Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Bagaikan langit dan bumi


__ADS_3

Queen dari tadi tidak berhenti untuk menggelitik pinggang pria yang sudah membuatnya merasa sangat kesal karena tidak memberitahukan tentang keluarga yang sudah mengetahui kebohongan yang ia lakukan selama ini.


"Nih rasakan, kamu sudah mengerjaiku selama ini dan menganggapku seperti orang bodoh saja My hubbiy."


"Sayang, berhentilah! Geli ini, maaf ... maaf," ucap Aditya yang dari tadi sudah bergerak ke sana kemari karena kegelian digelitik oleh wanita yang terlihat sangat kesal padanya.


"Enak saja minta maaf, pokoknya kamu harus dihukum!" sarkas Queen dengan sangat kesal.


"Baiklah ... baiklah, hamba siap menerima hukuman dari Tuan putri, tapi jangan terus menggelitik seperti ini." Aditya sudah menahan tangan Queen dan menatapnya dengan tatapan penuh permohonan. "Memangnya apa hukumannya?"


Queen menatap kesal ke arah tangannya yang sudah dipegangi oleh pria yang terlihat sangat tampan saat menampilkan ekspresi memelas. "Lepaskan tanganku!"


"Baiklah," sahut Aditya dengan tersenyum hingga menampilkan ekspresi lesung pipinya.


Queen menatap ke area sekeliling mobil, berharap mendapatkan sebuah ide untuk memberikan hukuman pada pria yang berhasil membuatnya kesal.


"Kira-kira hukuman apa yang pantas untuk My hubbiy? Yang sekiranya tidak memberatkannya? Karena aku sendiri pun sebenarnya tidak tega untuk menghukumnya, tapi nanti dia besar kepala kalau tidak dihukum dan akan menipuku lagi. Aku tidak suka dibohongi, meskipun aku sendiri pun telah berbohong," batin Queen.


Aditya hanya mengamati tatapan kosong dari istrinya yang dari tadi belum memutuskan hukumannya.


"Sepertinya istriku sedang bingung mau menghukumku dengan hukuman ringan karena merasa iba padaku. Lebih baik aku diam dan tidak mengajaknya berbicara, agar dia tidak kembali kesal dan tersulut emosinya."


Aditya berniat untuk bersandar di punggung jok mobil dan berniat untuk memejamkan matanya. Namun, saat ia hendak melakukannya, suara dari sang istri membuatnya tidak jadi melakukannya.


"My hubbiy, kamu bisa masak?" tanya Queen yang sudah mengarahkan tatapan penuh pertanyaan.


"Masak? Kamu menanyakan itu karena ingin menghukumku dengan menyuruh aku untuk memasak untukmu?"


"Iya, aku mau makan masakanmu," ucap Queen dengan terkekeh.


"Sekarang aku tanya balik, kamu jawab yang yang jujur. Kamu bisa masak?"


"Aku bertanya padamu, My hubbiy. Pertanyaanku saja belum kamu jawab, tapi kamu sudah bertanya padaku," sahut Queen dengan kesal.


"Baiklah ... baiklah, aku akan menjawabnya. Aku bisa masak, tapi cuma masakan orang kampung saja. Kamu tahu sendiri kan kalau aku hanya tinggal dengan Ayah. Jadi, aku lah yang selama ini memasak. Jika kamu menyuruhku untuk masak makanan orang-orang kaya, aku akan bilang tidak bisa."


"Aku jadi merindukan Ayah saat membahas tentang memasak. Ayah sangat menyukai sayur asem, dan ikan laut di balado. Sayang, tiba-tiba aku ingin memasak untuk Ayah. Kita langsung ke rumahku saja ya? Bukankah kamu belum pernah datang ke rumah mertuamu?"


Refleks Queen langsung memijat pelipisnya begitu mendengar permintaan dari pria yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan penuh permohonan. "Astaga, kenapa aku harus menuruti permintaanmu? Bukankah kamu sedang dalam masa hukuman My hubbiy?"


"Aku mohon Sayang," ucap Aditya yang sudah menyatukan kedua tangannya dan menampilkan wajah memelas, berharap sang istri mau menuruti permintaannya.

__ADS_1


"Gila."


"Apa Sayang? Kamu menyebutku gila?" Aditya mengerutkan keningnya begitu mendengar perkataan bernada kasar dari istrinya.


"Aku bisa berubah gila karena merasa sangat kesal padamu, My hubbiy. Seharusnya aku yang menghukummu, tapi kenapa aku merasa akulah yang dihukum ya?"


"Surga istri ada pada restu suami." Aditya tidak mau berdebat panjang lebar dengan wanita yang terlihat sangat kesal itu. Sehingga ia hanya mengatakan 1 kalimat untuk menyadarkan istrinya.


"Selalu saja membahas hal itu," rengut Queen dengan bersungut-sungut.


"Akan tetapi, itu semua adalah sebuah fakta, Sayang. Kalau begitu kita mampir dulu ke supermarket untuk belanja bahan-bahan untuk memasak." Aditya menatap ke arah sang supir dan mulai memberikan perintah. "Kita ke supermarket terdekat Pak."


"Baik Tuan muda," ucap sang supir pada majikannya.


"Aku belum menyetujuinya My hubbiy," ucap Queen dengan tatapan tajamnya.


"Bukankah kamu ingin aku memasak makanan untukmu, Sayang? Jadi, aku sedang menjalani hukuman darimu. Akan tetapi, sekalian aku ingin memasak untuk Ayah. Bisa di bilang, sambil menyelam minum air."


"Siapa tahu nanti Ayah akan meminta menantunya untuk menginap di rumah, pasti istriku tidak akan bisa untuk menolaknya," batin Aditya.


"Astaga, aku benar-benar sudah dimanfaatkan," ucap Queen dengan kesal.


"Bukankah kita harus menjenguk keadaan Ayah yang sudah 1 bulan kita tinggalkan, Sayang? Anggap saja kamu sedang melakukan ibadah ketika menjenguk orang yang sakit. Katamu kamu suka mengumpulkan banyak pahala? Dan inilah saatnya." Aditya mengarahkan wajahnya untuk mendekat ke arah telinga istrinya dan langsung berbisik di sana. "Jangan hanya mencari pahala dengan mengajakku main."


"Kita sudah sampai Tuan dan Nona muda," ucap pria paruh baya yang sudah mematikan mesin mobil.


Aditya tersenyum menyeringai dan mengarahkan tangannya untuk mengajak keluar wanitanya. "Ternyata Tuhan masih melindungi umatnya yang selalu berada di jalan-Nya. Ayo, kita belanja dulu, Sayang!"


Meski dirinya merasa sangat kesal, Queen tetap menuruti perintah dari pria yang sudah lebih dulu keluar dari mobil dan mengulurkan tangannya untuk membantunya. Sehingga ia mulai menyambut uluran tangan dari suaminya tersebut saat keluar.


Kini, Queen sudah berada di sebelah Aditya dan menatap ke arah supermarket di depannya. "Aku tidak pernah belanja, jadi jangan tanya aku tentang apa saja yang harus dibeli."


"Iya Sayang, aku sudah bisa menduganya. Kamu hanya ikuti saja aku dan tidak perlu melakukan apa-apa. Anggap saja aku adalah pelayan di Mansion yang sedang berbelanja kebutuhan dapur."


"Astaghfirullah," ucap Queen seraya mengarahkan tangannya untuk memukul lengan kekar pria yang membuatnya sangat marah. "Jangan pernah lagi untuk mengatakan itu, karena kamu adalah suamiku, bukan pelayanku."


"Akan tetapi, saat aku berdiri di sampingmu seperti ini, kita bagaikan langit dan bumi. Kamu sangat tinggi dan seolah tidak bisa aku raih." Aditya mengambil troli dan kembali melangkah masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang terlihat cukup ramai itu.


"Lebay," ucap Queen dengan bersungut-sungut.


"Faktanya memang begitu Sayang, karena itulah aku merasa tidak pantas untuk bekerja di Perusahaan Raharja. Akan tetapi, kamu dan keluargamu terus saja memaksaku. Apa yang harus aku lakukan?"

__ADS_1


"Ya mengikuti perintah kami lah, memangnya apa lagi. Atau begini saja, aku mempunyai ide."


"Ide apa Sayang?"


"Kamu boleh tetap bekerja di perusahaan kecil itu," ucap Queen yang menggantung ucapannya.


"Alhamdulillah," jawab Aditya seraya mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.


"Akan tetapi, bukan sebagai seorang karyawan rendahan."


"Maksudmu?"


"Bekerja di sana sebagai pemiliknya, aku akan membeli perusahaan itu."


Refleks Aditya langsung membulatkan kedua matanya begitu mendengar perkataan dari istrinya. "Apakah keluarga Raharja selalu dengan mudahnya membeli apa pun yang diinginkannya? Dulu kamu membeliku saat pertama kali bertemu dan sekarang kamu mau membeli perusahaan tempatku bekerja bagaikan anak kecil yang membeli sebutir permen saja."


"Maafkan aku My hubbiy, karena aku dulu sangat jahat padamu. Akan tetapi, apakah kamu tidak percaya aku bisa membelinya? Aku akan membuktikannya padamu." Queen meraih ponselnya yang berada di dalam tasnya dan langsung menghubungi seseorang.


Begitu sambungan telefon tersambung, ia langsung mengeluarkan titahnya.


"Dad, aku ingin membeli perusahaan Nusa Cahaya. Tolong Daddy urus semuanya."


Refleks Aditya langsung merebut ponsel dari tangan istrinya dan berbicara pada mertuanya.


"Assalamualaikum Pa."


"Wa'alaikumsalam Aditya."


"Tolong jangan anggap perkataan dari Istriku tadi. Papa tidak perlu membeli perusahaan itu."


"Baiklah, aku akan lebih menuruti permintaanmu."


"Terima kasih Pa, assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Aditya langsung mematikan sambungan telefon dan menyerahkannya kepada wanita yang sudah memasang wajah masamnya.


"Jangan melakukan itu Sayang, karena aku merasa seperti seorang laki-laki yang tidak mempunyai harga diri. Jangan lakukan apa pun untukku, karena aku bukan laki-laki yang materialistis."


Queen langsung tersadar dari perbuatan bodohnya saat melihat ekspresi wajah penuh kekecewaan dari suaminya.

__ADS_1


"Dasar bodoh kamu, Queen. Bukannya malah menghibur suami yang sedang sedih, tapi malah sekarang suamiku merasa semakin terluka. Kenapa aku berubah bego di dekat pria luar biasa ini? Seolah kecerdasanku tidak ada bandingannya dengan ilmu agama yang dimiliki oleh My hubbiy," gumam Queen.


TBC ...


__ADS_2