Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Tidak bisa menahan diri


__ADS_3

Awalnya, Sabrina mencoba untuk menolak perbuatan dari pria yang sudah berhasil melucuti semua pakaiannya. Tentu saja karena ia merasa sangat kesal telah dibohongi dan dianggap seperti wanita yang bodoh oleh suami sendiri. Namun, tenaganya yang tidak sebanding dengan kuasa kuat dari Dave, membuat ia akhirnya memilih menyerah.


Bahkan ia bisa merasakan sosok pria yang sudah menguasainya tersebut benar-benar sangat agresif dan membuatnya lupa segalanya. Akhirnya, suara lenguhan dan desahan lolos dari bibirnya saat merasa terbuai dengan ulah sang suami yang sibuk membuatnya mencapai puncak kenikmatan surgawi yang hakiki.


Setelah beberapa menit kemudian, Dave yang sudah menyalurkan hasrat setelah menahannya selama seminggu, terlihat sangat puas setelah jatuh terkulai lemas dengan peluh yang membasahi tubuh kekarnya disertai suara deru napas yang memburu setelah selesai bercinta.


Ia yang saat ini berada di pinggir ranjang, menatap ke arah Sabrina yang sudah bersembunyi di balik selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya. Hingga ia meringis kesakitan saat merasakan sebuah cubitan sangat kuat mendarat dengan sempurna di pahanya.


"Apa-apaan sih, Sayang!" Mengusap pahanya yang mungkin sudah membiru akibat ulah wanita dengan wajah masam di sebelahnya.


Sabrina yang sudah berhasil sadar karena kegilaan Dave, refleks mengingat tentang kebohongan yang kembali menyulut amarahnya.


"Cepat jelaskan padaku mengenai Desy! Bisa-bisanya kamu berbohong padaku mengenai wanita yang ternyata mencintaimu. Apa kamu selama ini berselingkuh dengannya? Jadi, aku tidak akan curiga dan kamu bisa dengan bebas mempunyai hubungan gelap dengan Desy?"


Dave memijat pelipisnya mendengar teriakan dari Sabrina yang bahkan membuat putranya hampir terbangun. "Astaga, Sayang. Diamlah! Putra kita merasa terganggu tidurnya karena suara teriakanmu itu. Kalau ngomong, jangan keras-keras."


Sabrina menoleh ke arah Arya dan menyadari kebodohannya. Sehingga ia berusaha untuk menahan diri. Namun, masih dengan tatapan mata tajam, menatap ke arah pria yang masih berada dalam posisi intim dengannya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan dengan bersembunyi di balik Arya. Cepat jelaskan padaku, apa alasanmu membohongiku, karena aku tidak pernah sekalipun membohongimu. Apakah ini balasannya saat aku selalu jujur padamu!" Berkata lirih, tetapi sangat tegas dan menegaskan sebuah ancaman.

__ADS_1


Dave berusaha untuk menenangkan kemarahan dari Sabrina dengan merengkuh tubuh ramping yang sama sekali tidak menggunakan sehelai benang pun, hingga kulitnya saling bersentuhan saat tengah memeluk erat Sabrina." Aku tidak ingin membuatmu merasa cemburu berlebihan, Sayang."


"Karena begitu melihatmu murka saat pertama kali melihat Desy, membuatku berpikir, lebih baik tidak menceritakan tentang kisah tidak penting kami di masa lalu. Sepertinya ceritaku, hampir sama dengan ceritamu tadi. Akan tetapi, kami bukanlah sahabat baik seperti kamu dan Leo. Kami hanya satu kelas dan tidak terlalu akrab, karena dia sering curi-curi pandang padaku setiap hari. Sebenarnya aku tidak tahu, tetapi para sahabatku yang mengatakannya padaku."


Sabrina yang masih mendengarkan penjelasan dari Dave, mulai mengerti dan kemarahannya sedikit berkurang. "Jadi, kamu tidak dekat dengannya, tetapi begitu pertama kali melihatnya, langsung mengingat namanya. Apakah kamu berharap aku percaya dengan kata-katamu, Sayang!" Mendaratkan tangannya di roti sobek sang suami yang kembali meringis menahan sakit.


Dave awalnya meringis kesakitan karena kaki ini, cubitan sangat kuat berhasil membuatnya mengusap perutnya hingga berkali-kali. "Astaga, sakit, Sayang! Kalau sekali lagi kamu mencubitku, aku benar-benar akan memberimu sebuah hukuman. Aku tidak akan membiarkanmu tidur semalaman. Apa kamu mau itu!" Beralih memegang tangan kanan Sabrina, agar tidak lagi mencubitnya.


Sabrina hanya tersenyum kecut saat mendapat ancaman bernada vulgar yang merupakan rencana licik dari sang suami. "Awas saja kalau kamu sampai melakukannya. Aku akan membangunkan putra kita agar mengganggumu semalaman. Sudahlah, aku malas membahasnya. Aku ingin tidur."


Sabrina berniat untuk berbalik badan memunggungi Dave, namun ia tidak bisa bergerak, karena tubuhnya dikunci oleh lengan kekar pria yang tidak mau melepaskannya.


Awalnya, Sabrina menimbang-nimbang, penawaran dari sang suami. Merasa itu adalah jalan keluar terbaik, akhirnya ia mulai membuka suara. "Baiklah, aku akan menjelaskannya. Jadi, kita tidak akan sama-sama merasa salah paham seperti ini. Sebenarnya, aku dulu memang sangat dekat dengan Leo."


"Hubungan kami bahkan sangat baik, karena dia dulu selalu datang ke rumah untuk mengajari aku belajar. Orang tuaku bahkan sangat menyukainya karena dia sangat pintar dan selalu mendapatkan juara 1 di kelas. Aku tadi benar-benar sangat terkejut saat dia bekerja sebagai seorang pengawal di Mansion."


Dave yang dari tadi diam mendengarkan penjelasan dari Sabrina, diam-diam merasakan sebuah kecemburuan saat mengetahui kedekatan sang istri dengan Leo di masa lalu.


"Mulai hari ini, kamu tidak boleh pergi ke Mansion. Daripada nanti kamu CLBK Dengan pria itu. Memangnya juara 1 tidak boleh bekerja menjadi seorang pengawal?"

__ADS_1


"Bukannya tidak boleh, dari dulu aku berpikir kalau anak yang pintar akan mendapatkan pekerjaan bagus setelah lulus dari sekolah. Ternyata kenyataan tidak semudah itu." Sabrina menghentikan perkataannya karena merasa penasaran dengan masa lalu Dave. "Apa kamu dulu saat sekolah, adalah anak yang pintar seperti Leo?"


Refleks Dave langsung tertawa terbahak-bahak, karena merasa pertanyaan Sabrina sangat konyol. "Jangan samakan aku dengan pria itu hanya gara-gara kami sama-sama jadi pengawal."


"Oh ... sepertinya kamu adalah anak tidak pintar, bandel yang suka berantem. Benar begitu, bukan?" tanya Sabrina yang merasa yakin bahwa tebakannya benar.


Dave hanya terkekeh geli menanggapi tebakan dari sang istri. "Ada benar dan salahnya. Jadi, yang kamu katakan itu tidak sepenuhnya benar. Karena aku dulu bukan bodoh, tetapi tipe siswa yang cerdas. Pintar dan cerdas itu sangat berbeda, Sayang. Kalau pintar itu didapatkan dari belajar, sedangkan cerdas itu tidak perlu belajar. Karena hanya mendengarkan penjelasan guru sekilas, sudah terekam di otakku dengan jelas."


Sabrina hanya mencebikkan bibirnya saat merasa perkataan Dave sangat lebay. "Astaga, sombongnya. Jadi, kamu dulu saat sekolah adalah cowok cerdas dan penurut, begitu?"


"Bukan, aku dulu bukanlah cowok kutu buku dan pendiam. Karena aku sangat suka tawuran," ucap Dave dengan terkekeh.


Sabrina refleks menepuk jidatnya berkali-kali, "Astaga, pantas sekali kamu sangat berengsek saat pertama kali kita bertemu. Dasar pria tidak tahu malu. Baru pertama kali bertemu, malah langsung nyosor. Mana itu ciuman pertamaku, pula. Nih ... rasakan!" Kembali mencubit roti sobek Dave dengan geram.


Dave menahan tangan Sabrina dan kembali terkekeh, "Justru itu yang membuat kita berjodoh, Sayang. Bukankah ciumanku berhasil membuatmu benci? Dan arti dari benci itu tak lain adalah benar-benar cinta."


"Iish ... lebay," ucap Sabrina dengan sangat kesal.


"Lebay, tetapi kamu suka, kan!" Dave mengedipkan matanya untuk menggoda Sabrina yang sudah mengerucutkan bibirnya. Karena merasa sangat gemas pada bibir sensual yang menggemaskan itu, membuatnya tidak bisa menahan diri.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2