit panjang dan wajah yang terlihat ditumbuhi bulu-bulu halus di area sekitar bibirnya saat baru saja keluar dari penjara.
"Tidak terasa sudah 3 tahun semenjak kejadian mengerikan itu. Semoga saja Reynaldi tidak macam-macam lagi dan sudah insyaf. Jika tidak, aku benar-benar akan menghancurkannya hingga menjadi serpihan debu. Nasib baik, My hubbiy menuruti perintahku dan tidak datang ke penjara untuk mengunjungi Reynaldi."
Queen menoleh ke arah Reyna dan baru menyadari bahwa nama dari adik iparnya dan asistennya itu mempunyai kemiripan. "Reyna, aku baru menyadari bahwa namamu sangat mirip dengan adik iparku. Jika dia adalah pria yang baik, mungkin aku sudah menjodohkanmu dengannya. Akan tetapi, sayangnya dia adalah pria yang berengsek. Biarkan saja dia mendapatkan wanita yang berengsek juga."
__ADS_1
"Iya, Dokter Queen. Lagipula saya sudah punya calon suami. Jadi, tidak perlu menjodohkan saya," jawab Reyna dengan tersenyum tipis.
"Syukurlah, aku pun tidak mungkin menjodohkanmu dengan dia. Biar dia cari sendiri saja. Aku pulang dulu, sepertinya suamiku sudah menunggu di bawah." Queen menunjukkan ponselnya yang menampilkan ada 1 notifikasi masuk dengan daftar kontak My hubbiy.
Reyna menganggukkan kepala dan membungkuk hormat, "Iya, Dokter Queen. Hati-hati di jalan."
Queen membawa tas jinjing miliknya dan tak lupa menyunggingkan senyumnya sebelum meninggalkan ruangannya dan buru-buru berjalan ke arah lift yang akan membawanya ke lantai dasar menemui sang suami.
********
Sosok pria dengan tubuh tinggi tegap, baru saja keluar dari pintu besi berwarna hitam dan ia mengambil napas teratur untuk menghirup udara segar di luar penjara yang sudah lama tidak ia rasakan. Puas menikmatinya, sosok pria yang tidak lain adalah Reynaldi itu menatap ke arah keluarganya yang dari tadi sudah menunggunya.
Selama di dalam penjara, ia sama sekali tidak pernah merasakan yang namanya kesusahan karena setiap bulan mendapatkan jatah dari saudara tirinya. Meskipun tidak pernah datang menjenguk, tetapi ia selalu rutin mendapatkan uang. Meskipun itu hanya untuk kebutuhan makanannya. Karena keluarganya mengalami kerugian yang cukup besar dan hampir membuat perusahaan gulung tikar. Sehingga keluarganya tidak bisa menjamin kebutuhannya selama di dalam penjara.
Hingga saat ia pertama kali menerima uang dari orang suruhan Aditya, ada sedikit rasa haru yang dirasakannya. Apalagi membaca surat dari saudara tirinya yang selalu menasehatinya untuk menjadi orang baik dan membuka lembaran baru setelah keluar dari penjara nanti.
Reynaldi menatap wajah ibunya yang yang sudah berjalan ke arahnya. "Aku lapar, Ma. Kita pergi ke restoran favorit keluarga kita."
"Baiklah, kita pergi ke sana sekarang, Putraku," jawab mama Reynaldi yang sudah menepuk bahu kokoh putra kesayangannya.
TBC ...
__ADS_1