
Aditya langsung disambut oleh Beni yang merupakan asisten pribadi dari Arthur. Tentu saja karena ia masih awam dengan segala pekerjaan yang berhubungan dengan Perusahaan Raharja, membuatnya harus beradaptasi dan masih butuh banyak belajar untuk menyesuaikan diri dan mempelajari tentang apa saja tugasnya sebagai wakil presiden direktur dari abang iparnya.
Awalnya ia merasa sangat kagum dengan ruangan kerjanya yang berukuran sangat luas dengan kursi kebesaran yang terlihat mewah, dilengkapi meja kerja mengkilat dengan beberapa dokumen yang berada di atasnya. Bahkan ada nama dan jabatannya di sana. Belum lagi beberapa furniture berkualitas tinggi yang menghiasi ruangan tersebut semakin mempercantik kesan ruangan wakil presiden direktur itu.
"Selamat datang di ruangan Anda, Tuan Aditya. Saya Beni, untuk beberapa hari ke depan, saya yang akan membantu," ucap Beni yang tadi menyambut atasan barunya itu di ruangan wakil presiden direktur.
"Terima kasih Beni dan mohon bimbingannya karena aku masih belum mempunyai pengalaman sama sekali di bidang ini. Semoga aku bisa mengemban amanat yang dipercayakan oleh presdir." Aditya mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Beni dan langsung disambut oleh pria didepannya tersebut dengan seulas senyuman.
"Jangan berkata begitu Tuan Aditya, karena saya yakin Anda akan mampu untuk membantu presdir memimpin perusahaan ini. Apalagi ada Tuan Abymana di belakang presdir dan Anda, yang akan mengawasi di balik layar," jawab Beni yang terlihat sangat hormat pada atasan barunya.
"Insyaallah, aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini. Karena aku tidak ingin membuat malu semua orang yang mempercayaiku, Ben. Baiklah, sekarang bantu aku untuk mengerti apa tugas-tugasku di perusahaan ini!" Aditya menepuk bahu kokoh Beni dan langsung berjalan ke arah meja kerjanya.
"Baik Tuan Aditya," sahut Beni yang langsung mengikuti langkah kaki atasannya dan duduk di depan Aditya seraya mulai membuka laptop yang ada di meja kerja tersebut. "Untuk permulaan, saya akan menjelaskan bahwa tugas dari presiden direktur terlebih dahulu, agar Anda bisa mengetahui bahwa tugas Anda tak jauh beda untuk membantu Tuan Arthur nanti."
Aditya menganggukkan kepalanya, "Kamu benar Ben. Aku harus tahu itu sebelumnya, untuk memudahkan aku memahami seperti apa tugasku di sini."
"Benar sekali Tuan Aditya, karena itulah saya akan mulai menjelaskannya di sini. Tugas dari Tuan Arthur di Perusahaan Raharja sangat berat dan membuatnya sering pulang larut karena ingin hasil yang terbaik dan semakin memajukan perusahaan dari zaman kakeknya Tuan Bagas Raharja yang mendirikan perusahaan ini."
"Tuan Arthur selalu menyusun strategi bisnis perusahaan yang luar biasa, melakukan evaluasi terhadap perusahaan, sering melakukan rapat, menunjuk orang yang benar-benar mampu memimpin sebuah divisi, Mengawasi situasi bisnis dan selalu berani mencoba ide-ide baru, bukan selalu berada di zona aman dan stuck di tempat. Dan kira-kira nanti itu pun akan menjadi beban berat untuk Anda saat bekerja di bawah Tuan Arthur. Karena presdir adalah tipe pekerja keras dan sangat bertanggung jawab pada perusahaan Raharja Group," ucap Beni dengan panjang lebar.
__ADS_1
Aditya terlihat manggut-manggut dan mulai memahami akan semua penjelasan dari Beni. Namun, ada sesuatu hal yang sangat mengganjal di pikirannya. Oleh karena itu, ia langsung mengungkapkan pertanyaannya. "Oh ... jadi kira-kira seperti itu, sekarang aku harus bisa membantu presdir saat beliau membutuhkan bantuan."
"Untuk masalah pulang larut karena harus lembur, aku sama sekali tidak masalah karena istriku pun adalah seorang wanita karir yang mungkin akan sering pulang larut malam. Akan tetapi, khusus hari ini aku ingin meminta pengecualian. Karena aku harus ke rumah sakit nanti saat pulang kantor untuk memeriksa kondisi istriku yang kemungkinkan besar tengah berbadan 2."
"Selamat Tuan Aditya, ini merupakan sebuah kabar baik bagi semua orang, khususnya keluarga Raharja. Tentu saja nanti Anda bisa pulang sesuai jadwal tanpa harus lembur. Lagipula ini adalah hari pertama Anda bekerja. Biasanya para staf perusahaan selalu lembur saat mendekati akhir bulan. Untuk awal-awal bulan masih normal pulangnya. Sekali lagi selamat Tuan Aditya," ucap Beni yang menyunggingkan senyumannya.
"Terima kasih, doakan semoga semuanya berjalan lancar tanpa ada suatu halangan atau sebuah hal yang buruk. Baiklah, kamu bisa melanjutkan penjelasan yang lainnya padaku," sahut Aditya yang terlihat sangat berbinar wajahnya saat mendapatkan sebuah ucapan selamat dari pria di depannya.
"Baik Tuan Aditya." Kemudian Beni mulai menjelaskan panjang lebar mengenai beberapa dokumen dan laporan yang harus diketahui oleh seorang wakil presiden direktur.
Sedangkan Aditya dengan seksama mendengarkan penjelasan dari Beni dan menatap ke arah laptop di depannya. Bahkan sesekali ia membuka beberapa dokumen yang merupakan laporan dari beberapa divisi di perusahaan yang harus diperiksanya sebelum diserahkan kepada presiden direktur untuk ditandatangani.
******
Tentu saja jam pulang kantor selalu membuat perjalanan lebih lama karena macet. Yang seharusnya hanya 20 menit bisa menjadi 40 menit perjalanan. Sehingga ia berkali-kali mengirim pesan pada sang istri agar bersabar jika ia datang terlambat. Namun, pesannya sama sekali tidak dibaca atau dibalas. Sehingga ia berpikir bahwa sang istri sedang sibuk saat menangani pasien.
Setelah 40 menit berlalu, mobil mewah berwarna silver itu sudah berbelok di area rumah sakit Raharja. Begitu mobil selesai diparkir di tempatnya, Aditya buru-buru turun tanpa menunggu sang supir membukakan pintu untuknya. Ia yang sudah dikawal oleh 4 bodyguard berwajah sangar di depan dan belakangnya, mulai melangkah masuk ke dalam lobi rumah sakit.
Sejujurnya ia merasa sangat risi saat ada pengawal yang membuntutinya, tapi karena itu adalah perintah dari mertua dan istrinya untuk melindunginya dari hal-hal yang mengancam nyawanya, membuatnya tidak berkutik karena semenjak insiden penusukan lalu, ia benar-benar sangat dijaga ketat.
__ADS_1
Meski menurutnya itu sangatlah berlebihan, tapi ia sangat menghargai usaha dari keluarga Raharja. Karena itu semua adalah demi kebaikan dan juga keselamatannya. Aditya mengeluarkan suaranya untuk menanyakan ruangan kerja dari sang istri yang tidak diketahuinya.
"Apakah kalian semua tahu ruangan kerja istriku?"
"Iya, Tuan muda. Kami akan mengantarkan Anda ke ruangan kerja Nona muda," jawab salah satu pengawal yang berada di barisan paling depan.
"Syukurlah kalau begitu, jadi aku tidak perlu bertanya pada staf rumah sakit. Karena itu malah akan mempermalukan istriku jika semua orang mengetahui bahwa aku tidak mengetahui ruangan kerja dari istriku sendiri. Aku tidak ingin membuatnya merasa malu," ujar Aditya dengan wajah yang penuh dengan keraguan.
"Itu tidak akan pernah terjadi, Tuan muda. Semua staf rumah sakit pasti memahami dan juga bisa memakluminya."
"Semoga saja begitu, tapi kita tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran orang lain. Jadi, aku hanya ingin berjaga-jaga saja." Aditya hanya mengikuti langkah kaki dari pengawal yang baru saja masuk ke dalam lift dan memencet angka 5. Tak beberapa lama, pintu kotak besi itu pun mulai terbuka dan ia kembali berjalan keluar.
Salah satu pengawal yang berada di depan terlihat berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu berwarna putih dan ada tulisan Dr. Podiatris Queen. "Silahkan masuk Tuan muda. Mungkin Nona muda sudah menunggu di dalam."
Aditya menganggukkan kepalanya, "Terima kasih. Aku masuk dulu untuk menemui istriku."
"Baik Tuan muda," jawab 4 pengawal tersebut dengan serempak seraya membungkukkan badannya.
Aditya mulai membuka pintu setelah sebelumnya mengetuk pintu. Namun, ia sangat terkejut begitu melihat pemandangan di depannya.
__ADS_1
"Sayang, apa yang terjadi padamu?" pekik Aditya dengan raut wajah penuh khawatir.
TBC ...