
Queen melihat video dari Aditya yang baru saja turun dari ojek online di depan masjid Agung, yang memberikan uang untuk tukang ojek tersebut, serta meminta doa dari pria paruh baya tersebut untuk pernikahannya. Tentu saja hal itu membuat perasaannya menjadi berkecamuk tidak karuan.
Dan itu benar-benar membuatnya tidak menentu, hingga bulir bening air mata berhasil lolos dari bola matanya. Kemudian dirinya menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan menangis tersedu-sedu.
"Aditya, kamu benar-benar sangat keterlaluan. Kamu sangat jahat, kenapa kamu membuatku merasa goyah seperti ini. Kenapa kami terlalu baik? Harusnya aku tidak boleh seperti ini, aku tidak mau jatuh cinta padamu. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tidak ingin jatuh ke lubang yang sama dua kali, karena mencintai laki-laki yang tidak akan mungkin mencintaiku hanya akan menyiksaku. Karena rasanya sangat sakit, dan aku tidak ingin sakit lagi."
Entah sudah berapa lama dirinya menangis terisak di bawah bantal, bahkan tubuhnya sesekali bergetar saat tangisannya masih belum berhenti.
Tiga puluh menit kemudian, Queen sudah bisa menormalkan kembali perasaannya saat ia sudah berhenti menangis. Dirinya berniat bangkit dari atas ranjang king size tersebut. Namun, indera pendengarannya menangkap bunyi notifikasi yang masuk di ponselnya.
Kemudian dirinya mulai membuka pesan berupa video yang menampilkan Aditya yang baru saja berpelukan erat dengan seorang laki-laki dan berbicara dengan sangat akrab yang sesekali terlihat tersenyum saat berbicara.
"Apa pria ini adalah selingkuhan dari suamiku? Ini tidak boleh dibiarkan, karena bisa-bisa nanti dia berbuat gila dengan pria itu. Ini benar-benar sangat gila, disaat para istri sibuk melindungi suaminya agar tidak terjerat oleh pelakor, sedangkan aku melindungi suamiku dari seorang pria."
"Lalu apa namanya ini? Jika yang menggoda para suami disebut pelakor, dan yang menggoda istri disebut pebinor, lalu sebutan apa yang pantas untuk pria selingkuhan suamiku. Astaga ... bahkan sekarang aku sangat cemburu pada seorang laki-laki yang jelas-jelas bisa mengalahkan aku."
"Padahal kenyataannya, tidak ada wanita yang berani bersaing denganku begitu mendengar namaku. Akan tetapi, sekarang aku malah akan bersaing dengan seorang laki-laki yang jelas-jelas menang dariku. Karena aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pria itu."
"Kenapa kisah cintaku bisa setragis ini? Disaat aku mempunyai karir yang sukses dan mempunyai banyak uang, disaat yang bersamaan aku gagal dalam percintaan. Dan yang lebih tragisnya adalah aku menyerahkan kesucianku pada seorang pria Gay."
"Ini tidak bisa dibiarkan, otakku ini selalu berpikir bahwa Aditya seperti pria yang normal. Aku harus menanyakan tentang hal ini pada dokter yang menangani masalah ini."
Queen langsung menghubungi salah satu kenalannya yang merupakan psikolog terbaik di rumah sakit Raharja. Dan bisa didengarnya suara dari sahabatnya.
__ADS_1
Queen 📞 :"Halo Ren, kamu sibuk tidak sekarang? Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
Reni 📞 :"Wah ... sempat-sempatnya sang pengantin baru menghubungiku. Ada hal penting apa sebenarnya yang membuatmu menghubungiku malam-malam begini?"
Queen 📞 :"Apakah seorang Gay ada kemungkinan untuk bisa sembuh?"
Reni 📞 :"Astaga ... pertanyaan macam apa ini, kenapa seorang dokter spesialis Podiatris menanyakan tentang Gay? Apakah kamu mau berubah menjadi seorang psikolog sepertiku? Oh ya, mana suamimu? Kapan acara resepsi pernikahan kalian diadakan?"
Queen 📞 :"Ya ampun ... aku tanya apa, tapi kamu jawab apa-apa! Cepat jawab pertanyaanku tadi! Ada satu hal lagi, apakah yang dirasakan seorang Gay saat bercinta dengan seorang wanita?"
Reni 📞 :"Kenapa pertanyaanmu sangat aneh, Queen. Aku jadi penasaran dengan Gay yang kamu bicarakan. Sebenarnya seorang Gay bisa sembuh jika dirinya memiliki sebuah keinginan untuk sembuh. Dengan catatan, sembuh Itu relatif, tetapi yang jelas mereka memahami bagaimana melangkah keluar dari situasi tersebut. Dan semua itu harus didukung oleh orang-orang terdekatnya. Sebenarnya Gay itu bukanlah sebuah penyakit, dan bukanlah gangguan. "Kecuali jika orang tersebut merasa tidak nyaman, itu bisa dibilang gangguan dan baru dilakukan terapi. Mengenai pertanyaan terakhirmu itu, sepertinya saat seorang Gay bercinta dengan seorang wanita, mungkin dia merasakan apa yang seperti dirasakan oleh pria yang normal."
Queen 📞 :"Jadi, intinya bisa sembuh jika penderita mempunyai niat ingin sembuh kan? Dan keluarga dekat harus memberikan sebuah dukungan penuh, bukan? Terima kasih atas penjelasannya, Ren. Kalau begitu, aku tutup telfonnya, karena aku harus mengatakan hal ini padanya. Oke, bye."
Aditya 📞 :"Assalamu'alaikum, iya Queen. Ada apa? Kamu belum tidur?"
Queen 📞 :"Wa'alaikumsalam, cepat pulang sekarang! Aku beri waktu lima belas menit, kamu harus sudah sampai di kamar!"
Queen langsung mematikan sambungan telefon sepihak dan melihat jam yang ada pada benda pipih tersebut.
"Semoga Aditya langsung pulang dan tidak lagi berhubungan dengan laki-laki itu. Ini tidak boleh dibiarkan, karena aku harus melindungi suamiku dari para pria yang akan membuatnya tidak sembuh. Setelah mendengar penjelasan dari Reni, aku jadi yakin bahwa suamiku bisa sembuh."
"Karena memang ada niat kuat untuknya ingin sembuh. Mungkin karena itulah dia bisa bersikap seperti pria normal saat bercinta tadi. Ya, sepertinya karena itu."
__ADS_1
Setelah membesarkan hatinya agar tidak terlalu merasa khawatir mengenai sifat Aditya yang memiliki kelainan, Queen kini tidak terlalu merasa khawatir setelah mendengar penjelasan dari sahabatnya.
Namun, merasa waktu lima belas menit sangat lama, membuatnya berjalan mondar-mandir kesana kemari seperti cacing kepanasan saat menunggu pria yang sangat dikhawatirkannya.
Dan tidak ada lima belas menit, suara ketukan pintu dari luar menandakan bahwa pria yang ditunggunya sudah datang. Sebelum membuka pintu, Queen melihat jam di ponselnya. Sudut bibirnya terangkat ke atas saat merasa puas bahwa Aditya sampai dalam waktu 12 menit.
"Ternyata Aditya adalah pria yang penurut, aku suka suami yang penurut sepertinya. Karena tidak akan pernah membuatku makan hati."
Setelah puas berbicara sendiri, Queen melangkahkan kakinya yang jenjang ke arah pintu dan langsung membukanya. Bahkan dirinya sudah menampilkan senyumannya yang manis saat menyambut kedatangan suaminya.
Namun, seketika senyumnya sirna saat melihat pria yang berada di depan pintu. Binar bahagia itu langsung berganti dengan kilatan amarah dan menatap dengan sangat tajam pria yang sangat dibencinya.
"Kau? Ada apa kau kemari? Cepat pergi dari sini, atau para pengawalku yang sedang berjaga di bawah akan menendangmu dari sini!"
"Tenanglah Queen, aku hanya ingin mengucapkan selamat untukmu."
Sementara itu, Aditya terlihat berjalan keluar dari lift begitu pintu terbuka. Dan bisa dilihatnya ada seorang pria yang berada di depan pintu kamar hotel dan berbicara dengan istrinya.
"Siapa pria itu? Sepertinya Queen mengenal pria itu? Akan tetapi, istriku terlihat sangat murka pada pria itu. Lebih baik aku segera melindungi istriku dari pandangan laki-laki lain."
Dengan langkah kaki panjangnya, Aditya menghampiri pria yang sedang dimarahi habis-habisan oleh istrinya.
TBC ...
__ADS_1