Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Ide brilian


__ADS_3

Keluarga besar Raharja saat ini tengah berkumpul di ruangan VVIP rumah sakit. Terlihat raut wajah semuanya yang sangat bahagia, karena menyambut anggota keluarga baru yang akan menjadi princess ke 3 dari cucu Abymana dan Qisya. Setelah melihat malaikat kecil yang ada di tempat khusus bayi, satu persatu keluarga mengucapkan selamat kepada Queen yang sudah berstatus sebagai seorang ibu.


Sedangkan Queen hari ini berubah menjadi sosok wanita yang cengeng setelah mengalami fase terberat sebagai seorang wanita. Yaitu, proses melahirkan yang benar-benar membuatnya mengerti bahwa perjuangan seorang wanita sangat berat dan mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan.


Selamat, Queen. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu. Keponakanku sangat cantik dan akan menjadi saingan Arsha dan Alesha," ucap Arthur yang saat ini tengah menggendong putra bungsunya bersama sang istri.


"Selamat, adik ipar. Putrimu sangat cantik, aku penasaran siapa namanya. Kalian pasti sudah menyiapkan nama yang cantik untuk princess," ujar Salsabila yang sudah mengusap lembut punggung tangan Queen.


Senyuman mengembang terukir di wajah Queen yang masih terlihat pucat, "Thank you, Brother." Beralih menatap ke arah sang kakak ipar, "Terima kasih juga padamu, Kakak ipar. Tentu saja kami sudah menyiapkan nama yang cantik untuk my princess. Akan tetapi, nanti aku akan memberi tahu saat melakukan acara syukuran. Ini rahasia," jawab Queen dengan terkekeh.


"Ada-ada saja, Queen." Qisya geleng-geleng kepala melihat ke arah putrinya.


Queen mengarahkan tangannya ke depan karena ingin segera memeluk wanita yang telah melahirkannya, "Mommy, aku ingin memelukmu."


Qisya berjalan ke arah putrinya dan tentu saja seperti yang diharapkan, ia memeluk erat tubuh putrinya yang bersandar di punggung ranjang dengan sedikit membungkukkan badan. "Sekarang kamu berubah sangat cengeng, Sayang."


Queen sudah menangis tersedu-sedu di pelukan wanita yang sangat disayanginya, "Mommy, ternyata seperti ini rasanya melahirkan. Sekarang aku tahu kenapa surga di bawah telapak kaki ibu. Maafkan aku jika selama ini menyakiti hati Mommy. Dosa-dosa putrimu ini terlalu besar dan mungkin tidak bisa dimaafkan, tetapi aku memohon ampunan dari Mommy."


Qisya mengusap lembut lengan Queen dan ikut berurai air mata saat mendengar pengakuan dari putrinya. "Iya ... iya, Mommy sudah memaafkan semua kesalahanmu sebelum kamu meminta maaf. Sudah, ini masa bahagia, jadi jangan bersedih. Seharusnya kita sekarang berbahagia menyambut sang princess." Melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yang ada di pipi putih putrinya.


Queen menganggukkan kepala dan sedikit menyunggingkan senyumnya, "Iya, Mom. I love you, Mommy."


Sementara itu, semua orang yang melihat interaksi dari ibu dan anak yang sangat mengharukan, berhasil membuat semua orang ikut merasa terharu.


Bahkan Aditya yang dari tadi sibuk mengamati malaikat kecilnya, beralih menatap ke arah sang istri yang terlihat lebih melow.


"Alhamdulillah ya Allah atas semua kebahagiaan yang Engkau berikan. Semoga semua kebahagiaan ini selamanya ada dalam keluarga besar kami," gumam Aditya yang tidak berhenti mengusap syukur atas kelahiran dari putrinya yang normal dan sang istri yang selamat.


********


🍃 Perusahaan Raharja 🍃


Empat hari setelah Queen melahirkan, Aditya terlihat tengah sibuk di depan laptop yang ada di ruang kerjanya. Saat ini, ia benar-benar disibukkan dengan banyaknya pekerjaan karena presdir yang merupakan saudara iparnya tengah berada di luar negeri selama 3 hari untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan besar yang akan berinvestasi di perusahaan.


Sehingga ia saat ini yang mengambil alih semua pekerjaan di perusahaan. Karena dulu ia tidak mau mempunyai asisten, sehingga membuatnya agak sedikit kalang kabut hari ini. Karena asisten presdir pun ikut menemani dalam perjalanan bisnis.


Aditya sesekali memijat pelipisnya karena merasakan pening saat melihat laporan di laptop. "Abang Arthur tidak ada, benar-benar membuatku pusing luar biasa. Jadi, begini rasanya menjadi seorang presiden direktur yang harus memimpin perusahaan sebesar ini."


Suara dari dering ponsel miliknya, mengalihkan perhatian dari Aditya. Buru-buru ia mengangkat panggilan yang diketahuinya dari saudaranya yang baru saja ia bicarakan.


"Halo ... Assalamualaikum, Abang Arthur."


"Wa'alaikumsalam. Aditya, apa sekarang kamu bisa pergi menemui klien penting kita di hotel? Tiba-tiba ia datang karena memajukan jadwal tanda tangan kerja sama, karena dia ada urusan penting yang mengharuskannya ke luar negeri untuk mengantarkan istri berobat."


"Sekarang, Bang? Apakah aku hanya tanda tangan saja nanti?"


"Iya sekarang, tetapi kamu juga harus membawa proposal kita. Oh ya, Dewi yang mengurusnya. Kamu ajak saja dia, karena dia bisa membantu kamu nanti."


"Akan tetapi, aku tidak bisa pergi dengan wanita, Bang. Istriku bisa murka nanti. Jadi, aku ajak saja salah satu pegawai pria saja nanti."

__ADS_1


"Memangnya siapa yang mau kamu ajak pergi? Memangnya dia tahu mengenai proposal kita? Yang ada, nanti malah berantakan semuanya. Sudahlah, kamu ajak saja Dewi. Queen pun tidak akan tahu karena di rumah. Lagipula ini sangat urgent, jadi kamu tidak bersalah. Aku pun sudah bilang pada Dewi tadi."


"Baiklah, Bang. Aku akan pergi bersama Dewi, lagipula kita sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri."


"Iya, kamu benar. Berangkatlah sekarang, karena klien kita sedang menunggu. Aku pun harus meeting sebentar lagi. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Aditya mematikan sambungan telepon dan segera bangkit dari kursi kebesarannya. Kemudian berjalan mengambil jas miliknya yang ia gantung di sebelah sudut ruangan dan mulai memakainya. Setelah merasa rapi, ia berjalan keluar dari ruangan kerjanya menuju ke arah lift yang akan membawanya ke lantai 5, di mana Dewi berada.


Namun, saat ia keluar dari pintu, bisa dilihatnya sosok wanita yang terlihat memakai rok hitam panjang dengan kemeja yang juga berlengan panjang berwarna peach.


Wanita yang tak lain adalah Ririn, sudah berdiri di depan ruangan kerja Aditya dan membungkuk hormat begitu melihat pria yang menurutnya semakin tampan itu baru saja keluar dari ruangan kerjanya.


"Selamat siang, Tuan Aditya. Saya Ririn yang akan menggantikan Dewi karena tiba-tiba dia sakit perut saat mengalami kram datang bulan. Karena itulah dia meminta saya yang membantu Anda untuk menjelaskan proposal ini pada rekan bisnis nanti."


"Astaga, tuan muda Aditya terlihat sangat tampan dan maskulin. Kali ini aku harus berhasil memilikinya," gumam Ririn di dalam hati.


Aditya yang merasa sangat kebingungan karena bukan Dewi yang menemaninya, membuat ia agak sedikit ragu. Karena saat ia berbicara dengan seorang wanita, yang ada di pikirannya adalah janjinya pada sang istri yang tidak akan menatap wanita lain. Namun, saat memikirkan ia harus bertanggungjawab pada pekerjaan, tentu saja membuatnya kembali bimbang.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Semuanya sama-sama berat karena berhubungan dengan sebuah janji dan pekerjaan. Kenapa tiba-tiba Dewi sakit? Aku berpikir jika pergi bersama Dewi, istriku tidak akan marah karena mempercayainya," gumam Aditya di dalam hati.


Aditya mulai mengeluarkan suara setelah beberapa saat menimbang-nimbang keputusannya. "Ririn, Dewi yang mengerti tentang proposal ini. Jadi, tidak mungkin kamu bisa menjelaskannya pada klien."


"Anda tenang saja, Tuan Aditya karena sebenarnya saya ikut membantu saat Dewi mengerjakan ini. Karena kami tinggal bersama, jadi sering memeriksa pekerjaan masing-masing," ujar Ririn yang berusaha untuk meyakinkan pria incarannya.


"Pergilah dulu dan tunggu aku di sana!"


"Baik, Tuan Aditya."


Ririn refleks langsung menerima uang tersebut dan mulai berjalan meninggalkan Aditya dan tak lupa ia sudah sibuk mengumpat karena tidak berhasil berada dalam 1 mobil saat berangkat bersama dengan pria incarannya.


"Sialan, aku pikir tuan muda Aditya akan dengan mudah ditaklukkan. Ternyata dia malah seperti jijik padaku karena tidak ingin berada dalam mobil yang sama denganku. Bagaimana caranya aku menjebaknya jika dia tidak bisa didekati? Padahal dia sekarang sudah mengemudi sendiri tanpa supir dan harusnya gampang membuatnya minum obat tidur yang aku berikan. Berengsek!"


Ririn sibuk mengumpat di dalam lift dan mengeluarkan ponsel miliknya untuk menghubungi sahabat baiknya yang bernama Dewi.


"Halo, aku sepertinya akan gagal hari ini."


"Apa maksudmu, Ririn? Bukankah sekarang kamu bersama tuan muda Aditya, bagaimana kamu bisa menghubungiku?"


"Bersama tuan muda kepalamu, aku sedang tidak bersamanya karena malah disuruh naik taksi menuju hotel. Menyebalkan, bukan. Padahal kami bisa berangkat bersama, tetapi dia memberikan uang 200 ribu untuk naik taksi."


"Astaga, serius? Aku kira dia adalah pria yang gampangan karena terlihat sangat baik dan lembek. Ternyata susah juga untuk mendekatinya. Terus rencanamu apa, Rin?"


"Entahlah, aku juga bingung. Semoga ada kesempatan nanti saat berada di hotel agar aku bisa memasukkan obat tidur ke dalam minumannya. Doakan saja aku agar tidak gagal saat menjebaknya."


"Baiklah, semoga berhasil. Kita sudah menunggu ini dari 8 bulan yang lalu. Jadi, rencana ini harus berhasil. Fighting."


"Oke, aku tutup dulu telfonnya. Ini sudah sampai di loby. Aku mau pesan taksi dulu."

__ADS_1


"Oke."


Ririn menekan tombol merah dan langsung membuka aplikasi online untuk memesan taksi. Beberapa menit kemudian, mobil pesanannya sudah tiba dan ia langsung masuk ke dalam. Bahkan ia sudah mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari keberadaan dari Aditya, tetapi tidak juga menemukan sosok yang dicarinya.


"Sepertinya tuan muda menunggu hingga aku keluar dari perusahaan, baru dia keluar. Astaga, baru kali ini aku bertemu dengan pria langka menyebalkan sepertinya. Bahkan dia tidak mau berada dalam mobil yang sama dengan wanita. Seolah wanita lain itu adalah sebuah kuman yang harus dihindari. Rasanya aku benar-benar sangat gemas sekali dengan pria sepertinya."


Di saat Ririn sibuk berkeluh kesah tentang sosok pria yang baru saja menghindarinya. Di sisi yang lain, Aditya yang baru saja keluar dari lift khusus presdir, tidak berhenti mengucap syukur karena berhasil memenuhi janjinya kepada sang istri dan juga melaksanakan tugasnya sebagai wakil presiden direktur.


"Alhamdulillah, 1 masalah sudah terpecahkan. Tinggal nanti aku berusaha untuk tidak berada dekat dengan wanita itu. Jadi, aku nanti duduk menempel saja pada klien yang aku temui. Semoga dia tidak salah paham karena aku duduk di dekatnya."


Denting lift menandakan pintu akan terbuka dan ia pun langsung keluar dari sana menuju loby. Tidak lupa semua orang sudah membungkuk hormat begitu melihatnya berjalan keluar.


Ia hanya tersenyum tipis dan terus berjalan menuju ke arah mobil yang berada di parkiran dan langsung masuk ke dalam untuk mengemudikan mobil menuju hotel yang menjadi tempat menginap klien penting perusahaan Raharja.


Tiga puluh menit kemudian, Aditya sudah tiba di hotel Marine dan ia langsung membawa tas kerjanya yang berisi dokumen kerja sama. Kakinya melangkah menuju ke loby dan langsung menuju ke restoran mewah yang menjadi tempat meeting. Tentu saja di sana sudah ada Ririn yang dari tadi menunggunya di depan pintu private room.


Aditya yang sudah disambut hangat oleh pegawai restoran, langsung mengantarkannya ke dalam ruangan yang sering digunakan oleh para petinggi perusahaan untuk tempat meeting.


Tanpa menatap ke arah sosok wanita di depan pintu, Aditya melangkah masuk ke dalam ruangan dan langsung berjabat tangan untuk menyapa pria yang masih seumuran dengannya.


"Maaf, Tuan Wahyu jika harus membuat Anda menunggu."


"Sama sekali tidak, karena aku pun baru saja tiba. Oh ya, santai saja dan tidak perlu terlalu formal karena bukankah kita seumuran?" ucap Wahyu yang langsung bangkit dari kursi dan menyambut uluran tangan dari Aditya.


Aditya hanya tersenyum tipis, "Baiklah kalau begitu. Apakah kita mulai sekarang?"


"Tentu saja, aku akan melihat langsung proposalnya."


Aditya langsung memberi kode pada Ririn yang baru saja duduk masuk. "Sekarang kamu jelaskan dulu pada Tuan Wahyu, Ririn.


Ririn yang dari tadi merasa kesal karena dicueki oleh Aditya, terpaksa menampilkan sebuah senyuman dan menjelaskan pada klien penting perusahaan.


Aditya langsung menyambung penjelasan dari Ririn begitu selesai dan mengeluarkan dokumen kerja sama. Tentu saja tak lama setelah itu, keduanya terlihat membubuhkan tanda tangan dan saling berjabat tangan.


"Alhamdulillah, semoga kerja sama kali ini akan semakin membuat perusahaan sama-sama semakin maju, Tuan Wahyu," ucap Aditya dengan berjabat tangan.


Wahyu membalas uluran tangan dari Aditya dan tersenyum tipis seraya melirik sekilas ke arah sosok wanita yang wajahnya dari tadi ditekuk. "Aamiin ya rabbal alamin. Kalau begitu kita makan dulu, karena bukankah ini pun sudah jam makan siang?"


Aditya menganggukkan kepala, "Baiklah, Tuan Wahyu. Lagipula tidak baik menolak rezeki."


"Iya benar sekali. Silahkan dinikmati makanannya."


Kemudian mereka makan siang dengan sesekali berbicara mengenai perusahaan. Sedangkan Ririn hanya diam dan seolah tidak nafsu makan, meskipun makanan yang ada dihadapannya terlihat sangat lezat.


Saat ini, ia tengah berpikir keras untuk mencari cara bagaimana bisa membuatnya berada di 1 mobil yang sama dengan Aditya.


"Berpikir Ririn, kira-kira apa yang bisa membuatmu pulang bersama dengan pria langka ini. Sepertinya tidak mungkin aku memberikan obat tidur di sini. Jadi, aku harus mencari jalan lain. Tunggu, sepertinya ada 1 cara. Pingsan, mungkin dengan aku berpura-pura pingsan, bisa membuatku berada di dalam mobilnya," gumam Ririn yang langsung bisa bernapas lega ketika menemukan ide yang menurutnya sangat brilian.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2