Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Harus berhati-hati


__ADS_3

Aditya dan rekan bisnisnya yang bernama Wahyu Iskandar sudah menyelesaikan ritual makan siangnya dan beberapa saat kemudian sudah bangkit dari kursi masing-masing dengan saling berjabat tangan. Menandakan bahwa mereka akan segera berpisah.


"Terima kasih atas jamuan makan siangnya, Tuan Wahyu. Karena sebentar lagi sudah masuk jam kerja, saya harus segera kembali ke perusahaan. Semoga perjalanan Anda berjalan lancar saat mengantarkan istri berobat ke Singapura dan juga penyakitnya segera diangkat oleh Allah SWT," ucap Aditya dengan penuh ketulusan.


Wahyu yang merasa terharu mendengar doa yang benar-benar tulus dari Aditya, tentu saja membuatnya tidak berhenti mengucap syukur. "Alhamdulillah, terima kasih atas doanya, Tuan Aditya. Saya sudah mendengar banyak tentang Anda bahwa menantu dari keluarga Raharja adalah seorang pria yang sholeh dan ahli agama. Karena itulah dalam setiap acara, selalu Anda yang membacakan lantunan doa."


Aditya menepuk ringan lengan kekar di depannya, "Sebenarnya itu kabar burung yang terlalu berlebihan. Oh ya, lusa adalah acara syukuran sekaligus aqiqah untuk putri kami yang baru saja lahir ke dunia. Jika Anda belum berangkat, bisa mampir untuk ikut mendoakan putri kami."


Wahyu mengerutkan kening, "Lusa? Sayang sekali itu adalah jadwal keberangkatan kami, tetapi sore hari. Mungkin jika acaranya di pagi hari, saya sekeluarga bisa datang sebentar untuk ikut melihat putri emas dari nona muda Queen yang sangat terkenal itu dan Anda yang sangat beruntung bisa mempersunting ratu dari keluarga Raharja."


"Terima kasih atas pujiannya, Tuan Wahyu. Saya sekeluarga sangat berterima kasih jika Anda mau datang."


Sementara itu, Ririn yang dari tadi merasa sangat kesal karena sama sekali tidak diperdulikan oleh 2 pria di depannya, benar-benar ingin segera pergi dari ruangan tersebut dan tentu saja untuk memulai rencananya yang ingin pingsan, agar bisa berada di mobil yang sama dengan Aditya.


"Astaga, lama amat sih ngobrolnya. Para pria bersuami ini sama-sama saling membanggakan istrinya masing-masing. Memangnya cuma istri mereka, wanita yang paling baik dan terlihat sempurna. Menyebalkan sekali. Jika semua suami seperti mereka, para pelakor tidak akan laku," batin Ririn yang masih berdiri agak jauh dari 2 pria yang seolah tidak ingin mengakhiri pembicaraan mereka.


Aditya melepaskan tangannya yang dari tadi menjabat erat Wahyu. "Baiklah, Tuan Wahyu. Saya pamit dahulu untuk kembali ke kantor."


Wahyu menganggukkan kepala dan tersenyum tipis, "Hati-hati di jalan, Tuan Aditya."


"Terima kasih." Aditya melirik sekilas ke arah Ririn agar juga memohon pamit sebelum pergi. Sejujurnya ia tidak ingin menatap wanita yang bukan muhrimnya, tetapi karena merupakan seorang atasan, membuatnya terpaksa harus melakukannya.


Ririn yang mengerti arti kode dari Aditya, refleks mengangguk dan membungkuk hormat. "Terima kasih, Tuan Wahyu atas jamuan makan siang dan menerima kerja sama ini. Saya pamit undur diri."


Akhirnya Wahyu menatap intens wanita yang dari tadi sama sekali tidak diperdulikan olehnya dan Aditya mulai dari ujung kaki hingga kepala. Pakaian yang tertutup itu, membuatnya menyunggingkan senyuman. "Iya, sama-sama. Oh ya, kamu sudah mempunyai anak berapa? Sepertinya kamu seumuran dengan istriku."


Ririn hanya tersenyum kecut saat mendapat pertanyaan yang ia rasakan sebuah ejekan karena ada yang berpikir bahwa dirinya sudah memiliki seorang anak. "Maaf, Tuan Wahyu. Saya belum menikah."


Wahyu yang agak sedikit terkejut dengan jawaban dari wanita di depannya, refleks menggaruk tengkuknya. "Oh ... maaf kalau begitu. Karena setahuku, penampilan wanita yang belum menikah tidak seperti ini. Biasanya terlihat sangat seksi dengan rok mini. Sedangkan kamu, maaf ... penampilan kamu seperti ibu-ibu yang sudah laku. Penampilanmu terlihat sangat sopan. Aku doakan agar kamu segera mendapatkan pasangan."


"Terima kasih, Tuan Wahyu." Ririn kembali membungkukkan badan seraya bergumam di dalam hati. "Doa anda akan segera terkabul karena sebentar lagi, aku akan menemukan pasanganku. Yaitu, pria yang ada di samping anda."


Aditya pun berjalan keluar dari private room tersebut dan mulai menyunggingkan senyumnya saat hendak meninggalkan Wahyu. Kemudian ia melangkah dengan kaki panjangnya di depan. Tentu saja ia sengaja berada di depan karena tidak ingin sampai matanya melihat sosok Ririn.


Sementara itu, Ririn yang dari tadi mengekor Aditya di belakang, bisa melihat punggung lebar dari pria tampan incarannya. Bahkan ia agak sedikit berlari kecil agar bisa mengejar langkah kaki panjang dari pria di depannya tersebut.


"Astaga, cepat sekali sih dia. Tuan muda Aditya seperti mau menghindariku karena berjalan terburu-buru seperti itu. Rasanya aku seperti sebuah kuman saja. Sepertinya aku harus melancarkan rencanaku sekarang," gumam Ririn dengan tangan mengepal.


Keduanya sudah berada di depan loby hotel. Tanpa berbalik badan untuk melihat wanita di depannya, Aditya mengeluarkan suara baritonnya. "Kamu segera naik taksi dan kembali ke kantor."


Ririn bersiap untuk melancarkan rencananya, yaitu berpura-pura pingsan. "Tuan muda Aditya ...." Memijat pelipisnya dan bersiap untuk menjatuhkan dirinya saat Aditya berbalik badan untuk menatapnya.

__ADS_1


"Iya, ada apa?" Aditya masih mengamati suasana di luar hotel.


Ririn lagi-lagi merasa sangat kesal karena masih tidak berhasil membuat pria di depannya berbalik menatapnya. Sehingga ia yang tidak punya pilihan lain, membuatnya langsung beraksi. "Tidak ada pilihan lain, karena dia tetap saja tidak berbalik untuk menatapku," batin Ririn di dalam hati.


"Saya ...." Ririn jatuh terhuyung ke arah kanan dan tubuhnya agak terasa sakit saat terhempas di lantai.


Aditya yang tidak mendengar lagi suara dari Ririn, sedikit menoleh ke arah belakang dan membulatkan matanya begitu melihat tubuh Ririn sudah terbaring di lantai dingin itu.


"Astaghfirullah, ada apa dengannya."


Dengan wajah panik, Aditya dan beberapa orang yang melintas di loby melihat ke arah Ririn. Tentu saja beberapa orang sudah berkerumun untuk memeriksa keadaan dari wanita yang tergolek di lantai.


"Maaf, Tuan. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya salah satu staf pria berseragam yang merupakan pegawai hotel.


"Saya pun tidak tahu, tolong para wanita untuk memeriksa karyawati saya ini," ucap Aditya yang masih menatap ke arah Ririn. "Tolong hanya wanita yang memeriksanya, ya. Karena laki-laki tidak boleh menyentuh wanita yang bukan muhrimnya," ucap Aditya dengan tegas.


Semua orang refleks menatap ke arah Aditya yang sudah mengarahkan tatapan tegasnya dan langsung menganggukkan kepala. Kemudian salah satu resepsionis memeriksa keadaan dari Ririn dan mengusapkan minyak kayu putih di sekitar hidungnya.


Di saat yang bersamaan, suara dering ponsel milik Aditya berbunyi. Ia refleks meraih ponsel miliknya yang ada di balik saku jasnya dan melihat kontak atas nama bidadari surga. Senyuman mengembang terukir di wajahnya begitu mengetahui sang istri menelfon. Sehingga ia langsung menggeser tombol hijau ke atas.


"Halo, assalamualaikum, Sayang."


"Wa'alaikumsalam. My hubbiy, belikan aku makanan nanti saat pulang dari kantor. Aku ingin makan moon cake isi telur bebek dan pasta biji teratai."


"Sudah, itu saja. Princess kita cuma tidur seharian, ini tadi setelah menyusu, dia tidur lagi. My hubbiy, sibuk?"


"Alhamdulillah jika princess tidak rewel, sepertinya saat besar, putri kita akan menjadi anak yang penurut. Oh iya, aku baru saja selesai meeting dan ini akan balik ke perusahaan. Akan tetapi ...."


"Akan tetapi, apa? Kenapa tidak dilanjutkan?"


"Itu, Ririn tiba-tiba pingsan di loby hotel dan sekarang sedang diperiksa oleh staf hotel."


"Ririn? Kenapa wanita itu ada bersamamu, My hubbiy? Astaga, jadi My hubbiy dari tadi berduaan dengan wanita? Cepat kembali ke perusahaan! Suruh orang untuk membawanya ke rumah sakit. Jangan jadi sok pahlawan atau coba-coba menolong wanita yang sangat tidak aku sukai itu. Ingat itu, My hubbiy."


Astaghfirullah, bukan seperti itu, Sayang. Ceritanya panjang, nanti sampai rumah aku ceritakan padamu. Baiklah, aku akan menyuruh orang untuk membawanya ke rumah sakit dan segera kembali ke perusahaan Raharja."


"Tentu saja, aku menunggu penjelasanmu, My hubbiy. Sekarang cepat pergi dari sana?"


"Iya, Sayang. Aku pergi sekarang, assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."

__ADS_1


Aditya yang menutup panggilan telepon, beralih menatap ke arah beberapa orang yang masih berkerumun di samping Ririn. "Tolong bawa wanita ini ke rumah sakit Raharja dan bilang saja, aku yang menyuruh kalian." Meraih dompet miliknya dan mengeluarkan beberapa uang lembaran berwarna merah. Kemudian memberikannya pada salah satu pegawai wanita.


"Ini untuk ongkos taksi dan rumah sakit. Saya harus pergi dulu karena istri menyuruh cepat kembali ke perusahaan. Terima kasih sebelumnya." Berlalu pergi meninggalkan loby hotel dan buru-buru berjalan ke arah mobilnya.


Semua orang menganggukkan kepala dan menatap siluet dari pria yang sangat terkenal itu karena sering muncul di televisi maupun di surat kabar.


Sementara itu, Ririn yang dari tadi masih memejamkan matanya bisa mendengar suara bariton dari Aditya yang mengatakan akan pergi meninggalkannya. Tentu saja ia tidak berhenti mengumpat di dalam hati.


"*Sialan, pria itu benar-benar sangat memuakkan. Bisa-bisanya dia meninggalkan karyawannya yang sedang tidak sadarkan diri. Aku pikir dia adalah pria baik hati berhati emas, ternyata tanggapanku salah karena dia adalah pria yang sama sekali tidak punya hati pada semua wanita."


"Karena yang diperdulikannya hanyalah wanita arogan itu. Bahkan dia adalah pria yang takut istri. Dasar laki-laki cemen, baru digertak oleh istri saja sudah takut. Tuan muda Aditya adalah pria yang sangat bodoh karena kalah dengan seorang wanita*," gumam Ririn dengan sangat kesal.


Ririn berpura-pura untuk menggerakkan tubuhnya, seolah ia baru tersadar dari pingsan. Kemudian memegangi pelipisnya dengan menampilkan ekspresi meringis menahan sakit. Tidak lupa ia menatap ke arah beberapa orang yang masih mengerubunginya.


"Mbak sudah sadar? Syukurlah kalau begitu, karena kami tadi berniat akan membawa Mbak ke rumah sakit. Ternyata Mbaknya sudah sadar," ucap salah satu resepsionis yang dari tadi mengusapkan minyak kayu putih di sekitar hidung Ririn.


Ririn masih berpura-pura meringis menahan sakit dan bangun dari posisinya yang berbaring, "Sepertinya darah rendah saya kumat, Mbak. Terima kasih, Mbak atas pertolongannya. Padahal kalian semua tidak mengenal saya, tetapi mau menolong. Sedangkan atasan yang sudah lama mengenal saya, malah tidak mau menolong."


"Bukan tidak mau menolong, Mbak. Mbaknya salah paham, justru tuan muda Aditya tadi memberikan uang ini sebagai tanggungjawabnya sebagai seorang atasan. Karena Mbak sudah sadar, jadi terima uang ini untuk membeli obat di apotik dan ongkos kembali ke kantor." Pegawai resepsionis itu pun memberikan uang 1 juta ke telapak tangan Ririn.


"Biar saya pesankan taksi, ujar salah satu pegawai laki-laki dan langsung membuka aplikasi online pada ponsel pintar miliknya.


Sementara itu, Ririn mengamati beberapa uang lembaran merah di tangannya. Jika orang lain yang menerima uang itu, mungkin akan bersorak kegirangan dan menganggap menerima rezeki nomplok. Berbanding terbalik dengan apa yang saat ini dirasakannya karena ia benar-benar merasa sangat marah saat rencananya gagal total.


"Sial ... sial ... sial, semua rencanaku gagal total. Padahal ini adalah sebuah kesempatan yang sangat langka ketika bisa berduaan dengan tuan muda Aditya. Dewi pasti akan merasa sangat kesal ketika mengetahui kegagalanku hari ini," lirih Ririn di dalam hati.


Lamunan Ririn langsung buyar seketika saat mendengar suara bariton dari seorang pria yang bertanya padanya. Refleks ia langsung menoleh ke arah pria tersebut.


"Mbak ... Mbak, mobilnya sudah datang. Anda bisa kembali sendiri, kan? Atau perlu saya antar," tanya pegawai hotel.


Ririn buru-buru menggelengkan kepala, "Tidak perlu, saya bisa sendiri. Karena saya sudah lebih baik, terima kasih untuk semuanya." Bangkit dari posisinya yang tadi sudah duduk di lantai dan kini ia sudah berdiri dengan menepuk bawahannya karena terkena debu. Membungkukkan badan dan berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir rapi di depan hotel.


Begitu masuk dan duduk di dalam mobil, Ririn mengepalkan kedua tangannya dan berteriak cukup keras saat mobil sudah melaju meninggalkan kawasan hotel.


"Pria itu benar-benar berengsek!"


Saat Ririn merasa sangat frustasi atas kegagalannya, berbanding terbalik dengan Aditya yang saat ini masih mengemudikan mobil menuju ke perusahaan Raharja. Selama di dalam perjalanan, ia tidak berhenti mengucap syukur karena istrinya telah menyelamatkannya dari wanita yang sebenarnya ia ketahui telah berusaha menjebaknya.


"Alhamdulillah, ternyata istriku sendiri yang menyelamatkan aku dari Ririn yang ingin menjebakku hari ini. Sepertinya aku harus berhati-hati mulai sekarang. Akan tetapi, untuk sementara, istriku tidak boleh tahu karena jika dia sampai tahu, mungkin Dewi dan Ririn benar-benar akan dihabisi oleh istriku."


Aditya mulai mengingat kejadian sebelum ia pergi ke ke loby tadi ketika melewati ruangan kontrol yang merupakan tempat untuk memeriksa semua pegawai yang bekerja di perusahaan Raharja. Karena setiap sudut perusahaan Raharja seminggu yang lalu, dipasang CCTV tanpa sepengetahuan dari para staf.

__ADS_1


Karena yang mengetahui hanyalah para atasan dan orang-orang ahli IT di perusahaan. Semua itu dilakukan untuk mengurangi kecurangan dari pegawai, agar segera diketahui saat ada yang ingin berbuat jahat di perusahaan Raharja dan secara kebetulan Aditya tadi ingin memeriksa suasana di ruangan kontrol. Namun, ia tidak sengaja melihat Ririn yang sedang menghubungi Dewi di dalam lift dan membicarakan tentang dirinya.


TBC ...


__ADS_2