
Dengan suaranya yang sangat tegas penuh kewibawaan, sang hakim mengeluarkan putusannya. "Menyatakan Terdakwa Reynaldi Anggara telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Percobaan Melakukan Pembunuhan. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa. Oleh karena itu, dengan pidana penjara selama 7 (tujuh) tahun."
"Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan di atas, maka Majelis Hakim berkesimpulan bahwa semua unsur yang terkandung dalam Pasal 338 KUHP Jo Pasal 53 ayat (1) KUHP telah terpenuhi secara sah menurut hukum sebagaimana yang didakwakan Penuntut umum dalam Dakwaan Primair, Hal 27 dari 30 hal Putusan No. 205/Pid.B/2021/PN Gskwoneennn."
"Menimbang, bahwa dengan terpenuhinya semua unsur dari Pasal 338 KUHP Jo Pasal 53 ayat (1) KUHP dalam dakwaan tersebut, maka Terdakwa haruslah dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Percobaan Pembunuhan."
Sang hakim masih terus membacakan putusannya, sedangkan ekspresi penuh frustasi tampak jelas dari wajah Reynaldi. Karena perkiraannya adalah maksimal hukumannya 5 tahun penjara, tetapi begitu mendengar putusan hakim yang tidak sesuai dengan prediksinya, tentu saja membuatnya semakin membenci keluarga Raharja yang berada di balik semuanya ini. Karena mengerahkan 4 pengacara sekaligus untuk menangani kasus.
"Berengsek! 7 tahun? Hukuman ini terlalu berlebihan sekali. Bahkan pria bodoh itu saat ini sedang baik-baik saja dan bisa hidup normal. Sedangkan aku harus membusuk di penjara selama 7 tahun. Tidak, aku tidak mau mati di penjara karena stres. Rencana dari Mama ternyata gagal total. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku nanti akan mengajukan banding," gumam Reynaldi.
Sementara itu, wajah yang sama terlihat pada Aditya. Meski ia tadi berkata dengan tegas pada adiknya, tetapi begitu mendengar sendiri putusan dari hakim, membuatnya merasa sangat bersalah.
"Maafkan aku, Rey. Semua ini sebenarnya bukan kemauanku, tetapi aku ingin kamu berubah saat menjalani masa hukumanmu. Dan kelak kamu akan menjadi manusia yang lebih baik setelah keluar dari penjara," batin Aditya.
Aditya menoleh sekilas ke arah sosok wanita yang tak lain adalah ibu kandungnya. Bahkan ia saat ini sudah ber-sitatap dengan netra kecoklatan wanita yang telah melahirkannya. Ia bisa melihat ada kebencian dari tatapan ibunya dan hal itu membuatnya menyatukan kedua tangannya sebagai isyarat permohonan maafnya.
Queen yang melihat perbuatan dari sang suami, tentu saja merasa tidak suka jika pria yang sangat dicintainya itu terlihat menundukkan kepala pada wanita yang sangat tidak pantas disebut sebagai seorang ibu. Kedua tangannya refleks menangkup pipi kanan dan kiri suaminya dan mengarahkannya ke arahnya.
__ADS_1
"Jangan menundukkan kepala di hadapan wanita itu, My hubbiy! Ingatlah, bahwa kamu bukanlah Aditya yang dulu. Akan tetapi, kamu sekarang adalah menantu dari keluarga Raharja yang mempunyai banyak uang dan kekuasaan. Aku ingin suamiku bisa bersikap berwibawa di hadapan semua orang. Apalagi di depan wanita itu, karena kamu jauh lebih baik dibandingkan mereka," lirih Queen di telinga pria yang duduk di sampingnya.
Tanpa merasa malu di hadapan semua orang yang ada di sekitarnya, Queen menegaskan pada Aditya bahwa posisinya berada jauh di atas keluarga Reynaldi. Agar pria yang saat ini terlihat sangat pias tersebut, tidak semakin berlarut-larut dalam kesedihannya dalam memikirkan nasib adik dan ibunya.
"Kamu tidak boleh begitu, Sayang! Karena semua makhluk di dunia ini sama di mata Allah SWT. Hanya amal ibadah yang membedakannya di mata Tuhan. Bukankah aku sudah berkali-kali mengatakan hal itu padamu?" Ada sebuah kekecewaan dalam nada suara Aditya yang saat ini merasa gagal mendidik sang istri begitu mendengar perkataan dari wanita yang sudah mengandung benihnya tersebut.
Refleks Queen langsung mengarahkan tangannya untuk mencubit paha dari Aditya, "Aku bukan anak kecil, My hubbiy. Akan tetapi, bagiku, itu tidak berlaku pada mereka. Jadi, aku tidak akan memakainya pada mereka," kesal Queen dengan bersungut-sungut. Namun, suaranya masih terdengar lirih karena menyadari bahwa ia masih ada di ruang sidang.
"Cukup, Sayang! Aku tidak ingin membahas tentang hal ini lagi. Akan tetapi, kenapa hukuman dari Reynaldi 7 tahun? Aku pikir 5 tahun cukup untuk membuat adikku mempertanggungjawabkan perbuatannya," ucap Aditya yang menatap siluet Reynaldi dari belakang.
Namun, Aditya mulai mengerti jawaban dari perkataannya begitu mendengar putusan hakim yang menyebutkan bahwa Reynaldi melakukan tindak kriminal saat melakukan ancaman pada istrinya saat ia sedang meregang nyawa di ruangan operasi.
"Sekarang kamu sudah mengerti kan, My hubbiy? Kenapa adikmu yang tidak tahu diri itu dihukum penjara selama 7 tahun. Karena aku yang menyuruh para pengacara mengurus semuanya. Nyawamu tidak sebanding dengan 7 tahun penjara. Karena bagiku, hukuman penjara seumur hidup lebih baik untuk Rey," bisik Queen seraya tersenyum menyeringai.
Kalimat bernada cukup mengerikan dari sang istri yang seolah tidak mempunyai belas kasihan, refleks membuat Aditya menolehkan kepalanya untuk menatap ekspresi penuh kekejaman dari raut wajah Queen. "Sayang, kamu adalah seorang wanita. Kenapa bisa sekejam itu dan seperti tidak mempunyai belas kasihan saja."
"Tenanglah My hubbiy, tidak perlu merasa kaget padaku. Kalau soal yang begini, akulah yang mempunyai banyak pengalaman. Termasuk Daddy," beralih mengarahkan pandangannya ke arah pria yang berada di samping suaminya, "bukankah begitu Dad? Karena aku belajar semua ini dari Daddy."
__ADS_1
Abymana hanya mengarahkan jari telunjuknya di bibirnya. Seolah ingin memberikan sebuah ultimatum pada putrinya agar tidak banyak bicara. "Jangan berisik!"
Queen menganggukkan kepalanya dan kembali mendekatkan bibirnya pada daun telinga pria yang masih berwajah masam di sampingnya. "Keluarga Reynaldi pasti tidak akan menerima putusan hakim dan akan melakukan banding setelah hakim selesai mengeluarkan putusannya. Jadi, tidak perlu berlebihan karena dia tidak akan dihukum 7 tahun."
"Benarkah?" tanya Aditya dengan wajah yang berbinar.
Queen hanya geleng-geleng kepala melihat ekspresi dari wajah tampan sang suami yang berubah bercahaya. Berbeda dari beberapa menit sebelumnya yang sangat kusut. "Iya, My hubbiy. Istrimu yang sangat cantik ini mana pernah berbohong. Karena aku selalu jujur padamu, agar rumah tangga kita akan selamanya tenteram."
Aditya yang merasa sangat bahagia, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Sehingga ia tidak bisa menahan diri lagi mengungkapkan rasa senangnya dengan menautkan jemarinya dan mengecup lembut punggung tangan sang istri.
"Alhamdulillah."
"Astaghfirullah," kesal Queen dengan wajah ditekuk.
"Menurutku, 5 tahun saja sudah cukup untuk menghukum Reynaldi, Sayang. Karena benar kata Ibuku, bahwa darah lebih kental daripada air. Meskipun aku mencoba sekuat tenaga bersikap tegas tadi, tetapi jauh di dalam hati suamimu ini tetap tidak bisa untuk membenci adikku sendiri. Aku harap kamu mengerti, Sayang," mohon Aditya.
Meski merasa sangat kesal dengan kalimat terakhir dari pria yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan intens penuh keteduhan, tetapi Queen yang sudah hafal dengan kepribadian dari suaminya tersebut, mengeluarkan kata-kata mutiaranya.
__ADS_1
"Aditya sang pria Sholeh sampai kiamat pun tidak akan pernah berubah menjadi pria tegas dan arogan seperti Daddy. Karena itulah sebuah ciri khas dari seorang Aditya Syaputra. Akan tetapi, hal itulah yang membuatku jatuh dan luluh oleh pesona luar biasa yang tidak dimiliki oleh pria lain."
TBC ...