
Queen dan Aditya baru selesai melakukan ritual sholat malam. Ritual rutin mereka di sepertiga malam untuk mengetuk pintu langit saat memanjatkan doa pada sang pencipta alam semesta dengan penuh khusyuk. Tentu saja dengan dipimpin oleh sosok pria sholeh yang menjadi imamnya, Queen mengaminkan ayat demi ayat yang dipanjatkan oleh Aditya dengan tangan menengadah ke atas.
Beberapa saat kemudian, keduanya telah menyelesaikan ritual mereka dengan diakhiri Queen mencium punggung tangan Aditya. Dan dibalas dengan sebuah kecupan lembut mendarat di kening Queen yang dilakukan oleh Aditya dan selalu menjadi hal rutin setelah beribadah menghadap Tuhan.
Queen yang sudah melipat mukena miliknya, menaruhnya di tempat biasa ia meletakkan alat-alat ibadahnya. Kemudian berniat kembali melanjutkan tidurnya karena masih sekitar satu jam lebih menjelang subuh.
"My hubbiy, ayo tidur lagi. Aku ingin kamu memelukku!" Queen mengarahkan tangannya ke arah sosok pria yang tengah berjalan ke arahnya dengan seulas senyuman.
Aditya menuruti keinginan dari sang istri yang terlihat sangat manja padanya dan langsung memeluknya. "Ayo, aku pun sangat mengantuk." Memeluk erat tubuh ramping sang istri yang sudah membenamkan wajah di dada bidangnya.
Keduanya pun sama-sama memejamkan kedua matanya dan tak lama kemudian, terbuai dalam alam bawah sadarnya masing-masing. Satu jam pun telah berlalu, sebuah pergerakan dari bocah perempuan berusia 2 tahun, dengan mengucek kedua matanya dan beralih menatap ke arah sebelahnya. Dan melihat kedua orang tuanya yang tengah tidur dengan posisi berpelukan.
Refleks Princess langsung mencebikkan bibirnya dan tak berapa lama kemudian langsung menangis tersedu-sedu sambil memukul tangan abinya berkali-kali.
Suara tangisan dari Princess berhasil menyadarkan alam bawah sadar Aditya dan Queen yang benar-benar sangat terkejut begitu mendengar tangisan dari putri satu-satunya itu.
Aditya langsung melepaskan dekapannya pada Queen saat melihat putrinya sangat marah dan memukulinya. "Sayang, Princess sudah bangun dan marah saat melihat aku memelukmu."
Queen yang mengerti kecemburuan putrinya, langsung bangkit dari posisinya yang tadinya memeluk erat tubuh kekar sang suami dan beralih menatap ke arah bocah perempuan yang masih terus menangis tersedu-sedu tersebut. Ia langsung menggendong Princess yang masih menghiasi kesunyian di ruangan kamar dengan suara tangisan.
"Sayangnya, Umi, cup ... cup. Princess sudah bangun, rupanya. Pasti kesel, ya karena abi nakal." Queen yang sudah sibuk menenangkan putrinya dengan mengusap punggung Princess saat berada di pangkuannya, melirik sekilas ke arah Aditya yang hanya tersenyum tipis saat diejeknya.
__ADS_1
"Sepertinya putri Abi sangat cemburu saat uminya dipeluk." Aditya mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut rambut Princess yang panjangnya sebahu. "Putri Abi pasti mau minum susu, ya. Biar Abi buatin dulu, Princess dan umi di sini, ya."
Aditya beranjak turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar. Menuju ke lantai dasar untuk membuatkan susu putrinya yang stoknya ada di dapur.
Sementara itu, Queen yang sudah berhasil menenangkan putrinya, tidak berhenti tersenyum sambil mencium pipi cabi Princess. "Putri Umi yang shalihah. Setiap hari selalu membangunkan abi dan Umi untuk sholat subuh, ya. Anak yang pintar." Kembali mencium gemas putrinya yang masih belum bisa berbicara dengan jelas.
Puas menciumi pipi putih Princess, Queen menggendong malaikat kecilnya ke arah kamar mandi untuk mengganti pampers dan membersihkan bekasnya di tubuh putrinya. Tak berapa lama, ia pun sudah selesai membersihkan putrinya dan mengganti pampers. Hingga bisa dilihatnya sosok suami yang sudah kembali membawa botol susu untuk Princess.
"Ini, susunya, Sayang!" Aditya sudah menyerahkan botol susu ke tangan putrinya yang sedang duduk di atas ranjang bersama sang mama dan langsung dinikmati oleh bocah perempuan menggemaskan itu. Tidak hanya itu, ia membawa air hangat dan menyerahkannya pada Queen. "Ini untuk uminya Princess yang paling cantik."
Queen yang langsung tersenyum, menerima gelas besar berisi air hangat dari suami tercintanya. "I love you full, My hubbiy. Terima kasih. Lalu, buatmu mana?"
Aditya mendaratkan tubuhnya di sebelah Queen, "Aku sudah minum air hangat tadi di dapur." Menatap ke arah Princess yang sudah berbaring telentang sambil menikmati susunya. "Sayang, apa semua anak kecil seperti, Princess?"
"Seperti Princess?"
"Iya, bukankah Princess selalu marah dan menangis saat aku memelukmu. Aku mau menanyakan ini pada abang Arthur nanti. Sudah lama aku mengamati sikap putri kita. Kenapa dia selalu tidak suka bermain dengan anak laki-laki dan parahnya, dia selalu memukulinya. Sebenarnya siapa yang dia tiru? Apa saat kamu kecil, dulu juga begitu? Karena aku sepertinya tidak suka memukul saat kecil."
Queen refleks langsung terkekeh begitu mendengar perkataan dari sang suami yang terlihat sangat polos. "Aku sudah menanyakan tentang hal ini pada mommy."
"Lalu? Apa jawabannya?" tanya Aditya yang terlihat sangat penasaran dan serius.
__ADS_1
"Semua orang pasti berpikir tingkah Princess sangat mirip dengan diriku yang sangat arogan. Akan tetapi, kenyataannya, dulu aku adalah seorang gadis yang sangat manis saat kecil. Tidak suka memukul seperti Princess. Karena itulah, aku sangat heran kenapa dia tidak suka bermain dengan anak laki-laki. Kalau menurutku itu adalah gen darimu, My hubbiy."
Aditya menggeleng perlahan, "Mana ada, meskipun aku lelaki, aku tidak pernah berkelahi atau memukul orang. Karena aku cinta damai dan tidak mempunyai musuh."
Queen tersenyum smirk dan mengungkapkan apa yang saat ini langsung terlintas di pikirannya. "Apakah benar kamu memang tidak mempunyai musuh, My hubbiy. Akan tetapi, adik tirimu berniat membunuhmu. Apakah itu yang namanya tidak mempunyai musuh?"
Aditya terdiam karena merasa mati kutu saat mendapat kalimat telak dari sang istri yang sudah tersenyum mengejek padanya. "Kamu benar juga, Sayang. Aku seperti orang bodoh saja saat berada di sisimu. Oh ya, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu, Sayang."
"Apa, My hubbiy?" Menatap menelisik pada sosok pria yang terlihat ragu-ragu di depannya.
Awalnya, Aditya mengambil napas teratur sebelum berbicara. "Aku menyuruh Leo untuk mengawasi Dewi, karena aku memiliki firasat buruk setelah dia bilang Rey tidak berubah. Bukankah kamu sudah menyuruh pengawal untuk mengawasi segala gerak-gerik Rey? Karena tidak ada yang mengawasi Dewi, jadi aku menyuruh orang untuk mengawasinya. Menurutmu bagaimana?"
Queen beberapa saat berpikir dan saat ia sudah menemukan jawabannya, menganggukkan kepala tanda setuju. "Terserah, My hubbiy. Karena aku sepenuhnya percaya atas semua yang kamu lakukan. Jadi, lakukan saja."
"Alhamdulillah, ternyata istriku kini benar-benar sudah berubah seperti bidadari surga. Terima kasih, Sayang." Refleks Aditya mengungkapkan rasa sayangnya dengan mendekat dan mendaratkan bibirnya di bibir sensual Queen.
Namun, ia menyadari kebodohannya saat mendengar suara kencang dari Princess yang kembali menangis tersedu-sedu.
"Astaghfirullah, Abi lupa, Putriku." Aditya menepuk jidatnya berkali-kali.
Queen hanya tertawa melihat tingkah Aditya yang merasa sangat kebingungan saat melihat putrinya menangis. "Abi nakal lagi, ya, Sayang." Memeluk erat putrinya yang masih terbaring telentang sambil memegangi botol susu di tangannya karena susu telah habis. Berusaha untuk mendiamkan putrinya yang menangis, agar segera diam.
__ADS_1
TBC ...