Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Menangis tersedu-sedu


__ADS_3

Flashback on ...


Dewi bangun pagi-pagi sekali dan rencananya hari ini akan melamar pekerjaan di restoran yang diketahuinya membuka lowongan lewat media sosial. Semalaman ia sibuk mencari lowongan di media sosial, karena tidak ingin lama-lama menganggur di kontrakan. Apalagi ia hanya tinggal sendiri dan bingung harus berbuat apa jika hanya menjadi seorang pengangguran.


Tidak hanya itu, tabungannya pun lama-kelamaan akan habis jika terus ia pakai untuk memenuhi kebutuhannya. Saat ini, ia memakai celana panjang berwarna biru dan baju dengan lengan panjang berwarna putih. Rambutnya yang panjang, sudah ia ikat dengan digulung rapi dan diberi sebuah pita rambut.


Setelah mengaplikasikan bedak tipis dan lipstik berwarna nude yang tentu saja terkesan natural dan tidak menor, karena ia tidak pernah suka berdandan dengan riasan tebal yang dianggapnya malah membuatnya terlihat seperti badut.


"Semoga hari ini aku mendapatkan pekerjaan. Semangat, aku pasti bisa." Melangkah keluar dari kontrakannya dan mengunci pintu rumah. Lalu menaruh kunci rumahnya di bawah pot bunga.


Setiap hari, ia terbiasa menaruh kunci rumah di sana, karena takut jika kunci rumahnya akan hilang atau terlupa. Sehingga ia memilih cara yang aman agar tidak kehilangan kunci rumah. Kaki jenjangnya mulai melangkah ke arah jalanan menuju ke arah jalan besar dan memesan ojek online.


Tanpa disadari oleh Dewi, ada seseorang yang dari tadi tengah mengamati perbuatannya. Sosok yang tak lain adalah Reynaldi, tengah berada di dalam mobil dan dari tadi tengah menunggu wanita yang sangat dibencinya tersebut.


"Akhirnya keluar juga dia. Mau ke mana wanita murahan itu?" Reynaldi hanya mengamati Dewi dari dalam mobil dan beralih menatap ke arah sang supir. "Ikuti dia, Pak. Jangan sampai kehilangan jejak. Ah ... sepertinya akan lebih baik, Bapak keluar dan ikuti dia. Sepertinya dia akan naik ojek online. Nanti kirim saja alamat yang dia tuju!"


"Baik, Tuan Rey," jawab sang supir yang buru-buru turun dari mobil dan berjalan cepat untuk mengikuti sosok wanita yang sudah berjalan ke arah jalan besar.


Sementara itu, Reynaldi langsung turun dari mobil dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk memeriksa sekitar. Merasa aman dan tidak ada orang yang berlalu lalang, ia berjalan ke arah kontrakan Dewi dan mengambil kunci rumah yang ia ketahui ada di bawah pot bunga.


Kemudian buru-buru kembali dan masuk ke dalam mobil. Menyalakan mesin dan mulai mengemudikannya meninggalkan area kontrakan Dewi. Senyuman menyeringai tampak jelas di wajahnya saat menatap kunci rumah di tangannya.


"Sepertinya aku bisa membuat kunci cadangan dari ini. Lebih baik aku pergi ke tukang kunci dulu dan mengembalikan ini setelah berhasil membuat kunci cadangan dari rumah kontrakan wanita murahan itu."

__ADS_1


Reynaldi melihat ke sekeliling dan tak berapa lama, ia menemukan lapak tukang kunci. Tentu saja ia langsung melaksanakan rencananya sambil menunggu kabar dari supirnya.


******


Satu jam kemudian, Reynaldi kini sudah berada di restoran yang merupakan tempat kerja baru Dewi. Kaki panjangnya melangkah memasuki restoran dan pandangannya mencari sesuatu yang dicarinya. Sang supir yang saat ini tengah menunggu di dalam mobil setelah tadi mengabarinya. Ia mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di sudut ruangan restoran. Senyuman mengembang saat melihat Dewi tengah membersihkan meja tak jauh darinya setelah pelanggan pergi.


"Pelayan!" teriak Reynaldi sambil melambaikan tangannya pada Dewi yang tengah menatapnya.


Dewi membulatkan matanya begitu melihat sosok pria yang paling ditakutinya. Hari ini adalah hari baik untuknya karena melamar di restoran, langsung diterima. Namun, begitu ia melihat sosok pria yang tengah tersenyum menyeringai ke arahnya, langsung merasa hari ini sekaligus hari terburuknya.


"Astaga, apa yang dilakukan oleh adik dari tuan muda di sini. Kenapa aku selalu bertemu dengan si berengsek itu. Apakah dia tadi membuntutiku?" gumam Dewi di dalam hati.


Lamunan Dewi seketika buyar saat mendapatkan sebuah tepukan di pundaknya. Dan ia pun menoleh ke arah manager restoran yang sudah menatapnya sangat tajam.


"Dewi, cepat layani pelanggan! Malah melamun, lagi!"


"Semoga dia tidak berpikir untuk membuat aku dipecat di sini," lirih Dewi di dalam hati.


"Selamat datang, Tuan. Anda mau pesan apa?" Dengan penuh keterpaksaan, Dewi menyunggingkan senyum palsunya setelah membungkuk hormat pada Reynaldi.


Refleks Reynaldi langsung bertepuk tangan dan tentu saja mengeluarkan suara baritonnya setelah sebelumnya tertawa terbahak-bahak. "Wah ... ternyata seorang pel*cur sekarang bekerja di restoran. Bisa-bisa kamu membawa nama buruk di restoran ini. Astaga."


Semua pelanggan yang sedang menikmati makanannya, langsung menoleh ke arah Reynaldi dan menatap Dewi yang berdiri terpaku di tempatnya.

__ADS_1


Wajah Dewi langsung berubah merah setelah mendengar hinaan yang merupakan sebuah pemfitnahan dari Reynaldi dan berhasil membuatnya sangat malu, serta tidak mempunyai muka.


"Jaga mulut Anda, Tuan! Anda benar-benar sudah memfitnah saya. Sebenarnya apa maumu sebenarnya! Kenapa terus mengusik ketenangan hidup saya!"


Lagi-lagi Reynaldi bertepuk tangan dan tersenyum smirk. "Wah ... seorang wanita murahan yang sangat luar biasa dan berani. Aku salut padamu." Memanggil pria yang tak lain adalah manager restoran. "Tuan!"


Pria yang tak lain adalah manager restoran langsung datang menghampiri meja pelanggan yang berhasil membuat kehebohan di restoran dengan suara bariton yang mengganggu kenyamanan orang-orang saat menikmati makanannya.


"Maaf, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu? Tolong jangan membuat keributan di sini. Jika Anda mempunyai masalah dengan pegawai saya, bisa menyelesaikannya setelah dia pulang kerja saja."


"Aku sama sekali tidak pernah memiliki masalah dengan pel*cur ini. Hanya saja, aku kasihan dengan nasib restoran yang memperkerjakan wanita murahan. Aku jadi tidak berselera makan di sini. Mungkin para pelanggan yang lain juga seperti itu." Reynaldi menatap beberapa orang yang hanya menatapnya dan tidak jadi menikmati makanannya.


Dewi semakin kesal dan hendak memaki Reynaldi, tetapi suara dari manager restoran, membuatnya merasa kehilangan tenaganya dan lagi-lagi dunianya serasa runtuh.


"Anda benar, Tuan. Saya tidak akan membiarkan para pelanggan merasa seperti itu." Pria paruh baya tersebut langsung menatap Dewi, "Lebih baik kamu segera pergi dari sini. Jika aku tahu kalau kamu adalah seorang wanita murahan, tidak mungkin tadi aku menerimamu."


"Bos, itu hanyalah sebuah fitnah. Saya bukan wanita seperti itu." Dewi masih terus mencoba untuk menjelaskan, tetapi suara teriakan dari pria di depannya, membuatnya tidak bisa melanjutkan perkataannya.


"Cepat keluar atau saya suruh security untuk menyeretmu keluar! Oh ya, ambil saja seragam itu karena tidak akan ada yang mau memakai pakaian bekas seorang wanita liar sepertimu."


Tanpa bisa ditahannya lagi, bulir bening langsung lolos dari bola mata Dewi. Dengan jantung bagaikan dihujam tombak yang sangat tajam dan membuat luka tak berdarah di sana. Tak lupa rasa sesak yang membuatnya kesulitan untuk bernapas, hingga suaranya tercekat di tenggorokan.


Hanya sebuah tatapan penuh kebencian yang ia arahkan pada sosok pria yang sangat dibencinya. Namun, ia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun dan buru-buru berlalu pergi untuk mengambil tasnya. Masih dengan air mata yang tidak berhenti membasahi wajahnya, Dewi berjalan keluar dari restoran dan terus melangkah untuk mencari tempat yang tenang.

__ADS_1


Tentu saja untuk meluapkan kesedihannya. Ia berhenti di sebuah taman dan di bawah pohon rindang, ia jatuh terduduk sambil membenamkan wajahnya di antara pahanya dan sudah menangis tersedu-sedu.


TBC ...


__ADS_2