
Awalnya Aditya fokus menatap ke arah Reynaldi dan juga ibu kandungnya, hingga suara dari sang istri yang berada di sebelahnya, mengucapkan kalimat bernada tegas padanya.
"Tunjukkan kasih sayangmu sepenuhnya pada kami tanpa melihat ke arah lain yang tidak penting," ujar Queen dengan suaranya yang cukup keras. Hingga bisa didengarkan oleh keluarga besar Reynaldi yang refleks menolehkan kepalanya padanya. Dan tanpa merasa takut atau pun gentar, ia menatap tajam ke arah mereka. Apalagi ada sang daddy yang mendampinginya, membuat dirinya semakin percaya diri akan kekuatan yang dimilikinya.
"Kurangi nada suaramu, Sayang. Akan tetapi, terima kasih sudah mengingatkan suamimu ini. Kamu benar, Istriku. Kenyataannya, kamu dan anak kita adalah sebuah kebahagiaan sejati. Karena itulah, hari ini aku ingin mengajakmu dan juga anak kita jalan-jalan pulang dari sini. Mumpung aku hari ini libur kerja," seru Aditya yang beralih menatap ke arah mertuanya. "Kami tidak langsung kembali ke Mansion, Pa, Ma. Karena aku ingin mengajak sang nona muda pergi keluar sebentar."
Abymana dan Qisya hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab perkataan dari sang menantu kesayangan mereka yang ingin refreshing. Sedangkan Boby menepuk bahu kokoh putranya, seolah ingin memberikan sebuah dukungan.
"Pergilah bersenang-senang dengan menantu, putraku." Boby beralih menatap ke arah sang nona muda, "Jika suamimu lalai dalam menjagamu, hubungi saja Ayah!" Menyunggingkan senyumannya pada menantu kesayangannya tanpa memperdulikan ada sepasang mata yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Siap, Ayah!" jawab Queen dengan sangat bersemangat. "Aku akan langsung lapor pada Ayah jika putramu nakal," ucap Queen dengan terkekeh. Namun, senyumannya seketika musnah saat melihat keluarga Reynaldi menghampirinya.
Reynaldi dan keluarganya yang dari tadi menatap ke arah interaksi dari keluarga Raharja, kini sudah menghampiri mereka. Dan yang paling mengejutkan adalah perkataan dari papa Reynaldi pada Abymana.
"Tuan Abymana, saya bersedia menukar harta keluarga kami untuk bisa meringankan hukuman dari Reynaldi dengan cara mengajukan banding. Karena di dunia ini, tidak ada 1 orang tua pun yang bisa melihat anaknya menghabiskan waktu di penjara. Sekali lagi, maafkan putraku yang telah menyakiti menantu Anda," ujar papa Reynaldi yang bernama Dani Subroto.
"Itu adalah hak kalian dan aku tidak akan menghalanginya," jawab Abymana yang sudah merangkul pinggang ramping sang istri dan berjalan meninggalkan rekan bisnis yang sekaligus masih memiliki sebuah hubungan yang rumit dengan keluarganya.
Begitu pun dengan Queen dan Aditya yang berjalan mengekor di belakang orang tuanya. Karena Queen sudah sangat malas untuk berbicara dengan keluarga Reynaldi. Sehingga ia tadi berbisik pada sang suami untuk segera pergi dari ruangan sidang dengan alasan ingin muntah.
Sementara itu, netra dengan silinder hitam Reynaldi, dari tadi menatap ke arah wanita yang berada di baris paling belakang, tak lain adalah Dewi. Tatapan penuh kebencian ia arahkan saat wanita yang menghancurkan semua rencananya berjalan di depannya dengan sangat santai. Dan ia yang tidak bisa menahan diri, refleks mengungkapkan kalimat bernada ambigu.
"Selamat datang di dunia baru yang penuh warna, Dewi Anggraeni. Semoga kamu akan menyukai kota yang akan mengukir sejarah hidupmu," sahut Reynaldi dengan tersenyum menyeringai.
Langkah kaki Dewi seketika berhenti begitu indera pendengarannya menangkap kalimat bernada ambigu yang bisa dipahaminya. Karena ia sudah cukup lama hidup dikelilingi oleh orang-orang yang selalu mengancamnya. Ia menoleh sekilas untuk menanggapi kalimat bernada sindiran dari pria yang menurutnya sangat tampan tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan Reynaldi. Semoga Anda merasa nyaman berada di hotel prodeo." Menyunggingkan senyumannya sebelum kembali melangkahkan kakinya.
Respon yang sangat mengejutkannya dari sosok wanita yang sudah berjalan meninggalkannya, tentu saja berhasil membuat Reynaldi sangat kesal. Namun, ia malah tertawa terbahak-bahak, untuk mengungkapkan kekesalannya. Bahkan ia kini sudah bertepuk tangan seraya tersenyum menyeringai.
"Aah ... aku suka dengan wanita yang terlihat lemah, tetapi ternyata sangat licik seperti ular. Sepertinya dia sama sekali tidak takut padaku dan malah seolah mengibarkan bendera perang," gumam Reynaldi.
"Sudah saatnya Anda kembali," ucap salah satu polisi yang dari tadi berjaga dan memberikan sebuah kelonggaran waktu untuk terdakwa.
"Sepertinya aku benar-benar harus membiasakan diri untuk tinggal di hotel prodeo. Aku pergi, Pa, Ma." Reynaldi mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan yang merupakan sebuah tempat untuk menentukan masa depannya.
Sedangkan pasangan suami istri yang melihatnya, hanya bisa trenyuh melihat putra kesayangannya digiring polisi untuk kembali ke sel tahanan.
*******
Sementara itu, di sebuah taman yang merupakan tempat paling favorit untuk orang-orang bersantai dan juga melepas penat seraya menikmati udara segar. Karena banyak pohon rindang yang menghiasi tempat tersebut, semakin membuat beberapa orang yang berada di sana merasa betah melihat aneka jenis bunga yang semakin menambah keindahan taman tersebut.
Queen terlihat duduk di sebuah kursi besi panjang di bawah pohon rindang dan sedang menunggu kedatangan dari pria yang tadi disuruhnya untuk membelikan aneka kuliner yang dijual oleh para pedagang kaki lima. Namun, ia berencana untuk membagikannya pada beberapa orang yang berada di taman tersebut. Karena alasannya untuk membeli adalah merasa sangat kasihan dengan orang-orang yang menurutnya susah mencari uang untuk keluarganya.
Tentu saja ia tidak mau jajan sembarangan saat sedang hamil muda, karena ingin menjaga kandungan dan janin yang ada di dalam rahimnya. Hingga beberapa menit kemudian, pria tampan yang dicintainya sudah membawa banyak makanan dibantu oleh para pengawal. Ia menyuruh sang suami untuk membelikan rujak buah yang tadi dilihatnya saat berjalan masuk ke area taman setelah sebelumnya mengatakan bahwa ia selalu membawa kotak makan di dalam mobil, sebagai tempat dari buah-buahan yang sudah dipotong sedang tersebut.
Aditya memberikan pesanan sang istri dengan mendaratkan tubuhnya di samping wanita yang terlihat berbinar begitu menatap ke arah buah-buahan segar yang berhasil menggoda iman seorang wanita hamil.
"Nah, dimakan dulu rujak buahnya, Sayang."
"Wah ... terima kasih My hubbiy." Queen tidak banyak berbicara, karena ia sudah mulai sibuk mengunyah buah-buahan yang sudah disiram sambal yang terbuat dari gula merah kental dan cabai.
__ADS_1
"Pelan-pelan makannya, Sayang. Tingkahmu ini terlihat seperti seorang anak kecil saja," ucap Aditya dengan terkekeh.
"Tidak apa-apa My hubbiy. Dari dulu aku tidak pernah jaga image saat makan di depan laki-laki, jawab Queen tanpa menoleh untuk sekedar menatap pria yang ia tahu tengah tidak berkedip menatapnya.
"Iya, karena istriku adalah seorang wanita yang selalu bersikap apa adanya dan arogan."
"Ya, betul sekali." Queen sudah menutup mulutnya karena asyik geli mendengar perkataannya sendiri.
"Apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu, Sayang?" tanya Aditya.
"Tentu saja boleh," sahut Queen dengan mulut yang penuh dengan buah-buahan yang sedang dikunyahnya.
"Aku ingin bertanya soal banding yang diajukan oleh Reynaldi dan keluarganya. Apakah itu akan berhasil untuk mengurangi masa hukuman dari Reynaldi?"
"Tentu saja berhasil," sahut Queen dengan santainya.
"Benarkah?" ujar Aditya dengan sorot mata tidak percaya.
"Benar, tetapi ...." Queen tidak melanjutkan perkataannya.
"Kenapa tidak dilanjutkan, Sayang?" Aditya menatap ke arah sang istri yang terlihat sangat mencurigakan.
"Akan tetapi, aku yang sudah menduga ini akan terjadi, mempunyai sebuah rencana." Queen tersenyum menyeringai.
"Rencana apa, Sayang? Jangan membuat suamimu ini penasaran. Cepat katakan padaku!" titah Aditya yang merasa sangat penasaran dan khawatir pada rencana istrinya.
__ADS_1
"Aku dan daddy mempunyai rencana untuk ...."
TBC ...