
Suara lenguhan dan desahan dari bibir Queen menghiasi suasana di dalam ruangan pribadi yang merupakan tempat pasangan suami istri yang sama-sama sedang mengungkapkan perasaannya lewat aksi percintaan panas di atas ranjang berukuran sedang di dalam kabin pesawat.
Seolah keduanya sama-sama tidak memperdulikan bahwa mereka saat ini berada di dalam pesawat yang terbang di udara. Peluh yang membasahi tubuh keduanya menandakan penyejuk udara di ruangan tersebut sama sekali tidak bisa mendinginkan tubuh mereka yang berpeluh akibat sibuk bergulat di atas ranjang.
Hingga keduanya sama-sama mencapai surga dunianya dengan diakhiri ledakan benih yang ditanamkan oleh Aditya ke rahim sang istri yang dari tadi memeluknya dengan sangat erat. Senyum mengembang terpatri jelas di wajahnya saat melihat ekspresi dari wanita yang terlihat sangat cantik saat memejamkan kedua matanya dengan nafas yang memburu.
Kemudian ia mencium kening wanita yang sudah mulai tidak malu lagi padanya karena mengungkapkan perasaannya dengan menyatakan cintanya. Hingga ia sendiri pun jatuh terkulai lemas setelah lebih dari 30 menit membuai sang istri dengan memberi nafkah batin untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami.
Deru nafas yang memburu dari keduanya seolah membuktikan bahwa mereka benar-benar baru saja memforsir tenaga untuk meraih kenikmatan duniawi yang hakiki.
Queen mulai membuka kedua matanya ketika berhasil menormalkan deru nafasnya. Bisa dilihatnya wajah tampan dari pria yang baru saja terjatuh ke sampingnya dengan bulir keringat yang membasahi tubuh kekar nan polos itu. Ia meraih selimut tebal di bawahnya untuk menutupi tubuhnya yang juga tanpa sehelai benang pun.
"My hubbiy, kamu capek?" Queen langsung merona begitu menyadari pertanyaan konyolnya.
Astaga ... pertanyaan bodoh apa yang aku tanyakan. Memalukan sekali. Tentu saja capek lah, pakai tanya lagi. Dasar bodoh kamu, Queen. Di manakah sosok Queen yang jenius? Seolah Queen yang jenius seketika musnah saat bersama dengan pria sempurna seperti My hubbiy.
Aditya yang dari tadi masih terpejam, seketika membuka kedua matanya dan mengarahkan tatapannya pada wanita cantik di sebelahnya yang sudah memerah permukaan kulit wajahnya seperti kepiting rebus.
"Iya, sangat capek Sayang. Kamu pasti juga capek kan? Maafkan aku jika membuatmu kewalahan tadi, karena aku tidak bisa menahannya lagi setelah kamu menciumku."
Queen langsung tertawa renyah saat mendengar kejujuran dari sang suami. "Jadi kelemahanmu adalah ciumanku ya? Salah sendiri tadi kamu mengeluarkan jurus mautmu. Kan aku tadi bisa berbuat seperti itu karena kamu merayuku habis-habisan."
Aditya mendekatkan tubuhnya dan langsung memeluk tubuh polos sang istri. "Itu bukanlah sebuah rayuan, Istriku sayang. Karena aku menganggapnya sebagai ungkapan penuh ketulusan dariku padamu."
"Benarkah kamu sangat mencintaiku?"
Queen yang sudah membenamkan wajahnya di dada bidang polos pria yang memeluknya hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Karena dirinya kini sibuk mengendus aroma maskulin dari sang suami yang sudah menjamahnya untuk yang ke 3 kalinya.
__ADS_1
Aditya memundurkan tubuhnya agar bisa melihat ke arah wajah wanita yang dari tadi tidak mau menatap wajahnya. Tangannya kini memegang dagu lancip sang istri dan menatapnya dengan intens.
"Aku butuh jawabanmu melalui suaramu, bukan hanya sebuah anggukan kepala saja, Istriku sayang."
Kini, keduanya sama-sama saling menatap dan mengamati pahatan sempurna di depannya. Tatapan penuh kekaguman dan cinta bisa dilihat dari masing-masing. Diiringi suara detak jantung yang bertalu-talu dari keduanya bisa didengar oleh indera pendengaran mereka. Seolah menunjukkan bahwa mereka kini sama-sama saling deg-degan seperti anak SMA yang baru saja menjalin kasih.
Queen mulai memecahkan keheningan di antara keduanya saat membuka suaranya. "Apakah kamu mau aku menciummu lagi?"
"Apa?" tanya Aditya yang langsung berekspresi terkejut. "Memangnya yang tadi kurang?"
Queen refleks tertawa terbahak-bahak begitu mendengar kalimat bernada vulgar dari pria dengan tampang polos itu.
"Astaga, apakah setiap kali aku menciummu, kamu akan selalu berpikir aku menginginkan make love denganmu? Bagaimana jika aku menciummu sebanyak 10 kali satu hari? Apakah kamu juga akan bercinta denganku sebanyak aku menciummu?"
"Jika 1 hari aku melakukannya sampai 10 kali, yang ada malah kita berdua akan berakhir di rumah sakit karena kelelahan. Lalu, saat dokter bertanya, aku akan menjawab kalau istriku menuntut nafkah batin selama 10 kali hingga membuatku kekurangan ion tubuh. Aku tadi tanya apa padamu? Kenapa malah mengatakan kalimat vulgar, kamu adalah istri yang nakal, Sayang!"
Aditya mencubit hidung mancung wanita yang malah terkekeh dengan perbuatannya.
Sementara itu, Queen langsung mencubit perut sixpack pria yang sudah membuat hidungnya merah. "Nih rasakan!"
"Apakah itu adalah sebuah cubitan cinta, Istriku sayang? Jika benar, aku tidak keberatan dan akan menerimanya dengan sepenuh hati. Bahkan aku akan dengan iklhas menyerahkannya padamu. Cubit saja lagi!" Aditya mengarahkan perutnya yang Sixpack untuk semakin mendekat ke dekat wanita yang malah menolaknya.
"IIih ... apaan sih, jangan mendekat! Nanti malah aku yang repot."
"Baiklah, aku mengerti. Akan tetapi, katakan padaku sekali lagi!"
"Apa?" tanya Queen dengan wajah penuh penasaran.
__ADS_1
"Apakah kamu benar-benar mencintai pria miskin yang sama sekali tidak berarti ini?" tanya Aditya dengan tatapan penuh sarat makna.
"Jangan merendah dan bilang seperti itu lagi, karena aku tidak menyukainya. Saat kamu masuk ke dalam keluarga Raharja, otomatis kamu sudah menjadi konglomerat. Kamu sangat berarti bagiku, karena aku sangat mencintaimu My hubbiy."
Setelah mengungkapkan cintanya, Queen mengarahkan bibirnya untuk mencium pipi putih pria tampan yang saat ini tengah tersenyum ke arahnya.
"Terima kasih Sayang, karena telah memberikan sebuah kesempatan bagi pria penuh kekurangan ini untuk menjadi suamimu. Akan tetapi, ada satu hal lagi yang masih mengganjal di pikiranku. Maukah kamu menjawabnya dengan jujur?" Aditya agak ragu mengungkapkan hal yang mengganggunya.
"Apa?"
"Bagaimana dengan hot daddy-mu? Apakah kamu sudah benar-benar melupakannya?"
Sontak raut wajah Queen yang awalnya berbinar, kini berubah merah penuh dengan kilatan amarah.
"Kenapa kamu malah menyebut pria yang ingin aku lupakan? Apa kamu ingin membuatku tersiksa karena mengingat pria yang tidak pernah mau membalas cintaku?"
"Astaghfirullah, bukan niatku seperti itu Sayang! Aku hanya ingin memastikan saja, bahwa di hatimu ini hanya ada namaku. Bukan nama hot daddy-mu. Hanya itu." Aditya mengarahkan tangannya untuk memegang dada wanita yang berbaring di sebelahnya. "Di sini, hanya tertulis namaku kan Sayang?"
"Bukan," ketus Queen.
Dasar pria bodoh, tentu saja tertulis namamu lah. Kalau tidak, mana mungkin aku menyatakan cinta padamu dan menyerahkan tubuhku untukmu. Pertanyaan konyol macam apa itu.
"Bukan? Kenapa jawabanmu sangat menyakitkan sekali Istriku sayang. Kata-katamu ibarat tombak yang menghujam jantungku."
"Astaga, kamu sangat lebay," ucap Queen dengan kesal.
TBC ...
__ADS_1