
Dave masih duduk di sebelah wanita yang saat ini tengah tertidur di atas ranjang. Setelah dokter memeriksa keadaan Sabrina dan mengatakan bahwa keadaan dari istrinya baik-baik saja, membuat Dave bisa bernapas lega. Karena sejujurnya ia merasa sangat khawatir jika Sabrina over dosis karena mengkonsumsi obat perangsang yang ada di dalam air putih di atas meja. Sehingga ia tadi langsung membuang air yang masih tersisa.
"Cukup sudah kamu mengkonsumsi obat perangsang, Sayang. Setelah hari ini, kamu tidak membutuhkannya, karena sepertinya sebentar lagi kamu akan menyerahkan hidupmu sepenuhnya padaku." Dave mengusap lembut punggung tangan dari wanita yang masih lelap dalam alam bawah sadarnya tersebut.
Hingga sebuah pergerakan dari jemari yang ia genggam, terlihat olehnya. Sehingga ia menunggu hingga kelopak mata indah itu terbuka. Bisa dilihatnya, Sabrina tengah mengerjapkan matanya saat menatap kearahnya.
"Kamu sudah sadar, Sayang?"
Sabrina yang baru tersadar, merasa sedikit pusing dan membuat ia memijat pelipisnya. Indera pendengarannya bisa menangkap suara dari Dave yang baru saja memanggilnya Sayang. Tentu saja ia merasa sangat aneh saat mendengarnya, tetapi karena merasa kepalanya yang berat dan tenggorokan kering, seolah membuat suaranya tercekat dan susah untuk mengeluarkan suara. Sehingga ia hanya diam dengan tangan yang sibuk memijat kepalanya.
"Kamu masih pusing? Biar aku pijat sebentar, setelah itu kamu makan dan minum obat," sahut Dave yang sudah menggeser tubuhnya agar bisa semakin mendekat ke arah bagian atas sang istri dan ia pun mengarahkan tangannya untuk memijat kepala Sabrina.
"Tidak perlu," lirih Sabrina yang mencoba menyingkirkan jemari dengan buku-buku tangan yang kuat itu dari kepalanya.
Dave sama sekali tidak memperdulikan penolakan dari Sabrina yang berusaha menyingkirkan tangannya, "Diam dan menurutlah padaku! Kamu sangat lemah, jadi diamlah. Aku tidak akan menyakitimu, tenanglah. Akan tetapi, ini malah terasa nyaman. Percayalah."
Karena merasa sangat lemah, dan menyadari tidak mempunyai tenaga untuk sekedar berdebat dengan pria yang masih memijatnya, membuat Sabrina akhirnya terdiam dan memilih pasrah. Tentu saja itu karena ia merasakan tubuhnya yang terasa sangat lemah dan pikirannya kini masih sibuk memikirkan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Sehingga ia membiarkan Dave berbuat apapun padanya sambil diam-diam menikmati sensasi kenyamanan dari pijatan lembut buku-buku tangan yang berada di kepalanya.
"Aku benar-benar sudah gila. Kenapa aku bisa berakhir di tangan Dave? Rasanya aku ingin menyelidiki hal ini, tetapi apa yang nanti aku dapatkan? Aku sudah terlanjur ternoda di tangan Dave. Lalu, aku harus berbuat apa? Tidak mungkin aku memenjarakannya karena merasa murka telah merenggut kesucianku. Bahkan aku pun sudah gila karena menikmatinya. Atau aku pasrah saja dan menerima semuanya. Ah ... tidak ... tidak, aku tidak mungkin menerima Dave. Akan tetapi, aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk dibanggakan sebagai seorang wanita," gumam Sabrina.
Dave yang masih terus memijat kepala Sabrina, bisa melihat kebimbangan dari Sabrina yang sama sekali tidak bersuara. Sehingga ia mencoba mengurai suasana keheningan di antara mereka.
"Bagaimana dengan pijatanku, apakah sekarang sudah mendingan pusingnya?"
"Iya, sudah. Jadi, berhentilah sekarang!" ketus Sabrina yang mencoba untuk memecahkan keheningan di antara mereka.
"Baiklah," jawab Dave yang segera bangkit dari atas ranjang dan berjalan ke arah meja. Di mana di sana sudah ada beberapa makanan yang tadi dibawa oleh nona mudanya. Ia mengambilnya dan kembali berjalan ke arah Sabrina. "Makanlah dulu, lalu minum obat dari dokter."
"Dasar bodoh, apa kamu mau mati? Sejak kemarin kamu malas makan dengan beralasan tidak berselera. Aku tahu mulutmu itu sangat kuat dan mungkin berpikir kamu adalah wanita paling kuat sedunia, tetapi sangat berbeda dengan perutmu yang butuh diisi. Jadi, makanlah jika tidak ingin sakit." Menyerahkan piring yang ada di tangannya ke pangkuan Sabrina.
Sabrina semakin merasa kesal karena dimarahi oleh Dave dengan suara yang keras. "Sudah aku bilang aku tidak mau makan. Mau aku mati atau apapun, bukan urusanmu!"
Refleks Dave langsung meraih piring yang ada di pangkuan Sabrina dan melemparkannya ke lantai. Tentu saja piring itu langsung pecah berkeping-keping dan makanan pun sudah jatuh berserakan di atas lantai.
__ADS_1
"Terserah kamu mau berbuat apa, Sabrina! Jika kamu merasa kesal dengan hal yang terjadi semalam dan hari ini, aku sama tidak bisa membantumu karena aku tidak bisa mengembalikan keperawananmu. Akan tetapi, aku bisa memberikan semua uangku padamu, demi kontrak sialan itu. Bahkan jika kamu menyuruhku untuk menceraikanmu sekarang juga, aku akan melakukannya. Apa kamu sudah puas sekarang?" hardik Dave yang sudah mengarahkan tatapan tajam pada sosok yang masih duduk bersandar di punggung ranjang dengan diam membisu.
Sabrina meremas kimono handuk yang dari tadi masih melekat di tubuhnya karena ia tidak sempat menggantinya setelah mandi. Tentu saja karena ia tadi jatuh pingsan sebelum menggantinya. Kalimat pedas dari Dave berhasil membuatnya merasa sangat terluka. Bahkan ia sendiri pun merasa heran, dengan dirinya sendiri.
"Bukankah ini yang aku inginkan? Akan tetapi, kenapa rasanya sakit sekali? Sebenarnya apa yang aku inginkan? Apakah aku harus mengiyakan perkataan dari Dave? Ataukah aku menolaknya?" gumam Sabrina yang merasa sangat frustasi.
"Lakukan apapun yang kamu mau, aku tidak akan menghalanginya." Akhirnya sebuah jawaban penuh kebimbangan lolos dari mulutnya setelah beberapa saat mendengar menimbang-nimbang keputusannya.
Dave menaikkan kedua alisnya dan masih intens menatap ke arah Sabrina yang bisa dibacanya tengah diliputi kebimbangan. "Benarkah? Jadi, ini terserah padaku? Kamu tidak menyesal?"
"Tidak, aku sudah tidak mampu berpikir lagi setelah semua yang terjadi. Pergilah jika ingin pergi," seru Sabrina dengan suara lirihnya.
"Hanya itu? Jadi, kamu menginginkan aku pergi sekarang? Jika begitu, aku akan pergi selamanya dari hadapanmu. Bahkan aku akan mengundurkan diri dari perusahaan agar kamu tidak melihatku. Bukankah kamu sangat muak melihatku? Dengan begitu, kamu merasa puas dan tidak akan kehilangan nafsu makanmu lagi."
Dave yang saat ini sudah berjalan mengambil koper kecil berisi pakaian gantinya. Tentu saja ia membereskan semua barang-barang miliknya dan bersiap untuk pergi.
Sabrina masih terdiam mendengar ucapan bernada tegas dari Dave. Ia pun merasa gelisah dan kebingungan.
__ADS_1
"Apa yang harus kulakukan? Apa Dave serius dengan ucapannya atau hanya sedang menggertak saja? Memang dia beneran mau menyerahkan hartanya padaku dan menghilang dari hadapanku?" batin Sabrina di dalam hati.
TBC ...